
"Bagaimana keadaan kandungan Istri saya, Dok?" tanya Andrian menasaran sambil memperhatikan layar di depannya.
"Kandungannya baik-baik saja, pak. Janinnyapun sangat sehat. Lihat ini, bentuk wajahnya sudah terbentuk begitupun dengan kaki dan tangannya." Dokter kandungan itu menatap sebuah gambar yang tak jauh dari hadapannya sedangkan tangannya menyusiri perut buncit Naya menggunakan alat USG untuk mengetahui perkembangan janin tersebut
Usia kehamilan Naya sudah memasuki bulan ke 6. Semakin bertambah usia kehamilan istrinya, semakin Andrian banyak melarang Naya melakukan ini itu. Dia akan selalu siap siaga untuk menjaga Istri beserta calon anaknya.
Andrian dan Naya mengembangkan senyuman yang tak pernah luntur dari bibir mereka. Mereka saling berpegangan tangan merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
"Apa kalian mau melihat jenis kelamin calon anak kalian?"
"Tidak usah dok, saya beserta istri saya ingin itu menjadi sebuah rahasia supaya menjadi surprise saat di saat persalinan nanti," jawab Andrian dan Naya mengangguk.
Mereka sepakat untuk tidak mengetahui jenis kelaminnya, mereka juga tidak begitu menginginkan anak pertama harus cewek atau harus cowok. Bagi mereka, mau laki atau perempuan yang penting anak mereka sehat, lahir sempurna, dan menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya, agama dan negara.
Dokter wanita itu tersenyum mengangguk. Lalu ia menurunkan baju Naya yang ia singkab karena pemeriksaannya sudah selesai. Dokter itu kembali duduk ke tempat ia.
"Meski perkembangannya bagus dan kandungannya baik-baik saja, saya harap kalian tetap menjaganya. Saya akan memberikan vitamin untuk Istri Anda." Dokter itupun menuliskan resep-resep obat untuk ibu hamil.
"Kalian bisa menebusnya di tempat pengambilan obat," lanjutnya memberikan sebuah catatan ke Naya.
"Baik, Dok. Terima kasih, kalau gitu kita permisi dulu," pamit Andrian dan di angguki oleh dokternya.
"Silahkan Pak, Buk."
"Ayo sayang." Andrian membantu Istrinya berdiri memapah ke luar ruangan menuju tempat penebusan obat.
"Sayang, aku bisa sendiri. Lagian kata dokter aku dan anak kita baik-baik saja." Protes Naya saat Andrian memapahnya.
"Meski kalian baik dan sehat, aku yang merasakan tidak baik. Aku tidak ingin kamu kecapean, kelelahan, atau merasakan pegal." Tanpa aba-aba, Andrian langsung membopong istrinya.
"Aaaaaa, Bee! Apa-apa ini? turunin! Aku malu di lihat banyak orang!" Naya memekik kaget di gendong begitu saja, padahal ia tidak kenapa-kenapa.
"Aku tidak malu, sayang. Kita sah, kita halal, kamu istriku dan aku berhak melakukan apapun demi membuatmu tidak merasakan kecapean."
"Tapi sayang ini...."
cup...
Belum juga selesai bicara, bibir Naya sudah di bungkam oleh kecupan singkat dari Andrian.
Naya melotot melebarkan matanya terkejut. Dia semakin di buat malu sebab tak sedikit yang memperhatikan mereka. Ingin rasanya wanita hamil itu bersembunyi di lubang semut untuk menyembunyikan rasa malunya.
"Kalau diam kan enak. Ternyata ciumanku ampuh juga ya," ujar Andrian terkekeh.
__ADS_1
Plak...
Naya menggeplak pelan dada suaminya seraya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Andrian.
"Aku malu, sayang." cicitnya pelan.
Setelah mengantri untuk mengambil obat, mereka bergegas pergi melanjutkan perjalanannya.
"Sayang, kita mampir ke kantor dulu, ya? aku mau mengambil beberapa berkas di sana."
"Iya, Bee. Tapi, aku mau belanja bareng Claudia di tempat dia bekerja. Boleh ya?" pinta Naya menatap Andrian penuh permohonan.
"Kalau kamu kecapean bagaimana? belanja kan jalan-jalan keliling mall."
"Aku masih kuat, sayang. Lagian cuman mampir sebentar di tempat langganan aku."
Andrian menoleh, Naya menatap penuh harap dan Andrian pun mengangguk.
