
Sedikit pengenalan
Nama : Widya
Hobby : Basket
Status : Sahabat Sasya
...----------------...
Kini sudah hari mendekati kegiatan pengabdian masyarakat, seperti yang sudah mereka sampaikan sebelumnya. Hari ini adalah pembagian surat izin, karena esok hari akan melaksanakan kegiatan pengambilan masyarakat. Mereka pun menjalankan tugasnya dengan sebaik-baik mungkin. William, Putra, dan juga Edo siang ini bersiap-siap untuk pergi ke rumah Sasya, Febri dan juga Wulan.
Kini William sudah menunggu di depan ruangan kelas Putra, ia sedang menunggu Putra dan juga yang lainnya keluar dari kelas. Ketika keluar dari kelas, Putra pun memanggil Sasya, Febri, dan juga Wulan.
" Sasya, Febri, Wulan ke sini!" panggil Putra.
" Ada apa Put?" tanya Wulan yang penasaran.
" Pakai nanya ada apa lagi, kan kalian minta diizinkan secara langsung kepada orang tua kalian." ucap Putra.
" Oh ternyata tentang itu, tapi kan itu Sasya dan Febri aja. Jadi kalau gitu aku pulang dulu ya, nggak semua." ucap Wulan yang ingin pulang, tetapi tiba-tiba kerah bajunya ditarik.
" Mau ke mana kamu?" tanya Putra dengan memegang kerah baju Wulan.
" Ya mau pulang lah, mau ke mana lagi." jawab Wulan.
" Aku sudah dengar dari Febri dan juga Sasya, jadi kami memutuskan kalau kau juga harus dimintain izin secara langsung kepada orang tua. Kalau tidak nantinya bisa gawat untuk kami, dan kami akan repot gara-gara urusan kamu." ucap Putra dengan tatapan sinis.
" Apa yang kalian bilang?" tanya Wulan dengan menatap kedua sahabatnya.
" Nggak ada kok." jawab Febri dengan tersenyum.
__ADS_1
" Kalian berdua ya, awas aja kalian." ucapkan dengan tatapan sinis.
" Sudah sudah jangan bertengkar, sekarang kami akan membagi. Sasya, yang meminta izin kepada orang tuamu adalah Edo. Febri, memang minta izin kepada orang tuamu adalah aku sendiri. Dan untukmu Wulan, yang meminta izin kepada orang tuamu adalah William." ucap Putra dan membuat semuanya kaget.
" Bisa tidak yang bertanggung jawab atas kami diganti?" tanya Febri yang sangat tidak mau kalau Putra yang membikin kepada orang tuanya.
" Maaf tidak bisa, karena untuk menentukan ini aja kami sudah berhari-hari. Dan kami juga sudah melakukan pertimbangan, dan mudah-mudahan dengan ini kalian semua bisa pergi dengan kami." jelas Putra dengan tatapan sinis.
" Ya udah deh." jawab ketiganya dengan menghelan nafas.
" Dari kalian bertiga ada yang bawa kendaraan atau tidak?" tanya Putra untuk memastikan, dan ketiganya menggelengkan kepala.
" Tumben kamu tidak bawa kendaraan Sasya?" tanya Putra.
" Sasya kok, semalam baru kecebur got. Hahaha." ucap Wulan dengan tertawa.
" Kau ini ya Wulan." ucap Sasya dengan tatapan sinis ke arah Wulan.
" Dua hari yang lalu aku kecelakaan, ya akunya sih nggak apa-apa. Cuman nggak tahu deh sama kereta aku, hehehe." jelas saja dengan tersenyum, dan ketiga pemuda itu pun menggelengkan kepalanya.
" Ya udah deh, kalau gitu ini kalian ada yang dijemput atau enggak?" tanya Putra untuk memastikan kembali.
" Kami tidak dijemput, kami hari ini naik angkot." jawab Febri.
" Oke kalau begitu, ya udah kami yang akan membonceng kalian sampai ke rumah kalian masing-masing." ucap Putra dan mereka pun menganggur.
