SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )

SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )
Kediaman Aldo


__ADS_3

Bugh.... terjangan keras seseorang membuat Tristan tersungkur ke samping dan kepalanya terbentur keras membuatnya tak sadarkan diri.


Naya bangun mencengkram erat baju yang kancingnya sudah terlepas. Dia menatap sayu orang yang telah menolongnya. Air matanya menetes deras melihat orang itu datang tepat waktu.


"A-aldo," lirih Naya di sela tangisnya.


"Nay," tanpa banyak ucap, Aldo membuka jas yang ia kenakan kemudian menutup bagian depan tubuh Kanaya.


"Kita pergi dari sini!" ucapnya membantu Naya turun dari ranjang.


"Aku tidak mau, aku tidak mengenal siapa dirimu, siapa tahu kamu juga mau berbuat jahat sama aku," Naya menolak sambil terisak.


"Hei, kenapa pikiranmu itu selalu saja tidak bisa di ajak kompromi? kamu tidak lihat apa yang akan dia lakukan kepadamu? bagaimana kalau dia bangun dan kembali melakukan hal yang lebih dari ini?"


Naya terdiam memikirkan lalu ia menggeleng sambil menangis. "Aku tidak mau."


"Maka dari itu kita pergi dari sini sebelum dia bangun. Jangan pikirkan dia dulu, lebih baik kamu pikirkan diri kamu sendiri. Ayo ikut aku!" ajaknya membujuk Naya yang diam tak bergerak.


"Tapi kamu tidak akan jahatin aku kan?" tanya Naya masih tersedu.


"Tidak akan."


Dan akhirnya Naya mau ikut dengan orang yang ia sangka tukang ojek dan juga orang yang menolongnya waktu itu.


*********


Ketika di perjalanan, keduanya tak ada yang bersuara. Naya hanya melihat ke samping melamunkan perjalanan hidupnya. Air matanya kembali menetes mengingat setiap perlakuan Tristan.


Aldo menoleh ke Kanaya dan kembali menatap kedepan. Dia menghembuskan nafasnya secara kasar ikut sedih melihat keadaan wanita yang ada di sampingnya.


"Kalau kamu ingin menangis, menangis lah! keluarkan segala beban yang kamu pendam, keluarkan setiap emosi yang ada di diri, keluarkan setiap kesedihan yang kamu rasakan dengan air mata."


Naya mulai terisak kecil lama-lama menjadi sebuah tangisan pilu yang menyayat hati.


Aldo ikut sesak mendengar tangisan Kanaya. Dia memasukan mobilnya ke area parkir yang ada di sebelah kanan samping rumah dan diam menyandarkan punggungnya sejenak mendengarkan Naya menangis.


Dirasa sudah lebih baik, Naya menghapus air matanya menoleh ke samping. "Terima kasih sudah menolongku yang kedua kalinya. Kalau kamu tidak ada mungkin aku sudah...."


"Tak perlu di bahas kalau itu memang menyakitimu. Kita sudah sampai, ayo turun!" Aldo membuka seat belt kemudian membuka pintu mobil.


Naya baru sadar bahwa dia berada di tempat yang berbeda. Dia mengedarkan pandangannya menatap tempat asing.


Sebuah rumah klasik bernuasa putih bertingkat dua dengan pilar-pilar besar di depannya sungguh elegan. Di tambah jalan keluar masuk serta tanaman hijau di area depan dan samping menambah kesan indah.


__ADS_1


"Ayo turun!" Aldo membukakan pintu mobil samping dimana Kanaya duduk.


"Kita di mana?"


"Rumahku. Aku bingung mau membawa kamu kemana, jadinya di bawa ke sini saja."


Perlahan Naya melepaskan seat belt dan keluar mobil. Dia mencengkram takut jas yang ada di tubuhnya.


Aldo yang sudah melangkah duluan menoleh kebelakang lalu ia mendekati Naya dan menarik tangan Naya membawanya masuk kedalam rumah.


"Jangan takut, di sini yang tinggal banyak."


Aldo menuntun Naya ke atas dan menunjukan salah satu kamar. "Kamu istirahat di sini saja, nanti Bi Minah akan kemari mengantarkan baju untuk kamu. Kamar saya ada di samping kamar ini," tunjuknya ke depan.


"Jika kamu butuh sesuatu, kamu bisa panggil saya atau panggil Bi Minah. Selamat istirahat, maaf kalau saya lancang membawamu kemari." Ucap Aldo menepuk-nepuk pundak Naya sambil berjalan ke kamarnya.


