Sahabatkah?

Sahabatkah?
#49


__ADS_3

#49


"Ken..." panggil Alma, memecah keheningan.


Mulai dari rumah Alma tadi keduanya sama sekali gak ngomong, Kenzo bersikap ramah seperti biasa saat tadi pamitan dengan Mamanya Alma, tapi saat mereka berdua dalam mobil Kenzo hanya diam dan cuek.


"Hmmm"


"kamu marah ya? maaf" kata Alma.


Kenzo masih diam, dia tetep natap lurus jalanan, sama sekali gak noleh ke Alma.


"Ken..."


"Udah diem aja" ucap Kenzo datar.


Alma memijat pangkal hidungnya, dia mulai ngerasa pusing lagi. mungkin efek kurang tidur. Alma milih ngalah dari Kenzo, dia sandaran di kursi dan mulai memejamkan matanya.


"kamu bawa kacamata gak?" tanya Kenzo saat mereka mau turun.


"bawa"


"Pakek!" perintah Kenzo.


"ngapain? gak usah, aku masih bisa liat kog" ucap Alma, dari dulu memang Kenzo selalu protes kalau Alma gak pake kacamata, karena dia tau kalau mata Alma minus.


"bisa ngaca kan? mata kamu bengkak. mau di nyinyirin orang satu mall?" sindir Kenzo.


Alma mendengus kesal, tapi dia turutin juga kemauan Kenzo. Mereka jalan berdua, memilih barang yang sekiranya akan mereka beli untuk seserahan.


Dua jam lebih mereka muter mall, dan semua keperluan udah mereka beli. bahkan tadi Kenzo juga sudah membelikan Alma cincin kawin. Sekarang mereka mampir di resto untuk makan siang.


"Besok aku harus ke Kediri, mungkin semingguan" Kenzo mulai pembicaraan saat keduanya baru selesai makan.


"ngapain?"


"Aku mau buka kantor cabang disana" jawab Kenzo singkat. "Aku udah minta tolong Gio sama Karin buat bantu nyiapin pernikahan kita"


Alma cuma ngangguk, dia rada malas bicara sama Kenzo toh daritadi cowok itu juga cuek ke dia. Sebenernya pergi ke Kediri itu hanya alasan, bisa aja dia nyuruh orang lain. Tapi ini cara Kenzo untuk menghindari Alma, entah kenapa saat ini dia sangat kesal dengan Alma, apalagi saat mengingat mereka akan menikah.


"Ken! kita harus ngomong" ucap Alma kesal.


Saat ini mereka ada dalam mobil, tapi mobil masih dalam parkiran, rencananya mau pulang kerumah Alma.


"yaudah ngomong"


"kenapa daritadi kamu diem? kamu marah sama aku? marah karena kita mau nikah?"


"enggak!"


"terus kenapa sikap kamu kayak gini?"


"terus aku harus gimana? teriak? senyum-senyum? atau joget-joget?" ucap Kenzo dengan nada mengejek.


"gak lucu ya Ken!"


"Ck... kamu pikir aku juga lagi ngelawak? kamu kali yang lagi akting!"

__ADS_1


"Maksud kamu?" bentak Alma, Kenzo cuma diam.


"Kalau emang kamu gak suka sama pernikahan kita, batalin! aku gak mau kamu terpaksa karena kasihan sama aku dan keluargaku" bentak Alma, dia benar-benar ngerasa direndahin. dia juga mulai berkaca-kaca.


"Stop Al!"


"Kenapa? aku tau kamu kecewa, aku tahu kamu juga punya beban berat. tapi gak gini caranya. ngomong kalau kamu gak mau, berenti nyimpen semuanya sendiri. bilang kalau kamu juga sakit karena terpaksa harus nikah"


"Terus aku harus gimana?" bentak Kenzo "Kamu pikir selama ini aku diem aja? udah banyak cara aku lakuin buat nolak pernikahan ini!"


"Aku yang bakal batalin. Aku muak dengan semua ini. Persetaan dengan pernikahan!" ucap Alma dengan emosi, dia mulai menangis lagi.


Alma bener-bener berada dalam titik terendah dalam hidupnya. ini terlalu berat untuknya. Dia gak tau harus gimana, gak tau harus cerita dengan siapa.


