
SK98
Kenzo merengkuh tubuh polos Alma dalam dekapannya, dan mencium pucuk kepala istri tersayangnya itu. Menarik selimut agar menutupi tubuh keduanya.
"Makasih sayank" bisik kenzo ditelinga Alma.
"iya yank, sama-sama" Alma memperbaiki posisinya.
"kamu mikir apa?" Alma menghela nafas panjang "Berat banget kayaknya beban kamu, kayak lagi dikejar utang aja" cibir Kenzo
Alma terkekeh "gak yank, aku tuh kepikiran sama sikapnya Bebi. dia kayak lagi ada masalah gitu, terus tadi waktu kita bahas Rayhan juga omongannya rada gak enak. Aku takut aja ini ada hubungannya sama masalalu aku dan Rayhan"
"kamu aja kali yang baper"
"Moga aja emang cuma pikiran aku, tapi jujur aku kepikiran yank, ada yang ngeganjel gitu"
"kamu udah nyoba ngobrol sama Bebi?"
"Belum, aku takut bikin dia gak nyaman kalau bahas masalah dokter Rayhan, takut dia salah paham. Mangkannya aku tuh butuh ngobrol sama kamu dulu, enaknya gimana?" ucap Alma sambil senderan ke bahu Kenzo.
"menurut aku sih gak masalah kalau kamu obrolin baik-baik sama Bebi. Mereka kan mau nikah, biar semua clear gak ada yang ngeganjel"
Alma ngangguk, dia mulai menerawang jauh lagi. Kenzo yang sadar istrinya sedang melamun menyentil dahinya.
"Mikir apa lagi?" Alma menggeleng "inget masa-masa sama Rayhan?"
"dih kamu nih, kenapa? cemburu?"
"Iyalah!" jawab Kenzo tegas.
Alma ketawa, tangannya main di dada bidang Kenzo "kamu tumben gak minta tambah?"
Kenzo mencibir "Aku tuh pengertian ke kamu, takut kamu kecapekan, besok kan kita masih harus jalan-jalan"
"duh seneng deh kalau kamu bisa pengertian kayak gini terus" Alma mencolek hidung Kenzo "rehat yuk yank"
"Oke, tapi besok pagi boleh ya incip-incip lagi"
Alma mencubit lengan Kenzo "haiish... sama aja, letak pengertiannya disebelah mana? Ck..."
Kenzo ketawa, makin dieratkan pelukannya, diciumnya pucuk kepala Alma. Istrinya itu menelusupkan kepalanya dalam dada bidang Kenzo. posisi ternyaman, favoritnya
***
Malam semakin larut, hampir semua orang udah mulai masuk dalam dunia mimpinya. Beda dengan Rayhan, dia masih duduk bersimpuh di atas sajadahnya, memohon ampun dan minta ketenangan pada sang pencipta. Sampai dia terusik dengan bunyi cjat dari ponselnya, juga panggilan telphon yang daritadi terus dia abaikan.
3 Panggilan tak terjawab
Keningnya mengernyit, semua panggilan dari Bebi. dia buka chat WA. ada beberapa chat grub dan ada juga chat dari Bebi.
BEBI :
__ADS_1
Mas, udah tidur?
Kayaknya kita butuh ngobrol, aku gak mau kedepannya ada penyesalan di antara kita
Masih ada waktu buat ngambil keputusan.
Aku gak kuat mas kalau terus kayak gini
Rayhan menghela nafasnya panjang, ini yang dia takutkan. Dari kemaren ada yang berbeda dari Bebi, ada yang dia sembunyiin. Rayhan mengambil dompet serta ponselnya dan segera keluar kamar.
Di kamar lain Bebi sedang rebahan, dia tidur sekamar dengan Karin, cuma mereka beda bed. Diliriknya Karin yang langsung tepar setelah tadi selesai sholat. Sedangkan dia sendiri seperti gak ada niat buat tidur, padahal sebenarnya badannya terasa capek.
Saat Bebi berniat untuk menutup matanya, dia dikagetkan dengan bunyi dering telphonnya. Dia menggeliat, meraih ponsel yang disimpan di atas nakas.
"Assalamualaikum" sapa Bebi.
"Waalaikumsalam dek" jawab Rayhan "Udah tidur?"
"belum" jawab Bebi singkat.
"Keluar bentar dong? aku di depan kamar kamu"
Bebi langsung terduduk, "i-iya, sebentar"
Bebi langsung menutup telphonnya, dia bersiap, merapikan rambut dan wajahnya. dia hanya memakai baju santai yang tadi dia pake yang ditutupi jaket. Dia segera keluar kamar.
Saat nutup pintu kamar, dia melihat Rayhan sudah bersandar di dinding tembok samping pintu kamarnya. dia memakai celana pendek dan hoodie. Rayhan tersenyum ke arah Bebi.
"pengen ketemu kamu, jalan bentar yuk. tadi katanya mau ngobrol"
Rayhan meraih tangan Bebi, "yuk" ajak Rayhan sambil narik Bebi untuk mengikutinya.
