Rela Walau Sesak

Rela Walau Sesak
Sasya 74


__ADS_3

" Aku tidak akan begitu Kak, aku masih selalu mengingat pesan Mama. Dan kita harus menghargai seorang wanita, pendidikanku juga mengajarkan hal yang sama." ucapnya.


" Iya maafin Kakak, Kakak hanya bergurau saja. Kakak tahu sifat dan karaktermu Hasnan." ucap Tomi dengan tersenyum.


" Kakak ini buat aku panik saja, tidak boleh berburuk sangka kepada orang. Untungnya aku juga sudah mengenal sifat Kakak, kalau tidak mungkin saja Kakak udah habis ku pukulin." ucap Hasnan yang kesal.


" Kalian berdua tidak usah bertingkah ya, kalau sampai bila terbangun kalian berdua yang ku suruh untuk menidurkannya kembali." ucap Jingga yang sedikit emosi.


" Maaf sayang, jangan marah dong." ucap Tomi yang berusaha untuk membujuk istrinya.


" Lebih baik Kak Tomi dan juga Kak Jingga urus urusan Kakak di luar ya, aku mau segera tidur. Agar besok wajahku bisa fresh ketika bertemu dengannya." ucap Hasnan dan hal itu membuat Tomi sedikit kesal.


" Iyalah tuh yang mau ketemu calon istri, ayo sayang kita keluar." ucap Tomi dan keduanya pun segera keluar.


Kini dalam pikiran Hasnan selalu saja terbayang wajah Amel, ia sungguh sangat mengagumi fisik dan juga sifat dari calon istrinya itu. Ia tidak menyangka kalau ia akan bertemu dengan mutiara, ia sangat berterima kasih kepada mamanya karena telah mempertemukannya dengan seorang gadis seperti mutiara. Ia sudah tidak sabar menantikan hari esok, Ia terus memikirkan hal itu sampai akhirnya ia pun terlelap.


...----------------...


Sang Surya kini bersinar dengan benderang, kini Hasnan bersama dengan Tomi dan juga jingga. Mereka segera pergi menuju rumah Amel, dan setelah mereka sampai Amel pun langsung membukakan pintu. Tomi sungguh tidak menyangka kalau calon Adik iparnya itu cukup cantik, ia bersyukur karena Adiknya mendapatkan seorang wanita yang tidak hanya cantik saja.


" Assalamualaikum." ucap Hasnan.


" Waalaikumsallam, silakan duduk dulu. Yang ini pasti namanya Dila." ucap Lulu dengan mendekat ke arah bayi perempuan yang mungil itu.


" Iya Nek, aku Dila." jawab Jingga.


" Apakah Jingga?" tanya Lulu.


" Alhamdulillah saya baik Tante, dan saya juga bersyukur. Karena yang akan menjadi teman saya adalah Amel." jelasnya.


" Ini semua adalah permintaan Miranda dan kebetulan mereka berdua juga menyetujuinya." ucap Lulu.


" Alhamdulillah kalau begitu Tante, kini semangkin tidak sabar. Aku berharap dalam waktu dekat mereka melaksanakan akad, jujur saja aku kesepian Tante." ucapnya.


" Tante si juga berharapnya begitu, karena juga mau gendong cucu." ucapnya dan membuat Amel malu.


" Tante ini, nanti di Amel di gas habis-habisan kalau Tante ngomong kayak gitu." ucap Jingga.


" Ya nggak apa-apa, yang terpenting Tante bisa punya cucu." ucapnya.


" Dengar tuh, Tante Lulu uda ngasih kode. Nanti kalau sudah sah langsung cepat ya." ucap Tomi dengan berbisik.


" Kakak ini apa-apaan sih, malu tau." ucap Hasnan.

__ADS_1


" Hahaha." tawa Hasnan yang pecah.


" Kalau begitu sekarang kita pergi Tante." ucap Tomi.


" Nanti dulu ya Tomi, kami lagi menunggu seseorang." ucapnya.


" Memangnya lagi nungguin siapa?" tanya Tomi.


" Lagi nungguin walinya Amel, siapa tau nanti langsung di suruh akad sama kayak kalian waktu itu." jelas Lulu.


" Yang Tante bilang benar juga, kalau begitu siapa yang akan menjadi wali Amel Tante?" tanya Tomi yang penasaran.


" Dia adalah pamannya Amel, namanya Kabir." jelas Lulu dan kini bel pun berbunyi.


" Itu pasti Paman." ucap Cahaya yang kemudian langsung berlari untuk membuka pintu.


" Assalamualaikum, Kak Lulu." ucap Kabir dengan tersenyum.


