SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )

SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )
Bahagia vs Sedih


__ADS_3

Puk...puk...puk...


Tangan mungil balita kecil membangunkan Naya. Matanya perlahan terbuka, menggeliat dan tangannya menutupi mulut yang sedang menguap.


Naya tersenyum melihat balita kecil berada di sampingnya. Entah anak siapa, tapi Naya menyukai anak itu begitupun dengan Ariel yang sepertinya menyukai dan nyaman di dekat Naya.


"Pagi, Ariel. Uuuhhhh, menggemaskan." Ucapnya mengecupi wajah cubby balita itu.


"Hihihi......" Ariel malah terkikik geli.


Naya memberhentikan kecupannya menoleh ke belakang mencari keberadaan sang suami. "Andrian kemana, tumben sudah bangun duluan?" gumamnya seraya bangun mendudukan bokongnya.


"Ariel, kita mandi dulu, ya. Habis mandi kita ke dapur bikin sarapan buat kamu dan kita semua," kata Naya di angguki oleh balita itu.


Naya membawa Ariel mandi. Setelahnya, ia dan balita yang berada di gendongannya berjalan ke arah dapur. Di sana, dia malah di suguhkan dengan pemandangan tak terduga yang dimana suaminya sedang memasak.


"Sayang, kenapa kamu tidak membangunkanmu? emangnya kamu bisa masak?!" tanya Naya berdiri di dekat Andrian dan Andrian sendiri menoleh seraya tersenyum.



"Nih, buktinya ku bisa mengolah makanan meski tidak sepandai kamu atau chef terkenal," jawabnya sedikit membanggakan keahliannya.


Naya mendudukan Ariel di kursi, dia kembali mendekati Andrian ingin tahu suaminya masak apa.


"Emangnya kamu sedang masak apa?"


"Spaghetti bolognese, kesukaan kamu." Kata Andrian sambil mengaduk-aduk spaghetti yang sedang di rebus kemudian ia tiriskan.


"Waaahhhh, kamu pandai sekali. Aku emang suka makanan itu, jadi tambah sayang deh sama kamu. Makasih, sayang." Naya memeluk Andrian merasa bahagia bisa di masakan makanan kesukaannya dan hal sekecil ini membuat ia merasa di sayangi dan di perhatikan.


Tangan kirinya merangkul pinggang sang istri kemudian ia mengecup pucuk kepalanya. "Sama-sama, sayang."


Naya melepaskan pelukannya dan duduk memangku Aril. Sedangkan Andrian melanjutkan kegiatannya.


Naya melihat rujak mangga di atas meja, ia kembali teringat permintaan yang semalam.


"Sayang ini?"


Andrian menileh. "Itu pesanan kamu, barusan Aku bikin. Kalau kamu masih mau, bisa di makan tapi, kamu harus makan nasi dulu ya!"


Naya antusias mengangguk. Lagi dan lagi Andrian membuatnya semakin jatuh cinta. Dia menopang dagu menatap suaminya yang sedang memasak seraya tersenyum.

__ADS_1


Tak lama kemudian Jenni ikut bergabung.


"Tumben Kak Andrian yang masak, kemana bi Marni?" tanya Jenni mengedarkan pandangannya mencari sosok wanita yang sudah mengabdi di rumah mereka.


"Bi Marni Kakak mintai tolong untuk berbelanja aneka buah-buahan, daging, susu ibu hamil..."


"Susu ibu hamil?" Jenni memotong ucapan Andrian.


Naya pun menoleh memicingkan mata. "Susu hamil untuk siapa? kamu punya wanita lain, Bee?"


"Amit-amit, amit-amit. Aku beli susu buat kamu, sayang. Aku merasa kalau kamu sedang hamil." Ucap Andrian seraya menyimpan makanan di atas meja.


"Kakak ipar hamil? akhirnya aku punya ponakan," sahut Jenni antusias.


"Aku tidak hamil. Emang sih bulan ini belum datang bulan. Eh tapi?! jangan-jangan aku?" Naya yang awalnya ragu mengingat tanggal haidnya. Dia segera mengambil handphone melihat kalender.


"Sayang, aku udah telat dua minggu!" pekik Naya terbelalak saat menghitung tanggalnya.


Andrian mendekat, "Berarti kamu beneran hamil, sayang?"


"Fix, hamil ini mah," sahut Jenni.


