SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )

SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )
Aku Tidak Mau


__ADS_3

"Suapi saya?"


"Hah?!" Naya melongo mengerutkan dahinya bingung akan permintaan sang majikan.


"Apa kamu tidak mendengar, suapi saya, Kanaya!"


Naya yang ada di hadapan Andrian berkata, "Maaf, tapi saya merasa tidak enak sama orang-orang. Kalau mereka salah paham gimana?"


"Biarkan orang berkata apa asalkan kita tidak melakukan hal-hal yang aneh-aneh. Buruan suapi!" desak Andrian.


Naya celingukan, tangannya mulai menyendok makanan yang ada di atas piring Andrian kemudian menyodorkan tangannya ke mulut Andrian.


"Kalau tidak butuh kerjaan mana mau nyuapi orang," batin Naya kesal.


"Tidak usah menggerutu di dalam hati, nanti kamu dapat bonus sebagai ganti mau menyuapi saya."


"Kok dia tahu aku menggerutu di dalam hati? apa dia cenayang?" batin Naya.


"Kamu juga makan, saya lihat dari tadi kamu malah bengong doang."


"Darimana kamu tahu kalau saya tidak makan dan cuman bengong?" tanya Naya heran padahal Andrian tak melihat.


"Sial," umpat Andrian dari dalam hati.


"Saya hanya menebak saja karena saya tidak mendengar dentingan sendok kecuali yang ada di depan saya," ujarnya mencari alasan.


"Oh, tebakan Anda tepat juga. Tapi saya tidak enak makan mahal seperti ini," tutur Naya jujur.


"Tidak usah merasa tak enak hati karena sayalah yang mentraktir kamu makan. Buruan makan yang banyak kalau bisa habiskan supaya tubuh kamu jadi gendut!"


"Kamu ngatain saya cungkring? isshhh, saya tidak secungkring itu sampai harus makan makanan sebanyak ini," jawab Naya kesal.

__ADS_1


Andrian mengernyit. "Lah, siapa yang ngatain kamu cungkring? otakmu geser juga ternyata, saya bilang apa, kamu berkata apa, aneh."


"Tadi kamu bilang saya gendut, itu artinya kamu ngatain saya cungkring Tuan." Naya mendesis kesal.


"Hei, kau sendiri yang bilang cungkring malah nyalahin saya." Jawab Andrian melahap makanannya sendiri sampai belepotan.


Naya mengulum senyum melihat cara makan Andrian seperti anak kecil. Ia berinisiatif mengambil tissue kemudian mengelap bibir Andrian yang belepotan saus tiram.


Andrian termangu Naya seberani itu kepadanya.


"Kanaya...." pekik seseorang.


Naya menjauhkan tangannya menoleh ke samping. Matanya melotot ada Tristan di sana. "Kenapa ada Tristan? apa ia melihat yang tadi ku lakukan? pasti dia semakin marah sama aku?" batinnya.


Naya berdiri dari duduknya dan Andrian menatap Tristan meski matanya berada di balik kacamata hitam.


"Jadi gini kelakukan kamu di belakangku? kamu selingkuh dengan pria cacat sepertinya?"


"Aku tidak selingkuh, dia majikanku. Kamu jangan asal ngomong kalau tidak tahu yang sebenarnya!" jawab Naya membela.


"Lepasin! Aku lagi bekerja Tristan. Kamu salah paham!" Naya berusaha melepaskan cekalan Tristan.


"Lepaskan dia! Jadi pria jangan kasar seperti itu!" sentak Andrian menghalangi langkah Tristan.


Tristan menatap tajam pria yang sedang duduk di kursi roda. "Jangan ikut campur urusan ku, Tuan. Dia istriku jadi tidak sepantasnya dia jalan bareng pria lain!" sentaknya mendorong kursi roda Andrian.


"Andrian..!" pekik Naya terbelalak melihat Andrian jatuh.


"Aku tidak mau pulang bareng kamu, lepaskan tangan saya!" pekik Naya masih berusaha melepaskan cekalan Tristan.


Semakin Naya berontak semakin kencang cekalannya. Tristan menyeret paksa Kanaya membawanya pulang.

__ADS_1


Kanaya menoleh kebelakang melihat Andrian yang sedang di bantu orang-orang untuk di dudukan ke kursi roda. Matanya berkaca-kaca tak bisa menjaga amanah dari Jenni.


"Andrian, maafkan aku." monolognya dalam hati tak enak meninggalkan Andrian dan ia sendiri tak bisa melepaskan cekalan Tristan.


*********


Tristan melemparkan Naya ke sofa. "Aku sudah bilang jangan kau coba-coba macam-macam di belakangku, Nay!" bentak Tristan menunjuk wajah Naya.


Naya berdiri menatap benci suaminya. "Kenapa? kenapa aku tidak boleh sedangkan kamu sendiri macam-macam di belakangku? apa kamu lupa siapa yang lebih dulu macam-macam? apa kamu lupa siapa yang menyuruhku bekerja?"


"Kamu, kamu yang duluan macam-macam dan kamu juga yang menyuruhku bekerja bukan. Aku sedang bekerja menjadi perawatnya tapi kau malah datang menuduhku yang tidak-tidak dan menyakitinya, Tristan!" sentak Naya mendorong tubuh Tristan hingga mundur beberapa langkah.


Tristan marah, ia mencengkram pipi Naya. "Jadi kau membela pria cacat itu dan melawanku, itu artinya kau benar-benar selingkuh dariku."


Naya sudah kesakitan, ia hanya bisa berusaha melepaskan cengkraman Tristan namun ia tak mampu melepaskannya.


"Sa-sakit, Tristan." lirih Naya berderai air mata.


Tristan melepaskan cekalannya melihat mata Naya memohon dan kesakitan. "Kau milikku dan akan ku tunjukan bahwa akulah yang berhak atas dirimu." Tristan kembali menarik Naya, kali ini kedalam pelukannya berusaha untuk mencium bibir Naya.


Naya menggeleng-gelengkan kepalanya menolak tindakan dari sang suami. "Aku tidak mau di sentuh olehmu!" pekik Naya berontak.


Tristan semakin menjadi dan semakin ingin memiliki Kanaya. Dia bahakan mencoba membuka kancing baju Naya dan mendorong kasar tubuh mungilnya kesofa.


"Aku tidak mau, jangan lakukan ini padaku!" pinta Naya memohon.


Tristan menyeringai, ia melepaskan jas dan membuka setiap kancing kemejanya. Naya beringsut takut ingin berdiri namun tubuhnya malah di peluk dari belakang dan di panggul seperti karung beras.


Blug... tubuh Naya di lempar ke atas kasur dan Tristan langsung mengukung istrinya.


"Lepaskan aku bajingaaan! Aku tidak mau kau sentuh!" pekiknya memberontak menangis sesegukan.

__ADS_1


Bugh.... terjangan seseorang membuat Tristan tersungkur ke samping.


Bersambung....


__ADS_2