
#39
Hari senin bener-bener berat bagi sebagian orang, tak terkecuali Alma. Dia harus secepatnya nyelesain kerjaannya. Dia gak mau kalau nanti semua rencananya hari ini gagal. Jadi sebisa mungkin dia memanage waktunya, begitupun kedepannya. Karena nanti pasti dia bakal sibuk banget.
Hari ini dia emang udah ngatur waktu, dan semuanya harus berjalan sesuai rencana. Untungnya Bu Septi pengertian, jadi hari ini gak ada lembur dan bisa pulang jauh lebih awal.
"Beb... ntar malem jadi ikut lo ya" kata Alma saat dia ngelewati meja Bebi sebelum dia balik asrama.
"Siap bos!" ucap Bebi sambil hormat.
Alma senyum "ketemu di Indomareet ujung aja ya, kayak biasanya" dia emang sering janjian sama Bebi di tempat itu.
"Gak ah, gue langsung ke TKP aja, kejauhen kalau harus kesini, malas gue bolak balik"
"yaudah terserah" kata Alma ngalah "gue duluan ya" pamit Alma ke semua rekannya.
Alma milih balik ke asrama bawa motor, biasanya dia milih jalan kaki dan ninggalin motornya di parkiran RS, toh jarak asrama dan RS deket. Tapi kali ini Alma pengen ke suatu tempat, jadi dia bawa motornya.
Selesai mandi dan siap-siap Alma langsung cap cus ke rumah Rayhan. Ya Alma emang berencana kesana. Ini kedua kalinya Alma ke rumah Rayhan. yang pertama saat jawab lamaran bersama keluarganya, dan sekarang dia harus sendirian.
Agak gugup sih, apalagi dia gak ngehubungi Rayhan, dia pengen ngasih kejutan ke Rayhan, sekalian dia bawain oleh-oleh buat calon mertuanya dari Bali. Rencananya dia mau ngajak Rayhan nanti malam keluar, kangen juga sebulan lebih gak ketemu, tapi berhubung dia harus ngadep Pak Pram jadi batal deh.
tok... tok... tok...
"Assalamualaikum" ucap Alma.
Tak berapa lama terdengar jawaban dari dalam rumah "Waalaikumsalam" Sepertinya suara adek kembaran Rayhan.
Ya Rayhan emang kembar, kembarannya cewek, seorang Bidan. Tapi dia gak kerja di RS yang sama dengan Rayhan dan Alma.
"Eh mbak Alma" kata Rima, kembaran Rayhan, mereka berdua cipika cipiki "ayo masuk" ajaknya.
" makasih, sepi amat Rim?" tanya Alma saat sudah duduk di ruang tamu.
Alma bener-bener canggung, ini pengalaman yang menurut Alma horor. Apalagi dia emang gak terlalu deket dengan keluarga Rayhan. jadi kaku banget rasanya.
"Ada semua kog di dalam, bentar ya aku panggilin Mas Rayhan, Mama sama Papa" kata Rima sambil berjalan ke arah dalam. "Mas Ray gak tahu ya kalau mbak mau kesini?"
"enggak, emang sengaja gak bilang" kata Alma sambil senyum. Rima ngangguk dan berlalu manggil yang lain.
Beberapa menit kemudian Rayhan datang dengan senyum mengembang "Dek..." panggilnya.
"Assalamualaikum mas" sapa Alma dengan senyumnya.
"Waalaikumsalam... kog gak bilang mau kesini? kan bisa aku jemput"
"emang sengaja gak bilang, katanya minta oleh-oleh aku balik ke hadapan mas dengan selamat? ini paketan oleh-olehnya udah sampai" jawan Alma pelan.
Rayhan senyum "makasih, mas seneng" jawab Rayhan agak canggung. Alma cuma bisa senyum ngeliat tingkah calon suaminya itu.
"Alma" sapa Mamanya Rayhan. Alma berdiri dan nyalamin kedua calon mertuanya gantian.
