
" Apa yang kau katakan ada benarnya juga, tetapi aku masih tidak tahu siapa itu wanita berinisial T." ucapnya jujur.
" Kau sudah sangat mengenalnya, dan aku yakin dalam waktu dekat kau juga akan bertemu dengannya." ucap Uza.
" Mudah-mudahan saja apa yang kau katakan adalah kebenaran, dan mudah-mudahan dengan kehadirannya aku bisa melupakan orang yang aku sukai." ucapannya.
" Mudah-mudahan saja." jawabnya.
" Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Joko yang baru saja tiba.
" Kami tidak sedang membicarakan sesuatu kok." ucap Edo yang tidak ingin Joko mengetahuinya.
" Yang dikatakan Edo benar, kami hanya bercanda gurau saja." jawabnya.
" Oh ternyata begitu, kalau begitu aku gabung dong." ucapnya yang langsung mendekati.
" Ternyata filing ku benar, Edo adalah orang yang dapat di percaya. Padahal yang datang adalah temannya, tetapi ia tetap tidak ingin temannya mengetahuinya. Padahal sebenarnya aku tidak masalah, tapi aku sangat senang memiliki teman sepertinya." batin Uza dengan menatap wajah Edo.
" Sepertinya bukan hanya itu saja yang kalian bahas, jangan sembukan sesuatu dari ku." ucap Joko yang merasa tingkah Edo dan Uza sangat aneh.
" Nggak ada Joko, lagian apa gunanya juga kami menyembunyikan sesuatu dari mu." ucapnya untuk meyakinkan Joko.
" Syukurlah kalau begitu, tetapi aku masih merasa kalau kalian menyembunyikan sesuatu dari ku." jawabnya.
" Itu hanya perasaanmu saja, coba saja kau lihat. Apakah wajah kami tegang?" ucapnya dan Joko pun langsung memperhatikan keduanya.
" Ya nggak sih." jawabnya.
" Yauda, kalau begitu kami nggak ada menyembunyikan sesuatu." jelasnya.
" Yauda deh aku percaya sama kalian." ucapnya yang sebenarnya tidak percaya.
__ADS_1
" Untungnya dia mau percaya." batin Edo.
" Oh iya, aku kan tadi dari rumah kamu Uza. Jujur saja aku nggak tega melihat Kak Wahyu, ini katakan bundamu itu benar ya kalau Kak Wahyu hanya hidup berdua dengan Bintang?" tanya Joko yang masih tidak percaya dengan info yang beredar.
" Ya itulah kenyataannya, karena itu Kak Wahyu pasti sangat terpukul bukan." ucapnya.
" Iya benar, aku sampai tidak tega untuk melihatnya." jelas Joko.
Kini mereka bertiga pun saling pandang, mereka sedang memikirkan keadaan Wahyu. Mereka semua kasihan kepada Wahyu, karena kini Wahyu hanya tinggal sendirian saja.
...----------------...
" Kau ngapain ke sini?" tanya Putra yang sebenarnya sangat bahagia.
" Ya aku ingin mencari tahu keadaanmu, dan kau malah berkeliaran entah ke mana. Aku khawatir tahu, aku kira si Ozi tiba-tiba aku mati menculik kamu." ucapnya yang khawatir.
" Hahaha, ya nggak mungkin lah Ozi bertindak sampai seperti itu. Lagian sekarang dia udah tobat, dia udah sangat kapok. Karena ternyata orang yang ia sakiti adalah adiknya, dan sekarang ia sedang mengurung diri di rumahnya sendiri." jelasnya dan membuat Febri kaget.
" Ya Andre lah, menurutmu siapa lagi. Dan lagian yang saat ini masih belum sadar juga Andre, karena itu saat ini ia sedang merasa sangat bersalah." jelasnya dan membuat Febri tersentak.
" Kau tidak sedang bercanda bukan?" tanyanya yang tidak percaya.
" Aku tidak sedang bercanda Febri, awalnya aku juga tidak percaya dengan kenyataan ini. Tetapi itulah kabar yang aku dengar, dan ternyata kedua Kakak Andre bukan Kakak kandungnya." jelasnya.
" Aku tidak menyangka hal seperti ini bisa terjadi, aku kira hanya akan terjadi di film-film saja. Eh rupanya ini terjadi di kehidupan nyata, dan hal itu terjadi di hadapanku sendiri." ucapnya dengan menggelengkan kepalanya.
