
"Siang, Mah." Sapa Tristan pulang kerumah orang tuannya yang sudah membesarkan dan merawat dia dari sejak usia 8 tahun.
Jihan menoleh ke arah pintu masuk "Siang, Nak. Tristan, kenapa berantakan sekali?"
Tanpa banyak berkata Tristan langsung duduk di bawah kaki Jihan merebahkan kepalanya di pangkuan Jihan.
"Nak, ada apa?" Jihan sempat terkejut sebab tidak biasanya Tristan seperti ini dan wajahnya lebam serta pakaian yang acak-acakan.
"Maafkan Tristan, Mah. Maaf telah menyakiti wanita pilihan Mama dan Papa. Sekarang aku menyesal telah menyia-nyiakan nya dan menyakitinya. Ternyata Emily tidak sebaik dan sepolos itu, dia berhasil mengelabui ku dari awal jumpa, Mah."
Jihan menghembuskan nafas secara kasar. "Mama pernah bilang untuk tidak menyakiti Naya apa lagi mengkhianatinya. Tapi kamu, kamu malah menyakiti hati dan fisiknya. Sekarang kamu menyesal kan setelah kehilangannya."
"Aku menyesal, Mah. Tolong bantu aku untuk mendapatkan Naya kembali, aku yakin Naya mencintaiku."
"Mama tidak bisa membantumu, Tristan. Kamu harus menerima semua ini, dan kamu harus fokus pada Emily sebab dia sedang mengandung anakmu."
"Aku akan menceraikan Emily setelah lahiran, Mah. Aku ingin Naya kembali padaku, aku menyadari kalau aku menyukainya. Bantu aku, Mah." Tristan mendongak menatap wajah cantik Mamanya memohon.
"Mama tidak bisa karena Naya sudah menikah."
Deg....
"Mah, aku mau pergi keluar," sahut seseorang.
Tristan menoleh mendengar suara yang ia kenal. "Naya..." lirihnya senang ada Naya di sana namun ia di kejutan dengan pria yang berada di belangnya.
Naya juga sempat tertegun, tapi sedetik kemudian dia tersadar begitupun dengan Andrian yang ada di samping Naya.
"Kau..!" Tristan berdiri dan...
Bugh...
"Andrian...!!" jerit Naya terkejut suaminya di pukul.
"Ngapain kau disini? kau sudah melecehkan Naya, seharusnya kau ku seret kepenjara!" pekiknya ingin memukul lagi Andrian namun di halangi oleh Naya yang merentangkan tangannya.
"Jangan pukul suamiku! Kamu tidak berhak memukulnya."
"Su suami?!" Tristan mematung.
"Mah, aku dan Al pergi dulu." Pamit Naya menggandeng Andrian pergi dari sana.
Tristan terhunyung tertunduk lesu di sofa. Jihan menatap iba anaknya, dan dia berkata.
"Lupakan Naya, biarkan dia bahagia dengan suami barunya dan jangan sekalipun kamu ganggu rumah tangga mereka!"
"Kenapa Mama membiarkan Naya dengan pria brengsekk itu, Mah. Dia yang sudah melecehkan Naya saat masih menjadi istriku. Dia tidak pantas memiliki Naya."
__ADS_1
"Apa kamu pikir kamu juga pantas untuk Naya setelah apa yang kamu lakukan padanya? Kamu justru lebih hina di bandingkan Andrian. Mama tidak akan membiarkan Putri kandung Mama di sakiti lagi siapun itu termasuk kamu!"
Deg...
"Putri kandung?" Tristan semakin di kejutkan dengan kenyataan. Kemarin Marko yang bilang Naya putri kandung, sekarang Jihan.
"Jadi.... Naya anak kandung kalian yang hilang?"
"Iya, dan kamu jangan coba-coba untuk menyakitinya!" jawab Jihan memperingati.
Tristan tahu kalau dia bukanlah anak kandung melainkan anak adopsi dari sahabat Marko. Tapi Marko dan Jihan merawatnya seperti anak kandung.
Sekarang, usahanya untuk mendapatkan Kanaya semakin sulit.
**********
"Pasti sakit, ya? Tristan memang keterlaluan," ucap Naya mengompres memar di wajah Andrian menggunakan air es.
Keduanya berada di rumah kedua Andrian.
"Ssssttttt..." Andrian mendesis, pukulan Tristan cukup keras sampai membuat sudut bibirnya berdarah dan membiru.
"Maaf, maaf, sini, aku tiupin." Naya menangkupkan satu tangannya di pipi Andrian kemudian mencondongkan wajahnya meniupi luka yang ada di wajah suaminya.
Andrian terpesona, matanya tak bisa berpaling dari wajah cantik Naya. Dia menatap lekat-lekat wajah sang istri dan seakan ada musik yang di putar di kepala dan telinga seolah mewakili apa yang ia rasakan sekarang.
