
" Apa hubungannya sama aku?" tanya Putra yang merasa heran.
" Kan kamu ketua OSIS ya, dan kamu juga yang menyelenggarakan kegiatan ini." ucap Febri.
" Lalu?" tanyanya yang masih heran.
" Yang bertanggung jawab atas kegiatan ini adalah kau, jadi otomatis Kak Zepri akan menelpon dirimu." ucap Febri dan membuat Putra pun tersadar.
" Oh iya ya, kalau begitu aku jadi takut nih sama Kak Zepri. Tapi aku juga jadi penasaran, kira-kira seperti apa sih lupa Kak Zepri itu." ucap Putra yang penasaran.
...----------------...
" Astaga aku lulus, begitu juga dengan Febri dan juga Sasya." ucapnya dengan tersenyum dan loncat kegirangan.
" Tampaknya kau sangat bahagia." ucap William yang baru saja tiba.
" Wi-wiliam." ucap Wulan yang kaget.
" Kenapa kau kaget, kan aku memang di sini dari tadi." ucap William dengan tersenyum.
" Dari tadi, berarti kau melihat tingkahku." udah pulang dengan ekspresi tegang, dan William hanya mengangguk saja.
" Berarti dia melihat tingkah aneh ku dong." batin Wulan.
" Wau, dia sangat imut." batin Wiliam.
" Wulan, ada apa denganmu?" tanya William dengan melambaikan tangannya.
" Nggak ada." jawabnya kemudian berlari meninggalkan William, dan William hanya menggelengkan kepalanya saja. dan ia pun segera pergi menuju kelasnya.
...----------------...
" Sepertinya ada yang sedang membicarakanku, tapi siapa ya?" ucap Zepri.
" Beb kau kenapa?" tanya Erni yang merupakan pacar dari Zepri.
" Nggak ada apa-apa kok beb, cuma tiba-tiba perasaanku nggak enak aja." jelasnya dan Erni pun mengangguk.
" Ya sudah, kalau begitu sekarang kita lanjut makannya." ucap Erni.
" Oke." jawab Zepri kemudian mereka pun melanjutkan makan.
...----------------...
" Guys gawat." ucap bulan yang baru tiba di kelas.
" Apa yang gawat?" tanya Febri dan Sasya secara serentak.
" Tadi aku bertemu dengan William." ucapnya dengan setelan mungkin agar tidak didengar oleh yang lain.
" Ya ampun kirain apaan." ucap keduanya dengan menggelengkan kepala.
" Tapi tadi dia melihat aku bertingkah aneh." ucapnya dengan ekspresi sedih.
__ADS_1
" Memang tadi kau ngapain?" tanya Sasya yang penasaran.
" Tadi aku loncat-loncat kegirangan." jawabnya kemudian langsung menunduk.
" Ya ampun, apa sih yang membuat kau sangat bahagia?" ucap Febri yang ikut menggelengkan kepalanya.
" Sebenarnya tadi aku melihat pengumuman di mading, dan kita lolos." ucapnya dengan tersenyum.
" Kita, lolos?" tanya Febri.
" Iya, kan aku udah bilang. Kalau aku lolos aku berhak membawa dua orang, dan orang yang kupilih adalah kalian berdua." jelas Wulan dan keduanya pun menggelengkan kepala.
" Putra." panggil Febri.
" Ada apa Feb?" tanya Putra yang langsung menghampiri ketiganya.
" Katanya kalau lolos boleh bawa dua orang ya?" tanya Febri lagi.
" Iya memang itu kesepakatannya, karena yang daftar kemarin cuma dikit." ucap Putra.
" Terus kami satu divisi nggak sama dia?" tanya Febri untuk memastikan kembali.
" Kalau untuk divisi, mending kalian lihat aja di mading deh." jelas Putra.
" Kenapa nggak kau yang jawab aja?" tanya Febri kembali yang membuat Putra kebingungan.
" Karena aku nggak tahu siapa aja anggota divisi, karena yang bagi divisi bukan aku." ucap Putra dan mereka pun mengangguk.
" Tapi tunggu dulu, lalu yang bagi anggota divisi siapa?" tanya Sasya yang jadi penasaran.
" Aku kan cuma baru bertanya, kau ini ya Feb. Kau itu seharusnya emosi sama Wulan, kenapa aku juga kau ikutkan." ucap Sasya yang juga kesal.
