Rela Walau Sesak

Rela Walau Sesak
Sasya 54


__ADS_3

" Umi tenang aja, Edo akan aman sama kami. dan kami juga nggak akan berantakin rumah umi, agar si Putra tidak marah." ucap Joko yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan umi dan juga Putra.


" Kalau gitu umi berangkat dulu ya." ucapnya dengan melambaikan tangan kemudian keluar dari rumah.


kini mereka hanya meratapi Edo, Edo terus saja menangis tanpa suara. Edo terus aja mengingat perkataan dari Sasya, dan ia merasa sakit karena cinta nya harus usai hanya karena persahabatan. Orang yang sangat menjunjung persahabatan sangatlah jarang, dan orang seperti itu sangat beruntung bila dimiliki.


Ia selalu saja mendengar, dan mengingat apa yang dikatakan oleh Sasya. Ia Bun mencoba melupakan arah hatinya, dan mencari siapakah orang yang akan menjadi penggantinya. Ia juga tidak ingin memaksakan, karena pastinya Sasya juga merasakan hal yang lebih menyakitkan. Ia juga mengetahui pandangan Sasya, sebenarnya Sasya juga menyukainya tetapi ia tidak enak hati kepada sahabatnya sendiri.


" Aku tidak boleh seperti ini, Sasya juga mengatakan aku harus bahagia. Tetapi ia tidak bisa berada di sampingku, karena ia tidak ingin membuat pertengkaran yang semakin besar." batinnya untuk menyemangati dirinya.


" We, ayo kita keluar." ucap Edo yang mengagetkan mereka semua.


" Kau sudah baik-baik saja?" tanya Putra untuk memastikan.


" Aku sudah baik-baik saja, aku juga tidak bisa terhanyut dalam situasi. Walaupun sebenarnya menyakitkan, tetapi aku harus mencoba keluar dari situasi ini. Percuma saja aku bersedih, karena situasi ini tidak akan pernah berubah. Aku harus membuka lembaran baru, dan menjauh dari kata persahabatan yang akan merusak hatiku." jelasnya dan mereka semua pun tersenyum.


" Kau sudah yakin dengan keputusanmu?" tanyanya sekali lagi untuk memastikan.


" Aku yakin Putra, Sasya juga mengatakan aku harus bahagia. Walaupun dia tidak ada di sampingku sebagai pasanganku, dia akan terus ada di sampingku sebagai sahabatku." jelasnya.


" Kau yakin dengan perkataan, apakah kau bisa bersahabat dengannya?" tanyanya untuk memastikan kembali karena ia merasa hal tersebut tidak mungkin terjadi.


" Aku akan terus mencobanya, walaupun itu akan sangat sulit. Dan aku tidak tahu akan kapan berakhirnya, dan mungkin untuk saat ini aku tidak mau bertemu dengannya." jelasnya dengan meneteskan air mata.


" Aku mengerti dengan perkataanmu, karena sekarang kamu sedang mencoba untuk melupakan Sasya. Bagaimana kalau kamu mencoba dekat dengan Tara?" tanya Fatur memberi usul.


" Kau tidak perlu memikirkan perkataan Fatur, Fatur hanya memberi usul saja. Bila kau tidak mau dekat dengan siapapun, itu juga tidak masalah. Kami akan selalu ada bersamamu, hingga kita dewasa nanti." ucap Putra untuk menenangkan Edo.


" Terima kasih Putra, tetapi yang dikatakan oleh Fatur ada benarnya juga. Mungkin bila aku dekat dengan Tara, aku bisa melupakan Sasya. Aku akan memikirkannya terlebih dahulu, sekarang aku juga tidak ingat salah dalam mengambil keputusan." jelasnya dengan tersenyum.


" Ya sudah kalau itu keputusanmu, bila kau memang sudah ingin mendekati Tara. Kau tinggal katakan saja kepada kami, kami akan membantumu. Walaupun sebenarnya kami membantu Tara, hehehe." ucap Fatur dengan tertawa.

__ADS_1


Mereka semua pun ikut tertawa mendengar tawa dari Fatur, kini senyuman mengembang di wajah Edo. Mereka semua pun bahagia melihat hal tersebut, akhirnya senyuman itu terukir di wajahnya. Dan kini mereka menjadi tenang, karena temannya sudah mencoba membuka hatinya. Walaupun hal itu masih belum pasti, setidaknya secerca harapan kebahagiaan muncul.