Kenzo memukul setir mobilnya dengan keras, dia mengusap wajahnya kasar. Dia sangat gak suka situasi ini. Dia sendiri gak tau harus gimana. Kecewa? sedih? entahlah...


"Kita akan tetep nikah" ucap Kenzo tegas.


"Aku gak mau!" bentak Alma.


"Terserah apa pendapat kamu! tapi aku bakal tetep nikahin kamu!" ucap Kenzo tegas, dia lalu menyalakan mobil dan melajukannya dengan kencang.


Alma ngerasa tidak mengenal sisi Kenzo yang sekarang, dia merasa takut. Apa segini rendahnya Alma sampai seorang Kenzo yang dulu sangat baik dan mencintainya berubah jadi semenakutkan ini.


"Aku pulang dulu, jangan ngelakuin hal bodooh, karena apapun pikiran kamu, aku bakal tetep nikahin kamu. jadi gak usah berulah, mending banyak beribadah, minta maaf sama Allah, taubat!" pamit Kenzo saat dia mau masuk mobil.


"harusnya kamu ceramahin diri sendiri!" balas Alma kesal.


"nanti aku hubungi" pesan Kenzo.


"hmmm" Kenzo masuk mobil, dia berlalu dari rumah Alma.


"Biar diurus mas Arkan sama Mbak Lina deh Ma, Alma gak bisa mikir, pasrah aja sama mereka"


"Al, Mama tau kamu terpaksa nerima Kenzo biar keluarga kita gak malu, iya kan?" Alma cuma diem dapat pertanyaan dari Mamanya.


"Mama berterimakasih sayank, tapi kalau kamu keberatan kamu juga bisa nolak, masalah lainnya gak usah dipikirin. Yang penting kamu, karena kamu yang akan ngejalanin"


"Alma gak papa Ma, Alma mau nerima Kenzo, gak keberatan." ucap Alma sambil tersenyum dan meluk Mamanya dari samping.


"Alhamdulilah kalau gitu. insyallah Kenzo yang terbaik nduk, Mungkin ini memang jalan kamu. Sekarang kamu harus lebih banyak berdoa, minta dimudahkan sama Allah"


"Iya Ma makasih," kata Alma sambil melepas pelukannya "Alma ke kamar dulu Ma, mau mandi"


***


Hari ini Alma udah mulai kerja, dia gak semangat sama sekali, pengen rasanya dia kabur. Bebi bela-belain nginep dirumah Alma semalem, karena dia tau sahabatnya lagi gak baik-baik saja.


"Al, lo gak boleh sedih lagi, kan udah ada solusinya, Kenzo mau nikah sama lo. terus apa yang lo pikirin lagi?" tanya Bebi semalem sebelum mereka tidur.


"Gue mikir lah Beb, gimana nantinya gue ngehadapi Rayhan, terus orang-orang di RS. Apalagi Kenzo, pengen gue pites tuh anak, ngeselin tau gak!"


"Masalah di RS gak usah dipikirin, kemaren Pak Pram ngambil apel, intinya beliau ngelarang buat gosip, apalagi saat jam kerja. Beliau kemaren keliatan marah gitu Al. dokter Rayhan gak ngasih kabar lagi?"


"gak tau, sejak dia nelphon dan bilang gak bisa lanjut, dia gak ada kabar blas"


"Ikhlasin deh Al"

__ADS_1


"Iya, dipikir lagi juga gue ngerasa Dokter Rayhan kayak gak serius gitu. Dia yang awalnya maksa ngajak nikah. Oke emang gue yang salah disini tapi apa gak bisa gitu kita nyari solusi, main batalin aja. Kadang tuh aku sebelnya dia kayak gak bisa tegas sama hal-hal tertentu, bikin gregetan."


Bebi ngangguk "Sabar Al"


"Beberapa hari ini gue juga jadi nethink ke orang-orang"


"termasuk gue?!"


"elo orang pertama yang masuk daftar list"


"Ck... Sialaaan!" Bebi nimpuk Alma pakai bantal, cewek itu ketawa. Bebi bersyukur setidaknya Alma masih bisa ketawa.