" Iya maaf, habisnya aku kesel banget sama ini anak." ucap Febri dengan mencubit lengan Wulan.
" Udah nggak usa bertengkar, yang bagi anggota divisi itu William sama Andre." ucap Putra untuk menenangkan keduanya kemudian memberitahu informasi.
" Bisa nggak kira-kira kami dikeluarkan aja." ucap Sasya dan mendapat anggukan dari Febri.
" Iya benar itu, kan kami nggak ada daftar." ucap Febri.
" Kalau untuk soal itu, lebih baik kalian bicarakan saja kepada William dan juga Andre. Karena merekalah yang bertugas untuk membagi divisi, dan bila kekurangan anggota mereka juga yang akan repot. Jadi lebih baik kalian diskusikan kepada mereka berdua, karena di sini bukanlah tanggung jawabku." jelas Putra dan keduanya pun mengangguk dan langsung pergi menemui William dan juga Andre.
" Eh kalian mau ke mana?" tanya Wulan.
" Ya mau nemuin William sama Andre lah." jawab Febri dengan ketus.
" Jangan dong, nanti aku nggak ada temennya." ucapan Wulan dengan ekspresi memohon.
" Kami nggak mau jadi panitia, kau kan tahu kami belum tentu bisa pergi." ucap Febri dan kemudian ia langsung menarik tangan Sasya.
" Yah kalau begitu aku nggak ada kawannya." ucap Wulan dengan ekspresi sedih.
" Kan masih ada kami Wulan." ucap Fatur yang tiba-tiba saja mendekat.
__ADS_1
" Tapi kan nggak ada teman satu circle ku, jadi nggak enak." jawab Wulan.
" Udahlah nggak papa, yang penting kan kita masih sama-sama. Tapi jujur aku jadi penasaran deh, tadi kan si Febri bilang kalau mereka belum tentu bisa pergi. Kau tahu nggak apa penyebabnya, jiwa penasaranku udah meranta-ronta nih." ucap Fatur yang memang sudah sangat penasaran.
" Ya nggak dapat izin pergi lah, memang apalagi." jawab Wulan.
" Dari siapa, pacar mereka ya?" tanya Fatur yang masih penasaran.
" Hahaha, kau ini sangat lucu ya Fatur. Mereka berdua itu belum punya pacar, siapa yang memarahi mereka." ucap Wulan dengan tertawa.
" Lalu siapa dong?" tanyanya yang masih penasaran.
" Ya tentunya orang tua mereka lah, mereka berdua itu anak rumahan. Bahkan keluar malam aja nggak pernah, ini justru di suruh nginap. Akan sangat sulit, walaupun ini kegiatan sekolah." ucap bulan dan ketiganya yang mendengarkan menjadi kaget.
" Aku nggak salah dengar kan?" tanya Edo.
" Nggak Edo, yang ku ceritakan adalah kebenaran." jawabnya kemudian pergi meninggalkan ketiganya.
...----------------...
" Andre." panggil Febri yang kini berada di depan ruangan OSIS.
" Eh ada Febri dan Sasha, sini silakan masuk!" ucap Andre mempersilahkan.
Keduanya pun langsung masuk, dan kini mereka duduk di kursi yang ada di hadapan Andre.
" Kalau boleh tahu ada keperluan apa ya?" tanya Andre yang penasaran.
" Begini Dre tentang panitia pengabdian masyarakat." ucap Febri.
" Iya, ada apa ya?" tanya Andre.
" Bisa tidak kami mengundurkan diri?" tanya Febri.
" Kenapa kalian ingin mengundurkan diri?" tanya Andre kembali.
" Karena kami berdua belum tentu bisa ikut." jawab Febri.
" Kalau boleh tahu ada kendala apa ya?" tanya Andre sekali lagi.
" Karena izin dari orang tua kami." ucap Febri.
" Kalau untuk permohonan izin, kalian berdua tenang saja. Kami juga sudah membuat surat izin, yang akan diberikan kepada orang tua. Dan surat izin tersebut juga sudah ditandatangani oleh Pak JP, dan juga kepala sekolah." Jelas Andre.
Hay sedikit pengenalan
Nama : Anastasya
Sifat : Lembut dan penyang
Hobby : Bermain musik
__ADS_1
Makanan kesukaan : Sate
Minuman kesukaan : Jus wortel