Sahabatkah?

Sahabatkah?
#47


__ADS_3

#47


Tok... tok... tok...


"Masuk"


"Siang Pak Pram"


"Dokter Rayhan?! masuk dok, silahkan" kata Pak Pram sambil mempersilahkan Rayhan duduk di sofa ruangannya.


"Mohon ijin Pak, Maaf ganggu sebentar"


"iya gak masalah dokter, ada yang bisa saya bantu?"


"Ini Pak, Saya mau nyerahin berkas perpanjangan kontrak yang bapak minta" kata Rayhan sambil memberikan berkas dalam map.


"ini udah lengkap ya dok? makasih ya, nanti saya cek dulu"


"iya, sebenernya saya juga mau bertanya sama bapak, tapi ini diluar masalah RS, apa bapak berkenan?"


Pak Pram melepas kacamatanya, dan duduk sedikit tegak, "iya silahkan dok"


"Ini tentang Alma, saya dengar saat Di Bali dia, ehm... maaf, ada sedikit scandal dengan orang travel, dan Alma bilang bapak mengetahui cerita itu"


Pak Pram ngangguk, dia memperhatikan wajah dokter Rayhan dengan seksama. "iya Dok, saya sendiri yang memergoki mereka pagi itu. dan dokter juga pasti sudah mendengar bagaimana kronologinya kan?"


"iya, Alma sudah bercerita semuanya"


"Dokter, bukan saya mau ikut campur masalah pribadi anda. Tapi saya sudah berpuluh tahun di kepolisian dan banyak melihat jenis sikap seseorang. pendapat saya pribadi, Alma dan Kenzo memang tidak berzina. Mereka memang bersalah karena tidur dalam satu ruangan, tapi saya sangat percaya mereka hanya tidur dan tidak melebihi batasannya"


Rayhan mengusap wajahnya kasar "Jujur saya kecewa dengan Alma, karena kecerobohannya itu semua orang di RS sekarang gosipin dia ada hubungan dengan Kenzo. Dan secara kebetulan orang tua saya mendengar gosip itu, orang tua saya termasuk tipe orang yang menjunjung tinggi moral dan agama, menurut mereka apa yang dilakukan Alma itu adalah aib, dan mereka tidak bisa menerima itu."


Rayhan menjeda penjelasannya, matanya terlihat berkaca-kaca, "Tadi pagi orang tua saya memutuskan untuk membatalkan pernikahan."


"Dibatalkan dokter?!" Pak Pram sangat terkejut.


"Iya Pak, dan Setelah mendengar itu, Alma langsung pingsan dan sekarang di observasi di belakang" terang Rayhan.


"Innalilahi Alma, bagaimana kondisinya sekarang dok?" Pak Pram tidak tau kalau Alma pingsan karena daritadi beliau rapat dengan orang polres, ditambah memang tidak ada yang memberi tau beliau.


"Kata perawat, dia baik-baik saja, cuma kecapekan dan stress. Mohon ijin Pak, saya jadi terus bicara masalah pribadi, jujur saya sendiri sedang bingung dan dipikiran saya cuma bapak pihak netral yang bisa saya ajak diskusi"


"iya dokter saya paham, terus rencana dokter gimana sekarang?" tanya Pak Pram serius.


"Saya mungkin akan mengikuti kemauan orang tua saya pak, karena dari awal sebenernya saya yang ngotot untuk menikah dengan Alma, dan orang tua memang kurang setuju dari awal"


"dokter Rayhan coba dipikirkan lagi, jangan tergesa-gesa.jangan sampai dokter menyesal"


Rayhan cuma senyum tipis "iya Pak, terimakasih atas sarannya. Kalau gitu saya mohon ijin Pak" pamit Rayhan.


"Owh iya, silahkan dokter. saya doakan dokter bisa melewati ujian ini"


"terimakasih Pak" ucap Rayhan, dan dia pergi keruangan Alma.


***


Setelah ngobrol dengan Pak Pram perasaan Rayhan sedikit lega, tapi jujur dia masih sangat khawatir dengan kondisi Alma sekarang. setelah pembatalan pernikahan yang dilakukan orang tuanya Rayhan sebenernya sedikit canggung untuk bertemu keluarga Alma, dan terutama bertemu Alma sendiri.


Rayhan terus berjalan melewati koridor RS, tujuannya adalah kamar tempat Alma di observasi. Dia berjalan gontai tanpa semangat, bahkan sapaan beberapa perawat dia abaikan.

__ADS_1


"Assalamualaikum" ucap Rayhan lirih.


"Waalaikumsalam" jawab semua orang diruangan.


"Rayhan?" Papa Alma terlihat kaget, tapi sikapnya lebih datar. tidak sehangat dulu. Melihat Rayhan datang, Alma kembali menangis.


Rayhan mencium tangan kedua orang tua Alma, dan perlahan menghampiri Alma di bed pasien.


