Sahabatkah?

Sahabatkah?
#46


__ADS_3

#46


Keesokan paginya Alma buru-buru ke RS, tentu aja dia barengan sama Bebi. Suasana di RS masih hangat tentang gosip Alma dan Kenzo. Selesai apel pagi Alma bergegas ke UGD.


"Dokter Rayhan dimana?" tanya Alma ke salah satu perawat UGD.


"Gak tau, dirumahnya kali" jawab perawat itu datar.


"jangan bercanda, hari ini kan jadwal dokter Rayhan dinas pagi".


" iya Alma cantik, tapi ternyata hari ini dokter Rayhan tukar shift sama Dokter Ridwan"


"Kenapa?"


"gak tau" jawabnya.


"yaudah makasih" kata Alma sambil berlalu pergi dari UGD.


Alma balik ke ruangannya, dia langsung duduk di mejanya sendiri. Dia nyoba hubungin ponsel Rayhan tapi tetep gak aktif. Saat dia nanya ke Rima lewat chat juga gak dibalas, telphon gak di angkat. Alma jadi inget obrolannya dengan Mia semalem.


-Flashback on--


-Bidan Mia--


'Ngapain Mia nelphon' batin Alma.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam, Alma"ucap Mia,


"kenapa?"


"Al, aku mau minta maaf sama kamu"


"tentang kamu yang upload video itu?"


"itu aku juga minta maaf, tapi sekarang bukan itu masalahnya"


"maksut kamu?"


"Tadi Rima dateng kerumah, waktu dia minjem ponselku gak sengaja dia ngeliat video dan foto kamu pas sama Kenzo. Dia nanya ke aku, sumpah Al, aku gak mau cerita tapi Rima ngotot. dia malah buka grub RS nyari tau sendiri. karena dia tau video itu aku kirim ke grub. disitu dia baca komen anak-anak. Rima marah dan langsung pulang. Aku takutnya dia bakal ngomong ke Mamanya"


Alma bener-bener kaget denger cerita Mia, dia gak tau kejadian apa lagi yang akan dihadapinya. Alma nangis.


"Al, kamu dengerin aku kan?"


"Alma..."


Alma ngehapus air matanya "iya"


"Maafin aku ya Al, aku gak tau kalau Rima bakal buka ponselku"


"Iya Mi, aku ngerti. gimanapun juga emang aku harus nyelesain gosip ini"


"jujur aku juga kaget sama gosip ini, mangkanya kemaren aku niatnya kroscek di grub. tapi malah tambah rame, dan ternyata anak-anak juga banyak yang dapat video itu"


"iya"


"Dokter Rayhan udah tau masalah ini?"


"Udah, tadi aku udah ngobrol sama dia"


"Sabar ya Al, anggap aja ini ujian sebelum nikah."


"iya makasih" ucap Alma "Mi, aku boleh minta tolong?"


"boleh"


"Tolong rahasiain tentang aku sama dokter Rayhan. Jangan sampai siapapun tau"


"Kenapa sih Al? kalian itu kan udah mau nikah, kenapa disembunyiin?"


"dari awal emang aku sama Mas Ray sepakat gak bilang-bilang. dan ditambah sekarang ada gosip kayak gini, aku gak mau Mas Ray kebawa sama masalah aku, biar tak selesaiin sendiri dulu. Biar aja anak-anak tau saat aku nyebar undangan"


"hmmmh... yaudah kalau itu mau kamu"


"Iya, makasih ya Mi"

__ADS_1


"iya sama-sama"


Alma nutup telphonnya, dan nenggelamin wajahnya dalam bantal, Alma nangis lagi. Bebi yang daritadi cuma liat Alma jadi ikutan sedih dia meluk Alma lagi.


--Flashback Off--


"Apa ini ada hubungannya sama yang diomongin Mia ya?" gumam Alma pelan.


Hari ini Alma gak fokus kerja, sampai siang Rayhan belum bisa dihubungi. Kepalanya pusing mikirin ini, perasaannya mendadak gak enak.


drrrt... drrrtt...


"Papa?"gumam Alma saat ngeliat si penelphon, " tumben"


"Assalamualaikum Pa"


"Waalaikumsalam Alma, kamu lagi kerja?" tanya Papa Alma dengan suara berat.


"iya ini lagi kerja, kenapa Pa?"


