Rela Walau Sesak

Rela Walau Sesak
Sasya 52


__ADS_3

" Yang kau katakan memang benar, tetapi entah kenapa aku merasa itu bukan jurusan yang cocok untukku." ucapnya yang masih bimbang.


" Percayalah dengan apa yang dikatakan oleh orang tuamu, aku yakin kedua orang tuamu juga sudah memikirkannya dengan matang-matang. Merekanya pasti juga menginginkan kesuksesanmu, dan setelah mereka mempertimbangkannya itu adalah jurusan yang terbaik untukmu." ucapnya untuk meyakinkan Edo kembali.


" Aku akan memikirkannya dengan sebaik-baik mungkin, tapi aku masih belum bisa jamin akan mengambil pilihan yang dipilihkan oleh orang tuaku." jelasnya.


" Aku kan hanya memberikan saran kepadamu, untuk keputusan akhir tetap berada di tanganmu. Dan ingat satu hal, sebisa mungkin jangan kecewakan kedua orang tuamu." ucap Sasya dengan tersenyum.


" Aku akan mengingat pesanmu, dan sekarang giliran aku yang penasaran. Mengapa kau ingin mengambil jurusan kimia farmasi?" tanyanya yang memang penasaran.


" Bisa dibilang ini adalah keinginan orang tuaku juga, awalnya mereka menginginkanku untuk menjadi dokter. Tetapi aku tidak menginginkan menjadi dokter, dan itu semua karena trauma yang aku miliki." jawabnya yang tanpa sadar meneteskan air mata.


" Kau memiliki trauma?" tanya Edo yang tidak percaya.


" Ya mungkin kelihatannya aku tanpa celah, tapi aku memiliki sebuah trauma yang masih membekas sampai kini. Pada saat aku duduk di kelas 1 SMP, aku dan temanku mengalami kecelakaan yang cukup hebat. Alhamdulillahnya sih akunya tidak apa-apa, Tapi temanku mengalami patah tulang di bagian kakinya. Dan jujur saja, sampai gini aku masih mengingat kejadian itu. Darah yang mengalir begitu banyak, hingga membuatku hampir pingsan ketika mengingatnya." jelasnya dengan wajah yang memucat.


" Jangan kau ceritakan hal itu lagi, wajahmu sudah tampak pucat." ucap Edo dengan mengelus kepala Sasya.


" Ya beginilah yang terjadi kepadaku, hingga sampai gini aku memiliki trauma akan darah." jelasnya.


" Sudah aku katakan, jangan kau ceritakan tentang hal itu lagi. Sekarang kau harus mulai belajar untuk melupakannya, kejadian itu memang tidak mungkin bisa terlupakan oleh dunia. Tetapi kejadian itu bisa terlupakan oleh alam bawah sadar kita, dan oleh karena itu aku meminta kau untuk melupakannya. Karena hal ini akan sangat berbahaya bagi dirimu, baru menceritakan tragedi tersebut saja kau sudah memucat." jelasnya yang memang khawatir.

__ADS_1


" Andai saja semua itu bisa dengan mudah kulakukan, tetapi itu sangat sulit. Apalagi aku bahkan selalu ingat hal-hal yang tidak diperlukan, terkadang aku mencurigai ini daya otakku saja yang terlalu banyak bisa menyimpan memori atau ini sebuah penyakit." ucapnya yang memang sangat menginginkan dapat melupakannya.


" Apa, jangan bilang kau juga masih ingat waktu pertama kali kita masuk sekolah. Atau masa-masa lain yang sebenarnya tidak penting, dan sebenarnya tidak ada kenangan baik di saat itu." ucap Edo dan Sasya hanya menunggu saja.


" Yang kau katakan sangatlah benar, dan bahkan aku juga mengingat momen pertentangan kita di waktu kita masih kelas X." jelasnya dan membuat Edo kaget.


" Kita pernah bertengkar sewaktu kelas X, aku kok nggak ada inget sama sekali ya." ucapnya yang berusaha mengingat.


" Kau tidak usah berusaha untuk mengingatnya, aku saja sebenarnya ingin melupakannya. Tapi entah kenapa memori itu tidak pernah bisa dilupakan, dan memori itu selalu membekas dalam pikiranku." jelasnya.


" Apakah ini ada hubungannya dengan penolakanmu?" tanyanya yang tiba-tiba saja.


