Rela Walau Sesak

Rela Walau Sesak
Sasya 8


__ADS_3

Wina sangat senang, karena berkat bantuan dari Sasya ia tidak di hukum. Dan dia justru mendapatkan nilai yang tinggi.


'' Makasih ya Sya, kalau bukan karena kamu aku pasti dapat hukuman.'' ucapnya.


'' Nggak apa-apa Wina, Kita kan teman. Jadi kita harus saling membantu.'' ucapnya dengan tersenyum.


Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu, dan ia memanggil Sasya untuk latihan marching band. Ibu guru pun mempersilahkan Sasya untuk keluar, dengan sigap ia pun cepat keluar. dan langsung pergi menuju sekretariat marching band.


Ia pun bertemu dengan Aisyah, ini keduanya duduk dan berbincang bersama. Tetapi mereka masih tidak mau tahu apa alasan mereka dikumpulkan, dan mereka menatap sebuah suara yang tiba-tiba saja memecah keributan mereka.


'' Baik semuanya, dalam waktu dekat kita akan mengadakan kompetisi marching band kembali. Karena itu, kita akan mempercepat pemilihan anggota. Sebenarnya jika menggunakan anggota pada saat 17 Agustus bisa, tetapi dengan anggota kita yang bertambah dan juga berkurang. Kita juga harus menyeimbangkan keseluruhannya, agar nada yang kita mainkan tidak sumbang.'' ucap pak Udin, pelatih mereka.


Semuanya yang mendengar perkataan Pak Udin, mereka juga tambah panik. Hingga kini masih banyak anggota yang bertambah dan berkurang, sepertinya mereka masuk ke organisasian marching band hanya untuk main-main saja. Dan hal itu sangat berpengaruh dalam kinerja marching band, karena orang-orang yang sudah dilatih secara khusus banyak yang keluar. Dan ada banyak anggota baru yang tidak mengerti manfaat dan kegunaan alat yang dimainkan, dan itu yang menyebabkan beberapa nada menjadi sumbang.


Tanpa menunggu waktu lama, waktu pengujian pun dimulai kembali. Sebelumnya Sasya dipercayakan untuk memegang belira, tetapi kini setelah pengujian. Sasya dipercayakan untuk memegang terompet, dan jujur ini adalah kesulitan yang besar baginya. Karena ia belum pernah mencoba alat tersebut, bagaimana saat pengujian tadi ia sangat jago bermain.


Memang sulit dipercaya, tetapi itulah yang terjadi. Sasya adalah pemain yang paling jago bermain terompet pada saat pengujian, dan tidak ada satupun yang bisa menyamai dirinya. Karena itu dengan pertimbangan yang sangat matang, akhirnya Sasya dipercayakan untuk memegang terompet.


Mereka pun bersungguh-sungguh berlatih, hingga mengorbankan waktu luangnya dan sering pulang sore. Hingga hubungan pertemanan Sasha dan juga Wina mulai tidak akrab, karena kesibukannya di marching band. Walaupun begitu Sasha masih sering masuk kelas, walau hanya di jam pertama dan kedua saja.


Setiap harinya sepulang sekolah, Ia selalu meminta catatan dan tugas dari temannya. Kemudian sebelum ia keluar untuk berlatih, ia akan menitipkan tugas tersebut kepada Wina. Sasya tidak menyadari kerenggangan hubungannya dan Wina, karena Wina tampak biasa saja dengannya.


Kegiatan itu terus berlanjut, hingga akhirnya waktu berlalu sangat cepat. Dan kini adalah waktu marching band untuk tampil, Sasya menatap mata Wina yang sedang melihatnya. Ia sangat senang, karena temannya menyempatkan waktu untuk melihat penampilannya.


'' Makasih Wina, kamu udah datang di hari perlombaan aku.'' ucapnya dengan tersenyum.


'' Wina aja nih diucapin makasih, kita nggak nih.'' ucap suara yang baru saja muncul.


'' Kalian juga datang, Makasih ya.'' ucapnya dengan berlari memeluk rombongan itu.

__ADS_1


'' Ya kami datanglah, masak teman kami lagi kompetisi kami ini datang. Ya kan guys.'' ucap pena.


'' Iya dong.'' jawab mereka serentak.


'' kalian memang the best, my best friend forever.'' ucapan dengan tersenyum.


