Rela Walau Sesak

Rela Walau Sesak
Sasya 58


__ADS_3

" Memangnya siapa orang tua dari pemuda itu?" tanya Sarla yang penasaran.


" Dia adalah anak dari Ozan." jawab Yesya dan membuat Sarla kaget.


" Astaga, bapak sama anak sama aja." ujar Sarla yang menjadi kesal.


" Ya begitulah, keduanya memiliki sifat yang sama. Dulu yang menjadi korban dari dia adalah dirimu, dan sekarang seorang siswa bernama Bintang." jelasnya.


" Berbicara mengenai Bintang, di mana keberadaan kedua orang tuanya?" tanya Sarla yang melihat ke sekitar.


" Mau sampai capek pun kau mencari, kau tidak akan pernah menemukan kedua orang tua dari bintang." jelas Yesya.


" Apa maksud dari perkataanmu itu?" tanyanya yang merasa.


" Bintang adalah anak yatim piatu, selama ini dia tinggal berdua dengan sang kakak. Tetapi saat ini sang Kakak sedang tidak berada di kota ini, karena sang Kakak sedang menjalani pendidikan kepolisian." jelas Yesya.


" Aku jadi kasihan dengan dirinya, hidupnya harus terusik karena ulah anak dari Ozan." jelas Sarla.


" Yah dia memang sangat kasihan, tetapi mau bagaimana lagi. Semuanya telah terjadi, dan waktu tidak bisa diputar kembali." jelas Yesya.


" Yang kau katakan memang benar, apakah kau sudah menghubungi kakaknya?" tanya Sarla yang penasaran.


" Kau tenang saja Sarla, aku sudah menghubungi kakaknya. Dan mungkin, besok pagi sang kakak baru tiba di sini." jelas Yesya.


" Pasti dia sangat terpukul dengan kejadian ini." tebak Sarla.


" Yang kau katakan memang benar, mereka hanya dua bersaudara. Dan kini kondisi Bintang masih belum diketahui, mudah-mudahan saja Bintang bisa cepat sadar. Aku sangat kasihan kepada Wahyu, dia pasti akan sangat terpukul jika kehilangan Bintang." jelas Yesya.


" Yang kau katakan memang benar, mari kita berdoa bersama-sama. Agar gadis itu cepat pulih, aku menjadi tidak tega setelah mendengar kronologi kehidupannya." jelas Sarla.


" Kehidupan yang ia jalani memang cukup pahit, tetapi itulah takdir yang telah dituliskan untuk dirinya. Dan semua itu tidak bisa kita ubah, karena kita hanyalah manusia biasa." jelasnya dan yang lain pun mengangguk.


" Yang kau katakan memang benar Yesya, apakah kau sudah menghubungi Ozan?" ucapnya.


" Aku sudah menghubungi Ozan, katanya gini iya sedang mencari keberadaan putranya itu. Dan ia tidak akan tinggal diam, karena yang dilakukan oleh putranya sudah sangat keterlaluan." jelas Yesya.


" Mudah-mudahan saja yang kau katakan benar, karena aku sudah sangat kasihan dengan gadis itu. Dan bahkan aku juga sangat kesal dengan putranya, karena ulah putranya, putraku menjadi seperti ini." jelas Sarla yang sudah kesal.

__ADS_1


" Aku pun juga kesal, karena putraku Uza juga mendapat dampak dari semua ini." jelas Yesya.


" Kita sama-sama sabar ya." ucap Sarla dengan mengelus pundak Yesya.


" Umi, bagaimana keadaan Putra?" tanya Febri yang baru saja tiba bersama dengan Wulan dan juga Sasya.


" Eh nak Febri, ngapain kesini?" tanya umi.


" Febri langsung ke sini ketika mendengar kabar dari umi, saat ini bagaimana kondisi Putra umi?" tanyanya yang khawatir.


" Alhamdulillah kondisi Putra sudah agak mendingan." jawab Sarla dengan tersenyum.


" Alhamdulillah kalau seperti itu umi." jawabnya dengan tersenyum.


" Calon menantumu ya Sarla." ucap Yesya.


" Ya begitulah." jawabnya dan Febri pun tersipu malu.


" Senangnya yang udah punya calon mantu, anakku saja belum pacaran sampai saat ini." jelasnya dengan menggelengkan kepalanya.