( itu adalah cinta yang tak tertandingi, hati juga mengatakan hal yang sama )
Tere bina Mera laage na jiyaa, Tere Liye hi dhadke jiyaa
( aku tidak ingin hidup tanpamu, hatiku hanya berdetak untukmu )
Mere Dil ko Tere Dil Ki zaroorat hai
( hatiku membutuhkan hatimu )
Tatapannya beralih pada bibir Naya yang sedang meniupinya, tangannya menarik tengkuk Naya dan mencium lalu memberikan lu mattan, sesa pan lembut.
Naya terkejut cuman tak lama kemudian ia memejamkan mata menikmatinya.
Andrian melepaskan tautan mereka, menempelkan keningnya ke kening Naya. "MAIN TUMSE PYAR KARTHA HOON, Naya."
Naya mengernyit bingung tidak tahu artinya apa. "Kamu ngomong apa sih? aku tidak mengerti. Bahasa apa yang kamu gunakan? planet kah? Inggris kah? atau bahasa Sansekerta?"
Kini Andrian yang mengernyit heran. "Cari saja sendiri artinya, setelah menemukannya kamu balas ucapanku."
"Emangnya kamu tahu artinya?"
__ADS_1
"Kalau di ucapin berarti aku tahu artinya," Jawabnya merebahkan tubuh ke sofa berbantal lengan dan menaikkan kedua kakinya ke belakang Naya.
Naya berdiri membawa mangkuk berisi air es kemudian menyimpannya ke dapur dan kembali lagi ke depan dimana Andrian berada.
Naya bingung harus ngapain dan tidak tahu mau bicara apa.
"Kenapa diam?"
"Aku bingung mau ngapain," jawabnya melamun menopang dagu.
"Aku sudah mengajukan isbat nikah ke pengadilan agama untuk mengesah kan pernikahan kita secara hukum," ucap Andrian memberitahukan.
"Kapan? kok aku tidak tahu akan hal itu?"
"Setelah ijab qobul, aku langsung mengurus semuanya di bantu Mike sehingga nanti kita punya akta nikah dan kamu resmi menjadi istriku baik secara agama maupun negara."
Isbat nikah adalah sebuah permohonan pengesahan pernikahan siri yang diajukan ke Pengadilan Agama agar dinyatakan sahnya perkawinan dimata hukum. Sejatinya sebuah perkawinan akan dinyatakan sah atau memiliki kekuatan hukum, yaitu dengan adanya akta nikah.
"Kak Al," pekik Jenni sedikit berlari langsung duduk dan memeluk Kakaknya yang sedang rebahan.
"Jenn! Kamu mengagetkanku, tumben pulang sesenang ini?"
Jenni melepaskan pelukannya menoleh ke arah James. Mata Andrian mengikuti arah pandang Jenni lalu ia duduk di samping Naya.
"Andrian, kedatangan ku kesini untuk memberitahukan perihal pernikahanku dan Jenni. Satu bulan lagi saya siap mempersuntingnya dan saya juga sudah menyiapkan semuanya.
Andrian tersenyum senang mendengar berita ini. "Syukurlah, Saya ikut senang kamu sudah siap menikahi Jenni. Tapi saya minta jangan coba-coba kau sakiti hatinya apalagi mengkhianatinya. Sekecil saja kau sakiti akan ku habisi kau!" ucapnya penuh peringatan.
James mengangguk takut melihat tatapan tajam dari Andrian.
"Kakak akan memberikan sedikit biaya untuk pernikahan kalian."
"Tidak usah, saya sudah menyiapkan semuanya. Selama ini saya bekerja keras untuk Jenni dan masa depan kita. Maaf kalau Jenni harus menungguku selama ini."
Jenni terenyuh haru dengan perjuangan James untuknya. "Padahal, aku tetap menerima kamu meskipun dulu kamu hanyalah anak supir taksi."
James tersenyum menggenggam salah satu tangan Jenni. "Maka dari itu aku ingin sukses untuk bisa pantas bersanding denganmu. Aku tidak ingin orang-orang berpikir kalau ku hanya mendekatimu karena kalian kaya."
Andrian menatap serius keduanya yang sudah saling jatuh cinta sejak mereka duduk di bangku SMP. Mereka sama-sama terlahir dari lingkungan sama yang biasa saja namun takdir mengangkat derajat Andrian sehingga menjadi seorang pengusaha.
Sedangkan James harus menjadi supir taksi melanjutkan pekerjaan ayahnya yang sudah sakit-sakitan.
Semua butuh perjuangan, baik itu karir, cinta, rumah tangga, maupun hal lainnya. Apa yang kita yakini dan perjuangkan tak akan mengkhianati hasil selama kita di jalan yang benar, dan berpegang teguh pada Tuhan.
Bersambung....
MAIN TUMSE PYAR KARTHA HOON \= Aku nencintaimu
__ADS_1