Rela Walau Sesak

Rela Walau Sesak
Sasya 33


__ADS_3

Tidak terasa kini hari sudah malam, dan kini Putra pun meminta semua siswi untuk masuk ke dalam tenda. Sesuai dengan nama kelas yang sudah ditempel, tampak semuanya sedang bersiap untuk kegiatan esok hari. Tetapi kini tiba-tiba saja tim ke-6 dan tim ke-8 dipanggil untuk berkumpul, dan ternyata mereka ingin melakukan pembelajaran untuk yang akan disampaikan di sekolah esok hari.


Kedua tim itu pun mempelajari apa yang akan disampaikan oleh mereka untuk esok hari, mereka terus mempelajarinya hingga pukul 12.00 malam. Karena waktu yang sudah menunjukkan tengah malam, akhirnya mereka semua pun disuruh untuk kembali ke dalam tendanya masing-masing.


Pagi yang sangat cerah, saat ini masih pukul 04.00 subuh. Dan sebagai anggota dari bagian konsumsi, kini Sasya sudah bangun. Dan kini, Iya dan timnya sedang menyiapkan makanan untuk para anggota kegiatan. Dia tertawa melihat tingkah salah satu temannya, temannya matanya belum tersadar tetapi ia sudah sampai ke dapur.


" Sasya coba lihat Cahaya!" seru Anaya dan Sasya pun langsung tertawa.


" Itu si Cahaya udah sadar belum sih?" tanya Sasya untuk memastikan.


" Kalian pasti juga penasaran kan?" tanya Anaya dengan melihat semuanya, dan semuanya pun mengangguk.


Anaya pun segera mengambil air, kemudian ia pun segera melemparkannya ke arah Cahaya. Dalam sekejap Cahaya pun tersadar, dan ia pun merasa kesal.


" Siapa yang nyiram aku?" Tanya Cahaya yang baru tersadar.


" Aku, kenapa?" ucap Anaya dengan tatapan sinis.


" Eh Bu Anaya rupanya." jawabnya kemudian pergi kebelakang.


" Eh, mau kemana?" tanya Anaya.


" Mau masak Bu." jawabnya.


" Memang apa yang mau kau masak?" tanya Anaya.


" Eh iya, maaf Bu." ucapnya.


" Sana potongin sayur." ucapnya.

__ADS_1


Semuanya tertawa melihat tingkah Cahaya, mereka tidak menyangka Cahaya akan setakut itu dengan Anaya.


" Anaya, kau ada hubungan saudara dengan Cahaya ya?" tanya Sasya.


" Iya, dia itu keponakan ku." jawabnya.


" Pantaslah kalau begitu, tapi sih Cahaya memang sering kayak gitu ya?" tanyanya.


" Iya dia memang sering kayak gitu, itu uda kebiasaan dia dari kecil. Jadi aku uda hapal, dan karena itu juga aku selalu di suruh menjaga dia. Karena takutnya dia mengantuk di jalan, kan sangat berbahaya." jelas Anaya.


" Wah-wah, kau pasti capek ya. Selalu jadi penjaga, dan aku yakin pasti kau nggak punya pacar." ucap Sasya dan Anaya hanya tertawa saja.


" Macam kau punya pacar aja." ucap Anaya dan membuat Sasya tertawa.


" Ya karena aku nggak punya pacar, makanya aku leluasa menggoda dirimu." ucap Sasya dengan tersenyum.


" Ih dasar, tapi mengenai itu. Hubunganmu dengan Edo di mana? apa tidak ada perkembangan sampai gini?" tanya Anaya dan membuat Sasya kebingungan.


" Bisa gitu ya, kalau aku udah dideketin kayak gitu. Langsung baper, bisa-bisa nggak butuh waktu beberapa hari udah jadian." jawab Anaya yang merasa heran.


" Ya bisa aja mungkin karena prinsip yang ku tanamkan dalam diriku sih." jelasnya dan membuat Anaya penasaran.


" Memang prinsip apa yang kau tanamkan dalam dirimu?" tanya Anaya.


" Nggak mau pacaran sebelum tamat SMA." jawabnya dan membuat Anaya kaget.


" Aku ku nggak salah denger nih?" tanyanya untuk memastikan kembali.


