
Tristan baru saja menyelesaikan pekerjaannya, ia melihat arlojinya dan ternyata sudah menunjukan pukul 9 malam. Hari ini banyak pekerjaan yang ia revisi akibat dia salah membuat laporan sehingga harus kerja lembur.
Kepalanya pusing terasa ingin pecah, semua masalah yang menimpanya membuat pekerjaan dia sedikit terbengkalai dan mau tak mau Tristan harus menyelesaikan pekerjaannya supaya tidak kena PHK.
Setibanya di parkiran, dia di kejutkan oleh seorang wanita bertubuh molek berpakaian cukup sexy bersandar di pintu mobilnya.
"Hai," sapanya tersenyum manis merangkul lengan Tristan.
"Ka-kamu..?! Kenapa bisa ada di sini?" tanyanya celingukan ke sekeliling tempat takut ada seseorang yang mengetahuinya di karena semua orang sudah tahu kalau Tristan sudah menikah dan Emily SPG minuman istrinya.
"Aku sengaja nungguin kamu pulang kerja, makanya ada di sini."
"Lepasin rangkulannya, Claudia! Saya tidak mau ada yang lihat kamu bareng saya disini dan kalau itu terjadi yang ada saya di pecat!" Tristan melepaskan paksa rangkulan wanita itu.
"Kalau gitu cepetan buka pintu mobilnya dan kita ke apartemen ku!"
"Tidak, saya harus pulang kerumah! Ingat, kita hanya sebatas partner dan saya yang akan menghubungimu jika ku sedang memerlukanmu." tolak Tristan membuka pintu mobilnya.
Claudia mengepalkan tangannya, ia berusaha meredam emosi dengan menghembuskan nafas secara kasar.
"Tapi aku kangen," lirihnya sensual meraba dada Tristan.
"Tidak sekarang, ok." Meski tergoda, Tristan enggan menuruti naf*sunya.
Claudia tak pantang menyerah, dia mendorong tubuh Tristan masuk ke dalam mobil kemudian duduk di pangkuan Tristan mencium rakus bibirnya.
Bagian bawahnya ia gesek-gesekan untuk memberikan rangs*angan sesuatu di balik celana Tristan. Dia begitu agresif mencari titik-titik terlemah yang di miliki Tristan sampai pada akhirnya pria itu menyerah dan membalasnya.
Mereka berdua berhubungan badan di dalam mobil masih berada di area parkir. Claudia merapihkan kembali pakaiannya begitupun dengan Tristan.
"Rupanya kamu tahu titik-titik sensitif ku sampai ku tak mampu menolaknya.," ujarnya menaikkan resleting celana dia dan membenarkan sabuknya.
"Kan kamu yang ngajarin, apa kamu lupa kalau kita pacaran 2 tahun dan selama itu juga kita pernah melakukannya sampai pada akhirnya Emily datang," sindirnya.
Tristan menghelakan nafas. "Ya, aku tahu itu dan aku juga minta maaf."
Claudia tersenyum meski hatinya teriris sakit. "Tidak semudah itu ku memaafkan semua kesalahanmu dan dia. Akan ku pastikan kau dan selingkuhanmu hancur sehancur-hancurnya," gumamnya dalam hati.
**********
__ADS_1
Sedangkan di rumah, wanita yang sedang mengandung lima bulan itu terus mondar mandir menatap jam, dan mengintip teras rumah menunggu suaminya pulang.
"Tristan kemana sih? katanya akan pulang kerumah, tapi ini udah jam 11 malam belum pulang juga?"
Tok....tok....tok
Terdengar pintu di ketuk, Emily secepatnya membuka pintu dan itu adalah Tristan yang berantakan dengan jas ia taruh di pundak, kancing kemeja terlepas dua dan rambut acak-acakan.
"Honey, kamu darimana saja? ini udah malam banget, tidak biasanya kamu pulang semalam ini?" cerca Emily.
Tristan nyelonong masuk. "Aku capek, kamu tidak usah banyak tanya dulu, mending kamu siapkan air hangat untuk ku merendam. Badanku pegal-pegal, lelah, dan lapar juga. Buruan!" titahnya menghempaskan tubuh di sofa.
"Tapi, Honey. Aku sedang hamil tidak boleh banyak gerak," jawabnya beralasan.
Tristan melirik tajam. "Jangan kamu jadikan kehamilanmu sebagai alasan untuk tidak menuruti perintahku sedangkan kamu bekerja hampir seharian dan itu jauh lebih banyak gerak dan melelahkan ketimbang menyiapkan air hangat dan memasak."
