
#10
"damn it!" gumamku.
"apa dek?" tanya Kenzo memastikan.
"hah?!" kataku blo*on
"kamu ngomong apa? ngatain aku?" tanyanya lagi, kini matanya lurus natap aku.
"e-enggak. tuh si Gio, ngeselin nyantai banget mainnya, gak ada yang meleset lagi!"
Kenzo senyum tipis, "owh kirain!" katanya sambil fokus lagi ngeliat Gio.
Aku mulai mengedarkan pandanganku, nyari sosok tadi, tapi sialnya udah gak keliatan batang hidungnya.
"cabut yuk guys, males gue. daritadi ngambil boneka gak ada yang nyangkut" manja Nayla, kita cuma ketawa dan pergi ngikutin si tuan putri.
***
Hari ini aku janjian sama Bisma mau jalan-jalan. Rada malas sebenernya, apalagi dari kemaren dia susah banget dihubungi. dan akupun nyuekin dia balik. Setelah dapat kabar kalau Bisma udah nunggu depan kos, dengan pasang wajah kecut aku keluar kamar.
"Ra, jalan dulu ya!" pamitku saat lewat kamar Rara.
"lo beneran gak ikut ke kontrakan?" tanyanya, yang dimaksut adalah kontrakan Gio dan Kenzo.
"Enggak deh kayaknya, ni Bisma udah di depan" kataku sambil numpang ngaca ngerapiin rambut.
"yaudah kalau gitu ntar gue langsung berangkat ya, gak nungguin elo"
"iya gak usah, gue tinggal ya" kataku sambil nyelonong pergi, Rara cuma ngangguk.
"Hay Bi!" sapa Bisma saat aku masuk mobil, senyum merekah menghiasi wajahnya. Aku hanya pasang wajah datar.
"makan dulu ya" ajaknya, aku hanya ngangguk.
Sepanjang jalan aku lebih banyak diem, hanya nimpali omongan Bisma singkat.
"kamu kenapa Bi?" tanya Bisma saat kita udah selesai makan.
"kenapa emangnya?" aku balik tanya.
"gak usah boong Bi, daritadi kamu banyak diem gak bawel kayak biasanya" katanya sambil megang tangan aku.
"ngobrolnya nanti aja" kataku sambil berdiri, Bisma menghela nafas pelan. dia mengikutiku keluar resto.
"mau kemana ini Bi?" tanya Bisma lagi "mau nge-mall gak?"
"bosen, kemaren baru nge.mall" ketus ku.
"oh ya? kog gak bilang sih. kemaren ke mall mana?" tanyanya antusias.
"mall yang sama kayak kamu dan Indira datengin kemaren" jawabku sambil ngeliat ke arah Bisma.
Bisma ngeliat aku "Bi..." dia mau pegang tangan aku, tapi kutepis. Bisma mengusap wajahnya kasar.
"Kita ngobrol di apartemenku mau?" tanya Bisma, aku ngeliat wajahnya. mukanya sendu. Akhirnya aku ngangguk.
__ADS_1
Ini kedua kalinya aku ke apartemen Bisma, dulu aku kesini waktu Bisma sakit, dan aku sengaja nemenin dia. tapi setelah itu tiap kali Bisma ngajak kesana aku selalu nolak. takut terjadi sesuatu yang diinginkan, hehehe.
Aku duduk di sofa, Bisma ngambil minuman dingin di dapur.
"minum dulu Bi, biar atinya adem" ucap Bisma sambil nyengir.
Ku tatap wajahnya kesal, "ck..." kutegak minuman dingin itu sampai tinggal setengah.
"jadi dari kemaren kamu nyuekin aku gara-gara kamu liat aku jalan sama Indira?kamu cemburu?" tanyanya sambil megang tangan aku dan dicium.
Ya, kemaren aku emang liat Bisma dan Indira jalan berdua di Mall, tepat saat aku juga jalan sama temen-temen.
"menurut kamu?" ketusku sambil natap Bisma tajam.
"Maaf Bi, aku sama Indira bener-bener gak sejauh yang kamu bayangin" jelas Bisma, dia terus megang tangan aku.
"masak? wong aku liatnya kalian berdua ketawa bareng kayak lagi pacaran" ucapku kesal, kuhempaskan tangan Bisma.
Bisma ngenggam tanganku lagi "oke aku jelasin, kemaren itu mama maksa minta dianter kerumah Indira, sudah aku anter Mama nyuruh aku sama Indira ngambil pesanan baju dibutik langganan Mama, di Mall itu. terpaksa deh aku iyain. kamu jangan salah paham dong Bi."
"kenapa kamu gak bilang dulu ke aku? main jalan aja"
"dadakan Bi"
"Jujur sama aku, kamu sering jalan berdua sama Indira di belakang aku?"
"cuma beberapa kali doang Bi, itupun karena dipaksa Mama"
"jujur!" bentakku.
