SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )

SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )
Kantor


__ADS_3

"Papa sudah menyiapkan perusahaan yang bergerak di bidang fashion dan Papa membangunnya setelah perusahaan ini berdiri. Papa sengaja memberikan kalian masing-masing satu perusahan untuk kalian kelola secara baik dan benar. Hanya kamu dan Tristan yang Papa harapkan meski papa belum yakin kalau Tristan akan mampu mengelolanya mengingat sifat istrinya yang terlihat boros dan matre."


"Tapi setidaknya Papa tidak pilih kasih karena Papa menyayangi kalian berdua. Delano Fashion belum Papa berikan pada Tristan sebab Papa sedang mengurus pekerjaan suamimu dulu yang super super menumpuk," sindir Marko pada menantu dan atasannya.


Andrian menunduk malu mendelik kan matanya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.



"Maaf Papa mertua, aku kan lagi sibuk," jawabnya nyengir.


"Sibuk ngurusin pribadi untuk menjerat Kanaya," sindirnya pedas.


"Ya, seperti itulah."


"Jadi Papa tahu kalau Aldo adalah Andrian" tanya Naya terbelalak.


"Tahu semuanya."


Batin Aldo menjawab, "Hanya satu yang tidak di ketahui, saat ku menidurimu ketika kamu masih menjadi istrinya Tristan."


"Iiisssssh, kalian ini nyebelin menyembunyikan semuanya dariku," cebik Naya cemberut melipatkan tangannya di dada dan menyenderkan tubuhnya ke kursi yang ia duduki.


"Pah, masalah di sini sudah selesai, aku mau bawa Naya ke kantorku ya." Izin Andrian.


"Kita berangkat bareng, Papa juga mau ke sana mau mengerjakan tugas terakhir dari kamu sebelum Papa resign."


Mereka pun jalan bareng menuju mobil sambil berbincang-bincang.


"Kalau Papa resign lalu yang akan menjadi sekertaris Aldo siapa?" tanya Andrian kebingungan.


Marko juga berpikir begitu, Naya pun sama. Otaknya tiba-tiba memiliki ide. "Aku saja yang jadi sekertaris mu," ujarnya mengusulkan diri.


"Kamu? tidak-tidak kamu pasti sibuk mengerjakan perusahaan mu."


"Naya benar, untuk sementara Naya yang akan menjadi sekertaris mu dan Papa yang akan mengurus dulu perusahan Naya dan Tristan."


"Aku tidak mau kalau Naya sampai bekerja," tolak Andrian tidak ingin istrinya kecapean.


"Aku lebih tidak mau kamu mendapatkan sekertaris cewek. Masih mending kalau cowok, kalau cewek bagaimana?" sergah Naya cemberut lebih tepatnya waspada.


Andrian yang sedang menyetir pun tersenyum simpul, ia merasa kalau Naya cemburu dan ia suka itu.


"Jadi kamu cemburu?"


"Eh, siapa bilang aku cemburu? tidak tuh," jawabnya malu.


"Masa? kalau tidak cemburu berarti boleh ya sekertaris barunya ce..."

__ADS_1


"Tidak boleh, aku tidak akan membiarkan siapapun wanita mendekatimu kecuali aku dan Jenni!" potongnya penuh penegasan.


Marko tersenyum menggelengkan kepala, dia tahu kalau putrinya takut kembali di saingi tapi ia menyetujui rencana Naya.


Andrian semakin mengembang senyumannya kemudian tangan kirinya terulur mengusap pipi sang istri.


"Iya, kamu boleh menjadi sekertarisku dalam hal apapun dan aku tidak akan membiarkan wanita manamun mendekatiku."


Naya menoleh menatap lekat Andrian yang sedang mengemudi dan ia memegang tangan yang ada di pipinya kemudian mengecup telapak tangan suaminya.


Hatinya berkata, "Aku tidak ingin ada pelakor lagi di dalam rumah tanggaku dan kali ini aku akan melindungi suamiku dari sang pelakor pelakor di luaran sana."


**********


Andrian memarkirkan mobilnya khusus di area parkiran para petinggi termasuk Tristan yang juga memarkairkan mobilnya di tempati itu.


Mereka bertiga melangkah memasuki lift khusus para petinggi supaya tidak berdesakan dengan karyawan lainnya.


Setiap perjalanan, Andrian tak melepaskan genggaman tangannya dari tangan sang istri sampai dimana keduanya tiba di ruangan paling atas tempat dimana Andrian bekerja.


