
"Al, aku lapar." ucap Naya mengusap-usap rambut Andrian yang berada di pangkuannya.
Naya juga sudah berganti pakaian menggunakan kaos putih pendek berkerah panjang untuk menutupi tanda merah di leher, di padukan dengan baju hangat berwarna coklat tua untuk menghangatkan tubuhnya sebab Andrian kembali menyetubuhinya saat berada di kamar mandi sampai Naya kedinginan.
"Kalau lapar tinggal makan saja, sayang" jawabnya memeluk pinggang Naya meneluskan wajahnya ke perut sang istri.
"Iiissss, kamu ini gimana sih, gak peka banget. Dari tadi di garap terus-menerus kamu tak sedikitpun nawarin aku makanan. Aku capek, lelah, letih, lesu, lunglai gara-gara main anu sama kamu," balas Naya cemberut masih mengelus-elus rambut hitamnya Andrian.
Andrian di balik perut Naya malah terkekeh. "Abis kamunya enak untuk di garap. Jadi aku malah tidak ingin berhenti."
Andrian bangun dari rebahannya dan berdiri di hadapan Naya. "Ayo, kita makan di salah satu cafe perpustakaan yang menjadi tempat favorit para anak remaja, dan orang dewasa," ajaknya mengulurkan tangannya.
Naya menerima uluran tangan Andrian berdiri mengangguk. Merekapun bergandengan menuju Cafe untuk mengisi perut.
Setelahnya sampai di Cafe, Andrian memesan beberapa makanan dan minuman untuk mereka berdua.
"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Andrian sambil melihat-lihat menu makanan.
"Aku mau spaghetti dua porsi, kentang goreng dua porsi sama minuman teh lemon hangat," jawab Naya menyebutkan satu persatu makanan yang di inginkannya.
Andrian sempat melongo dengan porsi makan Naya sebab itu semua bisa di makan buat dua orang. Tapi, dia tak urung memesankannya.
Kemudian duduk di salah satu meja tepat di samping mereka ada rak buku dengan berbagai macam buku bacaan.
Tak lama kemudian pesanan mereka datang, Naya yang sudah sangat lapar segera menyantap makanan yang terhidang di atas meja.
"Kalau makan pelan-pelan, sayang." ujarnya mengusap bibir Naya yang belepotan akibat saus spaghetti.
"Makasih, sayang." jawabnya seraya tersenyum tulus.
Andrian mematung Naya mengucapkan kata sayang. Hatinya terasa menghangat dan sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman tipis dan manis sehingga kadar ketampanan semakin bertambah.
Andrian memperhatikan serius istrinya saat dengan lahap memakan makanan itu tanpa ada rasa jaim-jaimnya. Tubuhnya ia senderkan ke penyangga kursi, tangannya kanannya menyangga kening menatap serius Naya.
Semakin hari, dia semakin bucin saja sama istrinya. Meski Naya belum membalas kata cinta, Namun ia tak mengapa asalkan Naya selalu berada di samping dirinya.
"Jangan liatin aku terus, entar kamu bucin parah lho," ujar Naya dengan mulut penuh makanan.
__ADS_1
"Aku emang udah bucin sama kamu karena aku mencintaimu," balas Andrian merogoh saku mengambil ponselnya.
Naya sempat berhenti mengunyah menatap lekat-lekat wajah suaminya dan tersenyum. Diapun sudah menghabiskan makanan hanya tinggal kentang goreng saja.
"Kenyang nya," gumam Naya menyender ke penyangga mengusap perut yang kekenyangan. Diapun mengambil minumannya dengan kedua telapak tangan.
"Kamu cantik," celetuk Andrian membuat Naya tersenyum manis tersipu malu memperlihatkan lesung pipinya.
cekrek...
.
"Ihhh malah di foto! Kamu jahil banget sih, aku kan malu, jelek tahu," ujar Naya terkejut cemberut.
"Kata siapa kamu jelek, kamu itu cantik, cantik luar dalam, aku suka," balas Andrian menaikan nurutkan alisnya mengerlingkan mata.
"Apaan sih, mesum." jawab Naya membuang muka tersipu malu.