'' You're BFF.'' ucap Desi dengan suara lantang.


'' Is happy.'' ucap mereka dengan serentak.


Aisyah yang melihat kedekatan Sasya dan teman-temannya, ia pun menjadi iri dengan Sasya. Tetapi ia tau, sikap Sasya pasti yang membuat mereka nyaman. Dan jujur saja, dia juga merasa nyaman dengan Sasya. Sasya yang melihat Aisyah menatapnya, ia pun memanggil Aisyah. Dan memperkenalkan Aisyah kepada teman-temannya.


'' Aisyah sini!'' panggilnya, dan Aisyah pun langsung menghampirinya.


'' Ada apa Sya?'' tanya Aisyah.


'' Aku kenali sama teman-teman aku.'' ucapnya dengan senyuman.


'' Wah Aisyah ya, Sasya sering cerita. Tentang kamu lho sama kami, dan kami jadi sering penasaran sama kamu.'' ucap Ira.


'' Tunggu, tadi kalian bilang Sasya. Sasya itu siapa, perasaan aku hanya kenal Anastasya lah.'' ucapnya yang bingung.


'' Sasya itu nama panggilan aku Ais, dan mereka selalu panggil aku Sasya.'' jelas Sasya.


'' Maaf ya Sya, aku nggak tau kalau nama panggilan kamu itu Sasya.'' ucapnya.


'' Nggak apa-apa Ais, lagian aku memang enggak pernah cerita juga ke kamu. Kalau gitu sekarang aku kenalkan ke mereka ya, yang ini teman sebangku aku. Namanya Wina, kemudian yang di sebelahnya namanya Desi. Yang di sebelahnya lagi namanya Desi juga sih, tapi kami sering manggil dia Ira. Kemudian yang itu Widya, dan yang di sebelahnya Pena.'' jelasnya memperkenalkan sahabat-sahabatnya.


'' Wah senangnya aku bisa kenal kalian, kalian satu kelas ya?'' tanya Aisyah.

__ADS_1


'' Nggak, kami nggak satu kelas. Cuma Sasya dan Wina aja yang satu kelas.'' ucap Widya.


'' Loh iya nya, terus kalian kenal dari mana?'' tanya Aisyah yang penasaran.


'' Kami itu kenal waktu masa MPLS, dan walaupun kami beda kelas. Kami tetap bersama hingga kini, dan kami berharapnya hubungan kami tetap baik sampai tamat sih.'' jelas Ira dengan tersenyum.


'' Oh gitu, Amin mudah-mudahan kalian tetap bersama hingga tamat.'' ucap Aisyah dengan tersenyum.


'' Kalau kamu mau gabung sama kita bisa kok, kami nggak masalah. Bagi kami, teman Sasya ya teman kami. Begitu juga dengan yang lainnya, ya kan teman-teman.'' ucap Desi meminta persetujuan.


'' Iya dong.'' jawab mereka serentak.


'' Makasih.'' ucap Aisyah dengan meneteskan air mata.


'' Anastasya, Aisyah. Kesini kalian.'' ucap pelatih yang tiba-tiba saja memanggil.


'' Guys, kami kelapangan dulu ya. Nanti kita sambung.'' ucap Sasya.


'' Ok, kami menanti mu.'' ucap Ira dengan tersenyum.


Keduanya langsung pergi kelapangan, dan mereka langsung menyusun barisan untuk kembali ke sekolah. Rombongan marching band pun segera berjalan, teman-teman Sasya pun mengikuti sambil memvidio dari belakang. Rombongan pun sampai di sekolah, semuanya pun mengembalikan alat-alat ke sekretariat.


Setelah semuanya di kembalikan, mereka pun di bubarkan. Sasya dan Aisyah pun langsung pergi menemui Desi dan yang lainnya.


'' Sya, lihat ni.'' ucapnya dengan memperhatikan handphonenya.


'' Ih kalian vidioin?'' ucapnya.


Sasya pun ingin mengambil handphone temannya, tetapi handphonenya di oper ke kanan dan kiri. Kemudian teman-teman pun tertawa.

__ADS_1


'' Oh kalian lho.'' ucapnya dengan memajukan bibir.


'' Nggak apa-apa lho Sya, lagian kamu cantik disini.'' ucap Ira.


__ADS_2