" Kenapa kau mengatakan hal seperti itu, tolong jangan buat aku bingung!" ucapnya ya memang sedang kebingungan.


" Kalau dari sisi pertengkaran ini tidak ada hubungannya, tetapi ini ada hubungannya dengan pertemanan kita sewaktu masih duduk di bangku kelas X. Sebenarnya aku enggan untuk menceritakan hal ini kepadamu, tapi alasan utama aku bukanlah karena pertengkaran itu. Aku lebih memilih persahabatan, karena aku tidak ingin persahabatan yang aku bangun hancur begitu saja." jawabnya dan Edo pun mengganggu.


" Lalu bagaimana persahabatanmu saat ini?" tanyanya yang memang sudah menyaksikan pertikaian antara keduanya.


" Tidak usah kamu tanyakan lagi tentang persahabatanku, persahabatanku dengannya sudah hancur. Dan kini aku tidak ingin mengingat masa-masa itu lagi, hanya satu hal yang ingin aku katakan kepadamu. Bila memang kita berjodoh, kita pasti akan dipertemukan kembali. Namun, bila memang kita tidak berjodoh. Aku harap kau bisa menemukan pendamping, yang bisa selalu ada di sampingmu dan mengerti dirimu." ucapnya kemudian Edo pun langsung memeluknya.


" Tidak bisakah kita bersama?" tanyanya yang kini masih memeluk Sasya.

__ADS_1


" Untuk saat ini kita tidak bisa bersama Edo, aku memiliki janji yang harus aku tepati. Dan janji ini berhubungan dengan masa depanku, bila aku melanggar janji ini. Maka aku tidak akan bisa melanjutkan jenjang perkuliahan, dan mungkin aku juga akan dikirim jauh dari sini." jelasnya yang tanpa sadar meneteskan air mata.


" Maksudmu apa, aku tidak mengerti dengan apa yang kau bilang." ucapnya gini dengan mengguncang tubuh Sasya.


" Kau mengetahui, kalau aku adalah anak yang disiplin. Setiap yang kulakukan, sebenarnya adalah usaha untuk menepati janji yang sudah ku buat. Karena itu, janji kali ini adalah janji yang paling besar. Aku tidak bisa menjalin hubungan dengan siapapun, atau ketika tamat SMA aku akan langsung dinikahkan. Dan bahkan aku akan dinikahkan dengan orang yang tidak aku kenal sama sekali, alias dijodohkan." ucapnya dengan berdarah air mata.


" Sampai separah itukah?" tanyanya yang masih tidak percaya.


" Memang ini adalah hal yang sulit untuk dipercaya, tetapi inilah kenyataannya. Karena itu aku mohon Edo, izinkan aku untuk meraih mimpiku. Dan bila memang kita berjodoh, kita akan dipertemukan di masa-masa yang tepat." ucapnya.


" Apakah janji itu tidak bisa ditentang?" tanyanya.


" Sebenarnya janji ini sudah bisa ditentang, karena sebentar lagi kita juga akan lulus SMA. Tetapi aku masih tidak ingin menyakiti temanku, setidaknya sampai ia bisa melupakan rasa sakit itu." jawabnya.


" Itu akan memakan waktu yang cukup lama, karena aku yakin mungkin sampai gini ya masih menyukaiku." ucap Edo yang membanggakan diri.


" Itulah yang menjadi penyebab utama, biarkan lukanya mengering terlebih dahulu. Karena itu aku mengatakan, kalau memang kita berjodoh pastinya kita akan dipertemukan kembali." ucapnya kemudian pergi meninggalkan Edo.


" Sasya, tunggu…" ucapnya yang berusaha mengejar Sasya.


Tetapi langkahnya tak kunjung sampai, dan Sasya pun menghilang dari pandangannya. Edo kini terduduk, dan menatap ke arah kepergian Sasya. Tanpa sadar air matanya pun menetes, dan dia tidak menyangka kisahnya dengan Sasya harus berhenti di sini. Kisah yang sudah ia pendam selama 1 tahun lamanya, dan akhirnya ia berusaha untuk mengungkapkannya. Tetapi kisah itu kini harus kandas, dan ia juga tidak bisa berjuang kembali. karena penghalang dari itu semua, adalah kata persahabatan.

__ADS_1


__ADS_2