"Honey..."
"Cukup! Aku tidak ingin mendengar lagi keluhanmu. Besok kamu cari pembantu saja dan biarkan dia tinggal disini supaya rumah ini jauh terurus dan kamu bisa bebas rebahan," pekiknya kesal memijat pelipisnya.
"Itu jauh lebih baik daripada aku yang ngerjakan karena ku bukan pembantu yang seenaknya kau suruh-suruh," jawab Emily naik satu oktaf.
"Kanaya lagi, Kanaya lagi, wanita itu sungguh mengganggu hubunganku dengan Tristan. Aaakkhh.... kurang ajar, pelakor sialaaann. Sekarang Tristan terus memikirkan wanita itu. Tristan mulai berubah," gumamnya merasa kalau Tristan mulai ada perubahan.
************
Bug...bug...bug...
"Kak, bangun, Kak!" pekik Jenni menggedor pintu kamar Kakaknya. Dia masih menggedor pintu sampai Kakaknya membukakan pintu.
Ceklek....
"Apaan sih, Jenn. Pagi-pagi sudah gangguin Kakak saja," omelnya masih berantakan dengan muka bantalnya.
"Kak, ini gawat darurat. Aku dan James belum sempat fitting baju pengantin akibat kita terlalu sibuk dengan urusan kerjaan sampai lupa." Jenni menggenggam lengan Kakaknya menggoyang-goyangkannya.
Andrian yang masih mengantuk terbelalak melototkan matanya.
"Kok, bisa?! katanya kalian sudah menyiapkan segalanya dan tinggal menunggu hari H. Lalu sekarang kamu bilang belum ngapa-ngapain?"
__ADS_1
"Cuman satu, Kak. Masalah bajunya. Aku sih maunya baju yang langsung di jaitkan oleh desainer nya dan tidak mau baju yang sudah di pakai orang."
"Bantu aku, Kak. Aku harus apa?" Jenni panik, sedangkan pernikahannya tinggal dua Minggu lagi dan dia lupa menyiapkan baju pengantin.
Jenni menggigit jari telunjuknya berpikir keras mencari cara supaya bisa segera mendapatkan solusinya.
"Ada apa, Jenn?" tanya Naya menghampiri, keduanya menoleh.
"Baju pengantin kita belum siap, Nay. Padahal tinggal dua Minggu lagi. Aku dan James lupa konsultasi pada desainnernya," jawab Jenni bingung.
"Waktu pernikahan kamu tinggal dua Minggu lagi ya?" Naya berpikir menghitung waktunya dan berpikir apakah ia bisa menyelesaikannya dalan kurun waktu sesingkat itu.
"Kenapa tidak pesan yang sudah jadi saja? itu lebih cepat selesai tanpa perlu harus menunggu lama. Setahuku, mengerjakan baju pengantin itu membutuhkan waktu kurang lebih satu bulanan untuk hasil maksimal sesuai harapan kita."
"Terus gimana, dong, Nay, Kak?" tanya Jenni menatap silih berganti keduanya.
Naya mengambil sesuatu dari dalam kamar dan ia membawa sebuah pensil serta buku gambar.
"Sayang, kenapa kamu bawa buku gambar dan pensil?" tanya Andrian heran begitupun dengan Jenni.
Naya menarik Jenni ke ruang keluarga dan mereka duduk.
"Coba kamu ucapkan gambaran baju pengantin yang kamu inginkan!"
Andrian dan Jenni semakin bingung dan saling pandang seolah bertanya mau ngapain.
"Kamu mau ngapain?"
"Ucapkan saja!" perintahnya dan bibir Jenni berucap seolah menggambarkan keinginannya. Matanya mendongak ke atas membayangkan baju impiannya.
Sedangkan tangan Naya menggambar sesuatu sesuai khayalan Jenni. Telinga nya fokus pada suara Jenni dan mata tertuju pada gambar.
Andrian memperhatikan kegiatan istrinya. Dia sampai melongo tak percaya Naya mendesain baju pengantin sebagus dan sesuai yang di ucapkan Jenni.
"Sudah, Nay. Macam seperti itulah gambarannya," ucap Jenni masih berkhayal.
"Seperti ini kah gambarannya?" sahut Naya memberikan hasil karya tangannya ke Jenni.
Jenni menerima dan matanya melotot sempurna. "Waw!! Amazing..!"
__ADS_1
Bersambung....