Rela Walau Sesak

Rela Walau Sesak
Sasya 12


__ADS_3

" Memang aku ada salah ya?" tanyanya dan membuat semuanya tertawa dengan kuat.


" Kau nggak salah Desi, cuma perkataan mu salah tempat." jelas Sasya.


" Eh gitu ya, maaf deh. Tapi yang penting kita makan kue kan?" tanyanya dengan antusias.


" Iya kita makan, tapi sebelum Ira kau potong dulu kuenya." ucap Widia dengan memegang kue ulangtahun Ira.


Ira pun langsung memotong kue tersebut, kemudian ia menyuapi teman-temannya satu demi satu. Setelah proses itu selesai mereka pun berfoto bersama, Ira tampak sangat bahagia di foto tersebut. Sangat berbeda dengan Ira yang meraka kenal.


Mereka pun terus melanjutkan acara hingga tiba-tiba telpon Ira pun berbunyi, dan ternyata yang menelpon adalah mama Ira. Setelah berbicara dengan sang mama di telpon, Ira pun harus pulang dan meninggalkan teman-temannya.


" Guys aku senang banget hari ini, tapi aku nggak bisa lama-lama. Karena bunda aku uda nelpon." jelasnya dan semuanya hanya mengangguk saja.


" Thanks ya semua, aku minta maaf. Tapi aku harus duluan." ucapnya dengan meninggalkan teman-temannya.


Setelah Ira pulang, akhirnya mereka satu persatu mulai pulang. Dan mereka memposting foto tadi di akun sosial media mereka, posting mereka pun di banjiri banyak komentar. Tidak hanya dari teman sekolah mereka, tetapi juga dari teman-teman organisasi mereka yang mengenal Ira.


...----------------...


" Bro lihat ini, ternyata hari ini si Ira ulang tahun." ucap Putra yang baru saja melihat postingan di akun sosial medianya.


" Mana coba, aku mau lihat." ucap Andre yang antusias.

__ADS_1


Andre pun langsung mengambil handphone Putra, dan kemudian melihat postingan tersebut. Ia lagi-lagi terpana melihat melihat Sasya, tetapi ia juga tau kalau sahabatnya Edo menyukai Sasya. Jadi dia bingung, dan memutuskan untuk memendamnya saja.


" Tak ku sangka, persahabatan mereka masih terus berjalan. Padahal mereka tidak lagi satu kelas, sungguh persahabatan yang membuat iri." jelas Andre dan semua teman-temannya hanya mengangguk saja.


" Kira-kira kita bisa nggak ya seperti mereka, kan kita akan berpisah juga setelah lulus SMA." ucap Fatur, dan semuanya hanya terdiam saja.


" Ya mudah-mudahan ya, aku si berharapnya begitu." jawab Putra.


" Bro, coba kalian lihat. Itu sih Edo jadi aneh loh, bantuin lah. Aku nggak tega loh lihat dia seperti itu." jelas Joko yang baru bergabung dan menunjuk ke arah Edo.


" Iya, Edo sangat menyediakan. Kita harus bantuin dia, kalau pun dia tidak bisa bersama dengan Sasya. Kita harus buat dia jadian sama yang lain." ucap Putra, dan semuanya mengangguk pertanda setuju.


...----------------...


Awalnya Sasya tidak menyadari kalau teman-temannya sering lewat depan rumahnya, tetapi di suatu hari saat malam minggu. Ia sedang makan martabak manis di depan rumah, bersama dengan sang Papa. Tiba-tiba seperti ada yang berhenti di depan rumah Sasya, tetapi saat Sasya melihat ke arah jalan. Tiba-tiba kendaraan itu pergi, tetapi Sasya seperti melihat wajah Edo.


Sasya tersentak dan ia sempat hanyut dalam lamunan, tiba-tiba saja sang papa memanggilnya. Dan Sasya pun tersadar, kemudian ia langsung mengikuti papanya untuk masuk ke dalam. Setelah itu ia bertemu dengan mamanya, dan ia pun menceritakan pada sang Mama kalau temannya tadi seperti di depan rumah.