"Gue jadi mikir kalau ini ulah Mia"


"Mia Bidan?"


"Iya, jadi Mia tuh sahabatnya Rima, kembarannya Rayhan" ucap Alma tanpa embel-embel Mas lagi. "katanya, Mama Rayhan dulu mau jodohin mereka berdua. tapi keduluan Rayhan suka sama aku."


"kalau gitu ceritanya bisa jadi sih Al. lagian Udah bukan rahasia lagi kan kalau Mia suka sama dokter Rayhan?"


"Tauk lah, bodoo amat wes!" kata Alma sambil rebahan.


Suasana RS masih agak canggung bagi Alma, Tapi semua orang di ruangannya selalu ngedukung dia. Apalagi Bebi memang diberi mandat sama Pak Pram buat ngasih bocoran kalau Alma mau nikah, walaupun gak ngasih tau siapa calonnya, tapi temen-temennya mikir kalau Alma memang mau nikah sama Kenzo. Dan gosip itu perlahan juga mereda.


Alma berjalan santai ke ruang pendaftaran, dia mau meminta laporan data pasien anggota/polisi. Hari ini lumayan santai, karena nanti sore temen-temen yang ikut kloter 2 ke Bali akan berangkat.


Saat Alma melewati parkiran mobil, dia seperti mendengar suara orang yang sangat dia hafal. Perlahan Alma mendekat, tapi dia milih sembunyi, dia hanya ingin mendengar pembicaraan orang tersebut.


"Mas, aku yakin banget kalau Alma emang selingkuh sama cowok itu, dan sekarang gosipnya Alma mau nikah. sama siapa coba?padahal pernikahan kalian jelas batal" Mia mencoba memprovokasi Rayhan.


"Udahlah Mia, Aku udah gak mau ikut campur tentang Alma, terserah dia"


"Tapi berarti dia selingkuh di belakangnya mas, dan dia juga ngasih aib dikeluarga Mas"


"Akan lebih memalukan kalau aku terus lanjut nikah sama dia. Selama ini mas selalu menjaga diri, tapi dia seperti mengobral ke cowok lain. Untungnya mas belum terlalu mencintai dia. Sepertinya memang kami gak jodoh!" ucap Rayhan pelan, dia seperti ragu.


Alma seperti tertimpa batu besar, ternyata selama ini, Seorang Rayhan yang selalu dia puji karena kebaikannya bisa tega bilang hal seperti itu. Alma memang banyak kekurangan tapi kenapa harus Rayhan sendiri yang ngomong?


Beberapa hari yang lalu bahkan cowok itu masih ngasih perhatian, bilang sayank, bilang Alma cewek istimewa, tapi sekarang???


"Mas gak sedih kalau dia nikah sama orang lain?"


"Pasti sedih lah, tapi dibuat biasa aja. insyallah jodohnya Mas udah disiapin yang lebih segala-galanya dari Alma" Ucap Rayhan santai. "Yaudah mas duluan" pamit Rayhan.


Saat Rayhan berbalik, Alma sengaja menampakan diri. Dia tersenyum sangat indah, Rayhan yang melihat itu dibuat kaget.


"Al-Alma..."


"Selamat sore dokter Rayhan. Saya cuma mau bilang makasih, Makasih karena udah muji mantan tunangan anda di depan wanita lain seperti tadi. Anda bener-bener pintar ngomong! Ck...!"


Alma melempar cincin tunangan dari Rayhan yang selalu dia bawa di saku ke arah cowok itu. Alma berjalan melewati Rayhan dan Mia yang hanya diam.


"Al, jangan salah paham dulu. saya bisa jelasin!" kata Rayhan sambil megang tangan Alma.


"Saya gak butuh penjelasan, lebih baik saya salah paham seperti ini. Biar perasaan sayank saya ke dokter cepet ilang!" jawab Alma tegas, dia melirik Rayhan dan Mia tajam, lalu berlalu pergi.


Dada Alma sesak, rasanya sakit mendengar orang yang dulu sangat dekat dengan kita, sekarang malah menggunjing di belakang kita. Sekarang Alma mulai sadar sesuatu.

__ADS_1


***



__ADS_2