Bebi pasrah ditarik Rayhan, jantungnya mulai berlarian, dia inget kejadian itu. Mereka jalan beriringan dengan tangan saling bergandengan. Rayhan ngajak Bebi jalan disekitar hotel, Mereka berhenti di bangku taman depan hotel.
Suasana taman memang sudah sepi, tapi masih banyak kendaraan yang berlalu lalang. Namanya juga Bali, pulau yang gak pernah tidur. Selalu ada saja aktivitasnya.
Mereka duduk bersampingan, tanpa ada yang mulai percakapan,saling diam. Rayhan mengusap tangan Bebi lembut.
"kamu kenapa?" tanyanya lembut.
Bebi menghela nafas lagi, "Mas serius gak sih sama rencana pernikahan kita? sama hubungan kita?"
"Maksut kamu gimana?"
"kita sama-sama tau, pernikahan kita ini kayak dipaksakan. Dan disini aku paham banget, Mas Rayhan yang paling dipaksa"
"Dek, kita udah bahas ini lo. dan aku udah bilang kan, aku nikahin kamu gak ada paksaan. Aku bener-bener mau nikah sama kamu"
"tapi aku tau banget, mas bisa ngomong kayak gitu tapi hati dan pikiran mas enggak"
Rayhan natap Bebi, dia bener-bener gak paham maksud tunangannya itu. "kamu ngomong apa sih?"
__ADS_1
"Jujur sama aku, jujur juga sama hati mas. Mas Rayhan masih mikirin Alma kan?"
"hah?!"
"Hati dan pikiran mas masih mentok di Alma, dan mungkin aku cuma mas jadiin pelampiasan dan kamu kepaksa karena kejadian itu"
"dek, aku udah pernah bilang kan, aku masih proses dan kamu paham itu, bahkan dulu kamu sendiri yang bilang bakal setia nunggu perasaan aku, bakal bantuin aku. tapi kenapa kamu sekarang malah ngomong gini"
"Karena aku ngerasa mas Rayhan sama sekali gak ada usaha buat cinta sama aku"
"Dek..."
"Aku capek kalau mas kayak gini terus, bahkan ada aku aja mas masih merhatiin Alma" ucap Bebi dengan berkaca-kaca.
"Enggak dek"
"Aku tau mas,aku gak buta!" suara Bebi mulai meninggi "Bahkan tadi saat kita bahas kejadian Alma sama Kenzo di Bali mas ngerasa gak nyaman kan? kenapa? mas masih gak bisa terima kalau Alma sama Kenzo?"
"Kamu kenapa mikir gitu sih? oke tak akuin tadi emang aku gak nyaman saat bahas kejadian itu. tapi..."
Belum sempet Rayhan nyelesaiin kalimatnya Bebi udah motong "Itu udah jadi salah satu bukti,mas belum nerima aku,disitu ada aku lo, apa mas gak peduli sama perasaan aku? mas masih cinta sama Alma kan?"
"Dek, Alma itu cinta pertama ku, dan jujur gak semudah itu ngilangin perasaan cintaku buat dia."
Bebi mulai menangis, dia menunduk "Mungkin bener, sampai kapanpun aku gak bakal jadi prioritas utama kamu mas, bahkan setelah kejadian itu"
Rayhan diam, dia menatap Bebi yang menangis, bingung harus apa. Tangannya berniat mengusap air mata Bebi, tapi dia ragu dan akhirnya hanya berhenti mematung.
"Kalau emang kamu belum bisa lupain masa lalu kamu itu, jangan harap bakal ada masa depan kita. Aku capek cuma jadi cadangan buat kamu, Selama ini selalu aku yang berusaha, tapi kamu enggak. Aku nyerah mas"
Rayhan mulai kalut, dia ikut kepancing emosi. "kamu gak lupa kan sama tingkah kita?Dek! kita kan udah janji gak bakal nyerah"
"Janji? kamu bilang janji? kamu sendiri aja gak berusaha nepati janji. Aku gak mau nyesel setelah nikah, mending sekalian kita gak jadi nikah"
"Bebi!" bentak Rayhan. "Istighfar dek"
Rayhan bener-bener emosi, dia ngerasa Bebi sudah beda gak seperti biasanya, baperan, sensitiv banget.
"kamu yang harusnya istighfar!" Bebi mulai nyolot. "Aku muak sama kamu!"
Bebi ngerasa sakit sekarang, hatinya bener-bener rapuh, dia mencintai Rayhan tapi apalah daya hati cowok itu masih nyangkut di sahabatnya, Alma. Bebi mulai berdiri.
"kamu mau kemana? gak usah kayak anak kecil deh, kita belum selesai ngobrol"
"gak ada yang perlu di obrolin, mending kita gak usah lanjut. gak ada pernikahan! kamu terusin aja liat masa lalu kamu itu"
"Bebi! jaga ucapan kamu, jangan bikin kita nanggung dosa yang lebih besar lagi!" bentak Rayhan. "jangan jadi cewek goblook!"
Plaak...
***
__ADS_1