SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )

SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )
Saya Pacarnya


__ADS_3

"Dan kecelakaan itu menyebabkan salah satu kakiku cidera sehingga cukup sulit untuk berjalan. Kalau soal mata, Kakak sengaja menyuruh dokter untuk membuat pernyataan palsu bahwa Kakak buta dan cacat."


"Kakak lakukan itu untuk melihat apakah Emily masih mau menikah dengan ku dan hidup bersama orang cacat sepertiku."


"Awalnya Emily emang mau menikah denganku dan Kakak tidak bisa memundurkan pernikahannya karena semua persiapan telah selesai tinggal melakukan ijab qobul."


"Kakak ingin melihat seberapa besar dia mencintaiku dan seberapa tulus ia merawatku tapi ternyata, ia hanya menginginkan uang dan diam-diam dia masih menjalin kasih dengan pacarnya Tristan lebih dari sekedar jalan biasa."


"Lalu, apa kau pernah menyentuh Emily dan tidak tergoda sama dia?" Jenni penasaran akan hal itu.


"Tidak pernah. Setiap kali melihat wajahnya Kakak jijik, dan anehnya, Kakak tak pernah sedikitpun tertarik untuk menyentuhnya dan malahan si Joni malah tidak bangun meski Emily memakai baju jaring."


"Tapi semua berbeda ketika ku melihat Naya, entah kenapa Naya terlihat menarik di mataku meski wajahnya berjerawat. Sampai ku nekat ingin mengambil istrinya Tristan dan otak gilaku muncul untuk menidurinya."


"Untuk pertama kalinya Kakak menyentuh wanita dan itu Naya, dan akulah orang pertama yang sudah merenggut apa yang ia punya. Kakak merasa bersalah padanya, tapi Kakak senang kalau Naya belum terjamah oleh pria macam Tristan." tutur Andrian panjang lebar, ia bahkan tersenyum ketika menceritakan Naya pada adiknya.


"Kok ada ya pria yang tidak tertarik kepada istrinya sendiri?"


"Ada, bagi mereka yang tidak memiliki ketulusan, istrinya akan terlihat jelek di matanya namun akan terlihat menarik di mata orang lain. Kakak juga begitu, ketika Emily jadi istriku dia terlihat biasa saja dan aku malah tertarik sama Naya, istri dari selingkuhan Emily. Tapi kalau Naya menjadi istriku tak akan ku biarkan orang lain merebutnya."


Jenni menyunggingkan senyuman tipis. "Kau sudah jatuh cinta padanya, Kak."


"Entahlah."


********


Seperti biasa yang Naya lakukan di setiap pagi yaitu memasak untuk sarapan. Dia ingin memberikan perlakuan manis sebelum bercerai dari Tristan.


Tak berselang lama Tristan bergabung ke meja makan berbarengan dengan Emily yang terus merangkul lengan Tristan.


Naya menoleh dan tersenyum manis seperti tidak ada beban sedikitpun.


"Pagi, Mas." wanita yang memiliki dagu belah itu menarik kursi untuk duduk suaminya.


"Terima kasih, sayang." tanpa sadar Tristan mengucap kata sayang dan membalas senyuman Naya.


"Honey, kamu tadi bilang apa?" Emily ingin memastikan pendengarannya salah atau tidak.


"Hah, tidak, aku tidak bilang apa-apa." Tristan gelagapan mengingat ucapannya.


"Sama-sama, Mas Tristan sayang." Balas Naya membalikkan piring.


"Kau tidak menarikan kursi untukku?" Emily masih berdiri di samping Tristan.

__ADS_1


"Harus ya? tapi maaf saya bukan pelayanmu jadi kau tarik saja sendiri!" jawab Naya menatap Emily kemudian melanjutkan lagi kegiatannya menyiapkan makanan untuk suaminya.


Ting tong


Bel rumah berbunyi, Naya memberhentikan kegiatan dan sedikit tergesa berjalan ke arah pintu.


"Siapa yang bertamu? kenapa Naya terlihat semangat?" batin Tristan.


Naya membukakan pintu. "Hai," sapanya.


Aldo menoleh tersenyum tampan. "Hai juga, aku datang atas undanganmu kemarin sore."


"Ayo masuk, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu. Terima kasih sudah mau menjadi pacar pura-pura ku," bisiknya.


Aldo tersenyum mengacak rambut Naya. "No problem."