Papa Alma menghela nafas kasar, "Al, apa hubungan kamu sama Rayhan ada masalah?"


"hah?!"


'Darimana papa bisa tau?' batin Alma.


"ada salah paham, tapi insyaallah aman kog Pa" jawab Alma "Kenapa emangnya Pa?"


"Kamu jangan kaget ya nak, yang sabar..."


"kenapa Pa?" tanya Alma ragu, mendadak perasaan Alma gak enak.


"Alma, Orang tua Rayhan tadi kerumah, mereka ngebatalin pernikahan kalian"


Jeduaaaar


"Papa jangan bercanda Pa, itu gak mungkin!" kata Alma sedikit histeris. Air matanya udah mulai keluar.


"Alma, kamu yang tenang ya nak..."


"Sabar Alma, kamu harus bisa nerima" Terdengar suara Papa Alma sangat berat, Mamanya terdengar menangis.


Siapa yang tidak terpukul dan sedih, saat pernikahan sudah tinggal menunggu hari, tiba-tiba malah dibatalkan. Kedua orang tua Alma jelas sangat sedih, terlebih saat membayangkan kondisi anak perempuannya.


Alma bener-bener gak bisa nerima ini, dia jelas sangat kaget. Dunianya terasa hancur dalam sekejap, bayangan indahnya pernikahan bersama Rayhan tiba-tiba menghilang. Alma kembali menangis. Sampai akhirnya dia gak kuat dan terjatuh.


Braaak....


Bebi dan Rita jelas kaget mendengar suara itu, Alma pingsan saat dia masih menerima telphon dari orang tuanya. Kedua cewek itu sama-sama bingung. Rita coba ngebangunin Alma, juga berbicara sama orang tuanya yang masih nelphon. Sedangkan Bebi milih keluar ruangan nyari bantuan.


"Mas Tama" panggil Bebi "Tolongin" ucap Bebi panik, dia langsung narik tangan Tama ke dalam ruangan.


"Kenapa Beb?" tanya Tama yang ikutan panik.


"tolongin Alma mas"


"kenapa dia?" belum sempat Tama dapat jawaban dia sudah melihat Alma lagi disangga kepalanya sama Rita.


"Masya Allah Alma" teriak Tama sambil berlari ke tempat Alma.


Dengan cepat Tama gendong Alma, dan membawanya ke UGD. Petugas UGD jelas kaget ngeliat pemandangan itu, mereka segera memberi pertolongan ke Alma.


"Bagaimana keadaanya dok?" tanya Tama yang terus mendampinginya.


"Alma kecapekan, sepertinya dia juga mengalami stress karena sebuah tekanan. sementara keadaanya masih stabil, kita tunggu setelah siuman, nanti baru bisa dipastikan lagi." Terang dokter Ridwan setelah meriksa keadaannya.


Bebi terlihat menangis disamping Alma, dia ngerasa bersalah terhadap sahabatnya itu. Pasti gosip dan masalahnya dengan Kenzo yang nyebabin Alma pingsan seperti ini.


"Alma lagi ada masalah?" tanya Tama saat tinggal mereka berdua. "Aku tadi denger anak di perawatan lagi gosipin Alma"


"Iya mas, dia lagi jadi bahan gosipan se RS"


"ada hubungannya dengan Dokter Rayhan?" bisik Tama pelan. Saat nyebut nama dia milih gak bersuara.


"Mas Tama tau tentang mereka?"


"iya, mereka berdua sendiri yang bilang"

__ADS_1


"ada hubungannya sih, tapi tolong ya mas tentang mereka berdua jangan sampai ada yang tau dulu. Alma masih mau dirahasiain"


"Iya" kata Tama sambil ngangguk, dia natap Alma yang sedang terbaring lemah, dengan selang infus yang udah terpasang.


Sudah jadi rahasia umum kalau Tama suka dengan Alma, Tama sendiri mengakui itu. Dia sudah lama memberi perhatian khusus ke Alma, tapi cewek itu seakan gak tau dan terus bersikap biasa ke Tama. Sampai akhirnya dia tau kalau Alma mau nikah sama Dokter Rayhan.


Setengah jam kemudian Alma bangun, setelah dipastikan kondisinya baik-baik saja. Dia cuma kecapekan ditambah dengan pikiran Alma yang sangat stress. Jadi dia disarankan untuk observasi dulu biar kondisinya cepet pulih.