"Gimana kondisi kamu?" tanyanya pelan.


Alma menggeleng, dia hanya bisa mengungkapkan perasaannya lewat tangisan. Kini Rayhan ikut menitikan air mata.


Kedua orang tua Alma paham, bahwa mereka butuh waktu dan ruang untuk mengobrol.


"Rayhan, kalian bicaralah dulu, tapi Om minta tolong jaga perasaan Alma." ucap Papa Alma datar, bahkan beliau menyebut dirinya Om ke Rayhan, bukan Papa lagi.


Setelah kedua orang tua itu pergi, kini tinggal Alma dan Rayhan yang masih saling tatap. Keduanya masih enggan untuk bicara, dari mata mereka cairan bening terus menetes. Dalam kondisi seperti ini, entah siapa yang harus disalahkan, yang jelas Alma dan Rayhan keduanya sama-sama tersiksa.


"Udah Al, jangan nangis lagi" kata Rayhan sambil menghapus air mata Alma, dia duduk di kursi sebelah ranjang. Alma sendiri mengatur bed supaya dia bisa duduk bersandar.


"Kenapa jadi kayak gini mas? aku mohon ampuni aku, kamu dan keluargamu bisa menghukum aku dengan cara apapun, asal jangan hukum dengan batalnya pernikahan kita" ucap Alma dengan berderai air mata.


"Mas minta maaf Al, jujur mas juga sakit kita jadi kayak gini."


"Tolong bujuk orang tua mas, perjuangin aku mas" ucap Alma dengan melas. Rayhan serasa tercubit dengar permintaan Alma.


"Kamu tau Mama Al, selama ini dia ragu sama kamu, mendengar gosip ini beliau langsung naik darah dan mutusin buat batalin pernikahan. Mas pengen sekali merjuangin kamu, tapi kedepannya itu akan semakin berat buat kamu Al."


"Aku akan berusaha buat ngeyakinin keluarga kamu mas"


"Al, bukannya mas gak percaya sama kamu, tapi kondisinya saat ini beda. Mama minta mas milih antara kamu atau keluarga. Mas bisa saja milih kamu dan ninggalin keluarga mas. Tapi apa kita bisa bahagia setelah ngelakuin itu?"


"mas gak buang kamu Al, menurut mas memang ini yang terbaik. kalau kita melanjutkan pernikahan, seumur hidup kita akan menyesal, pernikahan yang harusnya penyempurna agama, terasa hambar karena gak dapat restu orang tua. Kamu pasti juga tau surganya mas ada di kaki Mama, kalau mas gak dapat surga dari Mama apa yang akan mas kasih buat kamu? buat anak-anak kita nanti?" ucap Rayhan dengan penuh air mata.


"Mas... please..." mohon Alma dengan megang tangan Rayhan.


"Mas gak bakal ninggalin kamu Al, tapi mungkin kita gak bisa disatukan dengan ikatan pernikahan, kamu akan terus ada di hati mas, walaupun cuma sebagai teman"


"Aku gak mau mas" bentak Alma histeris.


Rayhan refleks meluk Alma, "Maafin mas Al, ini yang terbaik buat kita"


"terus gimana dengan aku? dulu mas datang dan ngajak aku nikah, sekarang mas langsung ngebuang aku?"


"Enggak Alma, Mas bakal berusaha bantu kamu terus bahagia. mas janji"


Alma melepas pelukannya "Kalau mas mau aku bahagia, nikahin aku"


Rayhan menatap manik mata Alma, perlahan dia mencium tangan Alma. "Mas pengen yang terbaik buat kamu Al, Mas sayank sama kamu. Dan disini mas juga orang yang terluka, bukan cuma kamu"


Alma menatap Rayhan, dia memejamkan matanya sekilas dan menunduk. Alma sadar semuanya bermula karena ulahnya. Alma kembali melihat Rayhan, dia menghapus air mata Rayhan. Tangan mereka saling berpegangan.


"Sekali lagi, tolong yakinkan orang tua mas, aku janji akan memperbaiki semuanya." Alma memang gak tau dengan perasaannya, tapi ngebayangin batal nikah itu sangat menyeramkan buat dia, rasa malu, sanksi sosial yang dia dapat dari orang-orang, itu yang bikin dia sangat takut.


Rayhan senyum tipis, "iya mas pasti nanti ngomong lagi sama mereka. maafin mas, jangan pernah mikir mas ngebuang kamu. kamu istimewa buat mas."


"Maaf mas" ucap Alma pelan.


Kedua orang itu saling menguatkan. Daritadi Rayhan genggam tangan Alma, sesekali dia mencium tangannya, dia duduk di pinggir bed., Rayhan seakan lupa dengan batasan yang selama ini diterapkan. Alma sampai geleng-geleng kepala ngeliat tingkah Rayhan, dia baru tau kalau Rayhan bisa seperhatian ini.

