Sahabatkah?

Sahabatkah?
SK112


__ADS_3

SK 112


“Vano!” Teriak seorang laki-laki dari arah samping Alma dan Vano, dia berlari dan langsung meluk Vano yang lagi asyik duduk sambil makan es krim.


Alma yang kaget hanya bisa diam sambil terus memperhatikan, ada keharuan disana karena Vano yang sepertinya juga kaget malah menangis, tapi jujur Alma ngerasa lega karena setidaknya dia gak perlu khawatir untuk mencari orang tua Vano. Perlahan laki-laki itu melepas pelukannya.


“Vano kamu kemana aja? Papa daritadi nyariin kamu” ucap laki-laki itu ada nada khawatir tapi juga sedikit kesal.


“Vano kecel cama Papa, dalitadi telphon telus, Vano bosan, telus jalan-jalan. Dibeliin es glim lasa socklat sama tante cantik” kata Vano dengan nada khas anak kecilnya sambil nunjuk ke Alma.


Alma yang daritadi merhatiin hanya bisa menahan senyum, apalagi saat liat comelnya Vano dan muka khawatir plus keselnya laki-laki itu.


Laki-laki itu menoleh kea rah Alma, tatapannya seperti menelisik, Alma hanya senyum sambil ngangguk.


“Makasih” ucap laki-laki itu kaku.


“Sama-sama, tadi saya gak sengaja nabrak Vano, karena dia nangis saya beliin es krim, rencananya habis ini mau saya ajak ke pusat informasi untuk laporan anak hilang” terang Alma, dia gak mau aja dituduh mau nyulik anaknya.


“Iya, Vano memang anaknya aktif rasa penasarannya tinggi, jadi suka gampang bosen” Ucap laki-laki itu “Maaf kalau merepotkan anda”


“Enggak kog” ucap Alma sambil berdiri “Kalau gitu saya permisi”


“Tante cantik mau kemana? Vano itut” kata Vano ikut berdiri.


“Loh?” Alma kaget, karena Vano tiba-tiba meluk kaki Alma.


Laki-laki itu mencoba menarik badan Vano “Vano, gak boleh gitu, tantenya mau pergi. Vano sama Papa ya, katanya mau beli mainan” bujuk laki-laki itu.


“dak mau, Vano mau sama tante!” teriak Vano yang mulai terisak, tangannya gak mau lepas meluk kaki Alma.


Papanya sampai harus ikutan jongkok untuk nenangin Vano, Alma melihat beberapa mata pengunjung Mall mengarah ke mereka. Kini mereka sepeti melakukan drama keluarga, dan Alma yang keliatan jahat karena mau ninggalin anak dan suaminya, eh…


Akhirnya Alma ikutan jongkok dan mengelus rambut Vano “anak ganteng kog nangis? Masih mau mainan sama tante?”


Vano ngangguk “Vano mau mandi bola ditemenin tante cantik”


Alma tersenyum, “Iya deh, tante temenin tapi Vano harus berenti dulu nangisnya”


Vano ngangguk dan ngusap air matanya, Alma menoleh ke Papanya Vano “Boleh kalau saya nemenin Vano main?”


“Boleh, tapi kalau gak merepotkan” ucap laki-laki tersebut agak kaku.


“Enggak kog” kata Alma, dan langsung gandeng tangan Vano “Let’s go ganteng!”


Alma jalan berdua dengan Vano, diikuti papanya di belakang, interaksi keduanya gak pernah lepas dari tatapan laki-laki itu. Akhirnya Vano bisa tersenyum lebar saat bermain di area anak. Alma hanya bisa nungguin di luar area dan sesekali melambaikan tangan kea rah Vano.


“Maaf sudah merepotkan” kata laki-laki itu sambil menyodorkan satu cup besar minuman.


“Eh, kenapa repot-repot pak”ucap Alma sungkan sambil menerima uluran minuman itu. “Oh iya nama saya Alma”


“Aku Dion,” ucap laki-laki tersebut sambil senyum.


Laki-laki bernama Dion itu berperawakan tinggi tegap, dengan rambut cepak, lumayan ganteng. Apalagi dia hanya memakai kaos dan celana jenas, keliatan santai.


“Kamu sendirian aja?”Tanya Dion


“Iya,”


“Sekali lagi makasih sudah menemani Vano”


“Santai aja Pak”


Dion tersenyum “Setua itu kah aku, sampai kamu manggil saya pak?”


“Hehehe…”Alma bingung harus jawab apa. “Kalau gitu saya panggil mas Dion aja” Ucap Alma, karena sepertinya memang laki-laki itu seusia Mas Arkan kakaknya.


Setelah itu gak ada percakapan antara keduanya, Dion sendiri beberapa kali terlihat mengangkat telphon, mungkin kerjaan, karena ini kan emang bukan hari libur. Dan Alma gak peduli, fokusnya hanya ke Vano, pantesan dia tadi milih pergi sendirian, mungkin karena ngerasa di abaikan.

