
Tamu yang datang adalah, keluar Sasya dari pihak ayah. Sebenarnya ia merasa tak nyaman, karena ia memang tidak dekat dengan keluarganya dari pihak ayahnya. Tetapi mau tidak mau ia harus menyambutnya, karena walau bagaimanapun mereka tetaplah keluarganya.
Sasya tidak terlalu suka dengan keramaian, tetapi ia sangat senang dengan kehadiran keponakannya. Ia merasakan kebahagiaan saat bertemu dengan keponakannya, para keponakannya memiliki karakter yang berbeda dan membuatnya nyaman.
'' Uti Sasya.'' ucap seorang gadis kecil kemudian berlari memeluk Sasya.
*Uti artinya Tante, bibik, dan semacamnya.*
'' Eh ada Rika, keponakan kesayangan Uti. Uda sampai ya, ayah dan bunda mana?'' tanya Sasya yang penasaran.
'' Ayah sama bunda ada di rumah buyut, Rika ke sini karena cari Uti. Rika kangen banget sama Uti.'' ucapnya yang masih berat karena pelukan Sasya.
'' Kalau gitu sekarang temani uti ketemu ayah dan bunda.'' ucapnya.
Rika hanya mengangguk, kemudian mereka akan pergi ke rumah buyut. Ia pun memutuskan untuk menggendong keponakannya, karena ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sang kakak. Mereka berdua pun akhirnya sampai di rumah buyut, atau eyang dari Sasya.
'' Kakak.'' ucapnya kemudian langsung memeluk sang kakak.
'' Halo Sasya, kangen ya sama kakak?'' tanya sang kakak.
'' Iya kak, adek kangen banget. Kakak si uda lama nggak pulang.'' ucap Sasya dengan raut wajah sedih.
'' Uti, huhuhu.'' panggil sambil menangis.
'' Loh kenapa nangis, sini gabung.'' ucap Sasya.
'' Nggak mau, maunya sama Uti aja.'' ucapnya.
'' Ye dasar anak satu ini, malah lebih milih Utinya ketimbang bundanya.'' ucap Linda, kakak Sasya.
'' Biarin aja, kan Uti yang selalu sama aku pas disini.'' ucap Rika, kemudian melarikan diri. Dengan menarik tangan Sasya.
'' Ye dasar itu anak.'' ucap Linda.
'' Ada apa?'' tanya sang nenek.
__ADS_1
'' Itu nek, buyut nenek satu itu. Dia lebih sayang sama Utinya ketimbang bundanya.'' ucapnya.
'' Biarin aja, lagian Sasya juga nggak ada kerjaan. Sesayang-sayangnya Rika sama Sasya, pasti dia lebih sayang sama kamu dan ayahnya.'' jelas sang nenek.
'' Iya nek, aku juga tau. Tapi enak garain mereka.'' ucapnya.
'' Kamu ini, nanti anak mu ngambek baru kebingungan.'' ucap sang nenek, dan Linda pun akhirnya terpikirkan kejadian saat putri kesayangannya itu ngambek.
'' Tidak.'' ucapin Linda yang mengagetkan seisi rumah, karena teriakannya.
'' Kenapa?'' ucap mama Sasya yang baru saja muncul.
'' Nggak ada apa-apa Uti.'' ucapnya dengan rasa malu, karena telah mengagetkan seisi rumah.
'' Bilang aja sama Uti Arin, nggak usah sungkan sayang. Kamu itu uda Uti anggap sebagai anak Uti juga.'' ucapnya dengan lembut sambil menepuk-nepuk pundak Linda.
'' Beneran nggak apa-apa Uti, tadi Linda cuma teringat aja sama kata-kata nenek.'' ucapnya dengan jujur, Uti Arin pun menjadi penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh nenek.
'' Memangnya nenek ngomong apa sama kamu sayang?'' tanyanya yang penasaran.
'' Oh iya Uti masih ingat, dan jujur pada saat itu kita semua kepalang panik. Kita semua berusaha melakukan hal yang membuat ia tenang, tetapi bukannya tenang teriakannya justru bertambah besar.'' ucapnya yang tiba-tiba saja teringat dengan kejadian itu.
