SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )

SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )
Lima Tahun Lalu


__ADS_3

"Ngapain ngikutinku ke kamar mandi?" tanya Naya menatap tak suka dan masih kesal juga marah.


Keduanya sedang berada di depan kamar mandi masih dalam keadaan basah kuyup.


"Mandi," jawab Andrian santai masuk duluan ke kamar mandi kemudian menarik tangan Naya.


"Aldooo...!" pekik Naya terkejut saat Andrian memutar keran air shower dan mengukung tubuhnya di dinding kamar mandi dan keduanya berada di bawah guyuran air.


"Mau kamu itu apa sih? sudah bohongi ku, seenaknya menciumku, dan sekarang kamu malah seenaknya narik tanganku ke kamar mandi? awas pergi! aku mau mandi!" Naya mendorong tubuh Andrian yang ada Andrian mencekal kedua tangan Naya dan menempelkannya ke samping.


"Mauku kamu, kita mandi barengan saja supaya lebih cepat," bisiknya di telinga Naya.


Bisikan itu membuat bulu kuduk Naya merinding. "Ka-kamu ma-mau nga-ngapain?" lirihnya bergetar gugup memalingkan wajahnya menghindari tatapan Andrian.


Andrian memejamkan mata mengecup lembut kening Naya, beralih mengecup telinganya, dan menempelkan keningnya ke kening Naya.


Jantung Naya semakin berdegup kencang, untuk pertama kalinya ia sedekat ini dengan pria lain dan untuk pertama kalinya Naya merasakan ciuman dari pria.


Saat menikah dulu, dialah yang sering duluan mengecup suaminya dan itupun hanya di pipi doang karena Tristan seperti enggan untuk di dekatinya apalagi berbuat lebih dari itu.


Andrian merasakan suasa panas menyelimuti tubuhnya. Bayang-bayang saat ia mencumbui Naya berseliweran di benaknya. Ia ingin kembali merasakan hal itu, peristiwa yang membuatnya menggila sampai tak bisa melupakannya dan semakin terjerat seorang Kanaya.


Andrian menempelkan bibirnya ke hidung Naya sambil memejamkan mata. Naya pun anehnya tak dapat bergerak seolah enggan untuk menolak meski rasa gugup semakin mendera.


Dari hidung perlahan turun ke bibir mengingat-ingat kembali rasa manis yang pernah ia rasakan dulu. "Rasanya masih sama, manis," batinnya.


Kecupan itu perlahan menjadi sebuah se sapan dan bertambah menjadi luma tan lembut penuh perasaan.


"Ciu man ini? kenapa seperti ciu man waktu itu? terasa lembut dan penuh perasaan," batin Naya mematung. Ia memejamkan matanya untuk merasakan kembali apakah sama atau tidak.


"Iya, aku pernah merasakannya pada saat dimana ku bermimpi seseorang menggauliku," batin Naya.


Andrian melepaskan cekalannya di pergelangan tangan Naya dan malah beralih merangkul pinggang Naya serta tangan yang satunya perlahan melepaskan resleting yang tersemat di bagian belakang kemudian perlahan melepaskannya menyisakan pakaian yang hanya menutupi asetnya saja.


Naya sampai tak menyadari hal itu saking ia meresapi sesuatu yang baru ia rasakan kembali. Dia terlonjak kaget terbelalak merasakan tangan Andrian mere mas pelan salah satu asetnya.


Naya mendorong tubuh Andrian. "Kamu..!" pekiknya terkejut.


"Apa, sayang?" lirih Andrian sudah mulai berkabut gairah.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan, hah?" sentaknya menyadari kalau dia hampir terbuai.


"Menurutmu?" Andrian bertanya kembali dan matanya memperhatikan Naya dari atas sampai bawah.


Glek... "Sungguh menggoda," batinnya.


Naya mengikuti arah pandang Andrian seketika ia menjerit dan menyilangkan tangannya menutupi aset tubuhnya.


"Aaaaaaaa."


Cup... Andrian membungkam bibir Naya dengan sebuah ciuman.


Hhhmmm.... mmmmm....


Andrian melepaskan pangutannya di kala oksigen semakin menipis.


"Kalau kamu menjerit akan terjadi sesuatu di sini."


Naya segera mengangguk tak akan menjerit. "Bi-biarkan ku mandi. Ta-tapi ka-kamu ke-keluar dulu," ucapnya menunduk tak berani menatap Andrian.


Andrian tersenyum tipis gemas melihat wajah merah Naya. "Aku tak akan memaksamu dan ini hanya sebuah pemanasan saja."


Naya menunduk lemas, gugup, panas, pokonya tidak bisa di ungkapkan dengan kata hanya tubuhnya yang merasakannya.