__ADS_1


Alma kembali menghela nafas saat melihat Vano asyik bermain, mungkin kayak gini rasanya kalau udah punya anak, rasanya seneng gimana gitu saat nemenin anak main, apalagi kalau anaknya secomel Vano. Alma jadi ngerasa sedih karena belum bisa memberikan baby buat Kenzo.


Selama ini dia selalu berusaha ngehibur Kenzo dan memberi pengertian supaya lebih sabar. Padahal sebenernya dia sendiri kadang juga ngerasa kesepian dan gak kalah pengen punya baby.


“Heeeeemmhh…”keluh Alma


Setelah puas nemenin Vano main dan beliin robot-robotan, Alma pamit karena dia harus lanjut belanja, ditambah lagi Kenzo tadi ngabarin kalau satu jam lagi dia nyusul ke Mall karena dia minta temenin ketemu Novi yang emang lagi di Malang.


Setelah kejadian salah paham waktu itu Alma jadi makin protek ke Kenzo, untungnya Kenzo juga ikut kerjasama dengan sikap Alma.


“Sayaaank…”sapa Kenzo saat Alma buka mobil setelah naruh belanjaan di bagasi belakang.


“Aman kan belanja sendirian?”


“Aman dong, Lagian lebih enak belanja sendiri, jadi puas ngabisin uang kamu” ucap Alma sambil cekikikan.


“Abisin yank, suka-suka kamu aja lah” ucap Kenzo sambil jalanin mobilnya “Udah makan siang belum?”


“Belum, tadi Cuma beli camilan males kalau makan sendiri. Kamu?”


“SAma belum juga, kita makan ditempatnya mas Anjas aja ya, sekalian ketemu Novi sama Gio disana”


“Ok” ucap Alma sambil benerin make upnya “Gio kapan datang? Sama Karin?”


“Enggak, dia kemaren ke Kediri ada urusan disana balik sini barengan Novi mau bahas project tahunan”


“Project tahunan?” Tanya Alma karena dia emang gak paham


“Iya yank, biasanya tiap tahun tuh kita ngadain acara gathering, kayak baksos gitu. Sama syukuran, jadi semua karyawan travel ditiap cabang nanti gabung. Gak tau juga sih tahun ini mau bikin acara apa”


“Kayak rekreasi gitu gimana?” Alma coba ngasih usul


“Kayaknya gak deh yank, kita kan agen travel anak-anak kayaknya bakal bosen kalau ngadain acara kayak gitu. Hampir tiap hari mereka rekreasi terus” ucap Kenzo sambil senyum.


“Iya ya yank, padahal aku udah seneng aja mau liburan” Alma manyun.


“Modus banget sih kamu yank, nanti lah kita atur liburan berdua”


Kenzo ketawa ngakak “kan lebih seru yank”


“Kalau ujung-ujungnya Cuma di kamar doang mending stay dirumah aja, wong sama-sama ngamarnya. Sayang duitnya” kesal Alma.


“mulai deh mode emak-emaknya” kata Kenzo sambil nyubit pipi Alma gemas. Alma hanya senyum nanggapin celotehan Kenzo.


“Eh yank, tadi aku ketemu mas Arkan waktu ke Bank, dia minta kita sekali-kali nginep dirumah, biar bisa ngumpul-ngumpul”


Alma ngangguk-ngangguk


“Biasanya kita emang gak pernah nginep ya kalau kesana. Boleh, kamu kapan luangnya?”


“Aku sih santai yank, kapan aja hayuk”


“Besok gimana? Lusa kan libur tuh, aku udah lama ngejanjiin Saka mau ngajak jalan, jadi sekalian”


“Boleh, nanti mampir beliin dia mainan dulu yank, kangen juga sama tuh Bocil” ucap Kenzo sambil senyum “Kapan-kapan culik dia yuk yank, ajakin nginep sama kita semingguan gitu”


“ya nanti bilang emak bapaknya dulu yank”


“Rame kalau ada dia yank, gemesin” ucap Kenzo sambil tersenyum lebar.


Alma yang ngeliat antusias Kenzo ikutan senyum, dia tahu dari dulu kalau Kenzo sangat menyukai anak kecil, dia bapakable banget orangnya. Beberapa kali mereka jalan bertiga sama Saka, dan Kenzo selalu manjain Saka, beliin ini itu, nurutin semua kemauannya.


Tapi mereka berdua juga keliatan kompak banget. Alma sendiri sering diabaikan kalau Kenzo udah ketemu sama Saka. Dan itu membuat Alma bahagia tapi juga ada sedikit rasa nyeri karena inget dia belum bisa ngasih keturunan ke Kenzo.


Kenzo yang daritadi ngerasa diliat sama Alma noleh, “Kenapa sayank?”


Alma geleng sambil senyum manis “Love you suamiku!”

__ADS_1


Bukannya membalas, Kenzo malah mengernyitkan dahinya “Apaan sih yank, aneh kamu. Lagi mikirin apa sih kog tiba-tiba bilang love-lovean segala?” Tanya Kenzo sambil nyubit lengan Alma.


“Dih kamu, orang mau diromantisin malah gitu”


“Jiaah… gak gitu caranya romantis, kesannya malah kamu kayak lagi nyembunyiin sesuatu dari aku, takut kepergok, mangkannya bilang love you!”


