Rela Walau Sesak

Rela Walau Sesak
Sasya 44


__ADS_3

" Ibu kenapa?" tanya siswa yang mengejarnya tersebut.


" Ibu gak apa-apa." jawabnya


" Beneran Ibu nggak papa?" tanya Tania yang baru saja tiba.


" Iya ibu gak apa-apa." jawabnya dengan tersenyum.


" Ya sudah, kalau begitu Ibu mau ke mana?" tanya Tania yang penasaran.


" Ibu ada urusan mendadak, kalian lanjutkan pembelajarannya ya." ucap guru tersebut.


" Kalau begitu ibu hati-hati ya." ucapannya kemudian guru itu pun segera pergi dan mereka berdua langsung kembali ke kelas.


Kini mereka sudah tiba di kelas, keduanya pun segera menyampaikan apa yang diperintahkan oleh guru itu. Dan mereka pun mulai mengerjakan tugas tersebut.


Suasana pun hening, karena mereka semuanya sibuk mengerjakan tugas. Mereka semua sibuk dengan tugasnya masing-masing, tiba-tiba saja bel pun berbunyi. Dan mereka semua pun berhambur meninggalkan kelas, tiba-tiba saja pak Rifki pun datang.


" Ya ampun kalian, kelas ini memang kelas ajaib. Ada tugas walaupun nggak ada guru, kalian pasti diam. Tapi kalau nggak ada tugas, ditambah nggak ada guru. Kelas ini uda jadi kebun binatang, kalian memang pandai menempatkan waktu. Dan kalian memang anak yang pintar-pintar, hingga membuat wali kelas kalian bangga." ucap pak Rifki, dan mereka semua pun tersenyum.


" Bapak bisa aja kalau muji." ucap Nizam selaku ketua kelas.


" Bapak ngomong fakta." ucapnya dengan tersenyum, dan kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Febri dan Sasya kini hendak keluar dari ruangan tersebut, tetapi tiba-tiba saja lengan Sasya ditarik oleh Andre. Dan ia pun segera menghadap ke arah Andre, tapi karena berbalik tidak melihat terlebih dahulu, keduanya justru kepalanya bertabrakan.


" Adu." ucap keduanya serentak karena kesakitan.


" Maaf ya Andre." ucap Sasya, dengan mengelus kepalanya yang masih merasakan sakit.


" Iya gak apa-apa, oh iya aku mau bicara dengan mu bisa?" tanya Andre.


" Kau ingin berbicara tentang apa?" tanya Sasya yang langsung to the point.


" Aku ingin membahas, mengenai tawaranku kepadamu untuk masuk anggota OSIS." ucapnya.

__ADS_1


" Maaf ya Andre, aku tidak bisa bergabung keanggotaan OSIS. Seperti yang sudah kau ketahui, aku adalah anak marching band. Sebenarnya untuk bergabung kedua organisasi itu tidak masalah, tetapi waktuku sudah habis dan tidak bisa dibagi lagi." jawabnya dengan nada selembut mungkin.


" Ya sudah tidak masalah, kalau kau sudah menginginkan hal tersebut. Semoga kau nyaman di organisasi itu, dan semoga namamu akan selalu dikenang." ucapan Andre dan membuat Sasya kali.


" Bahasamu sudah sangat keterlaluan Andre." ucap Sasya kemudian langsung pergi meninggalkan Andre.


" Sasya tunggu, aku salah ngomong apa ya?" ucapnya dengan menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.


Andre yang merasa kalau dia salah bicara, Ia pun akhirnya pergi menemui Putra. Kemudian Ia pun menceritakan kronologi kejadiannya, sontak saja Putra yang mendengarnya menjadi tertawa. Ia sangat tidak menyangka, kalau wakilnya tersebut ternyata bisa Lola.


" Hahaha, kau sangat lucu Andre." ucapnya sambil tertawa.


" Kenapa kau tertawa?" tanyanya yang penasaran.


" Kau ini bodoh atau apa sih." ucap Putra dengan menggelengkan kepalanya.


" Tolong kasih tahu dong, jangan kau tertawai aku." ucap Andre yang memang tidak mengetahuinya.


