
SK85
Sampai dirumah Kenzo, mereka berdua disambut hangat oleh Mama Kenzo. kebetulan memang dirumah cuma ada Mama Kenzo aja, Papa setelah pensiun lebih milih fokus di usaha bibit lele, juga ngurusin kebun di belakang rumah. Kalau Karin hari ini lagi ada acara di kampus, Bentar lagi dia wisuda.
"Di deket rumah kalian ada rumah yang dijual gak?" tanya Mama Kenzo tiba-tiba, saat mereka lagi ngobrol di ruang tengah.
"Ada, tapi beda blok kayaknya Ma, kalau yang satu blok sama kita udah full keisi semua"
"Ada yang mau beli rumah Ma?"
"ini, rencananya setelah Karin lulus Papa ngajakin pindah Malang, soalnya Papa ini lagi proses beli kebun apel sama temennya di Batu, jadi biar deket ngurusinya."
"terus rumah ini?"
"Sementara mungkin ditempati sama mbak Jum sama Mas Karso. gak mungkin dijual juga, ini kan peninggalan nek Asih. jadi kalau ke Surabaya kita masih ada rumah. keluarga Papa kan juga banyak yang disini, jadi nanti pasti sering kesini"
"kenapa gak tinggal sama kita aja Ma, daripada beli rumah baru?"
"Papa sama Mama sepakat, gak mau ganggu kalian, penganten baru itu harus punya banyak privasi. buat investasi juga kan kalau beli rumah"
"Mama pengennya yang deket sama rumah kita atau gimana?"
"Kalau Mama sih pengennya yang deket rumah kalian, biar nanti kalau ada cucu deket nengoknya" ucap Mama sambil senyum ke Alma.
'Cucu lagi' batin Alma sambil maksa senyum.
"Sabar Ma, masih dikerjakan" Canda Kenzo yang seakan ngerti situasinya. Dia mengerling manja ke Alma.
Mama Kenzo ketawa "iya, Mama gak maksa kog, sedikasihnya, jangan dibuat beban ya Alma, kalian nikmati aja masa-masa pernikahan kalian."
"iya Ma" jawab Alma sambil tersenyum kikuk.
"Lagian ini juga masih wacana aja, belum tentu jadi. Soalnya Karin bilang lebih suka di sini"
"Karin? tumben? dulu aja dia yang semangat minta pindah Malang. mencurigakan!" ucap Kenzo.
Setelah ngobrol-ngobrol Alma milih masuk kamar duluan, mau mandi. sedangkan Kenzo milih ke taman belakang, olahraga bentar. Mama Kenzo masih ada kajian di masjid kompleks.
Alma menikmati setiap sudut kamar Kenzo, meskipun sudah lama gak ditempati tapi selalu rapi, Mbak Jum ART Mama Kenzo memang selalu bersihin kamar ini.
Seperti kamar cowok umumnya, gak terlalu banyak barang, warnanya didominasi warna abu-abu. foto pernikahan mereka terpampang cukup jelas di salah satu sisi tembok. meja kerjanya terlihat rapi, Action figure juga tertata rapi di lemari kaca sudut kamar.
Mata Alma menangkap sebuah bingkisan, masih tertutup kertas kado. yang disandarkan ditembok yang juga dihimpit lemari. seperti memang sengaja disembunyikan. kertasnya juga berdebu, pasti udah lama banget. kalau dari bentuknya seperti foto atau lukisan.
"apa ini kado nikahan? kog belum dibuka?" gumam Alma.
Saking penasarannya, diambil bungkusan itu dan diletakkan di atas meja, dia ragu harus buka atau gak. Alma milih diam sambil menatap lekat pada bungkusan itu.
"Buka aja yank" bisik Kenzo sambil meluk Alma dari belakang.
"Haiish... kamu ngagetin aja sih, masuk gak denger suaranya" omel Alma sambil mukul lengan Kenzo yang melingkar diperutnya.
"sengaja" balasnya sambil ketawa.
"Emang gak papa dibuka? punya kamu kan ini"
"bukan punya aku, buka aja"
Alma agak ragu, takut sama isinya, Kenzo tau bungkusan ini tapi dia sengaja gak ngebuka, dia juga bilang bukan punya dia. daripada Alma mikir macem-macem, akhirnya tangan Alma mulai merobek kertas kado itu. Dia melihat ada gambar siluet seorang cewek, dengan rambut yang tergerai panjang.
