
" Wulan, sebenarnya aku punya kejutan untuk mu. Jadi aku mau kau menutup mata, boleh kan?" tanya Wiliam.
" Oh tentu boleh, aku jadi penasaran deh." ucapnya dengan tersenyum, kemudian Wiliam pun segera memasang penutup mata di mata Wulan.
Kini Wiliam menggandeng tangan Wulan, dan menuntunnya menuju tempat yang sudah ia dan teman-temannya rencanakan. Sepanjang jalan jantung Wulan berdebar dengan sangat kencang, Wulan sangat penasaran dengan kejutan yang akan diberikan oleh William.
" Apakah masih jauh lagi?" tanya Wulan.
" Tidak, sebentar lagi juga sampai." ucap Wiliam.
" Sebenarnya apa sih kejutan yang ingin kau berikan?" tanya Wulan yang penasaran.
" Nggak aci di kasih tau dong, nanti bukan kejutan lagi namanya." jawab Wiliam dengan tersenyum, dan ia sudah tidak sabar.
Setelah cukup lama berjalan, akhirnya mereka pun sampai di tempat yang sudah di persiapkan.
" Sekarang kau sudah bisa membuka mata." ucap Wiliam dengan membuka penutup mata Wulan.
Wulan pun membuka matanya dengan perlahan, ia sangat terkejut dengan apa yang ia lihat. Kemudian ia langsung melihat ke arah Wiliam, dan kini William sudah berjongkok di hadapan Wulan. Wiliam kini memegang cincin, dan hal itu tambah membuat Wulan kaget.
" Wulan, maukah kau menjadi pacarku." ucap Wiliam dan Wulan pun menutup mulutnya karena kaget.
" Terima, terima." ucap pengunjung yang ada di sana.
Wulan tidak bisa menjawab, ia hanya mengangguk saja pertanda ia setuju. Dan semua yang melihat pun bersorak gembira.
" Yes." ucap Wiliam kemudian langsung memasangkan cincin di jari manis Wulan.
" Akhirnya berhasil." ucap Putra, dan kemudian mereka pun keluar dari persembunyiannya.
" Mereka ada di sini?" tanya Wulan yang kaget melihat munculah Putra dan teman-temannya.
" Tentu aja kami ada di sini, kan kami yang membantu Wiliam menyusun semaunya." ucap Joko.
" Yang mereka bilang benar, maaf ya kau pasti kaget melihat kehadiran mereka." ucap Wiliam.
__ADS_1
" Nggak masalah, hanya saja aku…" ucapnya yang terhenti kemudian langsung menundukkan wajahnya.
" Hahaha." tawa mereka serentak.
" Yauda deh, kami nggak akan ganggu." ucap Fatur yang sudah menyadari kalau Wulan tersipu malu.
" Yang di bilang sama Fatur benar, by selama bersenang-senang." ucap Putra kemudian mereka semua pun pergi meninggalkan Wulan dan juga Wiliam berduaan.
Keduanya saling menatap, kemudian mereka pun bergandengan tangan. Kini mereka pergi mengitari taman berduaan, dan mereka tampak sangat bahagia seperti dunia hanya milik mereka berdua saja.
...----------------...
" Sasya, Wulan nggak bisa di hubungi. Padahal hari ini kita kan mau ngerjain tugas." ucap Febri dari sebrang telepon.
" Sudahlah, lagian masih lama juga tugas kita di kumpul. Mungkin aja dia sedang sibuk, kita bahas aja hal itu nanti malam. Mendingan kita jalan-jalan yuk." ajak Sasya yang memang sedang bosan.
" Boleh juga tuh, tapi kita ajak Wulan nggak ya?" tanya Febri.
" Seharusnya sih kita ajak, tapi karena dia nggak bisa di hubungi. Yauda kita berdua ajalah, aku yakin pasti dia sedang sibuk makanannya nggak bisa di hubungi." jelas Sasya.
" Terus kita berdua aja ni?" tanya Febri.
" Ya begitulah, kalau mau ngajak teman juga boleh." ucap Sasya.
" Oh iya, memangnya kita mau kemana?" tanya Febri yang penasaran.