Teman-teman Alma milih mindahin Alma di kamar rawat inap untuk sementara, biar dia gak keganggu dengan pasien di UGD yang lain. kini Bebi yang nemenin Alma. Orang tuanya sedang dalam perjalanan.


"Al, lo kenapa tiba-tiba pingsan?" tanya Bebi pelan. "Gue janji bakal bantuin lo, please jangan kayak gini, lo bentar lagi nikah"


Mendengar ucapan Bebi, Alma kembali menangis. Dia bener-bener gak tau harus gimana. Rasanya dia seperti tertimpa batu yang sangat besar,hatinya berasa sesak.


"Al, udah jangan nangis"


"Semuanya udah selesai Beb"


"Maksudnya?"


"Orang tua Mas Ray batalin pernikahan kita" ucap Alma pelan, air matanya terus menangis.


Bebi menutup mulut saking kagetnya, Air matanya ikutan jatuh.


"Al, jangan bicara sembarang"


"Papa sendiri tadi yang nelphon gue, beliau bilang orang tuanya datang dan batalin pernikahan"


"Kenapa sampai kayak gitu sih Al? bukannya lo bilang dokter Rayhan bisa nerima dan maafin lo?"


"gue gak tau Beb, kepala gue rasanya mau pecah" ucap Alma sambil memejamkan matanya.


Tak berapa lama kedua orang tua Alma datang, mereka sangat khawatir dengan kondisi Alma. kini ketiga orang tersebut sama-sama menangis di dalam ruangan. Bebi milih keluar ruangan, dia gak sanggup ngeliat itu semua.


Bebi milih balik ke ruangannya, dan bercerita keadaan Alma ke rekan-rekannya. Dia juga berusaha nelphon dokter Rayhan.


"Assalamualaikum Beb"


"Waalaikumsalam" Bebi milih menepi ke mejanya Alma, dia gak pengen pembicaraannya di denger yang lain. "Dokter dimana?"


"Saya lagi dijalan, Beb tolong bilangin Alma suruh ijin keluar sebentar, saya tunggu di tempat biasanya"


"Gak bisa dok, mana mungkin Alma pergi, apalagi dengan kondisi di infus"


"di infus? maksud kamu?"


"Tadi Alma pingsan, setelah diperiksa dia kecapekan ditambah pikiranya yang stress banget akhirnya sekarang dia di Observasi"


"Ya Allah Alma..." ucap Rayhan penuh penyesalan, dia juga terdengar seperti mukul stir mobil


"Dok, sebenernya apa yang terjadi?"


"Saya gak bisa jelasin ke kamu sekarang, saya harus ngomong sama Alma dulu"


"Iya, cepet dateng dok, Alma sangat butuh dokter"


"Iya, makasih Beb"


Telphon di tutup, Bebi sangat penasaran penyebab orang tua Rayhan batalin pernikahan. Karena sepertinya mustahil dokter Rayhan yang minta dibatalin.


Sedangkan di ruangan Alma, dia dan mamanya masih menangis, Papanya hanya bisa menahan amarah ketika melihat dua wanita yang dia sayangi bersedih.


"Sudah Alma, kamu jangan terus sedih kayak gini. kamu harus kuat, biar kamu juga bisa nyelesaiin masalah ini" ucap sang Mama nenangin.


"Maafin Alma ya Pa, Ma... Alma udah bikin keluarga menanggung malu"


"Jangan pikirin itu dulu nak, pikirkan kesehatanmu dulu"


"Kak Arkan juga pasti marah sama Alma, Mangkannya gak ikut kesini" ucap Alma sedih.


"Enggak, Kakak kamu masih belum bisa ninggalin kerjaannya. nanti pasti kesini" ucap Mama Alma.


Gak bisa dipungkiri, Arkan sangat marah dan kecewa denger berita pembatalan pernikahan adeknya, tapi yang terpenting sekarang adalah ngembaliin mental Alma, dia pasti terpukul, bisa juga dia mengalami trauma. Rasa malu pasti dirasakan seluruh keluarga, apalagi persiapan sudah 85%. Tapi yang jadi korban terberat disini tentu adalah Alma.


***


__ADS_1


__ADS_2