__ADS_1


Tok... tok... tok...


Secepat kilat keduanya menjauh, untung pintu kamar itu memang secara otomatis langsung nutup setelah dibuka. Rayhan pura-pura sedang meriksa Alma, keduanya sedang akting dokter-dokteran.


"Loh, dokter Rayhan?!" Riko, perawat UGD agak terkejut. "kog disini dok?"


"tadi saya habis jenguk temen, tau kalau Alma disini sekalian saya liat. Orang tuanya minta tolong temenin, mereka lagi ke kantin. kata mereka Alma bisa kambuh kalau gak dijagain" ucapnya beralasan. Alma melotot denger alasan dokter itu.


Sedangkan Riko hanya ngangguk denger ucapan Rayhan, apalagi dia ngomong sambil natap tajam ke Riko "Kenapa? dokter Ridwan mau visite?"


"enggak, Alma cuma dikasih 1 kantong infus aja, kalau udah habis bisa langsung pulang. ini saya mau nge cek."


"masih kurang sedikit" jawab dokter Rayhan sambil ngecek cairan infusnya.


"iya, yaudah nanti saya balik sini lagi"


"gak usah, kamu jaga UGD aja. saya punya waktu senggang dan cukup terampil kalau cuma lepas infusan, keperluannya kamu tinggal sini aja." ucap dokter Rayhan.


Riko keliatan bingung, dia garuk tengkuknya. "siap kalau gitu dokter. Alma ini obatnya, dokter Ridwan juga udah ngasih surat ijin buat kamu, tadi udah di kasih ke Bu Septi sama anak-anak"


"iya, makasih ya mas" kata Alma sambil senyum.


"Sama-sama, mohon ijin duluan ya dok" kata Riko sambil berlalu pergi.


"kalau nanti mas Riko curiga sama kita dan aku digosipin lagi gimana?" tanya Alma khawatir.


"gak usah bingung, perawat UGD ada dibawah pantauan saya. tinggal saya jitak aja kalau ember"


Alma senyum, Rayhan melihat ke arahnya kini dia duduk di kursi sebelah bed. "masih pusing?" tanya Rayhan sambil melihat obat yang dibawa Riko.


"Kepalaku masih agak berat" ucap Alma pelan.


"Setelah ini tenaga kamu jangan di forsir, banyak istirahat, minum air putih yang banyak, pola makan di atur, obatnya rutin diminum. Dan yang paling penting jangan mikir yang berat dulu"


"Dokternya bawel isshh..." kata Alma manja. "Lagian gimana aku gak mikir sih mas?"


"Udah, gak perlu dibahas lagi" kata Rayhan lembut, Alma manyun, bikin Rayhan gemas dan tersenyum.


Mungkin selama mereka kenal dan tunangan ini pertama kalinya mereka sedekat ini secara langsung, biasanya mereka hanya berani berucap manis saat chat atau telphon. Dan daritadi kedua pipi mereka merona malu.


Beberapa menit kemudian, kedua orang tua Alma datang, mereka terlihat canggung. Pembatalan pernikahan itu membuat orang tua Alma kecewa terhadap Rayhan. Seberat apapun masalah mereka harusnya diselesaikan, diomongin baik-baik dulu, tidak langsung ngambil keputusan sepihak begini. gimanapun juga keluarga perempuanlah yang paling banyak menanggung malu.


Setelah melepas infus Alma, Rayhan mohon diri untuk pulang karena dia harus kerja. Tak berapa lama orang tua Alma juga mengajak pulang, karena kondisi Alma sendiri sudah mulai membaik.


"Alma, gimana tadi kamu sama Rayhan?" tanya Mama Alma melepas keheningan saat perjalanan pulang.


"gak tau Ma, mas Ray masih mau ngomong lagi sama orang tuanya"


"Apalagi yang mau di omongin? mereka sudah mengambil keputusan. Ingat ya Al, Papa gak mau kamu ngerendahin diri buat minta dinikahin Rayhan" ucap Papa Alma diliputi emosi.


"Pa, kan memang sudah seharusnya ini di omongin lagi, apa kata orang kalau tau Alma batal nikah" Mama Alma berucap sambil berkaca-kaca.


"Mama gak usah mikir omongan orang, harusnya Mama lebih mikirin perasaan Alma. Dan lagi kalau mereka masih maksa nikah Mama bisa bayangin bagaimana Alma menghadapi keluarga Rayhan? bagaimana kalau Alma tetep tidak diterima dan malah disiksa? itu akan lebih menyakitkan. kita ambil positifnya saja, berarti memang mereka belum berjodoh" ucap Papa Alma panjang lebar.


Alma memilih diam sambil mendengarkan perdebatan orang tuanya. Matanya terpejam, Saat ini kepalanya sangat pusing, dia gak tau harus bagaimana menghadapi masalah ini.


***


__ADS_1


__ADS_2