Naya memperhatikan punggung tegak Aldo sampai hilang di balik pintu. Dia masuk ke dalam kamar mengedarkan pandangannya menatap kagum kamar yang akan ia tempati


"Dia orang kaya dan ternyata bukan tukang ojek." gumamnya duduk di tepi ranjang mengusap-usap kasur yang ia duduki.


Tok tok tok


Naya menoleh, ternyata seorang wanita paruh baya membawa sebuah pakaian wanita.


"Pasti ibu, ibu Marni?"


"Panggil bibi saja, saya cuman ART di rumah ini," jawabnya tersenyum melihat wanita cantik di hadapannya meski wajahnya terhalang jerawat.


Naya tersenyum tak menjawab dan tak mengangguk.


**********


Tristan tersadar dari pingsannya, ia memegang kepala yang masih terasa pusing bangun duduk dan menyenderkan tubuhnya ke ranjang.


"Ssssttttt, terjangannya sungguh menyakitkan." Tristan menunduk memijat kepalanya.


Jihan dan Marko kembali ke rumah Tristan berharap Kanaya sudah pulang. Namun keduanya terheran sebab pintu masuk terbuka.


Keduanya tergesa masuk mencari keberadaan Naya dan Tristan. Mereka melihat pintu kamar terbuka dan melihat Tristan duduk di lantai sambil memijat kepalanya.


"Tristan."


Tristan menoleh. "Mama, Papa. Kenapa kalian ada di sini?" tanyanya bangun dan duduk kembali di tepi ranjang.


"Kanaya Mana? dari tadi Mama tidak melihatnya."

__ADS_1


Tristan mematung, ia juga mengedarkan pandangannya kemudian bergegas mencari istrinya di setiap sudut rumah. "Dia tidak ada, kemana dia?"


"Kamu kenapa terlihat bingung? Kanaya mana?" kali ini Marko yang bertanya.


Tristan menggeleng. "Aku tidak tahu, Mah, Pah."


Jihan dan Marko saling lirik, keduanya heran. "Kamu ini suaminya, masa kamu tidak tahu istrimu berada di mana? kamu apakan Naya sampai ia tidak ada di rumah? Naya tidak mungkin keluar rumah kalau tidak ada masalah besar," cerca Jihan.


Tristan menunduk takut melihat mata Papanya yang sudah tajam mengintimidasi.


"Apa yang kamu lakukan kepadanya? jawab!" sentak Marko menahan amarah mendengar cerita dari Jihan kalau Tristan selingkuh.


Tristan akhirnya buka suara dan menceritakan apa yang ia lakukan barusan sampai Naya tidak ada di rumah.


"Aku beneran tidak tahu kalau Naya akan pergi dari rumah."


Plak....


Bugh...


Tamparan dan pukulan Marko layangkan ke putranya. "Kami tidak pernah mengajarkanmu seperti ini, Tristan. Kau telah menyakiti istrimu, pria macam apa kau ini sampai tega berniat memperkosa istrinya sendiri, hah?"


Tristan yang duduk tersungkur mendongak. "Kanaya selingkuh dariku, Pah. Aku tidak terima itu!" jawab Tristan menatap takut Papanya.


"Kau pikir sendiri olehmu kenapa dia sampai selingkuh darimu!" tunjuk Marko ke wajah Tristan.


"Semua berawal darimu, semua permasalahan kau yang mulai. Kau selingkuh dengan wanita lain lalu kenapa kau marah Naya selingkuh?" sentak Marko menoyor kepala anaknya.


"Kami akan mengurus surat perceraian kalian."


Deg... jantung Tristan terpaku dan berdebar tak menentu.


"Jangan, Pah. Aku tidak mau menceraikan Kanaya!" tiba-tiba saja ucapan itu meluncur begitu saja. Ada rasa takut Naya beneran menjauhinya.


"Kalau kamu tidak mau menceraikan Naya, tinggalkan selingkuhanmu itu," ucap Jihan.


"Aku tidak bisa meninggalkannya."


Marko tersenyum sinis. "Dasar pria serakah. Kau mau Naya tapi kau tidak mau meninggalkan selingkuhanmu. Papa tidak akan membiarkan kamu menyakiti Naya lagi."


Marko pergi meninggalkan Tristan yang mematung. Jihan pun sama, ia meninggalkan anaknya untuk merenungi perasaannya.


"Renungkan lah hatimu, kemana kau memilihnya dan putuskan secara kepala dingin!" ucap Jihan menoleh sebentar kemudian menyusul suaminya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2