Rela Walau Sesak

Rela Walau Sesak
Sasya 77


__ADS_3

" Kau tidak usah memperdulikanku Febri, lebih baik kau lebih memperdulikan tentang dirimu terlebih dahulu. Aku tidak tahu kalau kita akan bersama atau tidak di kemudian hari, tetapi setidaknya aku berharap kamu bisa bahagia dengan orang yang kamu pilih." ucapnya.


" Ada apa denganmu Sya, tampaknya hari ini kamu sedang bersedih?" Tanyanya yang penasaran.


" Aku tidak apa-apa, aku hanya ingin kamu hidup bahagia dengan pilihanmu. Wulan sudah bahagia bersama dengan William, aku juga berharap kau bahagia dengan Putra." jelasnya.


" Aku akan bahagia dengannya, tetapi aku juga ingin kau bahagia bersama denganku." ucapnya.


" Aku berharapnya juga seperti itu, tetapi takdir tidak ada yang mengetahuinya. Jika memang aku harus pergi meninggalkan kalian, aku harap kalian bisa tersenyum bahagia tanpa ada diriku." jelasnya


" Apa maksudmu, aku masih tidak mengerti dengan apa yang kamu maksud. Kamu berkata seakan-akan kamu akan pergi meninggalkanku dan juga Wulan, tolong jelaskan secara terperinci." ucapnya.


" Sebenarnya aku masih belum tahu ini akan terjadi lah tidak, tetapi aku sempat mendengar perbincangan kedua orang tuaku. Dan mereka mengatakan kemungkinan besar kami akan pindah dari kota ini, dan karena itu aku tidak ingin meninggalkanmu dalam keadaan bersedih." jelasnya.


" Mengapa kau mengatakan yang ingin seperti itu, emangnya aku akan pindah ke mana?" tanya Febri yang penasaran.


" Untuk tempat pastinya aku masih belum tahu, karena keputusan ini masih belum kenal. Aku sih berharapnya kami tidak akan jadi pindah, karena sebenarnya aku tidak ingin berpisah darimu dan Wulan." ucapnya.


" Kalau begitu aku juga akan membantu dalam doa, semoga saja kedua orang tuamu tidak jadi pindah. Dan kita akan sama-sama terus, karena aku tidak ingin berpisah darimu." ucapnya yang langsung memeluk Sasya.


Kini nggak ada perbincangan dan mereka segera pergi untuk jalan-jalan, karena ini bisa jadi pertemuan mereka yang terakhir. Dan karena itu dia ingin membuka halaman yang berkesan, agar Febri selalu mengingatnya hingga mereka tua.


Mereka jalan-jalan keliling, hingga tanpa sengaja mereka melihat seorang gadis yang sedang menangis. Mereka pun pergi menghampiri gadis tersebut.


" Maaf kalau kami mengganggu, tetapi sepertinya kau sedang ada masalah." ucap Sasya.


" Yang kau katakan memang benar, saat ini aku memang sedang ada masalah." jawabnya.


" Kalau tidak keberatan kau bisa cerita pada kamu, kami siap untuk mendengarkan semua ceritamu. walaupun belum tentu kami bisa membantumu, setidaknya kau bisa menenangkan dirimu." ucap Sasya dan Febri pun mengangguk.


" Tampaknya kalian emang orang baik, dan sepertinya aman jika aku bercerita dengan kalian." ucapnya.

__ADS_1


" Kalau kau tidak mau cerita juga tidak masalah, sebelumnya izinkan aku memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku Sasya, dan ini temanku Febri." jelasnya dengan tersenyum.


" Halo, perkenalkan namaku Salma." ucapnya.


" Halo." ucap keduanya serentak.


" Sebenarnya saat ini aku sedang ada dalam masalah, aku memiliki pacar yang sangat overprotektif denganku. Dan jujur saja aku sangat tersiksa dengan sikapnya, tetapi aku tidak bisa putus dengannya." jelasnya.


" Mengapa bisa kamu tidak bisa putus dengannya?" tanya Febri yang penasaran.


" Semua itu bermula di masa lalu, saat itu Ayahku sedang jatuh bangkrut. Dan di situlah aku bertemu dengan pacarku ini, Kemudian ia membantu keluargaku bangkit hingga menjadi seperti sekarang." jelasnya.