“Kamu tuh suudhzon terus bawaannya!” Kesal Alma, dia milih memalingkan wajah melihat keluar jendela.


Kenzo senyum “ Mau dilanjut gak nih romantisnya? Love you too istriku sayank” Bisik Kenzo ditelinga Alma, kebetulan lagi lampu merah.


“Ck… Udah telat romantisnya!” semprot Alma, Kenzo malah ngakak.


***


Sudah dua hari Saka, anaknya Mas Arkan nginep dirumah Alma. Anak itu keliatan bahagia, apalagi Kenzo, bahagia banget. Dia selalu ngusahain pulang cepet. Kecuali hari ini karena dia harus ketemu sama klien, dan gak bisa diwakilin.


Seharian Alma nemenin Saka bermain, Dia jarang ngajak Saka keluar rumah tanpa kenzo, karena suaminya itu gak mau ketinggalan kalau urusan main sama Saka.


Dengan adanya Saka dirumah jelas hiburan sendiri bagi keduanya, Kenzo juga keliatan gak stress lagi.


Rencananya Saka nginep 4 hari dirumah Alma, karena setelah itu Alma dan Kenzo harus ke Surabaya, Karin dan Gio akan bertunangan, jelas mereka berdua harus datang. Awalnya Kenzo pengen ngajak Saka, sekalian bisa jalan-jalan, tapi gak dibolehin sama Mas Arkan, takut ngrepotin apalagi nanti pasti disana sibuk.


Tok…tok…tok…


Alma melirik pintu, gak mungkin Kenzo yang datang. Alma mendekati Saka dan mengelus kepalanya lembut, “Bunda ke depan dulu ya, tunggu disini, mainan yang pinter”


“Oce” ucap Saka sambil senyum


“Mbak Lina!” Sapa Alma setelah buka pintu.


“Assalamualaikum” ucapnya sambil cipika-cipiki


“Waalaikumsalam” Alma melihat kebelakang “Sendirian?”


“Iya, tadi habis jenguk temen yang baru lahiran deket sini” jawabnya “Saka gak nakal kan?”


“Aman mbak”jawab Alma sambil ikut Lina masuk ke dalam rumah.


Saka yang ngeliat Mamanya datang langsung berlari meluk, Saka bercerita semua aktivitasnya selama menginap dirumah Bundanya. Lina yang emang udah hafal betul gimana sifat anaknya hanya bisa jadi pendengar setia. Setelah makan siang bareng, Saka langsung tidur karena kecapekan.


Alma ngajak Lina duduk santai di teras belakang, kebetulan Alma punya beberapa koleksi bunga dan ada kolam ikan kecil disana jadi suasananya nyaman.


“Kenapa mbak?” Tanya Alma yang ngeliat kakak iparnya seperti kesal setelah ngeliat ponsel.


“Ini sepupu aku, lagi nanya jasa baby sitter, banyak yang gak cocok sama anaknya, yaudah iseng aja aku bilang nyari istri baru aja, eh dia malah ceramah panjang banget”


“Lah emang istrinya kemana?”


“Udah meninggal pas ngelahirin tuh anak”


Alma ngangguk-ngangguk “Sepupu yang mana emangnya?” Tanya Alma, karena dia udah hampir kenal semua saudara Mbak Lina.


“Sepupu jauh, dia baru balik dari Kalimantan, belum pernah ketemu kamu kayaknya” jelas Lina “Dia itu Pengusaha, sibuk banget. Kadang suka kasihan sama anaknya kayak gak keurus gitu, tapi suka gak percayaan sama orang apalagi kalau urusan anak”


“Repot ya mbak kalau gitu”


“Iya” ucapnya singkat “Betewe gimana progress pemeriksaan kamu?” Tanya Lina hati-hati, Alma sebenernya agak malas kalau harus bahas masalah kehamilan.


“Semuanya aman mbak, kudu banyakin usaha sama doa aja”


Lina senyum “Bener, jangan terlalu dibawa stress kalian juga nikahannya baru, dinikmati aja, sering ajak Saka nginep sini gak masalah kog, selama itu gak ngrepotin kalian, anggap aja kayak pancingan”


“Iya mbak, Kenzo seneng banget kalau ada Saka, aku kayak gak dipeduliin” ucap Alma mendramatisir.


“Yaelah, sama bocil juga mau cemburu kamu” kesal mbak Lina sambil dorong tubuh Alma, yang didorong malah ketawa ngakak. Kemudian keduanya sama-sama diam, dan Alma terlihat menghela nafas.


“Kenapa kamu?”

__ADS_1


Akhirnya Alma menceritakan keluh kesahnya selama ini, terutama tentang belum adanya tanda-tanda kehamilan. Selama ini Alma selalu menyimpannya sendiri, dan terlihat baik-baik aja. Dia curahkan semuanya sampai Alma menangis, bahkan Lina juga ikutan nangis. Dia gak nyangka kalau Alma ternyata terbebani sampai seperti ini.


***


__ADS_2