" Aku juga tidak tahu kita mau ke mana, yang penting jalan-jalan aja lah dulu." ucap Sasya yang memang sedang bosan.
" Gimana kalau kita ke atas gedung A." usul Febri.
" Boleh juga itu, kebetulan aku juga belum pernah ke sana. Dan katanya dari atas sana pemandangannya sangat indah, tampak hamparan gedung-gedung kota dan juga sungai yang membentang." jelas Sasya.
" Kau beneran belum pernah ke sana?" tanya Febri yang penasaran.
" Belum Febri, makannya aku sangat penasaran." jawab Sasya.
__ADS_1
" Yauda, kalau begitu kita pergi ke sana." ucap Febri kemudian mematikan sambungan telepon.
...----------------...
" Akhirnya rencana kita berhasil." ucap Putra.
" Iya, Alhamdulillah rencana kita berhasil. Oh iya, jadi sekarang kita mau kemana ini?" tanya Joko.
" Gimana kalau kita ke atas gedung A, katanya dari sana bisa melihat hamparan gedung-gedung kota." ucap Fatur yang tiba-tiba angkat suara.
" Boleh juga, kebetulan aku juga sudah lama nggak ke sana." ucap Putra.
" Sepertinya kau tau banyak tentang gedung A itu?" tanya Fatur yang penasaran.
" Nggak juga, kebetulan aja dulu waktu SMP aku dan Edo sering ke sana. Dan semenjak masuk SMA kami uda nggak pernah ke sana." jelas Putra.
" Iya benar itu, suasana di sana juga cocok untuk menenangkan diri." ucap Edo.
" Kalian berdua memang sepertinya sering ke sana ya, hingga kalian mengetahui hal itu." ucap Joko.
" Yauda, ayo kita pergi ke sana. Kebetulan jaraknya nggak terlalu jauh dari sini." ucap Putra, dan mereka pun segera pergi ke tempat tersebut.
...----------------...
Kini Sasya sudah sampai di depan rumah Febri, ia pun segera menutup pintu rumah Febri. Febri pun langsung keluar, Febri menggunakan setelan celana jeans dan juga kaos berwarna hijau dipadukan dengan hijab berwarna hitam pula. Sedangkan Sasya menggunakan rok jeans dan juga kemeja putih kemudian dipadukan dengan hijab berwarna coklat.
Seperti biasa, Febri selalu terpukau dengan penampilan Sasya. Padahal penampilan saya selalu apa adanya, alias asal comot. Sasya adalah orang yang sangat tidak memperdulikan stylish, Sasha hanya selalu memadukan warna-warna yang menurutnya pas. Sasya bukanlah orang yang terlalu mementingkan tentang penampilan, karena baginya yang terpenting adalah rasa nyaman saat mengenalkannya.
Sasya dan Febri hampir sama, keduanya sama-sama tidak memperdulikan stylish. Tetapi semua yang dipakai oleh Sasya selalu tampak modis, walaupun yang dipakainya adalah pakaian berharga murah. Sasya yang selalu mengenakan kemeja tersebut, dengan postur tubuh tingginya membuat ia terlihat sangat langsing.
" Kemanapun kau pergi, kau selalu berpenampilan modis ya." ucap Febri yang memperhatikan Sasya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
" Modis dari mananya, kau kan tahu aku Febri. Aku itu nggak pernah mementingkan penampilan, pakaianku hari ini aja pasar ambil. Yang terpenting semua pakaianku sudah digosok, jadi aku hanya tinggal memilih ketika ingin mengenakannya saja. Menurutku penampilanku hari ini malah tidak nyambung, tahu lah stok pakaian gosokan ku sudah mulai habis." jelas saja dengan menggelengkan kepalanya.
" Iyalah tuh yang ngakunya nggak modis, tetapi pakaian apa yang dipakai selalu tampak modis. Aku jadi iri deh sama dirimu, tubuh yang tinggi dan juga ramping yang kau miliki. pastinya membuat banyak orang iri, dan terkadang juga membuatku minder dekat denganmu." ucap Febri.
__ADS_1