" Coba kau ingat-ingat terlebih dahulu, sebelum ia pergi kau mengatakan apa!" perintah Putra dan Andre pun melakukannya, tetapi ia tak kunjung menemukan apa yang dimaksud oleh Putra.


" Oke aku akan menceritakannya, tadi sebelum ia pergi. Kau kan sempat mengatakan "semoga namamu dikenang" coba kau pikir ulang lagi!" ucap Putra tetapi Andre masih juga tak kunjung.


" Aku tidak mengerti bahasa yang digunakan, kalau ingin berbicara kamu harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar." ucap Andre.


" Ya ampun, kenapa sih aku punya teman seperti kamu." ucap Putra yang kesal.


" Aku itu nggak ada salah Putra, makanya aku nanya kamu." ucap Andre yang kini sudah mulai emosi.


"Kau tidak menyadarinya ya, yang kau katakan itu sudah menyakitinya. Dan aku yakin pasti saat ini dia sedang marah denganmu, dan jangan salahkan aku dan juga yang lain bila dia menjauhimu." ucap Putra yang sudah kesal dengan Andre kemudian ia pun segera pergi meninggalkan Andre.


" Apa sih mengerikan itu perkataanku." ucapnya yang kini menatap William.


" Au ah, mending kau pikirkan sendiri." ucapnya kemudian juga pergi dari ruangan itu.


" Kenapa sih mereka nggak mau ngasih tahu aku." ucapnya dengan menatap kepergian William.

__ADS_1


...----------------...


" Sya, kau kenapa?" tanya Febri yang merasa temannya aneh.


" Aku tuh lagi kesal sama Andre." jawabnya.


" Memangnya apa yang dilakukan sama Andre?" tanyanya yang penasaran.


" Masa tadi dia bilang semoga aku dikenang, aku kan masih hidup. nak aja dia ngomong kayak gitu, maksudnya dia doain aku cepat meninggal." jelasnya yang sudah emosi.


" Hahaha." bulan dan Febri pun tertawa mendengar penjelasan darinya, dan kini mereka menjadi pusat perhatian dari semua siswa dan siswi yang berada di kantin.


" Kalian jangan ketawa kenapa, kalian jahat banget sama aku." ucapnya kemudian hendak pergi meninggalkan kantin, tetapi tiba-tiba saja lengannya ditarik oleh Febri.


" Jangan begitu lah, mungkin saja ia tidak sadar dengan kata-katanya." ucapan Febri yang tiba-tiba saja membela Andre dan hal itu justru membuat Sasya menjadi kesal.


" Febri, kenapa kau justru membela Andre. Kau ini teman kami bukan sih?" ucap Wulan.


" Ya aku teman kalian dong, kan kita selalu bersama. Aku hanya menyampaikan kemungkinan yang terjadi, lagian jangan sampai karena hal ini kita jadi bertengkar dengan teman sekelas kita." jelas Febri, tetapi Wulan masih kesal.


" Yang dikatakan Febri ada benarnya juga, tapi aku masih ingan tau ia sengaja atau tidak." ucap Sasya dan membuat keduanya penasaran.


" Memangnya kau akan melakukan apa?" tanya Wulan yang penasaran.


" Sudahlah kalian tenang saja, aku yakin rencanaku ini akan berhasil. Dan aku yakin setelah ini, kita akan tahu apakah Andre sengaja atau tidak." jelasnya dengan tersenyum.


" Oke." ucap keduanya dengan memberikan tanda Oke di tangannya.


" Kami akan sangat menantikannya." ucap Wulan.


" Hal ini pasti akan sangat menyenangkan, tapi aku membutuhkan bantuan kalian." jelasnya dan membuat kedua temannya itu mengerutkan dahinya.


" Oke kami akan membantu, tetapi bantuan seperti apa yang kau inginkan?" tanya Wulan dengan tatapan sinis.


Sasya pun segera membisikkan kepada kedua temannya, dan temannya dengan senang hati akan membantunya. Sebagai seorang sahabat, saling membantu adalah kamus yang akan selalu digunakan oleh mereka. Dan yang dijelaskan oleh Sasya, bagi mereka sangat menarik. Dan mereka juga sangat penasaran dengan kelanjutannya, sungguh kisah-kisah yang menegangkan.

__ADS_1


__ADS_2