" Bagaimana kalau nanti malam kita ketemuan sama Tara." usul Fatur.


" Kayaknya nggak dulu, mungkin besok atau lusa." jawab Edo.


" Baiklah, kalau itu memang keputusan mu." jawab Fatur.


" Ayo kita jalan-jalan." ajak Edo.


Akhirnya mereka pun pergi untuk jalan-jalan, kini mereka memutuskan untuk makan di sebuah restoran. Alangkah kagetnya mereka ketika melihat Sasya sedang bersama dengan seorang pemuda, Edo terus saja menatap ke arah Sasya. Mereka pun akhirnya menyadari hal tersebut, dan berusaha mengajak Edo pindah dari sana.


" Edo, jangan kau lihat dia. Lebih baik kita pindah saja." ucap Putra.


" Itu anak, buat aku emosi aja." ucap Joko yang langsung menghampiri meja Sasya.


" Joko tunggu." ucap Putra yang berusaha untuk mengejarnya.


" Woy." ucapnya yang sudah emosi.


" Kau siapa sih, datang-datang main gebrak meja?" tanya pemuda itu yang kesal.


" Jadi kau lebih milih dia dari pada teman kami, dia itu item dekil lagi." ucap Joko.


" Apa kau bilang." ucap pemuda itu yang sudah emosi.


" Aku bilang kau dekil." ucapnya.


" Koko tenang dulu ya, dia ini teman sekolah dedek." ucap Sasya untuk menenangkan pemuda itu.


" Koko segala panggilannya, dia itu dari tampang aja orang biasa. Mana ada keturunan cina yang dekil kayak dia, hahahaha." ucap Joko.

__ADS_1


Plak (suara tamparan)


" Sya kau nampar aku, dan itu semua demi dia. Ternyata benar ya, anak culun kayak kau pasti carinya yang satu level." ucap Joko.


Plak


" Kenapa kau nampar aku lagi, kan aku ngomong fakta." ucapnya yang percaya diri.


" Dengar ya orang sok ganteng, padahal kau itu juga burik…" ucap Sasya.


" Kita jangan ikut campur, nanti masalahnya nggak selesai-selesai." ucap Putra untuk menahan teman-temannya.


" Apa kau bilang, jelas-jelas aku ganteng. Yang burik itu pacarmu, dan kau lebih milih dia dari pada teman kami." ucapnya.


Plak


" Kau dengerin baik-baik ya, aku nggak akan marah kau menghinaku. Tapi aku nggak terima kau menghina Koko ku, dan dia memang bukan keturunan cina asli seperti temanmu. Tapi Koko ku ini adalah orang yang paling sayang sama aku, walaupun dia uda punya kehidupan dengan ayah tirinya yang cina dan kaya itu. Tetapi dia masih mau datang untuk mengunjungi adiknya, walaupun paman ku sudah meninggal lama." jelas Sasya dengan berderai air mata, dan mereka yang mendengarnya pun tersentak.


" Ternyata dia sepupu Sasya kalau begitu." ucap Fatur.


" Sudahlah dek jangan nangis, nanti koko bisa dimarahi sama uti." jelasnya dengan menghapus air mata Sasya.


" Maaf, aku nggak tau." ucap Joko dengan menunduk karena malu.


" Sudahlah, untuk mu jangan gegabah mengambil tindakan. Karena yang kau lihat belum tentu kebenarannya, aku pergi dulu." ucap pemuda itu dengan membawa Sasya pergi.


Kini mereka pun langsung menghampiri Joko, mereka tau saat ini Joko dengan merasa malu dengan tindakannya. Apalagi setelah dia mengetahui kalau Sasya ternyata pergi bersama dengan sepupunya, bukan dengan kekasihnya.


" Makannya jangan mudah emosian." ucap Putra.


" Ya aku kan nggak terima, masa dia lebih memilih pemuda burik itu dari pada Edo. Ya mana ku tau kalau pemuda itu ternyata adalah sepupunya." jelas Joko.

__ADS_1


__ADS_2