
" Apaan sih kamu Feb, lagian ngapain juga pakai minder. Orang kita sama-sama makan nasi, dan kita juga sama-sama manusia. Jadi kita nggak ada bedanya, kalau ngomong jangan sembarangan kenapa." ucap Sasya.
" Ya kamu mah enak ngomongnya kayak gitu, karena kamu nggak pernah ngerasain apa yang kamu rasain." ucap Febri dengan wajah yang cemberut.
" Udahlah nggak usah cemberut, justru aku malah iri lagi sama kamu. Kamu itu bisa bebas jalan-jalan ke sana dan ke sini, ya walaupun dia harus ada batasan waktu. Tapi setidaknya kau lebih enak daripada aku, kau tahulah kehidupanku bagaimana." ucap Sasya.
" Ya aku tahu, karena itu setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Makanya walaupun dia tampak sudah berkecukupan, tetapi ia masih tetap iri dengan orang lain. Karena itu kita dianjurkan untuk tidak saling iri, karena hal itu bisa menyakiti diri kita sendiri." ucap Febri dan Sasya hanya mengangguk saja.
" Nah itu kan tahu, ya udah yuk sekarang pergi. Kalau nanti-nanti, bisa-bisa kita nggak jadi pergi." ucap Sasya dan Febri pun langsung naik ke atas motornya.
" Pulangnya jangan kesorean ya." ucap mama Febri.
Motor Sasha segera melewati lalu lintas, mereka langsung pergi ke tempat yang sudah mereka bicarakan terlebih dahulu. Sasya yang belum pernah ke tempat itu, ia sudah sangat penasaran. Ia sudah sangat menantikan apa yang akan ia lihat di sana, ia sudah membayangkan apa yang diceritakan oleh para teman-temannya.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka sudah tiba. Kini mereka memarkirkan motor, kemudian mereka segera mencari tangga untuk ke atas. Begitu sampai di atas, Sasya sangat bahagia. Ia dapat melihat hamparan gedung perkotaan, dan juga awan yang tampak bebas tanpa penghalang.
" ternyata di sini sangat cantik, sama seperti yang dikatakan oleh orang-orang." ucapnya dengan tersenyum.
" Syukurlah kau menyukainya, menurutku sih tempat ini biasa saja. Tapi aku tidak menyangka kalau kau belum pernah ke sini, yang dilihat sih ini ini aja." ucap Febri yang sangat heran karena temannya itu belum pernah ke sana.
" Kau sih sering ke sini karena smp-mu kan tepat di bawah gedung ini, sedangkan sekolah SMP ku tuh jauh dari sini. Dan ketika SMA, kau tahulah kita disibukkan dengan banyak hal. Apalagi sebentar lagi kita sudah ujian akhir, dan setelah itu kita harus memilih untuk melanjutkan kuliah atau bekerja. sungguh kehidupan orang dewasa sangat rumit, rasanya aku ingin kembali menjadi anak kecil." jelasnya.
" Andai saja waktu dapat diulang, pasti kita akan menikmatinya dengan sepuasnya. Tapi sayang, waktu tidak mungkin diputar kembali." udah Febri yang juga merasa dunia orang dewasa itu sulit.
" Sudahlah Febri, percuma saja kita mengeluhkan hal tersebut. Yang terjadi tidak akan bisa diubah, biarkan waktu terus berjalan. Dan nikmati saja proses yang diberikan oleh waktu, nikmati setiap waktu-waktu yang tersisa." ucap Sasya.
__ADS_1
" Yang kau katakan memang benar, sekarang kita ke ujung sebelah sana yuk. Dari sebelah sana kita bisa melihat hamparan sungai yang membentang dan juga riuh kemacetan." ucap Febri dengan menarik lengan Sasya.
Mereka pun segera berjalan ke arah sudut tersebut, tiba-tiba saja di ujung sebelah sana mereka bertabrakan dengan gerombolan pemuda. Sasya gini terjatuh, dan kini kakinya jatuh terluka.
