
"Apa...?!" pekik Naya terkejut sampai menjatuhkan belanjaannya.
Andrian menoleh ke asal suara dan ia semakin terkejut, takut Kanaya mempercayainya. Apalagi penampilan Emily bisa membuat orang percaya dan sekarang ia mengerti kenapa cewek gila itu mengacak-acak dirinya sendiri.
"Sayang..! Kamu jangan percaya sama dia. Dia bohong!" Andrian menghampiri Istrinya yang mematung masih terkejut menatap Emily dengan tatapan kecewa.
Naya menepis tangan Andrian secara kasar dari tubuhnya. Andrian sudah panik kalang kabut takut Istrinya termakan omongan Emily.
"Sayang aku..."
"Diam, Al!" sentak Naya menoleh menatap mata Andrian.
Deg....
Jantung Andrian tertegun mendengar sentakan Naya yang menyebut namanya yang artinya Naya sangat marah.
"Kamu tega melakukan ini padaku di saat aku hamil besar anakmu? apa kurangnya aku sampai kau berani menyentuh wanita lain?" pekik Naya berkaca-kaca.
Andrian menggeleng kepalanya. "Tidak, sayang. Aku tidak pernah menyentuh wanita lain selain kamu. Dia berbohong." Andrian ingin memeluk Naya. Naya malah mendorongnya dan berjalan mendekati Emily.
Emily menangis sesegukan, sudut matanya melirik dan sudut bibirnya terangkat sedikit. "Berhasil, akan ku rebut kembali milikku," batin Emily menyeringai.
"Kamu bilang tidak menyentuhnya? lalu ini buktinya. Dia berantakan, bajunya robek, makeup nya belepotan, rambutnya acak-acakan. Seperti orang gila!" sentak Naya tepat menoleh menatap tajam Emily.
"Sialan, gue di katai gila. Kalau bukan demi mendapatkan Andrian lagi, mana mau gue mempermalukan diri sendiri," batin Emily menggerutu kesal.
"Itu bukan ulahku, Nay. Dia sendiri yang melakukannya," jawab Andrian membela dirinya.
"Bohong, hiks hiks... dia berbohong Naya, dia telah memaksaku hiks...hiks...hiks..."
"Kau yang berbohong, Emily..." Sentak Kanaya sambil melayangkan tamparan keras membuat Emily tersungkur ke lantai.
Plak....
Apa yang di lakukan Kanaya membuat mereka terkejut begitupun dengan Andrian.
Naya mencengkram erat rahang Emily menatap tajam dengan tatapan membunuh.
"Aku tidak mudah di tipu oleh wanita murahan seperti mu. Kau berusaha menggoda suamiku, kau menghalalkan segala cara untuk mendapatkan suami. Tidak akan ku biarkan kau merebut lagi suamiku!" sentaknya mendorong keras wajah Emily dan beralih menjambak rambut Emily sampai wanita itu mendongak ke atas merasakan kesakitan.
"Aaawww, sakit Naya. Suamimu yang berbohong, bukan aku." Emily mengaduh kesakitan berusaha melepaskan jambakan Kanaya yang semakin kencang dan sulit di lepaskan.
__ADS_1
"Diaaaam!!! kau pikir aku buta? kau pikir aku tidak bisa melihat mana yang benar dan yang salah?" sentaknya melepaskan jambakkannya sambil menarik rambut Emily ke belakang. Lalu, Naya berjalan mendekati Andrian.
"Kau dan kalian semuanya lihat suamiku! Suamiku masih terlihat rapi, rambutnya masih klimis, dasi, kemeja, jas, bahkan sabuk celananya masih utuh terpakai dan pakainya rapi tidak lecek seperti wajah dan bajumu! tubuhnya masih wangi parfum tidak bau wangi keringat." pekik Naya. Andrian menatap tak percaya wanita di sampingnya terlihat berbeda. Naya yang ini jauh menyeramkan.
"Kau masih mau menuduh suamiku yang melakukannya? bisa saja kau di perkosa oleh orang lain dan menuduh suamiku. Kau kan sang pelakor penjahat kelamin," sindir Naya pedas.
"Dan satu lagi!" Naya kembali mencengkram dagu Emily. "Kau mandul!" pekiknya sambil menekan kuku jempol di daku Emily kemudian melepaskan cengkraman tersebut.
"Satpam!!"
"Iya bu.." Satpam yang ada di sana menghampiri kanaya.
"Seret wanita murahan ini dari sini! Pasang foto dia di setiap sudut mall ini! Dan kalian ingat baik-baik wajah dia supaya dia tidak bisa masuk ke sini lagi. Saya muak dengan wanita pelakor ini!"
