
Kini Pak JP telat tiba di rumah kakaknya, dan ia tanpa mengetuk pintu langsung masuk ke dalam rumah kakaknya tersebut.
" Kak Susan…" panggil Pak JP.
" Ada apa?" tanyanya yang baru saja muncul.
" Aku ingin mengembalikan putramu, ia sudah membuat kekacauan. Dan juga membuat diriku malu, dia adalah keponakanku, seharusnya ia bisa menjaga sikap bukan seperti saat ini." ucap pak JP yang sudah emosi.
" Memangnya dia membuat masalah apa lagi?" tanya Santi yang sudah bosan dengan tingkah Wahyu.
" Dia hampir saja mencelakai temannya, untungnya mereka semua dengan sigap menggantikannya. Jika tidak aku tidak tahu apa yang akan terjadi, dan mungkin saja dia tidak akan pernah berdiri di sini lagi." jelas pak JP yang sudah kesal dengan keponakannya itu.
Plak
Suara tamparan yang dilontarkan oleh Bu Santi.
" Santi, apa yang sudah kamu lakukan?" ucap Vioza yang merupakan kakak iparnya.
" Kau tidak apa-apa kan Wahyu?" tanya Vioza dengan mendekati keponakannya tersebut.
" Tidak apa-apa Bude." ucapnya dengan memeluk budenya tersebut.
" Kau sudah sangat keterlaluan, kenapa kau tidak pernah bertanya kepada Wahyu. Kau selalu saja mengantarkan pukulan kepada dirinya, apakah kau tidak pernah memikirkan perasaan Wahyu." bentak Vioza.
" Kakak lebih baik di dalam saja, Wahyu itu putraku. Jadi kakak tidak perlu ikut campur, lebih baik Kakak urus Salwa saja." ucap Susan dengan menarik tangan putranya itu.
" Susan, tidakkah kau lihat Wahyu sedang kesakitan." ucap Vioza dengan langsung menarik Wahyu dari Susan.
" Ada apa ini?" tanya seorang pria yang baru saja tiba.
" Mas, Susan menyakiti Wahyu lagi." Aduh Vioza kepada suaminya.
__ADS_1
" Ya ampun Susan, sudah berapa kali aku bilang. Jangan pernah kau menyakiti Wahyu, Wahyu Itu anakmu." ucap Aldo dengan tatapan sinis.
" Wahyu itu sudah sangat bandel, dan aku sudah males barusan dengannya. Kalau mbak Vioza dan mas Aldo ingin mengurusnya, silakan saja. Aku juga sudah malas dengan anak ini, kerjaannya selalu saja buat masalah." ucap Susan kemudian langsung pergi.
" Memangnya kamu membuat masalah apa?" tanya Aldo kepada keponakannya tersebut.
" Aku hanya bercanda saja pakde, tetapi teman-temanku mengira itu adalah beneran. Akhirnya mereka menelpon paman, dan Paman langsung mengantarku ke sini." jelasnya dengan sangat lembut, sontak saja Pak JP merasa kaget dengan sikap Wahyu yang baru saja ia lihat.
" Paman tidak salah lihat, mengapa kau bisa selembut itu Wahyu?" tanya Pak JP yang kaget.
" Wahyu sebenarnya adalah anak baik, tetapi ia sangat merindukan kasih sayang ibunya. Karena itu ia selalu saja mencari masalah." jelas Aldo dan Wahyu pun mengganggu.
" Astaga Wahyu, kau tidak perlu mencari masalah nak. Kenapa kau tidak pernah cerita sama paman, paman yang akan bicara pada ibumu." jelas pak JP kemudian langsung memeluk keponakannya itu.
" Mama selalu sibuk paman, dan mama tidak pernah memperdulikanku. Aku senang kalau mama marah padaku, itu tandanya Iya mau peduli denganku. Mama selalu saja sibuk, Mama tidak pernah memperdulikanku dan juga Alisa. Hanya dengan ini saja, aku bisa merasakan kasih sayang mama." jelasnya dengan berderai air mata.