" Kalian tidak apa-apa kan?" tanya pemuda itu yang belum menyadari siapa yang dia tabrak.
" Sya, kakimu berdarah." ucap Febri dan membuat pemuda itu menyadari akan suara itu.
" Febri, kalau begitu dia…" ucapnya yang terhenti kemudian Sasya langsung mengangkat kepalanya.
" Ya ampun Sasya, ayo aku papa ke sebelah sana." ucap Edo yang baru menyadari kalau itu adalah Sasya.
Edo pun langsung memapah Sasya, ia pun kemudian mengeluarkan plester yang ada di kantongnya. Dan langsung menempelkan kepada luka tersebut, saya sempat mengeluh kesakitan. Karena luka di kakinya yang cukup besar, dan juga mengeluarkan darah.
" Maaf ya, aku tidak sengaja." ucap Edo.
" Eh nggak bisa gitu…" ucap Febri yang tiba-tiba saja terhenti karena Putra menariknya untuk pergi dari sana.
" Ngapain kau bawa aku ke sini?" tanyanya yang saat ini sudah menjauh dari Edo dan juga Sasya.
" Tolonglah Feb, biarkan mereka untuk berdua. Hari ini saja, setelah hari ini keputusan ada di tangan mereka." ucap Putra yang membuat Febri sempat bingung.
" Maksudmu apa?" tanyanya yang tidak mengerti.
" Biarkan benih-benih cinta tumbuh di antara mereka." ucapnya dan Febri pun terdiam.
__ADS_1
" Hal itu tidak akan mungkin terjadi saat ini." jawab Febri dan membuat Putra kebingungan.
" Maksudmu bagaimana?" tanyanya yang tidak mengerti.
" Dia adalah anak yang disiplin, dia adalah anak yang selalu mengikuti perintah orang tuanya. Ada satu perintah dan juga janjinya kepada ayahnya, dan janji itu tidak akan mungkin pernah ditentang olehnya." ucap Febri dan membuat Putra menjadi penasaran.
" Janji apa yang kau maksud?" tanya Putra.
" Untuk soal itu, aku tidak bisa menceritakannya kepadamu. Tetapi dia memiliki sebuah janji yang tidak mungkin ia ingkari, dan janji itu berkaitan dengan hubungan cinta." jawab Febri kemudian pergi meninggalkan Putra.
" s:ebenarnya apa sih yang dimaksud oleh Febri, kenapa lagi dia ngomongnya pakai segala gantung." batin Putra yang menatap kepergian Febri.
...----------------...
" Makasih ya Edo." ucapnya dengan tersenyum.
" Ini semua juga salahku kok." ucapnya.
" Aku nggak nyangka lo bisa ketemu kamu di sini." ucap Sasya yang memulai percakapan.
" Aku pun juga tidak menyangkanya, aku tidak menyangka kau mau pergi ke tempat seperti ini." ucap Edo dengan melihat sekitar.
" Ya mungkin ini adalah hal yang aneh, tetapi aku sudah lama sangat penasaran dengan tempat ini. Teman-temanku selalu menceritakan hal-hal tentang tempat ini, dan aku selalu saja ingin pergi ke sini. Tetapi aku tidak memiliki waktu, dan hari ini kebetulan aku bisa pergi ke sini." ucapnya dengan memandangi sekitar.
" Jadi Ini pertama kalinya kau datang ke sini?" tanya Edo.
__ADS_1
" Ya begitulah, tetapi baru pertama kali menginjakkan saja aku sudah mendapatkan luka. Mungkin tempat ini memang tidak mau menerima kehadiranku, dan mungkin ini adalah terakhir kalinya aku ke sini juga." jelasnya.
" Jangan ngomong begitu dong, ini semua hanyalah kecelakaan. Tempat ini memang sangat indah, dan memang jarang ada yang mengetahui letak tempat ini. Kebanyakan orang hanya mengetahui namanya saja, tetapi letaknya masih misterius. Oleh karena itu aku kaget kamu ada di sini, kamu mengetahui letak tempat ini dari mana?" tanya Edo yang penasaran.