" Kalau begitu pemuda itu telah membantu dalam bidang perekonomian, dan karena itu ia bersikap semena-mena kepadamu. Karena yang ada dalam pikirannya kamu bisa menjadi seperti sekarang karena adanya dia, atau lebih tepatnya ia memberikan uang untuk membuatmu menjadi peliharaannya dalam bahasa kasarnya." ucap Sasya.


" Sepertinya apa yang kau katakan itu benar Sya, kini tampak memar di sekitar tubuhnya." ucap Febri.


" Itulah yang membuat aku tidak bisa putus dengan dia, dan kini aku tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa." ucap Salma.


" Tetapi bagaimana caranya, dia bukan orang sembarangan. Dan aku tidak ingin kalian terlibat dalam bahaya, dan hal tersebut pastinya akan sangat membuatku terluka." ucap Salma.


" Kamu tenang saja Salma, tidak akan ada hal buruk yang terjadi. Siapa sebenarnya pemuda itu, tolong beritahu kepada kami agar kami bisa mencarinya." ucap Febri yang kini sudah emosi.


" Namanya Farizi." ucapnya dan membuat keduanya tersentak.


" Farizi anaknya Bapak Alam bukan?" tanya Sasya.


" Kau mengenalnya?" tanya Salma.


" Tentu saja aku mengenalnya, tetapi aku tidak menyangka ternyata sifatnya seperti itu. Kalau begitu kau adalah calon istrinya yang dikabarkan adalah anak dari Ibu Aninda." ucapnya dan Salma pun mengangguk.


" Benar aku adalah anak dari ibu Aninda, tetapi sebenarnya aku tidak menyetujui tentang pernikahan tersebut. Itu semua adalah keinginan kedua orang tuaku, dan aku tidak bisa menolak keinginan mereka." ucapnya.

__ADS_1


" Sungguh malangnya engkau Salma, tetapi kau tenang saja. Aku akan meminta Ayahku untuk mengurus segalanya, dan kau tidak akan menikah dengan Farizi." ucapnya dan Salma pun langsung memeluknya.


" Terima kasih, tetapi bagaimana caranya?" tanya sama yang penasaran.


" Kamu tenang saja Salma, Kamu tidak usah berpikiran tentang Fariza lagi. Aku jamin urusanmu dengan Farizi akan segera selesai, dan kau tidak perlu bersanding di sampingnya lagi. Orang yang memiliki sifat dan karakter seperti itu, tidak layak untuk bersanding dengan dirimu yang cantik." ucap Febri.


" Terima kasih aku ucapkan untuk kalian, kalian berdua memang adalah orang yang sangat baik." ucapnya dengan tersenyum.


" Kau tidak usah memikirkan hal aneh, insya Allah dalam waktu dekat semuanya bisa selesai." ucapnya.


...----------------...


Wulan dan Wiliam sedang jalan-jalan, dan mereka merasa dunia seperti milik berdua saja. Mereka tidak memperdulikan pandangan orang-orang, karena keduanya sudah di mabuk kasmaran.


" Sayang laper nggak?" tanya Wiliam.


" Karena kau mengatakannya, kini aku baru merasakannya." ucapnya.


" Kalau begitu kita sih nggak makan di cafe depan." ucap William.


Mereka pun berhenti di sebuah cafe, jangan langsung memesan makanan karena keduanya memang sudah sangat lapar. Kini mereka tampak sangat mesra, banyak orang yang iri melihat kedekatan keduanya.


" Sepertinya wanita itu adalah pacar dari William, Setelah dia lihat-lihat dia tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku." ucap wanita itu.


" Sudahlah Dea, lagian hubunganmu bersama dengan William juga sudah lama berakhir. Dan pada saat itu juga kau yang memutuskannya, jadi bila sekarang ia berbahagia dengan orang lain itu sudahlah wajar." ucap seorang gadis.


" Jadi ceritanya sekarang Kamu mendukung William Filza." ucap Dea yang merasa tidak senang.


" Sudahlah Dea, kau seperti tidak mengetahui jalan pikiran Filza." ucap Keyza untuk menghentikan pertengkaran.


" Kenapa kita harus memiliki teman yang pola pikirnya lambat." ucap Dea yang kesal.

__ADS_1


__ADS_2