
#40
"Balik bareng aku aja nanti malam, aku kan juga dinas malem" pinta Rayhan "Sekalian kita makan malam disini, Mama pasti suka kalau calon mantunya bantu masak makan malam"
"Hah?!" Alma sedikit kaget denger permintaan Rayhan, jujur dia masih canggung banget sama keluarga Rayhan, apalagi sikap Mamanya masih keras ke Alma
"Maaf mas, aku harus balik soalnya mau langsung ngadep Pak Pram dirumah beliau" kata Alma nolak dengan hati-hati.
"Pak Pram?"
"Iya, masalah liburan kemaren." Alma gak bohong, dia emang mau bahas liburan kemaren sama Pak Pram, masalah Kenzo di skip dulu, yang penting gak bohong.
"Owh... " ada sedikit kekecewaan di wajah Rayhan.
"Maaf mas, nanti kalau udah nikah aku bakal puasin masak sama Mama"
Rayhan senyum "Mas kayaknya emang belum pernah nyicipin masakan kamu. kata Radit kamu pinter masak"
"gak pinter mas, masih belajar" kata Alma merendah, di depan Rayhan dia emang berusaha menjaga semuanya, dia pengen terlihat baik tapi gak belagu didepan calon suaminya.
Coba kalau lagi berhadapan sama temen-temennya, dia pasti bakal makin nyombongin diri bisa masak saat dipuji kayak gitu, Alma senyum sendiri saat ngerasa dia seperti bukan dirinya.
"Oiya mas, besok aku ke Surabaya"
"ngapain?"
"biasa ada Jaldis (Perjalanan Dinas) ke Polda sama Biddokes" terang Alma.
"Sama siapa?"
"Bayu sama Bu Rahma"
Rayhan menghela nafas panjang "hati-hati dek, inget pesen Mama tadi"
"iya mas, tapi jangan bilang Mama ya, nanti aku kena marah, hehehe"
"iya-iya"
Setelah itu Alma pamit pulang ke Mama dan Rima, Rayhan ngotot mau nganter Alma sampai ke rumah Pak Pram, meskipun mereka bawa kendaraan sendiri-sendiri. Tapi sekuat tenaga Alma nolak, bisa gawat kalau ketahuan dia janjian pergi bareng Kenzo.
***
Beberapa menit kemudian Alma udah sampai asrama, setelah tadi mampir bentar ke RS nitip parkir motor. Alma sholat magrib sebentar. Dan langsung siap-siap pergi karena Kenzo bilang dia lagi perjalanan.
"Mau pergi lagi Al?" tanya Ratih temen satu asrama, dia anak perawat.
"iya, mau ada perlu."
"jangan lupa bawa kunci, takut anak-anak udah pada tidur saat lo dateng, pada kecapekan semua masian"
"Oke siap, gue pergi ya" pamit Alma sambil berjalan ke arah pintu.
"Ati-ati"
__ADS_1
"siap!"
Alma berjalan sendiri ke tempat janjiannya sama Kenzo, saat nyampek sana dia gak ngeliat Kenzo, padahal tadi dia chat kalau udah nyampek. Mungkin dia di dalam minimarket, karena dia ngeliat mobil yang mirip kayak punya Kenzo. Alma milih duduk di kursi depan minimarket sambil chat Kenzo.
"Alma" sapa seseorang, temen kerja Alma, tapi dia Bidan.
"Hay... dinas sore?" tanya Alma saat liat dia pakai baju kerja.
"iya, ini mau beliin pesenan dokter Adit" ucapnya, "kamu ngapain disini?"
"lagi nunggu orang"
"Pacar ya? cieee"
"Apaan sih. bukan" kata Alma sambil senyum.
"Pacar juga gak papa kali, yaudah gue masuk duluan"
"oke!" jawab Alma singkat,
Bidan tadi berlalu ke dalam minimarket, tak berapa lama ternyata Kenzo muncul dari dalam minimarket.
"udah lama dek?"
"Ck... sampek jamuran aku nungguin" jawab Alma canggung.
"heleh... orang dari dalem aku liat kamu baru dateng" kata Kenzo sambil senyum. "nih" katanya sambil ngasih minuman favorit Alma.
"hehehe... makasih" mereka berdua jalan beriringan masuk dalam mobil, tanpa peduli sekitar.
"Kenapa mau nraktir?"
"kamu lah, dana udah cair kan" Alma ngerayu, dia emang laper banget, gak lucu kalau nanti di rumah Pak Pram perutnya bunyi.
Kenzo senyum "makan apa?" tanyanya sambil liat jam.