*********


Naya sudah membersihkan diri dan sudah rapi memakai piyama tidur dan bingung mau tidur dimana sebab tak ada sofa. Ia masih mematung memperhatikan tempat tidur yang akan mereka tempati.


"Masa harus tidur di sini bareng Aldo."


Ceklek...


"Belum tidur?" tanya Andrian sudah sama-sama terlihat rapi. Dia memakai kaos putih dan celana chino selutut berwarna cream.


Naya menoleh kemudian menunduk kembali meremas jari-jari tangannya. Andrian mendekati dan duduk di tepi ranjang menghadap Naya yang masih berdiri.


Andrian menarik pinggang Naya dan membawanya kepangkuan dia.


"Aldo..!" pekik Naya terkejut berontak tapi Andrian malah memeluk erat pinggang Naya.

__ADS_1


"Ada hal yang harus kamu ketahui tapi kamu harus diam jangan banyak bergerak karena akan membangunkan sesuatu yang kamu duduki."


Naya mematung dan ia bukanlah gadis polos yang tidak tahu apapun mengenai itu sehingga ia diam. "Buruan, apa?" jawabnya ketus tak nyaman dalam posisi seperti ini.


"Lima tahun lalu, aku pernah ke kota S untuk menghadiri acara pernikahan teman Jenni. Di sana aku dan Jenni menginap sekalian berlibur dan salah satu tempat liburan kami ialah panti asuhan Tunas Harapan."


"Tunas Harapan?" Naya sepertinya mengetahui panti itu.


"Kami berdua sengaja mengunjungi panti itu untuk berbagi rezeki dan di sana, aku melihat seorang wanita kira-kira berumur 20 tahunan sedang mengajari anak-anak belajar membaca."


"Dia juga memasakkan makanan untuk para anak-anak, bermain bareng, dan pemilik panti bilang kalau wanita itu sering kesana setiap Minggu dan menjadi donatur tetap."


"Berawal dari rasa kagum menjadi penasaran dan aku bertanya siapakah wanita itu. Kamu tahu siapa Namanya?" Andrian menatap Naya.


Naya sudah tahu siapa dia namun ia ingin tahu lebih lanjut cerita Andrian.


"Namanya KANAYA KHAIRUNA AZMI. Dari rasa penasaran itu hampir setiap bulan ku ke sana hanya untuk melihat wanita itu. Aku bahkan sampai diam-diam memperhatikannya dari jauh karena saking tak beraninya mendekati."


"Dia sederhana, dia cantik hati dan wajahnya, dia sabar, dia juga begitu baik sampai anak-anak di sana menyayanginya."


"Sekian lama ku menguntitnya dan ternyata aku menyadari kalau aku mencintainya sehingga ada niatan untuk mempersuntingnya. Namun, di saat hati mantap untuk mendekat justru dia malah pindah ke kota A beserta ayahnya."


"Dari sanalah aku kehilangan jejaknya, dan ku di pertemukan kembali dengannya baru-baru ini pada saat dia sudah menjadi milik orang lain." Jelas Andrian menatap penuh cinta wanita di hadapannya.


"Aku sempat putus asa dan berusaha membuka hatiku untuk wanita lain dan wanita itu Emily yang awalnya terlihat sederhana, dan baik sehingga ku memutuskan untuk menikahinya. Tapi ternyata, sifat kalian berbeda, dan aku semakin sadar kalau aku benar-benar mencintaimu dan hanya menjadikan Emily sebagai pelampias untuk melupakanmu namun aku tak mampu melupakanmu."


"Tuhan begitu baik padaku sampai kita di pertemukan kembali dan tekadku bulat untuk merebutmu dari suami brengsekkk mu itu. Tapi, Tuhan sangat sangatlah baik sampai kalian berpisah di situlah aku bertekad untuk mendapatkanmu meski banyak orang yang menentang."


"Kanaya, aku mencintaimu dari sejak lima tahun yang lalu dan maafkan aku atas semua kebohonganku dan salah satu alasannya hanya untuk membuatmu tetap di sampingku."


Mata keduanya saling memandang, Naya menatap lekat ingin melihat kebohongan tapi yang ada dia malah terhipnotis dengan sorot mata teduh nan penuh cinta seperti ayah Martin yang selalu memandang istrinya penuh cinta.


Andrian menempelkan bibirnya me ***** lembut bibir Naya. Tidak ada naf su, tidak ada has rat, ia hanya ingin Naya merasakan kalau dirinya mencintai Naya bukan karena naf su.


Bersambung....


Nah lho, kok gini? otakku puyeng mikirin kata sama alurnya jadi hasilnya seperti ini.


Maaf kalau jadinya kurang srek atau hasilnya tidak memuaskan. 🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2