"Siapa yang mesum? kamu itu emang cantik luar dan dalam. Cantik wajahnya cantik pula hatinya. Emangnya kamu mikir apa sampai bilang aku mesum?" goda Andrian mengulum senyum.
"E-enggak mikir apa-apa," jawab Naya gugup sambil meminum minuman masih membuang muka ke samping.
Andrian tersenyum menggelengkan kepalanya. "Kalau udah selesai, kita pulang ya. Aku harus menuliskan orang-orang yang akan di undang di nikahannya Jenni.
"Aku udah selesai, kita pulang saja sekarang juga."
Mereka berdua beranjak pergi dan keduanya ternyata di ikuti oleh Emily. Dia bertanya-tanya siapa Jenni sebab ia merasa nama itu ia kenali.
"Jenni?! seperti pernah mendengar Nama itu?" gumamnya berpikir keras.
"Aahhh, daripada jiwa kepoku meronta-ronta mending aku ikuti mereka saja." lanjutnya juga ikut beranjak mengikuti Naya dan selingkuhannya.
**********
"Lho, ini kan rumah Andrian? siapa pria itu kenapa mereka pulang ke sini?" Emily sempat kaget sebab Naya pulang kerumah mantan suaminya.
Emily turun dari mobil bertanya kepada orang-orang ingin memastikan siapa pria yang bersama dengan Naya.
__ADS_1
"Bu, pria yang barusan masuk dengan wanita ke rumah mantan suami saya siapa?" tanya Emily kepada ibu-ibu komplek yang sedang berada di warung tak jauh dari rumah Andrian.
"Emangnya kamu tidak tahu pria itu siapa?"
"Kalau saya tahu, saya tidak akan tanya pada kalian semua. Tinggal jawab saja kok repot banget sih," jawab Emily ketus.
"Sombong banget jadi orang. Untung Nak Andrian menceraikanmu yang sombongnya minta ampun. Dan sekarang mendapatkan yang jauh lebih baik dari kamu," sergah ibu-ibu yang tidak suka dengan Emily sebab di sana dia terlalu sombong.
"Eh, Bu. Saya nanya, bukan malah ngatain saya sombong."
"Saya bersyukur Nak Andrian menikah dengan Nak Kanaya. Lihat kan, dia jauh lebih terlihat terurus dan sekarang sudah sembuh dari cidera dan butanya."
"Andrian, Kanaya?! apa pria tadi Andrian?!"
"Iya, dia Nak Andrian mantan suamimu."
"Apa...?!" Emily terkejut menganga tak percaya kalau orang yang selama ini jadi selingkuhan Naya adalah Andrian.
Dia ingin memastikan lagi dan dia pergi meninggalkan ibu-ibu itu kemudian masuk begitu saja. "Andrian...."
Andrian yang sedang memangku memeluk istrinya dan sedang berciuman melepaskan tautan mereka menoleh ke asal suara.
"Iya, ada apa?" jawab Andrian santai.
"Ja-jadi kau beneran Andrian suamiku?" ucapnya tak percaya.
"Ralat, mantan suami dan sekarang Andrian adalah suamiku!" timpal Naya memeluk leher suaminya. Mukanya terlihat masam dan menatap sinis Emily.
"Aku tidak bicara sama pelakor sepertimu! Apa benar kau Andrian?"
"Aku ini siapa sayang?" tanya Andrian menyandarkan kepalanya di dada Naya.
"Andrian suaminya Kanaya!" ucap Naya lantang dan tegas seolah menunjukan kalau Andrian adalah miliknya.
Emily semakin mematung tak percaya, Andrian yang ia kenal dulu terlihat tua dengan jambang dan kumisnya serta mata hitamnya. Tapi, Andrian yang sekarang justru terlihat jauh lebih muda bahkan jauh terlihat tampan di bandingkan dengan Tristan.
"Tidak punya urusan lagi kan? silahkan pergi kalau tidak ingin di seret paksa oleh warga! Masa lalu tidak boleh datang lagi kerumahku!" ucap Andrian tegas.
Emily mengepalkan tangannya merasa di bohongi dan ia kesal kemudian pergi dari sana dengan rasa benci dan amarah.
__ADS_1
Bersambung....