" Awalnya aku juga tidak mempercayainya, tetapi setelah umi ku yang menceritakannya aku pun akhirnya percaya. Jujur saja aku merasa kalau dunia ini sangat kecil, tetapi pertemuan mereka berdua sungguh sangat tragis. Di mana biasanya pertemuan Kakak Adik adalah momen yang sangat bahagia, tetapi kali ini pertemuan mereka malah didasari oleh malapetaka." jelasnya.
" Yang kau katakan memang sangat benar, saat ini Ozi pasti sangat terpukul. Dan aku yakin begitu juga dengan Andre ketika ia mengetahuinya, apalagi kehadiran sosok yang ia lindungi telah pergi." ucapnya yang tanpa sadar berderai air mata.
" Sudahlah Febri, semuanya sudah terjadi. Kita tidak akan bisa memutarbalikkan waktu, yang kita bisa hanyalah untuk menenangkan Andre. Agar hubungannya dan juga Ozi bisa membaik, walaupun pastinya kini di hati Andre sudah tertanam kebencian." ucapnya dengan menggenggam lengan Febri.
__ADS_1
" Yang kau katakan memang benar, pastinya kalian membutuhkan perjuangan yang sangat keras. Aku tidak bisa ikut membantu menunjuk Andre, karena jujur saja aku tidak dekat dengannya. Yang bisa membujuknya hanyalah kalian, teman-teman seperjuangannya." jelas Febri.
" Yang kau katakan memang benar, dan lagi untuk saat ini yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa. Agar Andre segera pulih, dan kita dapat berkumpul dengannya kembali. Untuk urusannya dengan Ozi, biarkan saja mereka yang mengurusnya terlebih dahulu. Kita memang adalah temannya, tetapi kita tidak boleh terlalu ikut campur dalam urusan." jelasnya dan Febri pun mengangguk.
" Kita memang harus berdoa agar Anda cepat pulih, apalagi sebentar lagi kita akan menghadapi ujian akhir. Dan mudah-mudahan saja, Andre bisa pulih secepatnya dan dapat mengikuti ujian akhir sekolah bersama dengan kita. Dan kita sebagai teman memang tidak boleh terlalu ikut campur dalam urusan pribadinya, untuk hal itu lebih baik kita serahkan saja kepada keluarganya." jelasnya.
" Yang kau katakan memang benar, dan aku juga sangat ingin lulus bersama-sama dengan Andre. Mudah-mudahan saja hal itu dapat terjadi, dan kami dapat melanjutkan pendidikan kami ke Universitas yang kami inginkan." ucap Putra yang tanpa sadar berderai air mata.
" Sudahlah Put jangan bersedih, aku yakin kalian pasti bisa melanjutkan mimpi kalian bersama-sama." pondasinya kurang Febri yang langsung memeluk Putra.
" Mengapa ketika dalam dekapannya aku merasa nyaman." batin Putra.
" Maaf Put, aku nggak bermaksud. Aku hanya…" ucapnya yang kemudian berusaha melepaskan pelukannya.
Putra tidak menjawab perkataan itu, ia justru memeluk Febri dengan semangkin erat.
" Jangan lepaskan, aku merasa nyaman begini." ucapnya dan Febri pun kemudian langsung mengelus kepalanya.
" Apakah ini yang dinamakan cinta, saat bersama dengannya aku merasa nyaman. Dan rasanya aku tidak ingin lepas dari pelukannya, tetapi aku tidak mau tahu ini apa namanya." batin Putra.
" Sudahlah Putra, jangan kau pikirkan lagi mengenai Andre. Sekarang lebih baik kau pikirkan kondisimu terlebih dahulu, kamu harus lebih banyak istirahat agar cepat pulih." ucapnya dengan membalas pundak Putra.
Putra tidak menjawab perkataan Febri, iya hanya tersenyum dan mengangguk saja. Seketika Febri terpana melihat senyuman Putra, senyuman yang tidak pernah terlihat di wajahnya kini mengembang dengan sangat lebar. Febri merasa bahagia karena ia bisa melihat hal itu, momen yang sangat langka dan juga berharga baginya.
# Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.
1. Naura Abyasya
2. Derai Yang Tak Terbendung
3. Sepahit Sembilu
__ADS_1
4. Azilla Aksabil Husna