SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )

SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )
Permintaan Maaf Tristan


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Tristan tinggal di rumah orangtuanya. Dia enggan kembali ke kediamannya mengingat di sana banyak kenangan bareng Emily maupun Kanaya.


Selama beberapa hari ini juga, Tristan melamun memikirkan kehidupannya yang tidak pernah merasakan kedamaian, kenyamanan, dan kebahagiaan.


"Kamu melamunkan apa?" Jihan tiba-tiba menghampiri Tristan yang sedang termenung di dekat jendela kaca memperhatikan burung beo milik Marko.


"Eh, Mah. Enggak, aku tidak melamun apapun."


"Jangan bohong, Tristan. Mama tahu pasti kamu sedang memikirkan sesuatu. Jujurlah, siapa tahu Mama bisa bantu!"


Tristan menoleh, dia menatap wanita yang sudah membesarkannya penuh kasih sayang. Dia paling manja jika di dekat Jihan.


"Kenapa hidupku jadi begini, Mah?" celetuknya bertanya serius.


"Mama tidak bisa menjawab dengan detail pertanyaanmu. Tapi, Mama hanya ingin bertanya, apakah kamu pernah menyakiti seseorang? jika iya, mungkin ini adalah salah satu balasan nyata dari Tuhan." Jihan menepuk-nepuk pundak Tristan lalu berdiri.


"Minta maaflah pada mereka yang kamu sakiti terutama wanita-wanita yang kamu hancurkan masa depannya. Itu saran Mama."


Jihan pergi membiarkan Tristan berpikir dan merenungi kesalahannya.


"Wanita yang ku sakiti? Claudia, Kanaya, Emily. Hanya mereka wanita yang pernah ku sakiti." Tristan semakin termenung bersalah, dia memejamkan mata, bayangan perlakuannya terhadap mereka berputar kembali bagaikan kaset di putar terus menerus.


"Tuhan, maafkan aku. Ternyata apa yang ku lakukan salah. Sekarang kau menghukum ku dengan cara seperti ini agar ku tak lagi berbuat Zina sesuka hati. Sekarang aku mengerti," gumamnya meneteskan air mata.


Tristan memutuskan untuk memulai semuanya dari awal, ia ingin meminta maaf pada Naya terlebih dahulu. Dia beranjak pergi meminta alamat rumah Kanaya kepada Jihan. Awalnya Jihan tidak memberikan namun, setelah Tristan meyakinkan, Jihan memberitahukan alamatnya.


************


Tristan memperhatikan bangunan megah itu. Untuk pertama kalinya ia mengetahui rumah Bosnya. Ada rasa tak percaya diri untuk berkunjung ke rumah Andrian mengingat ia pernah berbuat salah kepada Bosnya.


Nyalinya menciut tak berani melangkah masuk. Tapi, hatinya berkata untuk tetap masuk meminta maaf kepada Kanaya. Tangannya terulur bergerak menekan bel.


Ting..... Tong....


Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya membukanya.


"Mau cari siapa ya, Mas?"


"Hmmmm Kanaya nya ada?"

__ADS_1


Bi Marni mengernyit heran. "Kenapa pria ini mencari Non Naya?"


"Bu, siapa? apa suamiku udah pulang?" pekik Naya menghampiri.


Tristan berdebar mendengar suara lembut Naya.


"Bukan, Nay. Ini hanya seorang tamu pria." Jawab Bi Marni menoleh ke belakang. Naya mendekat dan ia menatap heran ada Tristan di depan rumah suaminya.


"Kamu?!"


"Nay, aku ingin bicara sama kamu sebentar saja," ujar Tristan memohon.


Naya menoleh ke Bi Marni lalu menoleh ke Tristan. Dia berkata, "Hanya sebentar."


Tristan tersenyum, meski sebentar tak mengapa asalkan ada waktu untuk meminta maaf pada Kanaya.


"Kita bicara di depan saja, aku tidak mau memasukan pria asing kedalam rumah tanpa ada suamiku. Bu, aku minta tolong buatkan minuman buat tamu kita!" nada bicara Naya berubah saat bicara pada Bi Marni.


Tristan menunduk lalu ia mengangguk mengerti.


"Baik, Non." Bi Marni masuk ke dalam sedangkan Naya sudah duduk di kursi teras depan dan Tristan pun ikut duduk.


"Apa yang ingin kamu bicarakan sama aku?"


"Aku mau meminta maaf atas apa yang pernah ku lakukan kepadamu dulu. Maafkan aku yang pernah menyakitimu lahir dan batin. Maafkan aku, Nay. Maafkan aku," lirihnya menunduk tak berani menatap wanita berhati lembut, sabar, perhatian, rajin ibadah, menghargai dirinya saat masih menjadi suaminya dan juga setia.


Naya sempat terkejut, ia menoleh memperhatikan raut wajah Tristan yang menunduk.