"ini Ma, Pa ada sedikit oleh-oleh keluarga sini" kata Alma sambil nyerahin paper bag yang lumayan besar ke meja.
"Ya Ampun Al, kog repot-repot aja"
__ADS_1
kata Papa Rayhan.
"Enggak kog Pa" ucap Alma sambil senyum.
Mama Rayhan ngambil paperbag itu dan diliat isinya sekilas "makasih ya"
"Sama-sama Ma"
"kabar kamu sama keluarga gimana? sehat?" tanya Papa Rayhan lembut, beliau memang orangnya ramah.
"Alhamdulilah sehat Pa"
"Persiapan pernikahan kalian gimana?"
"Udah 80% Pa, alhamdulilah banyak yang bantu"
"Alhamdulilah kalau gitu" kata Papa Rayhan sambil senyum, sedangkan Mamanya terlihat biasa.
Tak lama Rima muncul sambil bawa teh dan camilan, diapun ikut gabung di ruang tamu. Setelah ngobrol sebentar Papanya Rayhan pamit keluar, katanya mau ke rumah Pak RT.
"Apa itu Ma?" tanya Rima saat ngeliat paperbag yang udah pindah tempat disamping Mamanya.
"Oleh-oleh dari mbakmu" Rayhan yang jawab.
"wah... makasih ya Mbak" ucap Rima sambil senyum. Alma cuma ngangguk.
"kamu itu kan mau nikah Al, harusnya kamu gak boleh pergi jauh-jauh, gak baik" ucap Mama Rayhan agak ketus. Alma hanya diam sambil senyum tipis.
"Alma udah ijin aku kog Ma, lagian aku juga pergi ke Jember toh alhamdulilah gak ada masalah" Rayhan bela Alma.
"beda dong Ray, kamu kan jelas kerja ke jember, kalau Alma kan liburan"
"sama aja Ma, kan dia ke Bali juga sama orang rumah sakit, apalagi Alma diberi amanat buat ngurusin liburan kali ini, gak bisa nolak dong dia" Rayhan masih terus bela calon istrinya.
"kamu ini sekarang kalau dibilangin Mama bangkang terus" kata Mama agak kesal.
"gak bangkang Ma, Ray minta maaf kalau Mama kesinggung. Rayhan kan udah dewasa, jadi bisa berpendapat" kata Rayhan ngejelasin hati-hati, takut Mamanya kesinggung.
"Udahlah Ma, gak enak sama Mbak Alma, kog malah ribut sendiri sih." Rima menengahi sambil ngelirik Alma yang canggung "diminum mbak. aku ke kamar dulu"
"iya makasih" Alma mendekat ke Mama Rayhan, dan nyentuh tangannya
"Maaf ya Ma, Alma memang salah pergi ke Bali saat mendekati pernikahan" ucap Alma
"kamu harus lebih hati-hati, jelang pernikahan itu kata orang dulu kita diikuti Bala'. jadi banyakin berdoa, jangan klayapan" kata Mama Rayhan terdengar keras tapi berisi nasehat.
"Iya Ma, Alma bakal inget pesan Mama"
"Kamu juga harusnya gak datang kesini, kamu..."
"Ma, Alma kesini cuma nganter oleh-oleh buat calon mertuanya" kata Rayhan lagi motong omongan Mamamya.
Mama Rayhan menghela nafas panjang "Mama makasih udah dibawain oleh-oleh. maksud Mama itu kan bisa dititipin kamu aja, di RS juga ketemu kan, gak perlu jauh-jauh kesini."
Alma senyum denger omongan calon mertuanya, meskipun cara ngomongnya agak kasar tapi dia tau calon mertuanya itu memberi perhatian ke Alma.
__ADS_1
"Ma, Ray kan udah bilang di RS gak ada yang tau hubungan aku sama Alma, mangkannya Alma bela-belain kesini"
"Sebentar lagi juga semua tau kalau kalian nyebar undangan, tadi juga Mia kesini ngasih oleh-oleh. dan Mama cerita kalau kamu mau nikah sama Alma" jelas Mama Rayhan.