Andrian jarang berkunjung ke kantornya dan jika ada kerjaan Mike yang akan menghandle nya.


Hanya dia, Mike sang asisten, dan Marko sang sekertaris yang berada di lantai paling atas.


Marko masuk keruangan ya dan Andrian juga masuk keruangannya. Naya mengedarkan pandangannya meneliti setiap dekorasi ruangan kerja sang suami.



Dia terus memperhatikan suaminya yang sedang berkutat dengan tumpukan dokumen yang ada di atas meja.


"Al, sejak kapan kamu membangun pusat perbelanjaan ini?"


"Sejak usiaku 23 tahun," jawabnya namun matanya fokus meneliti setiap dokumen.


"Berarti sudah berdiri sejak tujuh tahun yang lalu." Balas Naya namun tak ada lagi balasan dari suaminya.


Lama kelamaan Naya mulai bosan, dia berdiri menyenderkan punggungnya ke dinding dan memperhatikan keramaian jalan dari atas mall.



Dia kembali melihat suaminya yang masih setia dengan pekerjaannya. "Aku bosan di sini terus, dia mengabaikan keberadaan ku," batinnya menunduk sedih.


"Al, kapan kerjaannya selesai? aku bosan di sini terus," ujarnya mengeluh.


Tak ada jawaban saking terlalu fokusnya. Naya membuang nafasnya secara kasar, dia mendekati meja suaminya.


"Al, aku mau lihat-lihat mall dulu ya, aku bosan di sini, kamu mengabaikan ku," izinnya.

__ADS_1


"Hmmm iya, kamu boleh jalan-jalan." jawabnya tanpa melihat wajah Naya.


Naya menunduk meremas jari-jari. "Dia sibuk sekali, padahal aku hanya ingin dia tidak mengabaikan ku. Baiklah, kalau kau sibuk urus saja pekerjaan mu, aku akan jalan-jalan sendiri." monolog batinnya yang terasa sesak.


Naya pergi dari sana menuju lantai bawah dengan menuruni tangga. Matanya kembali memperhatikan lantai tersebut dan berjalan-jalan.


Lantai tersebut merupakan lantai tempat Tristan dan para pekerja lainnya bekerja.


"Sssttt.. sssttt... lihat ada cewek, cakep banget," bisik karyawan lain.


Mereka yang notabenya kebanyakan seorang pria terpesona dengan kecantikan natural yang Naya miliki.


"Mau kemana, Non? mau cari siapa?" tanya salah satu dari mereka mendekati Naya.


Naya agak risih dengan tatapan mereka.


"Hanya jalan-jalan saja, permisi," pamitnya namun malah di cegah oleh dia.


"Mending kamu ikut saya saja yuk!" ajaknya mesum.


"Maaf saya tidak mau!"


Tristan merasa mendengar suara seseorang dan ia mengedarkan pandangannya. Matanya terbelalak melihat mantan istrinya ada di sana dan yang membuat dia semakin terkejut Naya terlihat semakin cantik, modis, dan banyak menarik pasang mata.


"Kanaya," dia berdiri menghampiri mereka.


"Jangan paksa dia!" ucapnya tegas dan mereka menoleh.


"Mas Tristan?!"


"Pak Tristan, maaf saya hanya ingin mengajak nona ini ke meja kerja saya," ucapnya menunduk takut.


Tristan memperhatikan wajah dan penampilan Naya yang jauh lebih berbeda saat dulu pertama kali bertemu. Setelah berpisah baru ketemu lagi sekarang, dan dia langsung menarik tangan Naya membawanya keluar.


"Mas lepasin!" Naya menghempaskan secara kasar cekalan Tristan.


Grep... Tristan malah memeluk Naya. "Apa kabar Nay? aku senang bisa bertemu kamu lagi, maafkanku yang pernah menyakitimu, aku merindukanmu," ucapnya memeluk erat tubuh mungil Naya.


Naya berontak berusaha melepaskan pelukan Tristan. "Lepasin, Mas! Aku tidak mau mereka salah faham!"


"Tristan...!!" pekik Emily mengepalkan tangan dan wajahnya terlihat marah kemudian melepaskan pelukan keduanya dan.


Plak....


Bersambung.....


Kira-kira siapa yang di tampar oleh Emily? apakan Naya atau Tristan? ikut kesel sendiri dengan Andrian yang tidak peka terhadap istrinya.

__ADS_1


__ADS_2