Rela Walau Sesak

Rela Walau Sesak
Sasya 11


__ADS_3

Dengan cepat, motor Sasya sudah sampai di depan rumahnya. Ia pun langsung masuk menuju kamarnya.


" Kak uda pulang?" tanya sang Mama.


" Iya ma." jawabnya kemudian langsung pergi menuju kamarnya.


Didalam kamar, ia masih memikirkan kejadian yang terjadi barusan. Tentang si Edo yang nembak dia, ia awalnya meyakini kalau itu adalah prank. Tetapi tiba-tiba ia berpikir, bagaimana kalau itu semua adalah benar. Ia terlalu memikirkannya hingga tanpa sadar, ia pun terlelap.


Keesokan paginya Sasya sudah bersiap untuk berangkat, dan tiba-tiba ia ingat kalau hari itu adalah ulangtahun Ira. Ia pun menyiapkan kado untuk diberikan kepada Ira, kemudian langsung berangkat ke sekolah.


Ia pun sampai di sekolah, dengan suasana hati seperti biasa. Dan sesuai dengan prinsip dia, yaitu awali hari dengan senyuman. Ia terus tersenyum, tanpa mempedulikan pandangan teman-temannya.


Ia segera meletakkan tasnya di dalam ruangan ujiannya, kemudian ia pergi ke ruangan Febri untuk membicarakan ulangtahun Ira. Saat di depan pintu ruangan ujian Febri, Sasya bertemu dengan Edo. Edo tidak berkata apa-apa, tetapi langsung pergi meninggalkan Sasya.


Sasya awalnya merasa heran, tetapi ia tidak mengambil pusing. Dan langsung masuk untuk menemui Febri, tiba-tiba saja ada yang menepuk pundak Sasya. Ya ternyata itu adalah Putra, teman sekelasnya dan juga ketua OSIS.


" Siap nolak cowok tambah cantik ya." ucapnya dan membuat Sasya kebingungan.


" Maksudnya apa?" tanyanya, tetapi tidak di jawab. Dan kemudian Putra pergi meninggalkannya.


" Apa jangan-jangan ini ada hubungannya sama yang semalam ya." ucapnya dengan menatap Febri.


" Mungkin aja." ucapnya.


" Sasya aku nggak nyaka kau tega sama aku." ucap Wina dengan menangis.

__ADS_1


" Apa maksudmu Wina?" tanyanya yang memang tidak mengerti.


" Coba lihat forum sekolah!" perintahnya, kemudian pergi meninggalkan Sasya.


Sasya pun segera membuka forum sekolah, dan alangkah kagetnya ia. Ketika ia membaca berita yang sedang heboh di perbincangkan, berita itu adalah berita tentang diri yang menolak sang pangeran sekolah. Yaitu Edo, yang menurut itu hanyalah prank semata. Tetapi ia tidak menyangka akan membuat, seisi sekolah menjadi heboh.


" Febri aku salah baca kan?" tanyanya untuk memastikan.


" Tidak Sya, kau nggak salah baca." jawabnya.


" Apa, bukannya semalam hanya prank ya." ucapnya yang kaget dan tanpa sengaja di denger oleh Nizam.


Nizam pun segera mencari Edo, untuk menyampaikan apa yang baru saja ia dengar. Ia pun berkeliling, hingga tak terasa bel pun berbunyi. Nizam akhirnya memutuskan untuk kembali ke kelasnya, dan akan menceritakannya nanti setelah pulang sekolah.


Semuanya pun segera masuk ke kelas, dan tak butuh waktu lama. Guru yang akan mengawasi proses ujian pun tiba, mereka semua mengerjakan dengan sangat tekun. Tetapi tidak dengan Andre, ia terus menatap Sasya. Ia sebenarnya sangat penasaran, mengapa temannya Edo. Yang merupakan salah satu pangeran sekolah, bisa suka dengan Sasya yang menurut penampilannya biasa aja.


Karena Sasya sudah lelah, akhirnya ia pun membiarkan saja sikap Andre. Hingga tidak terasa waktu ujian pun selesai, kini Sasya yang sudah bosan dengan tingkah Andre. Ia pun tersenyum, kemudian langsung pergi meninggalkan Andre.