"Hanya sebentar, jangan berkeliling Mall!" ucap Andrian penuh peringatan dan Naya mengangguk tersenyum sambil menyenderkan kepalanya di pundak Andrian yang sedang menyetir.
**************
MALL
"Sayang, aku langsung ke tempat Claudia, ya."
Mereka berdua beranjak berjalan ke tempat yang Naya tuju. Dan tak lama kemudian mereka sampai di pusat perbelanjaan pakaian yang ada di lantai 3. Naya sedikit berlari saat melihat Claudia.
"Sayaaang!" Andrian memekik penuh penekanan. Naya menoleh tersenyum cengengesan.
"Maaf, aku lupa." Dan Naya kembali berjalan dengan langkah biasa.
"Selamat siang Pak, Bu. Silahkan masuk, mau belanja apa?" tanya Claudia.
"Saya titip Istri saya, dia ingin belanja bareng kamu disini."
"Baik, Pak." jawab Claudia dan Andrian pergi setelah memberikan kecupan di dahi istrinya.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata menatap iri pada pasangan tersebut.
"Seharusnya akulah yang menjadi istrinya Andrian, bukan wanita itu," gumamnya dalam hati.
Mata dia mengikuti arah Andrian pergi dan tanpa banyak pikir dia mengikutinya. "Akan ku rebut kembali milikku. Enak saja wanita sialan itu mau menguasai harta Andrian."
__ADS_1
Di kala Andrian mulai menginjakan lantai paling atas, dia masuk lebih dulu ke ruangan Mike. Dia melihat Mike sedang mengetik sesuatu di laptopnya dan Ariel sedang tidur pulas di sofa yang di halangi oleh bantal di bagian sisinya dan bagian bawahnya supaya tidak terjatuh atau jika jatuh tidak merasakan sakit.
"Mike, berkas kerjasama kita dengan beberapa toko perhiasan sudah kau siapkan?"
"Sudah, Bos. Bentar, saya carikan dulu." Mike berjalan ke tempat dimana beberapa file penting di simpan.
"Ini, Bos." Mike memberikannya dan Andrian mengambilnya.
"Terima kasih. Oh iya, kau pulang saja lebih awal. Kasihan Ariel harus ikut ke kantor. Claudia juga akan pulang lebih awal dan kalian bisa barengan. Selamat berjuang duda kembang!" ujar Andrian terkekeh hilang di balik pintu.
"Ck, dasar bos tulang ngatur. Tapi, boleh juga. Jadi bisa lebih leluasa mendekati Claudia," gumamnya menyunggingkan senyum.
**************
Andrian fokus memeriksa berkas tersebut sampai tak menyadari ada seseorang membuka pintu ruangan kerjanya.
"Andrian sayang."
Sontak Andrian mendongak, matanya membola terkejut ada Emily di sana.
"Kau.. ngapain kau masuk ruangan saya tanpa permisi? tidak sopan."
"Ternyata kamu orang kaya ya." Emily memperhatikan ruangan kerja Andrian dan ini pertama kalinya ia melihat ruangan pemilik Mall terbesar di kotanya.
Andrian menatap tajam, ia tidak suka wanita itu seenaknya masuk. Dia berdiri menyeret Emily keluar dari ruangannya.
"Andrian, kamu apa-apaan sih?" Emily berontak melepaskan cekalan Andrian.
"Keluar dari ruangan saya!" Andrian menghempaskan tubuh Emily.
"Awwww, kamu jahat Andrian. Kamu tega melakukan ini padaku." Pekik Emily mengacak-acak rambutnya sampai berantakan dan mengelap bibirnya sampai lipstiknya belepotan lalu merobek bagian pangkal lengannya.
Andrian menatap aneh pada wanita itu. Dia tidak mengerti kenapa Emily seperti orang gila.
Pekikan Emily membuat beberapa orang yang ada di lantai atas keluar termasuk Mike yang juga penasaran.
"Aku berusaha menolak tapi kau memaksaku, kau tega melakukan ini padaku! Kau tega memperkosaku!" sentaknya menangis pilu.
Andrian terkejut terbelalak.
"Apa...?!"
Andrian menoleh ke asal suara dan ia semakin terkejut....
__ADS_1
Bersambung....
Enaknya Emily di apain nih? sepertinya dia tidak akan pernah taubat karena sifat keserakahan dan tak tahu malunya sudah mendarah daging nih.