"Baik, Bu."
"Ayo ikut kami!"
"Heiii.... lepaskan! Aku tidak salah, Bos kalian yang salah! Lepaskan..!!" teriak Emily tak ingin di seret keluar.
Naya menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan.
Andrian langsung memeluk Istrinya dari belakang.
"Aku sungguh takut kamu percaya omongan dia, Nay. Aku takut kamu ninggalin aku, aku takut, sayang."
Naya mengusap tangan yang melingkar di perutnya. Dia berbalik menangkupkan kedua tangannya ke pipi Andrian.
"Aku tidak akan mudah percaya omongan orang karena aku yakin kalau kamu tidak akan melakukan hal hina seperti itu."
Andrian mengangguk sambil memegang tangan Naya. Dia mengecup kening istrinya lalu memeluknya sambil tangan satunya mengusap perut buncit sang istri.
Mike yang sedari tadi menyaksikan dari awal merasa lega rumah tangga bosnya baik-baik saja. Dia kembali keruangannya begitupun dengan yang lain yang juga percaya jika bos mereka tidak mungkin melakukan hal sehina itu.
**************
"Aaaaaaaaaaa..... brengsekkkk..... sialaaan.... kurang ajar.... berani sekali dia mempermalukan ku...." Emily mengamuk membanting apa saya yang ia gapai.
Padahal barang yang ia rusak merupakan barang baru dan rumah baru hasil dari harta gono-gini yang ia dapatkan dari Tristan.
Dia mencari minuman yang sering ia konsumsi saat sedang dalam keadaan seperti ini. Emily mengambil anggur merah, minuman memabukan kesukaannya. Dia pun mengambil rokok di laci kamar lalu mengambil satu batang.
__ADS_1
"Pokoknya gue harus dapatkan Andrian kembali, hartanya harus jadi milik gue. Apapun akan ku lakukan." Monolognya sendiri berjalan sambil menyesap nikotin dan meminum miras.
Dia duduk di sofa menumpangkan satu kakinya. Dia berpikir bagaimana cara untuk menjauhkan Kanaya dari Andrian.
"Gue harus melenyapkan wanita itu, ya, hanya itu cara satu-satunya supaya dia tak bisa lagi mendapatkan Andrian."
Emily menyesap rokok terakhir kalinya dan ia mematikannya lalu membuang sembarangan kuntung tersebut ke arah jendela. Dia pikir jika sisa rokoknya sudah mati dan berhasil terlempar keluar. Padahal kuntung rokok tersebut masih menyala dan jatuh di dekat tirai.
Emily berdiri sempoyongan berjalan ke arah kamar sambil bergumam, "Kanaya harus mati, Andrian akan menjadi milikku lagi, uang segalanya, harta yang paling utama, hidup hampa tanpa harta."
Bruk....
Emily ambruk di atas kasur king size, dia memejamkan mata masih mengigau ingin menyingkirkan Naya.
Tanpa di sadari olehnya, sisa rokok yang ia buang dekat jendela tepat mengenai tirai dan membuat percikan api. Awalnya hanya kecil namun lama-kelamaan menjadi semakin merembet kemana-mana dan kian membesar.
Emily yang merasakan kantuk malah kian terlelap. Tanpa di sadarinya jika ruang tamu sudah mulai terbakar.
Warga yang berada di sekitar rumah tersebut terkejut ada api.
"Kebakaran... kebakaran..." teriak para warga sudah berkerumun di depan rumah baru Emily.
Emily merasa terganggu dengan kebisingan tersebut. Ia mengerjapkan matanya.
"Ada apa sih berisik banget?" namun, ia malah terbatuk akibat asap tebal.
Ukhuuk... ukhuuk... ukhuuk...
"Ada asap!"
"Kebakaran... kebakaran..." teriak warga berlarian mencari air.
Emily melototkan matanya terkejut. Dia langsung bangun dari tidurnya dan berlari keluar kamar. Dia panik melihat api membesar menghalangi jalannya.
"Ukhuuk... ukhuuk... ukhuuk...Toloooong! ukhuuk.. ukhuuk... Toloooong!!"
Emily berjalan di dalam asap tebal beserta api menyelimuti rumahnya. Dia mencari jalan keluar tapi, kakinya malah tak sengaja tersandung akibat minimnya penglihatan. Dan di saat itu pula reruntuhan lemari yang sudah terbakar menimpa kakinya.
"Aaaaaaaaaaaa......."
Bersambung.....
__ADS_1