SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )

SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )
Permintaan


__ADS_3

"Kanaya..." Mereka terkejut dan senang Naya pulang.


Tristan melepaskan kain yang tersemat di atas kepalanya, berdir menatap lekat-lekat wanita yang mulai memporak-porandakan hatinya.


"Tristan..." Emily mencekal pergelangan tangannya namun malah di lepaskan oleh Tristan.


"Naya, kamu pulang, Nak? Mama rindu sama kamu." Jihan lebih dulu berdiri memeluk Naya.


Naya tak membalas pelukan Jihan, matanya menatap kecewa pada suaminya. "Ternyata kepergian ku membuat kamu senang, Mas. Selamat untuk pernikahan kalian."


Sakit... sangat sakit... pria yang ia cintai mengkhianatinya. Meski mereka menikah dadakan, Naya sudah menyerahkan hatinya untuk sang suami. Hampir sembilan bulan bersama dan tinggal serumah nyatanya tak membuat Tristan menyukainya.


Miris, hatinya tersayat perih menantikan balasan cinta namun ternyata tak terbalaskan.


"Naya, kamu duduk dulu ya sayang." Jihan mengajak Naya masuk ke dalam.


Marko berbisik kesetiap orang yang ada di sana dan mereka membubarkan diri di karenakan acaranya sudah selesai.


Kini keluarga Marko sudah duduk saling berhadapan. Naya terus menatap Tristan tak sedikitpun berpaling darinya.


"Kami bisa menjelaskannya, Naya. Tristan harus menikahi Emily karena," kata Jihan tak berani memberitahukan masalahnya.


"Hamil..." sambung Naya.


Dan itu membuat Jihan, Marko serta Tristan terkejut Naya bisa mengetahuinya.


"Sudah ku duga. Aku sudah tahu pasti ini akan terjadi setelah melihat tanda merah di dadamu waktu itu." Naya berkata sesantai mungkin seolah ia tidak peduli padahal hatinya menjerit sakit.


"Nay, aku..."


"Tak perlu lagi menjelaskan apapun mengenai masalahmu. Aku mengizinkanmu menikah dengannya dengan syarat..."


Marko, Jihan dan pasangan baru itu penasaran dengan syarat yang akan di berikan Kanaya.


"Rumah yang menjadi tempat tinggalku di jadikan panti asuhan dan beralih menjadi namaku dan kita akan tinggal bareng satu atap di rumah Tristan yang besar itu," tutur Naya masih menatap Tristan.


Tristan dan Emily melotot sempurna.


"Kenapa begitu? saya tidak terima kau tinggal bareng kami." Emily terkejut dan tentunya kaget akan permintaan Naya.


"Nay, jangan seperti ini, Nak." kata Jihan.


"Jangan ikut campur, Mah. Ini urusan rumah tanggaku dengan Tristan dan sang pelakor ini."


"Aku bukan pelakor, kau yang sudah merebut Tristan dariku."


"Terserah apa katamu tapi yang jelas, kalau kalian ingin melanjutkan pernikahan kalian maka aku meminta syarat yaitu rumah yang ku tinggali menjadi milikku dan aku akan tinggal bareng kalian."


"Kalau kalian menolak," Naya yang tadinya menyender mencondongkan tubuhnya menatap silih berganti keduanya. "Aku akan menyebarkan kalau kalian segelintir manusia yang melakukan kumpul kebo."

__ADS_1


"Kau, jangan macam-macam, Nay!" Tristan kesal, kalau sampai atasannya tahu yang ada dia di keluarkan dari pekerjaannya.


"Aku tidak macam-macam, kalianlah yang macam-macam. Aku hanya meminta hakku sebagai istri pertama dan soal uang rumah, kau tak perlu memberikannya karena ku sudah mendapatkan pekerjaan."


"Mama tidak mengizinkan kalian tinggal bersama. Kamu akan semakin tersakiti oleh mereka, Nay. Mama tidak terima itu."


"Papa juga tidak mengizinkan, mending kamu bercerai dari Tristan."


"Tidak Pah...!" ucap Naya dan Tristan bersamaan.


"Aku tidak mau bercerai darinya.." keduanya kembali berkata secara kompak.


Emily mengepalkan tangan melihat keduanya kompak. Ia cemburu dan tidak akan membiarkan Tristan bersama Naya.


"Kenapa sayang? Tristan sudah selingkuh dari kamu. Dan kalau kalian tinggal bersama akan semakin menyakiti hati kamu, Nay." Jihan heran dengan pemikiran Naya.


Batin Naya berkata, "Karena aku akan memberikan kenangan manis untuk keduanya." menatap mata Tristan seolah ia mendambakan Tristan.


"Karena aku mencintai Tristan."