" Ya ampun, paman tidak menyangka sayang. Kenapa kau tidak pernah cerita pada paman, paman tidak mengetahui kondisimu?" ucapkan JP yang kini ikut berdarah air mata.
" Mulai sekarang, kau bisa cerita pada paman. Dan jangan pernah anggap paman bukan pamanmu, kau adalah keponakan paman. Kau juga adalah tanggung jawab paman, jadi jangan sungkan untuk bercerita kepada paman." ucap pak JP.
" Baik paman." ucapnya.
...----------------...
Pagi hari yang sangat cerah, semuanya kembali melaksanakan tanggung jawabnya masing-masing. Hari ini adalah hari terakhir melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat, setelah sarapan pagi semuanya pergi melaksanakan kegiatannya masing-masing.
Semuanya berusaha melaksanakan dengan sebaiknya, dan tidak mengecewakan masyarakat setempat. Banyak dari mereka juga yang sudah akrab dengan masyarakat, dan ketika mendengar kabar akan kepulangan mereka. Banyak juga masyarakat yang menangis, karena mereka sudah merasa para siswa itu menjadi keluarganya.
Kini mereka melakukan perpindahan dengan masyarakat di tempat mereka melakukan pengabdian masyarakat, mereka memberikan sebuah bingkisan berupa seperangkat alat kebersihan dan juga sertifikat yang sudah di tandatangani oleh kepala sekolah.
Kini sudah sore hari, mereka melakukan kegiatan bebas. Yaitu bercanda tawa di tepi pantai, dan melakukan beberapa games. Mereka pun bercanda dan tertawa bersama, tanpa memperdulikan jurusan mereka.
__ADS_1
Tak terasa mereka sudah selesai memainkan games, kini jam sudah menunjukkan jam 17.00 atau jam 5 sore. Mereka pun segera membersihkan diri, dan kemudian parah panitia juga sudah mulai menyiapkan makanan untuk makan malam.
" Nggak terasa ini adalah malam terakhir kali di sini." ucap Anaya.
" Iya, aku juga nggak nyangka. Kira-kira kita akan melakukan kegiatan seperti ini lagi nggak ya?" tanya Sasya.
" Ya mudah-mudahan kegiatan ini akan terus berlanjut, walaupun nantinya sudah berganti kepemimpinan. Tetapi kita tidak akan bisa merasakannya lagi." jelas Anaya.
" Kata siapa kita nggak bisa merasakannya?" tanya Sasya.
" Ya tebakan ku aja sih." jawab Anaya.
" Oh gitu, tapi sebenarnya kita malah akan lebih sering melakukan kegiatan seperti ini. Tapi…itu semua ketika kita di perguruan tinggi." jelas Sasya.
" Yang kau katakan benar juga, aku jadi penasaran kira-kira nanti kita bisa ketemu lagi nggak ya setelah kita lulus SMA." ucap Anaya kemudian langsung memeluk Sasya.
" Kau jangan bersedih, aku yakin kita pasti bisa bertemu lagi." jawab Sasya dengan tersenyum.
" Kau yakin?" tanya Anaya.
" Iya aku yakin, tetapi kunci dari itu semua adalah komunikasi. Karena itu kita harus saling berkomunikasi, dan itulah kunci utamanya." jelas Sasya.
" Iya juga ya, kalau begitu kau harus janji nggak boleh ngelupain aku. Dan kau juga harus selalu komunikasi dengan ku." ucap Anaya.
" Aku malah tidak yakin denganmu." ucap Sasya dengan menatap Anaya.
" Loh kau kok ngomong gitu?" tanya Anaya yang kaget.
" Karena kita aja sebenarnya tidak pernah berbicara, kita juga sekarang bisa seperti ini karena disatukan dalam satu tim." jelasnya dan Anaya hanya tersenyum saja.
" Maaf deh, itu semua karena aku mengira kau adalah orang yang sombong. Eh ternyata kau sangat baik dan ramah, maafkan penilaian ku ya Sya." ucap Anaya.
__ADS_1
" Nggak masalah kok, lagian bukan kau saja yang menilaiku seperti itu. Banyak juga yang menilaiku seperti itu, karena sikapku yang memang terbilang cuek." jelas Sasya.