" Waalaikumsallam, Mas Kabir. Silakan masuk dulu." ucap Lulu memperkenalkan dan Kabir pun segera duduk.


" Yang mana calonnya Amel?" tanya Kabir.


" Saya Paman." jawab Hasnan.


" Siapa nama mu nak?" tanya Kabir.


" Alhamdulillah, ternyata kau anak yang sopan juga. Lulu sudah menceritakan kepada saya, jadi apakah kau siap menjadi imam untuk Amel?" tanya Kabir.


" Bismillahirrahmanirrahim, saya siap Paman." jawabnya.


" Kalau begitu nggak usa lama-lama, kita berangkat sekarang." ucap Kabir dan semuanya pun mengangguk.


Mereka pun segera pergi menemui ustad, kini mereka telah tiba di sebuah masjid.


" Assalamualaikum." ucap Kabir.


" Waalaikumsallam, cari siapa ya?" jawab seorang pemuda yang merupakan pengurus masjid.


" Kami sedang mencari ustadz Ridwan." ucap Kabir.


" Kalau begitu silakan masuk, ustadz Ridwan ada di dalam." ucapnya dan mereka pun segera masuk.


" Assalamualaikum." ucap semaunya serentak.

__ADS_1


" Waalaikumsallam, ada apa ya?" tanya ustadz Ridwan.


" Saya Kabir ustadz, kedatangan kami ke sini karena ini menanyakan waktu ustadz yang kosong untuk menikahkan keponakan saya." ucapnya.


" Keponakan, Ayahnya mana?" tanya ustadz itu.


" Kebetulan Kakak saya Fadlan sudah meninggal ustadz, jadi saya yang akan menjadi wali keponakan saya." jelas Kabir.


" Oh rupanya begitu, kalau begitu yang mana yang akan saya nikahkan?" tanya ustadz Ridwan dan keduanya pun langsung maju kehadapan ustadz Ridwan.


" Tampaknya kalian berdua masih malu-malu, atau jangan-jangan mereka berdua sama seperti kalian?" tanya ustadz itu kepada Tomi.


" Mereka tidak sama seperti kami ustadz, kami adalah pasangan yang tidak sengaja di pertemukan. Dan kemudian langsung memutuskan untuk melanjutkan ke akad, tetapi mereka adalah pasangan perjodohan." jelas Tomi.


" Rupanya pasangan perjodohan, kalau begitu sudah berapa kali kalian bertemu?" tanyanya.


" Baru dua kali ustadz." jawab Hasnan.


" Pertemuan yang cukup singkat, kalau begitu. Apakah kau sudah yakin untuk menikah dengan ndok?" tanya ustadz Ridwan.


" Insyaallah saya siap ustadz." jawab Amel yang masih menunduk.


" Kalau kamu bagaimana anak muda?" tanya ustadz itu kini kepada Hasnan.


" Bismillahirrahmanirrahim, insyaallah saya siap ustadz." jawabnya dengan lantang.


" Kalau begitu kita langsungkan akad hari ini juga, sebutkan namamu dan nama calon istrimu!" ucap ustadz Ridwan.


" Nama saya Hasnan bin Badai, dan calon istri saya Amel binti Fadlan." jawabnya.


" Baik sekarang, coba terus sebutin nama calon istrimu di dalam hati." ucap Ridwan dan Hasnan pun mengangguk.


" Siapkan acara akad." tambahnya dan penjaga masjid itu pun mengangguk.


" Baik ustadz." ucap penjaga itu.


Kini semuanya sedang sibuk menyiapkan akad pernikahan, dan akhirnya kini persiapan telah selesai. Hasnan dan juga Kabir duduk berhadapan, keduanya pun langsung berjabatan tangan. Dengan satu tarikan nafas, akhirnya kata sah pun berkumandang.


" Alhamdulillah." ucap semuanya serentak.


Keduanya kini sudah menjadi suami istri, dan Amel pun langsung mencium tangan Hasnan. Hasnan pun tersenyum melihat Amel, walaupun awalnya tidak menyangka akan secepat itu. Tetapi keduanya berusaha menerima semuanya, dan Kabir pun tersenyum melihat keponakannya sudah sah menjadi seorang istri.


" Tolong jaga Amel dengan baik ya." ucap Kabir dengan tersenyum.

__ADS_1


" Insyaallah saya akan menjaganya Paman." jawabnya.


" Dan untukmu Amel, patuhilah suamimu. Jangan membuat Ayahmu bersedih karena gagal mendidik Putrinya." pesan Kabir dan Amel pun mengangguk.


__ADS_2