"seikhlasnya kamu deh mau nraktir apa" jawab Alma sambil nyengir.
Akhirnya Kenzo ngajak Alma makan di masakan Padang, keduanya lebih banyak diam, sibuk nikmatin makanan masing-masing.
"kamu udah ijin kan mau keluar sama aku?" tanya Kenzo disela-sela mereka makan. Sejenak Alma diam, dia bingung dengan pertanyaan Kenzo.
'Apa yang dia maksud ijin ke Mas Ray ya? tapi dia tau darimana? oh paling dia cuma mancing, dia pasti asal nebak dan nganggep aku udah punya pacar.' batin Alma
"Udah kog, tapi gak bilang keluar sama kamu. aku bilang mau ke rumah Pak Pram aja bahas liburan kemaren"
"kenapa gak ngomong kalau perginya sama aku?" tanya Kenzo penasaran.
"bisa digantung aku sama dia kalau tau perginya berdua sama kamu, tadi dia ngotot mau nganter tapi aku tolak"
Kenzo ngangguk-ngangguk dan kembali diam, dia hanyut dalam pikirannya sendiri. tanpa mereka sadari ternyata persepsi mereka beda. Alma mikir Kenzo ngomongin Rayhan, pasangannya. Tapi siapa yang tau apa yang ada dalam pikiran Kenzo.
"Kamu belum bilang masalah kita di Bali?"
__ADS_1
"Belum, masih ragu. tapi insyallah nanti setelah ngobrol sama Pak Pram aku cerita ke dia"
"mending secepatnya lo ngomong, gak baik bohong sama pasangan. kalau perlu nanti aku bantu jelasin"
"dia urusan aku. Sekarang yang penting Pak Pram. nanti kita ngomong gimana? atur strategi dulu lah"
"gak perlu strategi, ngomong apa adanya aja. Om Pram tuh susah banget dibohongi"
"Jadi takut aku"
"harusnya kamu lebih takut sama pasangan kamu itu. dasar!" kata Kenzo sambil mukul kepala Alma pelan.
"Iya juga ya" kata Alma sambil garuk-garuk kepalanya "Tapi dia tuh orangnya baik, pasti bisa nerima penjelasan aku"
'puji aja terus, udah bucin banget kayaknya nih cewek' batin Kenzo.
"Oiya tadi Gio ke RS, kamu gak cerita ke dia?" tanya Alma sambil minum.
"Enggak, dia tadi buru-buru balik mana sempet aku cerita"
"emang kamu berniat mau bocorin masalah kita ke Gio?"
"enggak juga sih" kata Kenzo akhirnya.
Alma memutar matanya jengah, dia tau banget gimana Kenzo, dia lebih milih mendem semuanya sendiri, tanpa ngelibatin orang lain, sama seperti cerita mereka dulu.
Beberapa menit kemudian setelah selesai makan mereka langsung pergi ke rumah Pak Pram. Gak butuh waktu lama, karena memang rumah Pak Pram gak terlalu jauh dari RS.
"Bagus ya kalian, gue nunggu lama disini digigitin nyamuk. tadi aja gue diteror suruh on time" omel Bebi yang ternyata udah datang duluan, dan milih nunggu di samping rumah Pak Pram, kebetulan ada pos disitu.
"Maaf Beb" ucap Alma sambil ngerangkul Bebi, ngerayu.
"Kog gak langsung masuk?" tanya Kenzo.
"Mana berani gue, mending digigit nyamuk daripada di introgasi sendirian. lagian kan kalian ini sepasang tersangka dan korban. gue cuma saksi, inget saksi. jadi nanti gak ada yang boleh nyalahin saksi" kata Bebi sambil ngelirik Alma.
Bebi paham betul nanti pasti Alma bakal bilang kalau yang pesen minuman Setaan itu dia, Alma jelas gak mau salah sendiri, dia pasti bakal nyari kambing hitam buat ngurangin hukumannya.
"iya-iya, tapi bantuin gue lah Beb" rayu Alma lagi.
"Ngrepotin" umpat Bebi sambil ngikutin Kenzo berjalan ke arah pintu.
"Assalamualaikum" ucap Kenzo sambil nekan bel rumah.
"Waalaikumsalam" jawab orang dari dalam rumah, dari suaranya seperti Pak Pram. Tak berapa lama pintu dibuka.
"Udah dateng? masuk!" perintah Pak Pram tegas, padahal beliau lagi santai gak dalam posisi kerja.
"Sepertinya Pak Pram marah banget ke kalian!" bisik Bebi di telinga Alma, bikin yang denger jantungan.
***
__ADS_1