
Naya menunduk menangis di hadapan Bapaknya yang terbaring lemah dengan kabel tertempel hampir di seluruh tubuhnya.
"Ja-jangan me-menangis, Nay. Ba-bapak ba-baik saja," lirih Martin mengangkat pelan tangannya ingin mengusap kepala Naya.
Naya segera menggenggam tangan Martin. "Jangan tinggalin Naya, Pak. Kalau Bapak tidak ada Naya sama siapa? Naya tidak punya siapaun selain Bapak. Bertahanlah demi Naya, Pak." ucap Naya menangis tersedu.
Jihan dan Marko yang berdiri di dekat Naya ikut merasakan sedih melihat keadaan temannya.
"Se-sebelum ba-bapak pergi, ba-bapak ingin melihat ka-kamu menikah."
"Menikah? Naya tidak akan mau menikah kalau Bapak ninggalin Naya. Jangan bicara seperti itu, Pak. Bapak pasti sembuh."
Hati dan pikiran Kanaya sudah kacau mendengar setiap perkataan Bapaknya yang menitipkan dia, bilang sebelum pergi.
"Ba-bapak mo-mohon." Nafas Marko sudah terasa sesak.
Jihan dan Marko panik. "Nay, kamu turuti permintaan bapak kamu, ya. Kamu akan menikah dengan anak saya," ucap Marko.
"Iya, Nay. Ini demi permintaan terakhir Bapak kamu. Kamu akan tinggal bareng kami sesuai yang di inginkan Martin," timpal Jihan.
Kanaya memilhat kondisi bapaknya yang semakin memburuk. Ia menarik nafasnya memejamkan mata memikirkan apa keputusannya. "Naya... Naya bersedia menikah."
*********
"Tristan tidak mau menikah dengan orang tidak ku cintai, Pah. Jangan memaksaku untuk menikahi wanita yang tidak ku kenal!" tolak Tristan tegas.
"Cinta bisa datang setelah pernikahan, kamu nikahi saja dulu dia kalau sudah menikah kamu bisa mendekatkan diri dengannya. Coba dulu, Nak. Papa mohon sama kamu tolong bantu Papa. Papa tidak pernah meminta apapun dari kamu. Ini untuk pertama kalinya Papa meminta sama kamu."
Marko menatap penuh permohonan anaknya, dan berharap Tristan mau menikah dengan anak dari Martin. Entah kenapa hati Marko seakan tertarik kepada gadis cantik itu.
"Baiklah, aku akan menikahinya dengan syarat kita tinggal dalam satu rumah pisah dari rumah kalian karena aku ingin benar-benar mendekatkan diri dengannya."
"Baik, Papa setuju dan Papa akan belikan rumah untuk kalian tinggali."
**********
Rumah Sakit.
Jihan melihat Suami dan anaknya tiba di rumah sakit. "Bagaimana?"
"Tristan bersedia menikah dengan Naya," jawab Marko.
Pernikahan dadakan itu terjadi begitu cepat di saksikan oleh dokter dan suster yang ada di sana. Kata SAH pun menggema setelah Tristan melangsungkan ijab qobul.
"Sa saya ti tip Naya. To tolong ja jangan sa sakiti dia, sa sayangi di dia, ci cintai dia."
Naya semakin tersedu di pelukan Jihan yang sudah resmi menjadi mertuanya.
"Saya janji akan menjaga Naya dan akan menyayanginya," ucap Tristan meyakinkan.
__ADS_1
"Nay, ba bapak pa pamit, ba bapak suuudah tiiidak kuuat laaagiiiii."
Tiiiiiiiiiiiiiitt.....
"Tidaaaaak..... Jangan tinggalkan Naya, Pak.... jangan pergi.... Bapaaakk....." jerit Naya menangis memeluk tubuh Bapaknya.
"Bangun Pak..! Bangun...!"
FLASHBACK END
"Tidak, jangan pergi, pak. Bangun!" jerit Naya.
"Nay, bangun, Nay! Kamu kenapa?" Andrian terbangun mendengar jeritan dan tangisan wanita di dapur. Ia menghampirinya dan terkejut melihat Naya tertidur di meja makan sambil mengigau dan menangis.
"Kanaya, bangun!" Andrian menepuk-nepuk pipi Naya untuk membangunkannya.
"Tidaaaakkk...." Naya terbangun dari mimpinya. Nafasnya memburu ngos-ngosan, jantungnya berdetak lebih cepat, buliran keringan dingin membasahi wajahnya.
Naya mengelap kasar keringan yang ada di keningnya.