"uhuk..uhuk..." Alma yang lagi minum jadi kesedak denger omongan Mama Rayhan.
"pelan-pelan dek" kata Rayhan "kog Mama gak bilang dulu ke Ray sih"
"Kalian ini kan udah tinggal ngitung hari aja nikahnya, gak perlu sembunyi-sembunyi lagi, nanti malah digosipin aneh-aneh. Lagian Mia itu udah Mama anggap anak sendiri, dulu kan Mama mau jodohin kamu sama dia tapi keburu kamu kecantol Alma"
"Ma..." Rayhan mencoba mengingatkan Mamanya.
'Pantes Mama dari awal gak semangat aku nikah sama Mas Ray, ternyata mau dijodohin. Sama Mia? Bidan itu? Ck...' Batin Alma.
"Iya-iya maaf, Alma mama ngomong kayak gini gak ada maksud apa-apa lo ya, jadi jangan dimasukin dalam hati" kata Mama Rayhan dengan senyum maksa.
"Iya Ma, Alma ngerti kog"
"Yaudah Mama ke dalam dulu, makasih ya oleh-olehnya" kata Mama Rayhan sambil berdiri bawa paperbag dan berjalan ke dalam ,Alma ngangguk.
"Kita ngobrol di gazebo depan yuk dek!" ajak Rayhan.
Mereka berdua jalan beriringan di jalan setapak ke gazebo depan rumah Rayhan, suasana rumah Rayhan sangat asri, banyak bunga dan pohon berasa adem, apalagi dibawah dan sekitar gazebo ada kolam ikan.
"Maaf ya dek kalau omongan Mama..."ucap Rayhan saat keduanya sudah duduk.
"aku gak papa kog Mas, aku sekarang paham kenapa Mama kamu belum bisa sepenuhnya nerima aku"
"gak dek, Mama nerima kamu kog, cuma memang butuh waktu aja biar kalian bisa lebih deket"
"Kenapa gak bilang kalau kamu dulu pernah mau dijodohin sama Mia?" tanya Alma sambil ngeliat Rayhan.
Kedua mata mereka bertemu tapi Rayhan mutus kontak mata itu lebih dulu dan nunduk. takut gak kuat, apalagi mereka sekarang berduaan, takut zina mata juga.
"Mia itu temen deketnya Rima, mereka berteman sejak ngambil kuliah kebidanan, dia sering kesini kadang juga nginep jadi dia udah dianggap anak sama Mama. tapi mau dipaksain gimana aku emang gak ada rasa sama Mia"
"Terus perasaan Mia? kalau yang aku tau di RS dia juga cukup dekat sama kamu kan? dan banyak yang bilang dia suka sama kamu"
"Aku cuma nganggep dia adek, tentang perasaan dia aku gak tau dan gak mau tau" ucap Rayhan tegas, Alma senyum.
"Gitu dong senyum, jangan cemberut. lama lo kita gak ketemu dek. masak calon suaminya disuguhin muka yang manyun kayak tadi"
Alma senyum, dia kembali keinget peristiwa di Bali sama Kenzo. Rasanya dia pengen berbagi masalah itu, tapi dia ragu apalagi sekarang posisinya lagi di rumah Rayhan, jadi Alma milih diam dulu. Mungkin setelah nanti malam ngobrol sama Pak Pram dia nemuin solusi.
"Kenapa?"
"Gak papa, aku balik asrama dulu deh Mas"
"kog buru-buru? masih kangen lo aku"
"Ck... sabar Mas"
"Balik bareng aku aja nanti malam, sekalian aku dinas malem" pinta Rayhan "Sekalian kita makan malam disini, Mama pasti suka kalau calon mantunya bantu masak makan malam"
"Hah?!"
__ADS_1
***