" Ma, tadi aku seperti melihat teman sekolah ku berhenti di depan rumah." ucapnya.


" Nggak usa menghalu deh, lagian di depan rumah kita kan memang sering ada yang berhenti. Kalau pun dia teman mu pastinya dia datang dong, mana mungkin dia pergi." ucap sang mama dan Sasya pun mulai memikirkan, dan menurutnya apa yang dikatakan oleh mamanya ada benarnya juga.


Sasya yang sudah malas untuk berpikir, akhirnya ia melupakannya dan langsung masuk ke kamarnya untuk tidur. Tetapi tiba-tiba di grup mereka ada yang mengirim foto, dan sontak saja Sasya kaget. Karena foto tersebut letaknya tidak jauh dari rumahnya, dan akhirnya ia memikirkan wajah dari Edo yang sempet muncul.

__ADS_1


" Apakah mungkin itu Edo." batinnya.


Ia pun terus hanyut dalam lamunannya, dan akhirnya ia pun tertidur. Tiba-tiba Sasya terbangun tengah malam, karena ia penasaran dengan apa yang ia lihat tadi. Akhirnya ia mengecek akun sosial medianya, dan ia pun menemukan banyak bukti yang menunjukkan kalau mereka memang sering berada di sekitar rumah Sasya.


Sasya pun tersentak, ia menjadi penasaran dengan tujuan mereka. Tiba-tiba ia teringat kalau beberapa bulan yang lalu Edo sempat nembak dia, tapi menurutnya itu adalah prank. Ia pun merasa tidak nyaman, tetapi ia tetap berusaha untuk tidur kembali. Karena esok hari adalah hari pertama masuk sekolah di ajaran baru.


Walaupun sudah menenangkan diri, dan berusaha untuk tidur. Sasya masih saja tidak bisa tidur, dan akhirnya ia memutuskan untuk membaca novel yang baru ia beli. Ia pun membaca dengan semangat, hingga tanpa terasa cahaya matahari sudah menyapanya.


Sasya langsung bergegas untuk mandi dan berangkat ke sekolah, ia berangkat dengan menggunakan motor kesayangannya. Motor hadiah ulangtahun dari sang kakek, ia sangat menyayangi motor itu. Karena itu adalah hadiah pemberian sang kakek, sebelum ia pergi untuk selama-lamanya dari dunia ini.


Sasya berangkat dengan perlahan, karena kini masih menunjukan pukul 06:32. Yang artinya masih banyak waktu sebelum pukul 07:15, waktu jam masuk sekolahnya. Sasya pun bertemu dengan Citra, teman satu SMA nya yang juga tinggal tidak jauh dari rumahnya. Mereka mengobrol sambil berangkat ke sekolah.


" Sasya." panggil Citra.


" Eh Citra, tumben jam segini uda berangkat?" tanya Sasya.


" Iyalah cepat, kan ini hari pertama masuk ajaran baru. Jadi harus cepat, kalau nggak nanti aku duduk di depan. Kan nggak enak." ucapnya dan Sasya tertawa mendengar ucapan Citra.


" Kan enak si Cit, duduk di depan. Kita bisa dengan leluasa mendengar materi yang disampaikan guru." jawabnya.


" Itu mah untuk kau yang pinter, nah aku yang pas-pasan lebih baik cari tempat duduk di tengah-tengah. Karena pasti jangan di sebut namanya, hehehe." ucapnya dengan tertawa.


" Ye dasar, kau ini ya. Aku itu nggak pintar, cuma sedikit beruntung aja tau." ucapnya dengan tersenyum.

__ADS_1


" Terserah deh, yang penting aku nggak mau duduk pas di depan guru. Nggak sanggup mental ku, nanti tiba-tiba di panggil namanya dan di suruh jawab soal. Padahal aku belum ngerti." ucapnya.


__ADS_2