'' Jadi sekarang Uti ngerti kan, kenapa tadi aku teriak?'' tanyanya kepada sang Uti.
'' Iya Uti tau, dan jujur kejadian itu nggak kebayang. Kalau bisa jangan sampai terulang lagi ya, bisa-bisa kepala kami semua botak.'' ucapnya yang masih merasa trauma.
'' Iya Uti, makannya sekarang aku Biarin aja si Rika.'' ucapnya kembali.
'' Ngomong-ngomong Rika ke mana ya, tumben nggak nampak?'' tanya Arin.
'' Kebetulan Rika lagi sama Sasya Uti.'' ucapnya.
'' Oh yauda gpp, lanjutkan aja. Mereka berdua memang sangatlah akrab, jadi biarkan saja.'' ucapnya memberi saran.
'' Iya Uti memang benar.'' ucapnya.
__ADS_1
Sasya dan Rika bermain dengan sangat bahagia dan penuh tawa, hingga tanpa mereka sadari waktu sudah menunjukkan sore hari. Sasya langsung membawa keponakannya itu untuk mandi, kemudian menidurkannya di kamarnya seperti biasanya. Setelah Rika tertidur cukup nyenyak, akhirnya Sasya memutuskan untuk pergi menemui sang kakak Linda.
Sasya pun langsung pergi menuju rumah neneknya yang berada tepat di sebelah rumahnya, ia sangat merindukan sang kakak. Dan akhirnya ia mengganggu tidur sang kakak dan kakak iparnya, kakak iparnya cukup kesal dengan tingkah sang adik. Tetapi ia tidak bisa berkata-kata, karena sejak tadi siang sang adik selalu bermain bersama dengan putrinya.
'' Ngapain sih ketuk pintu, kakak ngantuk tau. Sana balik ke kamar aja.'' ucap Linda.
Setelah mendengar ucapan dari sang kakak, akhirnya Sasya pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan tidur bersama dengan keponakannya tersayang. Ia pun agak sedih dengan sikap sang kakak, tetapi ia mengingat kakak iparnya. Jadi ia tidak terlalu marah, dan tanpa di sadari, akhirnya Sasya terlelap.
Keesokan paginya, Sasya pun segera mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah. Dan hari ini ia telah janjian dengan Aisyah untuk bertemu di gerbang sekolah, ia pun berangkat dengan riang gembira dengan di antar oleh abangnya. Sesampainya di sekolah, sesuai dengan janji ia bertemu dengan Aisyah di gerbang sekolah.
'' Aisyah.'' panggilnya yang baru saja turun dari motor.
'' Hai Sasya, nanti jangan lupa ya kita ada latihan marching band.'' ucap Aisyah mengunakan.
'' Tenang aja aku ingat kok.'' ucapnya dengan tersenyum.
Tiba-tiba saja Wina pun muncul, ia pun menepuk pundak Sasya.
'' Sasya, siapa?'' tanyanya.
'' Oh ini teman aku di marching band.'' jawabnya.
'' Oh begitu, kalau gitu aku masuk dulu ya. ingat jangan sampai terlambat, kamu ingat kan siapa yang masuk di jam pertama.'' ucapnya kemudian melenggangkan kaki menuju ke arah kelas.
Sasya yang teringat jam pelajaran siapa, ia pun langsung pergi mengejar Wina. Dan meninggalkan Aisyah sendirian. Mereka berdua pun tiba di dalam kelas, mereka melihat seisi ruangan yang sudah penuh dengan siswa yang sedang mengerjakan tugas.
'' Sya, kamu uda siap?'' tanya Wina.
'' Mau nyontek kan?'' ucapnya dengan mengeluarkan buku tugas.
'' Ih tau aja, kamu memang bestie aku yang selalu tau apa yang aku butuhkan.'' ucapnya dengan tersenyum, kemudian memeluk Sasya.
'' Uda cepat salin, nanti keburu ibu itu datang. Uda deh dapat hukuman, sia-sia kau menyalinnya.'' ucap Sasya.
Wina pun langsung menyalin jawaban dari Sasya, tanpa mereka sadari ibu guru pun tiba. Guru pun meminta mereka untuk menukar buku dengan teman sebangku, kemudian ibu guru membacakan jawaban.
__ADS_1