
SK99
Plaak...
"iya aku emang cewek goblook, itu karena cinta sama kamu. puas kamu sekarang!" teriak Bebi dan langsung berlari ninggalin Rayhan.
"Beb..." teriak Rayhan sambil berdiri.
Rayhan bener-bener frustasi, dia mengacak rambutnya kasar. Kakinya menendang bangku taman keras. "Aaargghh!"
Dia bener-bener heran sama Bebi, beberapa hari ini tingkahnya makin beda. Dan tiap kali bahas masa lalu dengan Alma, Bebi selalu ujung-ujungnya marah.
Tapi dia juga salut dengan sikap Bebi, saat mereka tengkar dia selalu bisa nutupi itu dari yang lain, dia gak mentingin egonya, di depan yang lain Bebi selalu baik ke Rayhan, bahkan selalu sopan dan nurut. Dan persahabatannya sama Alma juga masih sangat baik.
"kamu kenapa sih?" gumam Rayhan.
Bebi terus berlari, sampai kamar dia ngerasa perutnya sedikit nyeri, mungkin karena dia terlalu cepat berlari. Dia merebahkan tubuhnya dalam ranjang, hatinya sakit. Padahal tadi saat Rayhan ngajak ketemu dia sangat senang dan dalam hati berniat mau manfaatin waktu buat pacaran. Tapi malah berantem.
Dia juga bingung kenapa bisa sekesal dan semarah ini ke Rayhan. Padahal tadi dia sangat pengen ketemu.
Tadi siang waktu mereka jalan di pantai, Bebi dan Rayhan milih buat bikin foto prewed sederhana. dengan Gio sebagai fotografer dadakan. Hasilnya juga lumayan bagus, Saat Bebi ngeliat hasil fotonya di ponsel dia langsung ngerasa kangen Rayhan dan pengen ketemu. tapi saat udah ketemu dia malah mendadak emosi, apalagi saat inget kejadian tadi di cafe.
Dia tau Rayhan masih mencintai Alma, tapi kenapa tunangannya itu sama sekali gak peka.Ada dia disana, harusnya Rayhan bisa bersikap biasa. Tapi dia malah kepancing sengaja mengangkat kursi dan malah beralasan ketoilet.
Semakin lama perut Bebi makin berasa nyeri, dan merasa gak nyaman. dia pergi ke toilet, ternyata ada noda merah di ****** ********, pantas dia merasa nyeri dan gak nyaman. Untung dia membawa pembalut, selesai berganti Bebi langsung rebahan lagi. Perutnya masih terasa gak nyaman, dia bangun meminum air putih. setelahnya dia mulai tiduran lagi. melupakan setiap kejadian yang melelahkan tadi. dengan sesekali mengusap perutnya yang terasa gak nyaman.
***
drrrttt...drrrttt
Kenzo mencoba meraih ponsel sang istri yang ditaruh diatas nakas, Sedangkan Alma sendiri masih menikmati guyuran air di kamar mandi. Kenzo memicingkan matanya, diliatnya siapa yang nelphon.
"Apaan sih pagi-pagi ganggu aja?!" bukannya ngasih salam, Kenzo malah langsung nyemprot yang nelphon
"Dih, kak Ken! Mbak Alma mana?" tanya Karin dari seberang.
"Masih mandi. kamu ngapain nelphon? kalau udah laper sarapan duluan sono, gangguin aja" protes Kenzo, dia hafal banget kalau Karin terbiasa sarapan pagi.
__ADS_1
"bukan masalah sarapan kak. ini mbak Bebi muntah-muntah, kayaknya masuk angin deh, semalem dia keluar lagi soalnya"
"terus ngapain nelphon Alma? pesenin teh panas sono sama sarapan"
"Aku tuh mau tanya, mbak Alma bawa obat atau minyak angin gitu? kasian ini mbak Beb nya"
"Mana aku tau, Alma masih mandi nanti aku tanyain. atau kalau enggak kamu telphon Rayhan suruh kesana"
"ngapain nyuruh kak Ray? emang dia punya minyak angin?" tanya Karin lagi.