"Aku sudah memaafkanmu, Mas. Karena ku sadar, bahwa apa yang kamu lakukan bukan sepenuhnya salah kamu melainkan salahku yang tidak bisa menjadi istri yang kamu inginkan. Semuanya sudah berlalu dan aku sudah tidak ingin mengingatnya lagi." balas Naya tersenyum kepada Bi Marni yang sedang menyimpan minuman dan beberapa cemilan di atas meja.


"Ibu di sini saja temaniku. Aku tidak mau ada fitnah di antara kita," ucapnya meminta Bi Marni untuk duduk di bangku satunya.


Bi Marni mengangguk setelah melihat tatapan memohon Naya. Dia tidak mau berduaan dan membuat Andrian salah paham ataupun membuat tetangga berpikir macam-macam.


Tristan semakin menyesal melepaskan wanita yang menjaga harta martabat dirinya sebagai wanita dan menghargai suaminya di saat tidak ada.


"Apa kamu benar memaafkanku?" tanya Tristan meyakinkan.


"Aku berusaha memaafkan mereka yang pernah menyakitiku. Tuhan saja maha pemaaf dan kita umatnya harus bisa memaafkan. Karena dengan meminta maaf atau memaafkan, hatiku menjadi lebih tenang dan damai."

__ADS_1


Tristan sedikit menyunggingkan senyum. Hatinya merasa sedikit lega mendengar Kanaya sudah memaafkannya. Beban pikirannya seakan berkurang, hatinya sedikit plong. Tinggal kepada dua wanita lagi.


Tanpa mereka sadari, apa yang mereka lakukan dan bicarakan di pantau oleh seseorang yaitu Andrian. Andrian tersenyum bahagia istrinya sampai segitunya menjaga kehormatannya demi dia. Andrian memperhatikannya lewat ponsel yang di sambungkan dengan Cctv setiap sudut rumahnya.


"Kanaya, aku beruntung memilikimu, sayang. Aku semakin mencintaimu. Terima kasih sudah berusaha menjaga martabat sebagai istri."


*************


Tristan kembali meneruskan tujuannya yaitu rumah dimana Emily tinggal, lebih tepatnya kediaman mereka.


Tristan langsung masuk begitu saja karena ia tahu jika Emily pasti ada di rumahnya. Meski ia sudah mengucapkan talak, tapi mereka belum mengajukan permohonan perceraian ke pengadilan.


Tristan melihat Emily sedang meringkuk di sofa. Hatinya terenyuh melihatnya, dia sadar, apa yang terjadi pada Emily merupakan ulahnya.


"Emily," panggilannya.


Emily yang mendengar suara seseorangpun bangun. Dia kaget ada Tristan di sana.


"Tristan," lirih Emily tak bisa bohong kalau ia merindukan Tristan. Tristan menjauhkan wajahnya mencium bau yang keluar dari mulut Emily. Bau minuman keras.


"Aku minta maaf, Em."


"Maaf? hahahaha kau minta maaf setelah apa yang terjadi. Aku tidak butuh maafmu. Yang ku butuhkan sekarang hartamu!" pekik Emily mendorong keras tubuh Tristan sampai tersungkur ke lantai.


"Apapun yang kau inginkan akan ku berikan asalkan kamu memaafkanku," balas Tristan tulus dari dalam hati.


"Kau yakin ingin mendapat maaf dariku?" tanya Emily berdiri sempoyongan dan Tristan mengangguk.


"Ada dua hal yang harus kau lakukan. Pertama, seluruh hartamu harus menjadi milikku. Kedua, kau harus membantuku untuk mendapatkan Andrian kembali!"


"Kau gila! Aku tidak mungkin membantumu mendapatkan Andrian termasuk memberikan harta padamu." pekik Tristan menolak keras permintaan Emily.


"Kenapa? kau itu kaya, kau seorang manager, dan aku ingin Andrian menjadi milikku lagi baru ku akan memberimu maaf."


"Aku memang kaya tapi itu semua milik orangtuaku. Dan untuk semua syarat yang kau berikan aku tidak mau memenuhinya. Terserah kau mau memberikan maaf atau tidak itu hakmu. Tapi yang penting, aku sudah tulus meminta maaf atas apa yang telah ku perbuat padamu walau ku sadar bahwa kata maaf tak akan mengembalikan semuanya."


Tristan pergi begitu saja. Mana mungkin ia mengikuti keinginan Emily. Dia tidak mau merusak rumah tangga Kanaya dan dia tidak mau kehilangan orangtuanya yang telah berbesar hati menerima dan memaafkan serta mau menampungnya.


"Tristaaaaan.... Kau tidak boleh menolakku! aaakhhhhh..... sialann... brengsekk...." Emily mengamuk melempar apa saja yang ada di sana.

__ADS_1


Bersambung....


Sifat Emily itu egois, serakah, sulit menerima kenyataan dan keras kepala.


__ADS_2