
Naya sudah duduk di ruang tamu sambil memainkan handphone nya menunggu kepulangan sang suami beserta madunya.
Pintu rumah di buka memperlihatkan pasangan pengantin baru yang terlihat begitu mesra. Naya tersenyum seolah tidak terjadi apapun di antara mereka.
"Mas sudah pulang, aku udah siapin makanan untuk mu, ayo kita makan malam dulu!" ajak Naya menghampiri dan langsung mencium Tristan di hadapan Emily.
Naya ingin memberikan kesan manis untuk suaminya. Tristan tak bergeming, ia melihat penampilan Naya yang semakin hari semakin terlihat cantik dan modis.
Jerawat-jerawatnya sudah mulai menghilang hanya tinggal bekasnya saja dan sekarang Naya sering merias diri.
"Kau itu ngaca tidak sih, kalau di sini ada istrinya!" sentak Emily mendorong bahu Naya.
Naya tetap tersenyum tenang, tak sedikitpun membalas perlakuan kasar Emily. "Aku juga istrinya Mas Tristan. Hmmm mas makan dulu, ya, aku belum makan dan ingin makan bareng kamu!" pinta Naya memelas.
"Dia sudah makan bareng saya di luar, jadi kau tidak usah repot-repot memasak untuk suamiku!" jawab Emily.
"Iya, Mas sudah makan. Kau duluan saja yang makan!" timpal Tristan masih memperhatikan wajah Naya yang terlihat cantik dan menarik.
Naya menunduk sedih padahal dalam hati malas bersandiwara. "Aku juga udah makan sebelum kalian tiba," batinnya.
"Oh, padahal aku sudah memasak makanan kesukaan kamu. Ya, udah, sini, aku bawain tas kerja kamu." Naya mengambil alih tas yang di bawa Tristan dan Tristan memberikannya.
"Jangan sok baik deh, gue tahu kalau loe cuman pura-pura baik hanya untuk mendapatkan hartanya doang kan?"
"Emily..!"
"Honey, dia itu sudah selingkuh dari kamu, dia terang-terangan membawa pacarnya ke rumah ini. Mending kamu ceraikan dia sekarang juga!"
"Aku tidak akan menceraikannya."
__ADS_1
"Kenapa? apa kamu sudah mencintainya sampai kamu tidak ingin menceraikan istri tukang selingkuh macam wanita ini?" sentak Emily.
"Bukan begitu." Tristan sendiri tidak tahu kenapa mulut dan hatinya sulit sekali untuk berkata talak.
"Aku tidak mencintainya, aku hanya kasihan kepada dia kalau dia bercerai dariku dimana dia akan tinggal? kamu kan tahu kalau Naya tidak memiliki siapun selain keluargaku." Tristan berkata begitu di hadapan Naya.
"Kalau kamu ingin menceraikanku maka sekarang juga ceraikan aku!" sahut Naya.
"Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan mu, Kanaya. Kau akan tetap menjadi istriku!"
"Bagaimana denganku, honey? aku tidak mau terus-terusan menjadi istri sirimu, aku juga tidak mau menjadi bayang-bayang di antara kalian. Kamu tidak mencintainya lalu kenapa kamu masih mempertahankannya?" cerca Emily.
Tristan semakin di buat bingung. "Aku tidak tahu, aku pusing mau istirahat!" Tristan beranjak pergi.
"Berati kamu mencintai Naya dan kamu lebih memilih Naya daripada aku yang sedang mengandung anakmu? baiklah, kalau gitu aku yang pergi dari sini dan jangan harap kau bisa bertemu dengan anakmu!" pekik Emily berjalan ke kamar.
"Emily, kau mau ngapain?" Tristan mengikutinya dan melihat Emily membongkar seluruh pakaian yang ada di dalam lemari.
"Aku yang akan pergi!"
"Kamu jangan pergi, Em. Kamu sedang mengandung anakku dan aku juga mencintaimu."
Emily menoleh berdiri tegap di hadapan Tristan. "Kalau gitu ceraikan Naya sekarang juga!"
"Aku... aku..."
"Kamu pilih aku atau dia?" tanya Emily kembali.
Tristan bingung sendiri jadinya. Dia memikirkan anaknya tapi ia juga memikirkan Naya namun ia juga tidak mau Emily pergi.
__ADS_1
"Naya..."
Deg...
"Tristan kamu...!" Emily terkejut bibir Tristan berkata Naya dan begitupun dengan Naya.
"KANAYA KHAIRUNA AZMI, aku ceraikan engkau dengan talak satu dan sekarang kau bukan istriku lagi!" ucapnya lantang membelakangi pintu masuk.
Seketika Emily tersenyum dan langsung memeluk Tristan. Sedangkan Kanaya mematung tersenyum getir, kini ia resmi mendapat talak dari suaminya.
"Terima kasih, Mas. Dan ini surat gugatan dariku untukmu!" Naya mendekati menyodorkan surat gugatan.
Kini Tristan yang mematung, ia melihat wajah Naya yang tersenyum cerah seperti tak ada beban dan tak ada kesedihan.
"Buruan buka, honey! Aku ingin lihat itu surat gugatan atau bukan?" desak Emily masih memeluk erat Tristan.
Tangan Tristan gemetar hanya untuk mengambil surat itu saja ia tak mampu. Namun, ia pun tak urung mengambil dan membacanya. Dan seketika ia mematung tak percaya bahwa itu memang surat gugatan cerai yang Naya layangkan untuknya.
"Akhirnya, aku bisa terbebas juga dari kamu. Oh iya, selamat tanggal pernikahan kita yang ke 10 bulan. Terima kasih untuk 2 bulan termanis yang kamu berikan untukku dan terima kasih untuk 8 bulan terburuk yang kamu berikan untukku."
"Selamat atas pernikahan keduamu dan semoga kamu bahagia bersama pilihanmu dan terima kasih juga sudah membuang ku demi dia wanita pilihanmu. Aku tunggu di pengadilan!"
Naya berbalik meninggalkan mereka berdua sambil menutup pintu kamarnya dan menyeret koper yang telah ia siapkan sebelumnya. Naya pergi tanpa berpamitan lagi kepada Tristan dan tanpa memberitahukan kepada orangtuanya Tristan.
Dengan Marko yang membenarkan bahwa Emily adalah istrinya Tristan di depan umum, menandakan bahwa mereka menyetujui pernikahan keduanya dan tidak menginginkan pernikahan dia dengan Tristan terbukti dari mereka yang menyembunyikan status nya sebagai istri sampai sekarang.
Tristan di buat mematung, ia baru menyadari kalau tanggal 29 Juni ini tanggal pernikahan mereka dan ia menceraikan istrinya tepat di tanggal ini.
Emily tersenyum bahagia memeluk Tristan. Ia merasa Tuhan memihaknya karena kini hanya dia satu-satunya istri Tristan dan ia akan meresmikan pernikahan mereka dan dirinya juga akan menguasai sepenuhnya harta maupun gaji suaminya.
__ADS_1
Bersambung....