Andre langsung menemui teman-temannya di tempat biasanya mereka berkumpul, semua sudah sangat menantikan kedatangan Andre. Karena mereka sangat penasaran, dengan informasi yang di dapatkan oleh Andre. Andre pun tiba dengan senyumannya yang sangat menawan.


" Sepertinya sangat happy Dre?" tanya Putra.


" Aku cuma baru nyadar aja, ternyata senyum Sasya itu buat melow. Dan pantas saja Edo bisa suka sama dia, padahal menurut ku Sasya biasa aja. Pada awalnya ya, tapi kini tidak." Jelasnya.


Sontak semuanya kaget dengan pengakuan dari Andre, dan Edo langsung menatap sinis ke Andre. Karena ia merasa memiliki saingan, dan saingan itu berasal dari temannya sendiri. Tetapi ia tidak mengetahui kalau Sasya tidak mungkin dengan Andre, bahkan itu bukan rahasia. Karena bisa di lihat dari sikap Sasya pada Andre dan sebaliknya.

__ADS_1


" Tenang aja Do, aku nggak mungkin rebut Sasya. Aku tau kau suka padanya, dan sebagai teman aku baru membantumu bukan menikung mu." jelasnya dan membuat Edo tersebut.


" Syukur deh, kirain kau mau bersaing." ucap Putra yang merasakan hawa tidak enak dari tadi.


...----------------...


kini Sasya dan Febri pergi ketempat yang sudah disepakati sebelumnya, karena mereka ingin merayakan ulangtahun Ira. Sejak awal memasuki kelas XI Febri sudah dekat dengan Sasya dan juga teman-teman Sasya, karena itu ia ikut merayakan ulangtahun Ira. Tetapi kini tidak ada Wina, semuanya sudah menebak kalau Wina tidak akan hadir setelah membaca berita di forum sekolah.


Walaupun begitu mereka tetap santai, dan tidak ingin membuat Sasya merasa tidak enak. Karena sebenarnya mereka juga mengetahui kebenarannya, tidak seperti Wina yang tidak mengetahuinya karena ia sudah jarang ikut berkumpul dengan mereka. Dan memilih bergabung dengan teman barunya yaitu Tara.


Ketika Sasya sampai, dekorasi sudah siap. Mereka sengaja menyiapkan sebelum Sasya datang. Karena mereka sudah tau perasaan Sasya sedang kacau saat ini, dan berencana menghiburnya. Tetapi mereka masih bingung, dan tidak tau caranya menghibur Sasya.


" Hai guys, loh kok uda siap dekor si. Kan rencananya kita mau bareng-bareng ngedekornya." ucap Sasya yang baru sampai.


" Nggak apa-apa, lagian kau lama datangnya. Jadi biar nggak ketahuan sama Ira, kami cepatkan deh." ucap Widya dengan tersenyum.


" Oh gitu, Maaf ya teman-teman. Karena aku datang terlambat, kalian jadi dekor tanpa aku." ucapnya dengan rasa bersalah.


" Yauda la Sya, sekarang kita sembunyi aja. Karena si Ira uda jalan ke sini." ucap Widya, kemudian mereka semua pun bersembunyi.


Dan benar saja, tidak lama setelah mereka bersembunyi. Ira pun sampai ke tempat itu, kini ia merasakan keanehan. Ia melihat tempat yang sepi dengan dekorasi yang menurutnya sangat aneh, setelah puas membuat Ira kebingungan. Akhirnya mereka semua pun keluar dari tempat persembunyiannya.


Ira sangat bahagia, karena ternyata teman-temannya sangat peduli dengannya. Bahkan sampai mau repot-repot hanya demi untuk merayakan ulangtahunnya, Ira menangis dengan tersedu kemudian memeluk teman-temannya.


" Makasih semuanya, aku nggak nyangka kalian ingat ultah ku. Dan sampai buat kejutan untukku." ucapnya dengan meneteskan air mata.

__ADS_1


" Uda jangan nangis, nanti cantiknya hilang." ucap Pena dan semuanya hanya tertawa saja.


" Ih Pena, kau nggak enak banget. Nggak tau apa kalau aku lagi terharu, eh malah ngerusak momen." ucap Ira yang kesal.


__ADS_2