Naya mengajak Aldo masuk dan ia langsung merangkul lengan Aldo ketika sudah dekat dapur.


"Kebetulan kamu datang, aku udah siapin makanan spesial buat kamu."


"Baik sekali pacarku ini," balas Aldo mencubit gemas pipi Naya.


Tristan yang sedang mangap siap memasukan makanan menoleh terkejut ada pria lain yang mendekati istrinya.


Emily sampai tersedak melihat pria tampan masuk rumah mereka. "Ganteng sekali. Tapi sayang seperti berandalan."


"Oh, kenalin," Aldo menyodorkan tangannya. "Saya Aldo pacarnya Kanaya."


Deg...


"Apa?! kamu jangan ngaku-ngaku, deh! Kanaya tidak mungkin memiliki pacar karena aku suaminnya!" ucap tegas Tristan.


"Kenapa tidak mungkin? aku sama Aldo emang pacaran kok, ya kan sayang?" Naya menoleh meminta jawaban.


"Iya, sayang."


Tristan mengepalkan tangannya, Emily terkejut Naya mendapatkan pria yang lebih tampan dari Tristan.


"Ingat batasanmu, Nay. Kau itu istriku dan tidak sepantasnya kamu menjalin kasih dengan pria lain!" tunjuk Tristan marah.


"Kenapa, Mas? jangan marah-marah seperti itu dan mending kamu duduk temenin istri tercinta kamu makan, Emily." jawab Naya menekan-nekan kata Emily.


"Aku memang istrimu hanya di atas kertas karena kamu tidak pernah memperlakukanku layaknya seorang istri."

__ADS_1


"Ayo duduk, kita sarapan!" Naya membawa Aldo duduk di dekatnya.


"Kamu mau makan apa?"


"Apa saja asalkan kamu yang masak aku suka," jawab Aldo tersenyum mengerlingkan mata.


Naya menunduk seolah tersipu malu padahal dalam hati menggerutu.


"Naya, seharusnya aku yang kau layani bukan selingkuhanmu!" sergah Tristan tak terima.


"Kan ada istri yang lain yang bisa melayanimu, Mas. suruh saja Emily yang melayani seperti dia melayani hasratmu."


"Kanaya kau..!"


"Ayo sayang, kita pergi saja dari sini. Suasananya sudah memanas nih." Naya mengibas-ngibaskan tangannya seolah kegerahan kemudian menggandeng tangan Aldo dan pergi dari sana setelah mengambil tasnya.


"Lihatlah kelakuan istri pertama mu, honey. Dia begitu kurang ajar dan tidak tahu cara menghormati suaminya. Mendingan kamu ceraikan saja dia! Tunggu apa lagi, secepatnya kamu urus surat perceraian kalian!"


"Kamu mau kalau orang-orang lihat kelakuan Naya yang selingkuh di belakangmu dan membuat malu atau menjatuhkan harga dirimu? orang lain emang belum mengetahui istri sah kamu tapi orang sekitarmu?" Emily terus mengompori Tristan supaya segera menceraikan Naya.


"Naya juga matre, honey. Dia bahkan meminta harta kamu, kalau kamu tidak menceraikannya yang ada Naya akan terus ngelunjak."


Tristan berpikir memikirkan setiap perkataan Emily yang masuk akal juga. Tapi hatinya menolak tidak ingin menceraikan Naya.


********


"Terima kasih sudah bersedia membantuku, Al. Aku yakin Tristan akan berpikir untuk menceraikanku." Ucap Naya berada di atas motor.


"Sama-sama, Nay. Tapi bagaimana kalau Tristan tidak mau menceraikanmu dan malah mempersulit segalanya?"


Naya terdiam, "Ucapan Aldo ada benarnya juga. Kemarin saja Tristan enggan menceraikanku," batin Naya bingung.


"Aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya."


Dan mereka telah sampai di rumah Andrian.


"Aku masuk dulu, ya. Sekali lagi terima kasih."


"Iya, saya kerja dulu, bye, kalau butuh sesuatu hubungiku lagi, ok!"


"Iya, siap." jawab Naya masuk kedalam rumah.


Aldo pergi lebih tepatnya memarkirkan kendaraan agak jauh dari sana dan berlari mengendap-endap masuk kekamarnya.

__ADS_1


"Untunglah."


Bersambung....


__ADS_2