"aku jujur Sayank" melasnya " udah dong, kamu jangan marah-marah lagi, apalagi karena masalah itu terus"
"belum tentu jadi tunangan Bi, lagian aku juga udah bilang ke Indira kalau aku punya pacar. Dan dia juga setuju mau batalin perjodohan si*lan ini" katanya dengan sedikit emosi.
Aku pandang wajah tampannya, "I love you Bi" ucapnya sambil nyium tanganku.
Inilah alasan kenapa aku ragu ngakuin Bisma sebagai pacarku, saat aku mengakui itu otomatis aku langsung inget kalau Bisma dijodohkan oleh orang tuanya. Dulu Bisma pernah berniat ngajak aku ketemu Mamanya, mau ngenalin dan secara gak langsung nolak perjodohan itu. Tapi Mamanya menolak bertemu dan nentang keras hubungan kami. Sampai keduanya tengkar, dan Bisma milih tinggal di apartemen.
"Aku harus gimana sih Bi?" gumamku sambil netesin air mata.
Satu sisi aku sayank sama Bisma, di sisi lain aku rasa hubungan kita gak ada ujungnya. keluarganya jelas menginginkan perjodohan itu apapun yang terjadi, dan keluargaku juga kurang bisa nerima Bisma, entah apa alasannya, terutama kak Arkan.
"Sabar Bi, aku bakal usahain semuanya. kita berjuang bareng ya!" ucap Bisma sambil menghapus sisa air mataku. "Udah cup-cup Sayanku"
Bisma meluk tubuh kecilku, dia salurkan rasa nyaman itu. Perlahan aku mulai menikmati pelukan Bisma dengan usapan lembut di punggungku.
"Kapan-kapan kita ketemu sama Indira ya, biar kamu juga bisa ngobrol sama dia."
"sejak kapan pacar dan selingkuhan bisa ngobrol bareng" kesalku.
"Bi, aku gak selingkuh ya" kata Bisma sambil manyun, kuusap pipinya pelan.
"kamu beneran gak ada rasa sama Indira?"
"Bi, berapa kali sih aku bilang, aku sama Indira udah kenal sejak kecil. Aku cuma nganggep dia kayak adekku, gak lebih" ucapnya tegas.
"iya" gumamku. "tetep aja kemaren saat liat kamu jalan berdua sama dia, ketawa bareng. Rasanya gimana gitu" cicitku.
__ADS_1
"sakit kan? gitu tuh yang aku rasain kalau kamu sama cowok lain"
"kenapa jadi aku sih Bi" kataku ngambek. Bisma senyum.
"Lain kali bilang dulu kalau mau jalan sama dia, jadi aku bisa bikin tameng"
"iya Bi" ucapnya sambil nyubit hidungku.
Satu jam lebih aku nangkring di apartemen Bisma. Setelahnya Bisma nganter aku pulang, karena Mamanya tiba-tiba nelphon dan nyuruh Bisma balik ke rumah.
Sampai di kos aku rebahan di kamar, kosan sepi, banyak yang pergi. iseng aku chat Kenzo yang lagi pasang status gambar durian di kontrakannya.
--KENZO--
#enaknyooo
*jelas dong, sinilah rame-rame
#gak ada kendaraan, Rara udah d tkp?
*udah daritadi Rara. aku jemput mau?
#mau banget 😝
*meluncur
Aku senyam-senyum sendiri, daripada bengong sendirian. Lagian Bisma juga lagi nemuin Mamanya, gak masalah dong bandel dikit.hehehe
Setengah jam kemudian Kenzo datang, aku udah nunggu dia di depan kos, dia markir motornya dan ikut duduk di sofa sampingku.
"numpang rehat bentar buk, panas!" ucapku sambil senderan.
"sory ya ngrepotin" ucapku ngerasa bersalah "mau minum? aku ambilin ya"
"es jeruk ada gak?"
"dikira warung, air putih doang adanya"
"Ck... apa kita mampir cafe bentar, ngadem sekalian kencan" katanya sambil naik turunkan alisnya.
"heleh gayaaan di cafe, biasanya juga minum es degan dibawah pohon depan kampus"
Kenzo ketawa "biar naik lah drajat gue di depan lo"
"haiish, aku ambil minum bentar" kataku sambil berdiri.
"gag usah dek, duduk sini aja" pintanya sambil narik tanganku biar duduk lagi, dia mulai natap kedua mataku intens "lo habis nangis dek?"
"hah?!" kataku kaget "e-enggak, gue habis marathon nonton drakor, mewek-mewek gitu semalem, gini deh jadinya."
"boong!" ucapnya sambil ngeliat aku tajam. "cowok lo yang bikin nangis?"
"enggak!" elakku cepat. semalem emang aku nangisin Bisma, ditambah tadi juga sempet nangis lagi didepan Bisma.
Kenzo geleng-geleng sambil bersedekap "Ck... segitu pentingnya ya cowok itu sampek lo tangisin"
"apa sih Ken, dibilang bukan gegara dia kog"
__ADS_1
Kenzo narik nafas kasar, "pintu kamar udah dikunci?" aku ngangguk, "ayok!" ajaknya.
***