"Cantik gak?" bisik Kenzo sambil tetep meluk Alma.
Alma mengernyitkan dahinya, mengira-ngira siapa yang ada dalam potret siluet itu. Dia tau itu siapa tapi ragu.
"Ini....?" ucap Alma menggantung.
"Mantan pacar terindahku" bisik Kenzo lembut tepat ditelinga Alma, bikin cewek itu meremang.
Alma tersenyum, ya itu memang potret dirinya, meskipun gambar siluet bikin kurang jelas tapi dari bentukannya dia bisa nebak. disana juga ada amplop warna merah. Alma meraihnya, lalu dibuka. Ada selembar foto, sama persis dengan bentuk siluet ini, versi aslinya. juga ada sepucuk surat. Alma buka surat itu,
__ADS_1
"Biar tak bacain" ucap Kenzo masih di posisi yang sama.
Alma memegangi surat itu, dan Kenzo yang baca masih dengan posisi meluk dari belakang, walaupun sebenernya Alma juga pasti bisa baca. Kenzo membaca tepat dideket telinga Alma.
Almaku...
Selamat Wisuda dek...
Semoga kamu bisa jadi guru yang terbaik, seperti cita-citamu...
Maaf buat semua salahku,
Maaf selalu bikin kamu nangis,
Maaf belum bisa bahagiain kamu,
Makasih hadir dalam hidupku,
Makasih atas semua rasamu,
Makasih buat senyum cantikmu,
Dek...
Aku tau kita udah gak sama-sama lagi, tapi percayalah aku selalu sayank kamu, Rasa cintaku ke kamu gak pernah berubah
Aku gak tau keputusanku bener atau salah, tapi aku sekarang sadar kalau kamu sangat berharga..
Sayank...
Kamu mau gak nikah sama aku? Aku udah tau semuanya, boleh aku tanggung jawab ke kalian berdua?
Memang aku belum punya harta lebih, tapi aku janji bakal bahagiain kalian...
Pikirin baik-baik sayank, kalau kamu udah baca surat ini segera kasih tau. Aku selalu nunggu jawaban kamu...
Dari orang yang sangat mencintai kamu... KENZO
"love you yank" bisik Alma.
Kenzo tersenyum, dia mengelus rambut Alma dan sesekali menciumnya.
"love you too Almaku" balas Kenzo.
Alma melepas pelukannya, dia natap mata Kenzo, diusapnya wajah suaminya itu, Kenzo menangkap tangan Alma dan menciumnya.
"ini kado wisuda aku dulu?" tanyanya.
Kenzo ngangguk "Maaf telat" ucapnya sambil senyum.
"berdua? jadi kamu beneran nganggep aku hamil waktu itu?"
Kenzo garuk tengkuknya, "maaf" gumamnya.
Alma inget, dulu dia pernah minta dibuatin potret siluet sama Kenzo, tapi gak pernah kesampaian, saat mau wisuda Kenzo kembali nanyain, tapi dia gak nyangka kalau bener-bener dibuatin sama Kenzo. Apalagi emang waktu Alma wisuda Kenzo gak datang.
Ralat, Kenzo datang tapi gak nemuin Alma, karena saat itu Kenzo ngeliat Alma lagi sama Bisma, padahal ada Indira juga. Dan darisitulah kesalah pahaman dimulai.
Andai waktu itu Kenzo ngasih hadiahnya, pasti mereka gak bakal pisah, tapi belum tentu mereka bisa nikah kayak sekarang. tapi ternyata ceritanya beda, mereka memang diharuskan pisah dulu, dan disatukan dengan ikatan pernikahan.
Alma menggeleng "Makasih yank" ucap Alma.
"Suka?"
"Banget!" jawab Alma sambil senyum lebar.
"itu aku lembur selama seminggu tauk yank, not bad lah hasilnya" ucap Kenzo sambil ngelirik hasil karyanya.
"Akhirnya punya potret siluet juga aku" gumam Alma.
__ADS_1
"tinggal pesen, beli bisa kan yank"
"gak mau, sengaja aku. dulu waktu kesini liat siluetnya Karin. pas aku tanya dia bilang kamu yang buatin. jadinya dari awal emang aku udah ngarep banget dibuatin kamu. makasih" kata Alma, tangannya melingkar di leher Kenzo.
