SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )

SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )
Bembantu


__ADS_3

"Aku tidak pernah menyangka kalau kamu bisa mendesain baju sebagus ini. Dari mana kamu belajarnya, sayang?" ucap Andrian terpukau dengan hasil gambarnya.


"Awalnya cuman iseng saja gambar-gambar sesuka hati. Tapi, lama kelamaan ku mulai tertarik dengan dunia fashion sampai mengikuti ajang lomba mendesain baju dan akhirnya akulah yang terpilih jadi pemenangnya."


"Ada rasa bangga tersendiri bisa menyalurkan hobiku sehingga berniat membuka butik. Tapi semuanya ku kubur dalam-dalam karena tersandung masalah biaya," tutur Naya menceritakan keinginannya dulu.


"Hhmmmm karya kamu luar biasa, Nay. Aku mau di bikinin bajunya," timpal Jenni.


"Kalau gitu kita langsung buat saja mumpung masih ada waktu selama dua Minggu. Sayang, apa aku boleh minta sesuatu?" tanya Naya tanpa sadar mengucapkan sayang.


Andrian menunduk tersenyum, hatinya girang tiada main di panggil sayang. "Buat kamu apa sih yang enggak."


"Aku minta mesin jahit, kain terbaik buat bikin bajunya dan aksesoris-aksesoris yang lainnya. Boleh ya?" pinta Naya memohon mengerjapkan mata lucu dan itu membuat Andrian gemas cup...


Dia mencium bibir istrinya saking gemasnya. Diapun merogoh saku celananya.


"Halo, Mike. Tolong carikan mesin jahit terbaik, terbagus beserta kain untuk gaun pengantin dan aksesoris-aksesorisnya. Nanti ku kirim apa saja yang harus kau beli!"


Naya tersenyum senang suaminya menuruti keinginan dia. Naya memeluk pinggang Andrian dan bersandar nyaman di dadanya.


"Makasih, Al. Aku sayang kamu," lirihnya.


"Sama-sama, aku juga sayang kamu." Balasnya memeluk kembali sang istri.


"Aaaaaaaa so sweet banget," celetuk Jenni terharu Kakaknya bisa mendapatkan orang yang selama ini ia inginkan.


"Oh, iya. Sambil nunggu barang-barang datang, aku mau mengukur tubuh kamunya dulu." Naya beranjak dari duduknya mencari alat ukur baju yang pernah ia punya di kopernya.


Setelah mencari ternyata meteran tersebut masih ada dan diapun kembali bergabung dengan Suami dan Jenni.


"Jenn, coba kamu berdiri!" ujar Naya dan Jenni mengikutinya.


Andrian memperhatikan istrinya yang terlihat begitu serius dalam melakukan pekerjaannya. Dia baru tahu sisi lain dari Naya yaitu pandai menggambar dan sepertinya sang istri berbakat menjadi desainer terlihat dari cara ia mengukur baju yang akan di kenakan Jenni dan hasil gambar nya.


"Bos, itu semua pesananmu mau di kemanakan?" ucap seseorang masuk tanpa mengetuk pintu.


"Bawa masuk ke arah situ saja, Mike!" Tunjuknya pada salah satu ruangan.


Orang-orang suruhan Mike membantu menurunkan mesin jahit, patung manekin, dan barang-barang lainnya.


"Emangnya loe mau ngapain sampai beli alat-alat jahit dan patung segala? Seperti mau buka butik saja," kata Mike memperhatikan anak buahnya menyusun barang-barang tersebut.


"Gue hanya mengikuti keinginan istri gue saja. Dia minta ini semua dan sebagai suami yang baik apapun akan ku lakukan demi kebahagiaannya."


"Ck, sebucin itu loe sama bini loe? Kalau gue sih biasa saja, bini gue mh jarang minta apapun yang ia minta cuman uang-uang dan uang."


"Oh iya, kemarin gue lihat Lintang jalan bareng cowok di cafe yang gue dan Naya singgahi juga. Gue sih tidak tahu pria yang sedang dengan bini loe siapa namun yang gue lihat dan amati, keduanya cukup mesra. Gue harap loe cari tahu mengenai ini!"

__ADS_1


"Sebenarnya gue sudah merasakan kecurigaan mengenai sifat dia yang mulai agak berubah, tapi gue tidak mau gegabah sebelum bukti kuat."


Andrian mengangguk mengerti.


"Ngomong-ngomong bini loe cakep juga, Al." Celetuk Mike memperhatikan Naya yang sedang serius dengan Jenni.


Andrian menoleh menatap tajam asistennya itu. "Jangan macam-macam Mike! Dia biniku."


"Eh, sorry, woles, gue hanya kagum dan terpesona saja. Oh iya, besok loe ada pertemuan dengan pemilik PT BEAUTY CARE dan TD FASHION untuk membicarakan perihal kerjasama kita."