" Nggak, itulah kebenarannya." jawabnya.

__ADS_1


" Ada alasan tidak yang mendasari itu semua?" tanyanya yang memang penasaran.


" Ada, dan hal itu sungguh membuat aku takut. Sebenarnya aku belum pernah cerita pada siapapun, tetapi sepertinya kau bisa dipercaya. Sebenarnya aku takut nikahkan, dan akhirnya tidak lanjut sekolah lagi." jelasnya.


" Eh, memangnya sebelum kamu membuat keputusan itu. Kau ada ngomong sesuatu sama orang tuamu atau siapa gitu?" tanyanya kembali yang masih penasaran.


" Dulu sewaktu aku kecil, tepatnya sewaktu aku masih duduk di bangku SD. Ada teman aku yang hamidun, dan sejak saat itu orang tuaku melarang aku pacaran. Karena takut bila kejadian itu terjadi pada diriku, oleh karena itu aku jadi berjanji. Aku tidak akan pacaran sebelum tamat SMA, atau jika aku ketahuan pacaran sebelum tamat SMA. Maka, aku akan siap dinikahkan." jelas Sasya dan membuat Anaya kaget.


* Hamidun : Hamil Duluan.


" Ngeri banget, sampai dinikahkan segala." ucap Anaya yang tidak percaya.


" Ya begitulah ceritanya, karena itu aku nggak mau pacaran. Karena kalau sampai ayahku tahu, bisa-bisa aku langsung menikahkan sama pacarku itu." ucapnya.


" Wah-wah, kalau begitu ceritanya. Jadi kamu nggak akan pacaran sama tamat SMA dong?" tanya Anaya.


" Ya begitulah, memangnya kalau jadi kamu nggak. Aku yakin pasti kamu akan membuat pilihan yang sama sepertiku." ucap Sasya dan Anaya hanya mengangguk.


" Ya tentu saja, lagian aku masih muda masa mau dinikahkan. Aku kan masih pengen kuliah, belum mau ngurus anak." jawab Anaya.


" Nah itu kan tahu, kau pikir nikah itu hanya ngurus anak aja. Masih banyak yang harus dipikirkan, dan aku masih belum mau mendekati hal itu." jelas Sasya.


" Lagian kamu itu anak pintar, ya walaupun nggak pernah masuk 3 besar. Kalau kamu tiba-tiba nikah, aku rasa kamu itu adalah orang yang bodoh." jelas Anaya.


" Ya makanya itu, aku akan menunggu sampai aku tamat. Nah kalau aku udah tamat, aku mah bebas. Aku bisa milih kuliah di manapun, dan otomatis aku pasti punya pacar yang selalu dekat sama aku. Coba kamu pikirkan, jika saat ini kamu menjalin sebuah hubungan. Ketika tamat nanti pastinya kalian akan berpisah, bukan berarti putus ya. Tetapi bisa saja karena universitas yang berbeda." jelasnya.


" Yang kau katakan masuk akal juga, dan sebenarnya prinsip kita juga sama sih. Sebenarnya aku juga dikekang seperti itu, cuma ada perbedaannya. Perbedaannya bila aku ketahuan pacaran, aku nggak akan dikuliahkan. Lalu aku akan dikirim ke tempat eyang aku, dan otomatis aku pasti akan memiliki pasangan orang sana. Aku nggak mau punya pasangan orang sana, di sana itu orangnya sangat menyeramkan." jelas Anaya.


" Memangnya kau akan dikirim ke daerah mana, sampai kau bilang sangat menyeramkan?" tanya Sasya yang penasaran.

__ADS_1


" Aku nggak akan Spil nama tempatnya, tapi di sana itu masih belum banyak pedesaan. Dan aku takut tinggal di sana, coba kamu bayangkan aja ya. Bila misalnya aku tinggal di sana, dan aku mendapatkan orang yang berasal dari sana. Aku nggak akan bisa kemana-mana, seperti yang kau tahu aku ini orangnya penakut." jelasnya.


" Aku kira orang sana yang menakutkan, ternyata wilayahnya yang masih belum banyak pedesaan." ucap Sasya dengan menggelengkan kepalanya.


__ADS_2