"Makasih yang bener dong"
"Maksutnya?"
"gini nih" Kenzo mengecup bibir Alma sekilas, setelahnya dia mainin kedua alisnya, nantang Alma.
Alma senyum, dan, Cup. sekali, dua kali, tiga kali. Sampai akhirnya Kenzo nahan tengkuk Alma, bibir mereka bersatu, saling menikmati, saling mendamba. sampai...
"Mbak Almaaa..." teriak Karin sambil buka pintu kamar yang emang lupa gak dikunci.
"Astaghfirullah... mata suciku ternoda" teriak Karin sambil balik badan.
Kenzo ketawa ngakak, Alma jelas malu. ditutupi wajahnya dengan tangan. "kamu nih yank!"
"kalian bener-bener kakak lucknut ya, masih sore udah berbuat mesum!" omel Karin yang udah mendekat ke kedua kakaknya.
"Biarin lah, udah sah ini. kamu kebiasaan langsung nyelonong aja" ucap Kenzo sambil nunjuk hidung Karin.
"Maaf lupa" ucapnya sambil cengengesan.
"Untung cuma ciuman, kalau kita lagi bikin ponakan buat kamu gimana? ntar malah pengen lagi" seloroh Kenzo.
"Yaaank!" teriak Alma.
"Kak Kenzo nih! gak punya urat malu emang ya" protes Karin sambil mukul tangan Kenzo. yang hanya dibalas sama cibiran Kenzo.
***
Malam ini keluarga Kenzo milih makan malam diluar, Mereka makan di resto yang dulu Alma pernah kesana sama Kenzo, Karin juga Nek Asih. Suasananya masih sama, hanya orangnya yang berbeda.
Keluarga Kenzo bener-bener hangat, Alma yang memang cuma beberapa kali bertemu dengan Mama Papa berasa udah jadi menantu idaman, daritadi mereka terus memuji Alma karena udah bikin Kenzo berubah lebih baik.
Padahal Alma ngerasa biasa aja, emang apa yang berubah dari Kenzo? dia masih tetep jahil, nyebelin, Mesum. entahlah...
Alma cuma bisa senyum. Sedangkan Kenzo daritadi sudah pasang mode merajuk, karena Mama Papa juga Karin selalu bongkar buruknya Kenzo di depan Alma.
Setelah makan malam selesai, Mama Papa minta anter pulang lebih dulu, dan mereka bertiga lanjut ke cafe.
"Si monyet semangat banget udah nyampek duluan. biasanya juga dia kencan dulu sama pacar-pacarnya" celetuk Kenzo saat Karin bilang kalau Gio udah nungguin di Cafe.
"Udah tobat brarti dia yank, sapa tau mau nikah, gak mau kalah dia sama kamu!" Alma berpendapat.
"Gio? mana bisa dia serius sama cewek yank. kalaupun nih sekarang dia punya pacar, gak lama juga putus" cibir Kenzo.
Alma ngelirik Karin yang daritadi cuma diem "Jangan gitu lah yank, sapa tau Gio udah berubah."
"Sulit yank, kamu tau kan gimana Gio?"
"iya sih" jawab Alma akhirnya, di usapnya tengkuk yang gak gatal. dia milih menyudahi obrolan yang bikin Karin galau.
"kamu kapan wisuda Rin?" tanya Alma mengalihkan pembicaraan.
"awal bulan depan mbak, kalian harus dateng pokoknya! jangan lupa hadiahnya!" ancam Karin.
"kamu harusnya gak tanya yank, ujungnya ngrepotin kan dia" cibir Kenzo.
"Kak Kenzo mah pelit mbak!" protes Karin.
"Tenang aja, ATMnya mbak yang bawa, jadi kamu pengen apa nanti bilang ke mbak" kata Alma sambil ber-high five sama Karin.
"lah kalian nih ya para ciwi ciwi, doyan banget morotin aku" Kenzo gak trima.
"Biarin!" jawab mereka kompak sambil ketawa.
Sampai di parkiran Cafe mereka disuguhin dengan pemandangan yang gak kalah mengagetkan. Ketiga orang itu sama-sama menegang. Alma dan Karin sampai harus menutup mata karena jengah melihat adegan di depannya.
__ADS_1
***