"Ck... dia kan dokter, suruh mriksa kek, gimana gitu, tanya dia kudu ngapain" jelas Kenzo sambil benerin posisinya.
"Oiya lupa, yaudah bye!"
Karin langsung memutus sambungan telphonnya, Kenzo yang kesal langsung naruh ponsel itu di nakas, dan kembali rebahan.
"Siapa yang nelphon yank?"
"Karin"
"kenapa?"
"Malah tidur lagi, ayo bangun ntar ditungguin anak-anak yank, gak enak. mandi sana" Alma mulai narik selimut yang dipakai Kenzo.
"capek yank!"
"kamu sih gaya, pagi-pagi minta lagi, capek sendiri kan"
"halah kamu juga suka gitu" goda Kenzo sambil ketawa.
"Haiiish... ketawa aja Terus, mandi sana"
Dikamar lain, setelah nutup telphon Kenzo, Karin langsung nelphon Rayhan. Dia nyeritain keadaan Bebi, dan Rayhan bilang bakal langsung kesitu kebetulan dia juga bawa perlengkapan medisnya.
Karin mulai mendekati Bebi lagi, dia udah gak muntah tapi keliatan lemas. Sebenernya tadi Bebi nglarang nelphon Rayhan, tapi Karin ngotot dan dia cuma bisa pasrah.
Tak berapa lama pintu kamar mereka diketuk, Karin segera buka pintu. Dan ternyata Rayhan udah make pakaian rapi dengan membawa tas kecil ditangannya.
__ADS_1
"masuk kak" ucap Karin sambil ngasih jalan ke Rayhan.
"Makasih" balas Rayhan, dia berjalan mendekat ke bed Bebi.
Diusapnya kening Bebi yang lagi mejamin mata, Rayhan tersenyum saat Bebi mulai membuka mata dan menatapnya. Dia seakan lupa kejadian yang terjadi antara mereka tadi malam.
"kenapa? mana yang sakit?" tanya Rayhan lembut.
Bebi menggeleng "tadi cuma muntah sama sekarang lemes"
Rayhan menghela nafas panjang, dibukanya tas kecil yang tadi dia bawa. dia mengeluarkan peralatan perangnya yang selalu dibawa kemana-mana. Rayhan mulai memeriksa Bebi, mencari sesuatu yang dikira gak beres dalam tubuh sang cewek.
Rayhan mengerutkan dahinya "yang kamu rasain apa?"
"gak ada, cuma lemes. biasa kalau masuk angin gini, dikasih teh panas nanti pasti ilang kayak biasanya"
Rayhan kembali mengernyit "kamu sering muntah?"
"Beberapa hari ini emang sering masuk angin, suka muntah kalau pagi pas siang udah langsung biasa"
"Dan kamu gak bilang ke aku?" tanya Rayhan agak tinggi, Karin yang dari tadi merhatiin agak kaget.
"Kamu apaan sih, mentang-mentang dokter aku masuk angin aja harus laporan" ucap Babi sambil mlengos.
"gak gitu Beb..." ucap Rayhan, dia menghela nafas, dia noleh ke Karin "Rin, bisa minta tolong tinggalin kita dulu gak?"
"Iya kak" ucap Karin dan berlalu keluar kamar.
Setelah Karin keluar kamar Rayhan duduk di ranjang Bebi, megang tangannya. "Dek, mas mau tanya serius"
Bebi ngeliat Rayhan, "apa?" tanya Bebi ketus.
Rayhan menghela nafas lagi, ditatapnya mata Bebi, diusapnya tangan tunangannya itu, kemudian dia mencium kening Bebi lembut.
"Mas..."Bebi agak kaget sama tingkah Rayhan.
Rayhan tersenyum "jawab jujur..."
__ADS_1
***