"Iya, besok suruh mereka datang ke kantor." ujarnya padahal sudah tahu siapa yang akan datang.


**********


Kediaman Tristan


Ting tong (anggap saja suara bel rumah)


Emily bangun dari tidurnya seraya menguap dan mengucek mata.


"Siapa sih pagi-pagi gini sudah bertamu kerumah orang?" gerutunya beranjak bangun berjalan ke depan.


Ceklek....


Emily mengernyit heran, wanita sekitar seumurannya berdiri tegap mententeng tas besar berpakaian biasa saja.


"Saya hanya wanita biasa, Nyonya. Kedatangan saya ke sini mau mencari pekerjaan, apapun itu asalkan halal."


"Maaf tidak ada lowongan pekerjaan di sini. Pergi kamu!" usir Emily seraya menutup pintu namun, di cegah oleh wanita itu.


"Tolong bantu saya, Nyonya. Saya sedang membutuhkan pekerjaan ini untuk bertahan hidup," pintanya menghiba terlihat menyedihkan.


Emily membuka pintunya kembali. Dia ingat kalau Tristan menyuruhnya untuk mecari ART.


"Hmmmm mumpung ada yang datang cari kerjaan mending ku jadikan dia ART saja," gumam dalam hati.


"Ok, saya akan berikan pekerjaan sebagai pembantu di sini dan gaji kamu cuman 1 juta perbulan. Bagaimana, apa kau bersedia?"


"Saya bersedia Nyonya," jawabnya berbinar.


"Kalau gitu ikut saya ke dalam!" Emily masuk di ikuti oleh wanita itu. Matanya mengedarkan pandangan ke seluruh tempat menelisik setiap bangunan dan barang-barang.


"Mewah juga," batinnya.


"Kau akan tinggal di kamar ini dan taruh semua barang-barang mu!" Emily menunjukan kamar pembantu yang berada di belakang rumah. Dan, wanita itu mengikuti perintah Emily.


"Apa yang harus saya lakukan sekarang?"

__ADS_1


"Kau masak, menyapu, mengepel, pokoknya bereskan semua isi rumah ini. Untuk sekarang kau masak yang enak untukku dan suamiku! kau mengerti?"


"Mengerti, Nyonya."


Emily kembali ke kamarnya membangunkan Tristan yang masih terlelap dalam tidur nyenyaknya.


"Honey, bangun! Ini udah siang, kamu kan harus bekerja." Ucapnya menggoyangkan tubuh Tristan.


Tristan merasa terganggu padahal ia sedang asik bermimpi kembali rujuk dengan Naya dan mimpi basah.


"Apaan sih, Em. Ganggu mimpi indah ku saja," pekiknya menyibak selimut secara kasar.


"Kamu pasti mimpiin aku ya?"


"Bukan kamu, tapi Kanaya," jawabnya judes seraya melangkah masuk kamar mandi.


Emily masam, ia mengepalkan tangannya kesal Tristan selalu menyebut nama yang ia tidak sukai.


"Em, mana bajuku?" pekik Tristan sudah selesai mandi.


"Ini," jawab Emily memberikan setelan baju kerja dan Tristan mengambilnya kemudian memakainya.


"Aku sudah menyewa pembantu sesuai yang kamu inginkan, Honey. Mulai hari ini dia bekerja dan akan tinggal di sini."


Tristan melirik bingung. "Secepat itu kamu mendapatkannya? tapi, tak masalah, yang penting rumahku terurus, ada yang memasak dan ada yang mencucikan baju-baju ku tidak seperti kamu yang hanya bisanya menghabiskan uang saja," sindir Tristan memasukan kemejanya ke celana.


"Kan aku pernah bilang kalau aku bukan pembantu. Lagian, aku harus tetap tampil cantik supaya kamu tidak malu mengakui ku di depan umum. Buktinya mereka tahunya akulah istrimu bukan Kanaya."


"Terserahlah, aku lapar." Tristan berjalan keluar kamar menuju dapur dan di sana sudah tersedia makanan.


"Waw, tumben kamu masak, honey?" ujarnya berbinar menarik kursi lalu duduk tanpa melihat siapa pembantunya dan di ikuti oleh Emily.


"Hei, kamu pembantu, layani kami!" titah Emily.


"Siap, Nyonya."


Deg....


Tristan langsung mendongak mendengar suara yang tidak asing itu. Matanya terbelalak melihat siapa dia.


"Claudia....!" gumam dalam hati terkejut.


Bersambung....


Nah lho, selingkuhan berada di dalam satu rumah. Apa yang akan terjadi kedepannya ya?


sepertinya akan ada perang-perangan, tapi, apakah itu? kita lihat saja nanti.

__ADS_1


__ADS_2