"Mah, aku belum tahu apakah aku hamil atau tidak?" Naya ragu-ragu, ia belum memeriksanya tapi hati kecilnya berharap kalau dirinya beneran hamil.


"Naya belum di periksa, Al?"


"Belum, Mah. Niatnya setelah sarapan akan di periksa ke dokter."


"Sekarang saja periksanya. Mama bawa alat tes kehamilan untuk kamu, Nay." Jihan mengambil sesuatu di dalam tasnya lalu memberikan kepada Naya.


"Coba sayang!" Jihan menyodorkan alat itu ke Naya.


Naya melihat alat itu dan beralih menatap Mamanya. Tangannya perlahan menerima pemberian Jihan.


"Ayo sayang, buruan coba! Aku tidak sabar ingin melihat hasilnya."


Naya mengangguk kemudian beranjak menuju toilet. Sedangkan Andrian mengambil alih Ariel dari pangkuan Naya.


Jihan, Jenni, dan Andrian harap-harap cemas menunggu hasilnya. Mereka berdiri di dekat pintu toilet dapur. Dan, tak lama kemudian Naya keluar.


"Bagaimana?" tanya mereka bersamaan.

__ADS_1


"Aku belum melihatnya, aku takut hasilnya tidak sesuai ekspektasi," kata Naya.


"Sini Mama lihat!" Jihan mengambil alat itu dan melihatnya. Jihan terbelalak membekap mulutnya terharu.


"Bagaimana hasilnya, Mah" tanya Andrian dan Jenni penasaran.


"Garis dua," jawab Jihan singkat, padat, jelas.


"A aku ha hamil, Mah?" sahut Naya memastikan. Dan, Jihan mengangguk.


"Sayang, kamu...." Andrian tak dapat berkata apa-apa, dia langsung memeluk istrinya menghujani Naya dengan kecupan. Balita yang ada di pangkuan Andrian memperhatikan orang-orang dewasa itu. Dia juga ikutan mengecup pipi Naya.


Naya tersenyum mengecup balik balita yang baru sehari bersamanya.


"Kakak ipar, selamat ya. Kak Andrian, kamu akan jadi Ayah. Aku ikut bahagia, Kak," Jenni berkaca-kaca ikut memeluk mereka berdua.


"Makasih, Jen." Mereka berpelukan di tengahnya ada Ariel. Jihan menatap haru bahagia, dia berdoa semoga ketiga orang yang sedang berpelukan di berikan kebahagiaan dan di jauhkan dari bahaya.


*********


Keluarga Naya sedang bahagia, lain halnya dengan keluarga kecil Emily yang sedang di rundung kecewa.


Sehabis pulang dari hotel, Emily menangis meratapi nasibnya yang malang. Dia tidak bisa mengetahui di mana kamar yang Tristan sewa. Namun, ia melihat dengan jelas kalau suaminya masuk bareng wanita.


"Darimana saja kamu, Tristan? pergi malam pulang pagi. Tak tahu waktu." Sindir Emily mendengar langkah suaminya masuk kamar. Dia yang sedang duduk di ruang tamu menoleh memperhatikan penampilan suaminya.


"Oh, kamu disitu. Aku kira kamu masih tidur," jawab Tristan membalikan badannya menghadap istrinya.


"Kamu pasti habis menghabiskan malam penuh gairah bersama selingkuhanmu. Sama halnya seperti yang dulu kita lakukan di belakang Kanaya," sindirnya sinis.


"Kamu tidak perlu tahu urusanku. Kamu fokus saja pada kandunganmu anak kita. Dan lusa, kita harus menghadiri acara pernikahan adik bosku sebagai pasangan suami Istri." Tristan melanjutkan langkahnya tapi kembali berhenti di saat Emily berkata.


"Kenapa harus aku? bukankah kamu memiliki pasangan lain dan kamu ajak saja sang pelakor itu."


"Mungkin suatu saat nanti aku akan mengajaknya. Tapi sekarang kamulah istriku dan kamu yang akan ikut denganku menghadiri acara pesta itu!" jawab Tristan tegas masuk ke kamar.


Emily memejamkan mata. Sakit, sungguh sakit. Apa yang dulu ia lakukan kepada Naya sekarang terjadi padanya dan ia tidak tahu siapa wanita yang jadi selingkuhannya.


"Pelakor di rebut pelakor. Ternyata sangat sakit," gumamnya meneteskan air mata kesedihan.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2