"Minum dulu, Nay!" Andrian memberikan segelas air minum dan Naya meneguknya sampai habis.
"Sudah lebih baik?" tanya Andrian dan Naya mengangguk.
"Kamu kenapa bisa ketiduran di sini? dan kenapa tadi kamu menangis dalam mimpimu?"
"Ta tadi aku haus lalu duduk di dini malah ketiduran di sini. Aku mimpi..." Naya menunduk, matanya kembali berkaca-kaca.
"Sekarang kamu istirahat dulu, mungkin kamu kelelahan atau pikiranmu butuh istirahat."
Naya mendongak. "Maafkan saya telah mengganggu tidur Anda, maafkan saya juga untuk kejadian kemarin."
"Lupakan yang terjadi biarlah semuanya berlalu. Istirahatlah di kamar Jenni!"
Naya mengangguk dan iapun berdiri dari duduknya. Ketika ingin berjalan, kakinya tak sengaja tersandung kursi roda Andrian sebab majikannya berada di dekatnya.
Andrian yang melihat Naya ingin jatuh merentangkan tangan kanannya memegang perut Naya dan Naya langsung memegang pundak Andrian.
Wajah keduanya begitu dekat, Andrian menatap lekat-lekat mata Naya. Batinnya berkata, "Kamu wanita yang waktu itu. Maafkan aku."
"Ma-maaf," Naya melepaskan tangannya begitupun dengan Andrian.
"Lain kali kalau jalan hati-hati! Buka matanya lebar-lebar supaya saya yang Segede gajah ini kelihatan oleh mata kamu."
"Bukan salah saya, salah Anda sendiri yang nangkring di situ ngalangin jalan saya," jawab Naya cemberut.
"Hei, saya majikan kamu. Kamu berani sekali menjawab ucapan saya? ingat, majikan paling benar, dan ketika pegawai salah kembali ke majikan paling benar!"
"Lho, kok gitu?"
__ADS_1
"Kanaya..!" ujar Andrian menatap tajam.
"I iya, iya.." Naya ngacir takut melihat tatapan Andrian.
**********
Kediaman Tristan.
"Nay, siapkan kemeja ku yang warna putih beserta celananya!" pekik Tristan keluar kamar mandi.
Tristan mengusap rambut basahnya. "Buruan, Nay! Aku mau kerja, Nih." pekiknya kembali.
Tristan mengedarkan pandangannya ke dapur seketika ia tertegun.
Deg....
Ia baru sadar kalau Naya tidak pulang. Hatinya mendadak risau dan merindukan sosok mungil penuh kesabaran.
**********
Naya menyiapkan sarapan untuk Andrian sesuai apa yang Jenni katakan. Ia juga menyiapkan pakaian Andrian kemudian menaruhnya di atas kasur.
"Nay, aku sudah menelpon dokter kecantikan datang kemari. Kemungkinan ia akan datang siang hari," Jenni menunduk memeriksa berkasnya sambil berjalan ke arah kamar Kakaknya.
Naya menoleh. "Kamu seriusan?"
Jenni mendongak dan ia mengangguk dengan wajah serius.
"Nay, mana bajuku?" tanya Andrian keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit bagian bawahnya masih menggunakan kursi rodanya.
Naya menoleh dan melihat perut Andrian. Wajahnya bersemu merah menunduk malu.
"Bajuku mana, Kanaya?" ucap Andrian kembali.
"Ah, iya." Naya segera mengambil baju yang tadi ia siapkan kemudian menyodorkan ke Andrian. "Ini."
Andrian menatap heran melihat Naya menunduk. "Pakaikan!" titahnya.
"Hah..!!!" Naya terkejut melongo akan permintaan majikannya, sedangkan Jenni menggelengkan kepalanya.
"Aku pergi dulu, Kak, Nay. Untuk kamu, Nay, urus yang bener bayi besar ini, ya." pamit Jenni meninggalkan mereka berdua.
"Buruan pakaikan! Saya kedinginan, Naya!" ucap Andrian mengagetkan Kanaya.
"Ta-tapi..."
"Ingat, majikan paling berkuasa dan anak buah harus nurut sama majikannya."
"Isssshh," Naya mendesis kesal. Meski malu, Naya memakaikan baju tapi terhenti ketika ia melihat bagian bawah yang terlilit handuk.
__ADS_1
"Ini bagian saya, kamu keluar sana!" usirnya. Dan tanpa membantah Naya keluar menutup pintu kamar Andrian. Sedangkan Andrian tersenyum tipis.
Bersambung.....