" Itu yang sangat sulit…" ucapnya tiba-tiba saja terhenti dan melihat ke arah Sasya.


" Kau anaknya Amar bukan?" tanya Yesya.


" Tante mengenal ayah saya?" tanyanya yang cukup kaget.


" Tentu saja saya mengenal ayahmu, ayahmu adalah sahabat dari suami saya." jelasnya dengan tersenyum.


" Oh begitu rupanya ya tante, maaf saya tidak mengenali tante." jawabnya dengan tersenyum.


" Tidak apa-apa sayang, lagian terakhir kali kita bertemu saat itu kamu masih kelas 5 SD. Tante masih ingat sekali, saat itu kamu sangat jauh dengan karakter kamu yang sekarang. Kamu itu dulu seperti anak laki-laki, kamu sangat tomboy." jelas Yesya dengan mengingat masa lalu.


" Jangan diingat-ingat dong tante, aku kan jadi malu mengingat masa kecilku." ucapnya yang kini menunduk.


" Hahaha." tawa Yesya yang pecah.


" Ternyata dulunya Sasya." batin Edo.

__ADS_1


" Kalau boleh tahu apa yang membuatmu bisa berubah menjadi seperti ini, karena hal ini sangat jauh berbeda dengan kamu saat masi kecil?" tanya Yesya yang penasaran.


" Tidak ada orang yang menjadi alasan saya berubah tante, daya hanya mendengarkan sebuah ceramah dan setelah itu hati saya tertegu." jawabnya dan Yesya pun tersenyum.


" Syukur alhamdulillah kalau begitu, oh iya kamu ngapain ke sini?" tanyanya yang baru menyadarinya.


" Saya menemani sahabat saya tante." jawabnya dengan tersenyum.


" Persahabatan yang sangat indah, mudah-mudahan saja persahabatan kalian akan awet sampai akhir hayat." ucapnya.


" Amin." jawab ketiganya serentak.


" Kalau boleh tahu kamu sudah punya pacar belum?" tanyanya.


Belum saja Sasha menjawab, tiba-tiba saja Yesya teringat akan sesuatu.


" Oh iya saya melupakan satu hal, ayah kamu Amar adalah orang yang sangat disiplin. Jadi tidak mungkin kamu memiliki pacar sebelum kamu lulus dari sekolah, dan saya yakin kamu pasti di ancam akan segera dinikahkan bila kamu memiliki pacar." ucap Yesya dan Sasya pun mengangguk.


" Bagaimana tante bisa tau?" tanyanya yang penasaran.


" Karena saya sudah lama mengenal ayah kamu, dan sikap ayah kamu juga sudah di kenal di kalangan pertemanan kami. Dan saya juga ingat, ketika kau masih kecil dulu ia selalu bersikap tegas dan saya ingat kau pernah di hukum karena kau pernah manjat pohon dan terjatuh." ucap Yesya.


" Sudah tante, jangan bahas tentang masa lalu lagi. Saya sangat malu, di sini ada banyak teman sekelas saya." ucapnya dengan tertunda malu.


" Hahaha." tawa Joko yang tiba-tiba pecah.


Sasya pun tiba-tiba langsung pergi karena malu, dan sontak saja mereka semua pun terkejut. Kini Wulan pun berusaha untuk mengejar Sasya, karena ia takut Sasya melakukan hal yang berbahaya. Karena kini Sasya sedang merasakan malu, dan itu semua karena seorang tante yang merupakan teman dari ayahnya.


" Astaga, ternyata sikap ambekannya masih ada." ucap Yesya dengan mengelengkan kepalanya.


" Dia tadi kau bilang tomboy, kenapa sekarang ambekan. Sebenarnya sikap aslinya seperti apa?" tanya Sarla yang penasaran.


" Dia itu pendiam, tapi sebenarnya manja. Ia itu sejak kecil nggak dekat dengan orang tuanya, jadi ia selalu saja mencari perhatian dari kedua orang tuanya." jelas Yesya.


" Pantas saja, tampaknya nasibnya sangat kasihan. Lebih baik seperti Bintang, ia kurang kasih sayang karena nggak punya orang tua. Tetapi seperti dia sungguh sangat menyakitkan, karena tidak di pedulikan oleh orang tuanya." jelas Sarla.


# Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.

__ADS_1


__ADS_2