Deg.... Jantung Tristan berdegup kencang, ia mendongak dan keduanya saling menatap.


"Aku menerima Emily menjadi maduku asalkan Tristan bahagia. Aku mencintainya, itulah sebabnya ku mau tinggal bareng mereka."


Emily semakin terpancing. "Aku tidak akan membiarkan Tristan berpaling dariku," batin Emily.


"Kamu mau kemana lagi, Nay?" tanya Jihan.


"Naya harus kerja lagi, Mah. Nanti sore Naya akan pulang kerumah Tristan dan Emily. Aku minta kalian berdua jangan menolak keinginan ku atau kalian akan malu," ancamnya menatap mereka sambil berjalan mundur dan hilang di balik pintu.


"Pah, Naya." Jihan menggoyangkan tangan Marko yang terkejut. Dia tahu kalau Naya berusaha tegar.


"Biarkan Naya sendiri dulu, Mah. Papa yakin dia akan kembali dan kita turuti kemauannya."


"Aku tidak mau tinggal bareng dia, sayang." rengek Emily pada Tristan.


Tristan mengacak rambutnya prustasi tak bisa mengambil keputusan.


**********


Naya celingukan mencari tukang ojek. Rasa sesak yang dari tadi ia pendam tak dapat di sembunyikan lagi sampai air matanya menetes mengalir deras.


Naya berlari menjauhi rumah mertuanya sampai dimana ada motor yang terus mengklakson nya.


tid tid... tid tid..


Motor itu berhenti menghalangi tubuh mungil Naya. "Ayo naik?"


Naya mengenali siapa pemilik motor itu. Tanpa banyak ucap Naya menaikinya karena Naya ingin menjauhi mereka dulu.

__ADS_1


Di setiap perjalanan, Naya menunduk menyenderkan keningnya kepunggung Aldo dan menangis tersedu-sedu.


Aldo membawa Naya ke sebuah danau dan memberhentikan motornya membiarkan Naya menangis sepuasnya.


Setelah merasa baikan, Naya mengusap air matanya meski masih tersedu. "Kenapa kamu selalu ada di setiap ku membutuhkan? jangan-jangan kamu sengaja ngikutin aku ya?"


Aldo mengernyit menoleh ke belakang. "Geer banget kau ini. Saya cuman kebetulan lewat dan tak sengaja melihat kamu."


"Tidak mungkin kebetulan, waktu itu juga kamu datang menolongku."


"Ya sama seperti sekarang, cuman kebetulan lewat."


Naya menunduk masih berada di atas motor Aldo. "Terima kasih sudah kembali menolongku."


"Sama-sama. Turun!"


Naya mendongakkan kepalanya. "Hah, turun?"


"Iya, turun, sampai kapan kau akan berada di atas motorku? nyaman ya dekat-dekat denganku?" Aldo menaik nurunkan alisnya.


"Apaan sih, mana mungkin saya suka sama orang yang sudah punya pacar."


"Waaah kau suka padaku? perasaan saya tidak bilang kalau kamu suka padaku, lho. Saya bilang nyaman ya dekat-dekat denganku? ciieeee yang suka sama saya."


"Apaan sih, gak jelas tau." Naya mengerucutkan bibirnya dan turun dari motor kemudian duduk di rumput hijau memandangi danau buatan.


Aldo juga ikut turun dan ikut duduk di dekat Naya. "Pasti ada masalah lagi sama suami kamu, ya? kalau tidak, kamu tidak akan menangis lagi."


"Dia menikah siri dengan kekasihnya," jawab Naya sudah tak sungkan lagi.


Naya sendiri bingung kenapa ia bisa merasa terlindungi jika berada di dekat Aldo, Jenni, dan Andrian sehingga ia nyaman untuk berbicara masalah rumah tangganya. Padahal, dia bukan tipe orang yang mudah akrab dan bukan tipe orang yang suka mengumbar masalah.


"Lalu kenapa kau menangis?"


Naya menoleh. "Kamu pikir hatiku tidak sakit melihat suamiku menikahi wanita lain? kamu pikir batinku tak tersiksa menghadapi pengkhianatan ini? aku hanya manusia biasa yang bisa merasakan pedihnya di khianati."


"Apa salah kalau aku menangis?" Naya kembali menangis.


"Tidak ada yang salah. Tapi kamu harus tunjukan kepada mereka kalau kamu kuat dan kamu tidak mudah di tindas. Kalau perlu balas suamimu itu."


Naya berpikir balasan apa yang akan di berikan suaminya. Dia teringat akan ucapannya dulu kalau dia akan mendua.


"Dia selingkuh, aku mendua. Tapi siapa yang akan membantuku untuk memberikannya pelajaran?" gumam Naya bingung.


"Aku...!"


Naya mendongak dan mata keduanya saling bertemu.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2