Mereka pun segera pergi menuju ke parkiran, kini Edo dan Sasya berboncengan. Sontak saja para siswa yang melihat keduanya menjadi kaget, orang yang pernah dikabarkan hampir jadian ini. Kali ini baru boncengan, mereka mulai berpikir apakah keduanya sudah jadian. Padahal kenyataan sebenarnya bukanlah seperti itu.
" Weh coba lihat sebelah sana, mereka berdua boncengan. Apa jangan-jangan mereka sudah jadian ya?" ucap seseorang.
" Mungkin saja yang kau katakan itu benar, tapi tampaknya Sasya biasa saja loh." ucap temannya.
" Atau mungkin mereka karena sedang mengerjakan project, seperti yang kita tahu besok kita akan mengadakan kegiatan pengambilan masyarakat. Dan yang aku lihat mereka berdua disatukan dalam satu divisi loh." jelasnya.
__ADS_1
" Kalau menurutku ya, sepertinya mereka sengaja disatukan dalam satu divisi. Agar mereka semakin dekat, dan mereka bisa pacaran." jelas temannya yang satunya.
" Kalian ini ngomongnya orang aja, dari pada mikirin itu mending kita nyiapin persiapan untuk besok." ucap Bara yang baru saja muncul.
" Tampaknya kau sangat antusias ya Bar, aku jadi penasaran apakah momen ini akan menjadikan IPA dan IPS menjadi satu. Atau anak IPA dan anak IPS harus berteman secara diam-diam seperti sekarang." jelas pemuda itu.
" Ya mudah-mudahan saja, setelah kegiatan ini. Anak IPA dan IPS bisa bersatu, jadi kau bisa dengan gampang mendekati anak IPA 5 itu." ucap Bara.
" Bara, jangan kuat-kuat. nanti kalau kedengeran sama yang lain bisa bahaya." ucap Sakti yang merupakan anak IPS 2.
" Tapi tunggu, sebegitu sukanya kau sama dia. Sampai kau rela bestrid di sekolah, dan menentang peraturan yang sudah berjalan begitu lama. Biasanya sih yang menentang cewek, karena mereka sulit untuk berkomunikasi dengan orang baru. Apalagi kalau mereka sudah berteman sejak lama. Tapi kau ini, rela menentang hanya demi seorang cewek. Aku jadi penasaran deh dengan rupa cewek itu, apakah dia sangat cantik?" jelas Bara yang sangat penasaran.
" Setelah kegiatan ini selesai, aku akan memperkenalkannya kepadamu. Bagiku dia jauh dari kata cantik bahkan lebih, dan bagiku tidak ada orang yang bisa menyerupai dirinya." jelas Sakti.
" Astaga, bicara sama orang bucin memang susah." ucap Bara dengan menggelengkan kepalanya.
" Sudahlah Bara, kau seperti tidak mengenalnya saja. Dia adalah orang yang kayak es batu, cuman kalau dia sudah menyukai seseorang. Dia bahkan bisa melupakan dunia ini, bahkan kita saja pernah ditinggal hanya demi cewek itu." jelaskan Gani dengan menggelengkan kepalanya.
" Sudahlah, kalian ini selalu saja meledekku. Dari pada kalian meledekku terus, lebih baik kalian cari pacar." ucap Sakti yang kemudian pergi menaiki motornya.
" Kebiasaan si Sakti, kita lagi ngobrol dia malah pergi meninggalkan kita." ucap Bara yang emosi.
" Sudahlah, kita juga harus pergi untuk mempersiapkan perlengkapan besok. Yakinlah esok hari dia pasti akan terus bersama dengan cewek itu, dan aku yakin di sana kita dapat melihat wajah cewek itu." jelas Gani dan mereka pun segera pergi.
" Yang kau katakan memang sangat benar, aku semakin tidak sabar menunggu hari esok." ucap Bara yang kini sedang berada di motor.
...----------------...
" Ini rumahmu Sya?" ucap Edo yang seakan-akan tidak tahu.
" Iya Ini rumahku, ayo cepat turun kebetulan ayahku lagi di rumah." ucap Sasya dengan melangkahkan kakinya memasuki rumah, dan Edo pun hanya mengikutinya dari belakang.
" Halo anak ayah, sudah pulang ya. Sana ganti baju, baru kita makan siang bersama." ucap ayah dengan tersenyum.
__ADS_1