SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )

SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )
Siap


__ADS_3

"Bi, Istriku mana?" pekik Andrian baru selesai mengerjakan pekerjaannya dan sekarang mencari Istrinya yang dari tadi tidak kelihatan.


Bi Marni mendekat, "Tadi katanya ngantuk, Den. Jadi Bibi suruh dia tidur di kamar Aden saja."


"Oh, ya sudah, makasih ya." Andrian langsung berlari menaiki tangga menuju kamar dirinya.


Sedangkan di kamar Andrian, Naya sudah memikirkan matang-matang apa yang harus ia lakukan supaya suaminya tidak berpaling darinya. Naya tidak mau peristiwa itu terjadi lagi maka ia akan melakukan apapun demi rumah tangganya.


Naya sudah berganti pakaian, ia mengenakan tanktop crop berwarna hitam dipadukan dengan rok mini berempel berwarna pink muda. Baju yang di kenakannya di dapat dari Bi Marni dan Bi Marni mendapatkannya dari lemari pakaian Jenni yang tidak terpakai karena kekecilan.


Naya berdiri tersenyum tipis menatap benda yang ia pegang. Sebuah kaca berbentuk tabung yang isinya bunga.



"Hai bunga, jantung ku deg-degan tahu. Kamu doakanku ya, semoga aku bisa menyenangkan suamiku di kasur," lirihnya menunduk malu.


Naya menyimpan kembali benda itu dan berjalan mendekati sofa dekat jendela mengambil bantal kemudian ia pegang.


Ceklek...


"Sayang, kamu sedang a..pa?" panggilannya memelan saat melihat penampilan istri kecilnya yang jauh berbeda.


Naya menoleh dan tersenyum tipis.



Glek... Andrian menatap kagum dan tubuhnya mendadak panas. Si Jonipun kian mengeras memperhatikan sarangnya yang terlihat menggoda dan sungguh terlihat se*y.


Perlahan ia menutup pintu kemudian menguncinya dalam posisi membelakangi pintu.


Dia mendekati Naya. "Sayang, kamu terlihat berbeda."


Naya menunduk meremas bantal yang ia pegang. Andrian memeluk tubuh mungil istrinya menghirup aroma wangi yang sungguh menggugah selera mesumnya.


"Kenapa kamu pakai baju seperti ini? apa kamu tahu kalau penampilanmu sungguh sangat cantik dan membuatku ingin berbuat lebih. Aku pernah bilang jiwa mesumku selalu meronta jika di dekatmu apa lagi memakai baju begini."

__ADS_1


"A aku mau di mesumin kamu," jawabnya menggigit bibirnya.


Andrian mengernyit heran namun ia tersenyum dengan keberanian istrinya yang sudah mulai nakal. Diapun mengurai pelukannya.


"Al, aku siap." ucap Naya menunduk meremas rok yang ia kenakan.


"Siap apa?" Andrian memperhatikan wajah Naya yang sedang menunduk malu.


"Siap jajadi istri kamu yang sesungguhnya." Ucapnya semakin gugup.


Andrian menyematkan rambut panjang yang menghalangi wajah Naya ke telinganya. Dia memegang dagu Naya dan mengangkatnya.


"Dengarkan aku, aku tidak akan memaksamu kalau kamu masih belum siap. Masih banyak waktu yang bisa kita lewati tanpa harus terburu-buru. Lain kali saja, ya. Saat ini aku tidak mau melakukannya."


Deg...


"Kenapa?" tanya Naya mendongak sedih atas penolakan Andrian.


"Apa karena aku jelek, tidak se*y, tidak modis sampai kamu tidak mau melakukannya saat ini? padahal aku udah siap untuk memberikan tugasku seorang istri tulus dari lubuk hatiku paling dalam tanpa ada paksaan."


Andrian tertegun melihat mata Naya yang berkaca-kaca. Dia bingung apakah ucapannya menyakiti Naya? padahal niatnya baik tidak mau membuat Naya merasa terbebani akan kewajibannya.


"Aku siap, Al. Siap lahir batin," ucap Naya meyakinkan. Dia bahkan sampai nekat mencium Andrian duluan dan memberikan luma tan yang sering Andrian berikan.


Naya berjinjit menangkupkan kedua tangannya di pipi Andrian dan menempelkan benda kenyal mereka.


"Lakukanlah! Aku siap." pinta Naya yakin berbisik setelah melepas tautannya.


Andrian mematung dengan keberanian istrinya. Kini giliran dia yang mengecup istrinya. Mencium, melu mat, mere mas, menye sap, dan bergeliara memegang apa saja yang ia gapai.


Keduanya semakin tersulut api gairah yang membakar jiwa, Andrian tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia pun mulai melepaskan satu persatu pakaian yang ia kenakan.


"Sayang, apa kamu yakin?" tanya nya kembali sudah berada di posisi siap memasukan sijoni kerumahnya.


Naya mengangguk. "Aku siap menyerahkan seluruh jiwa dan ragaku untukmu, suamiku." Ucapnya yakin.

__ADS_1


Dan..... jlep.... ah...


Hal yang seharusnya terjadipun terjadi di siang hari.


Naya yang awalnya merasa kesakitan kini berubah menjadi kenikmatan yang tiada tara. Andrian yang tadinya kesusahan kini semakin lancar memajukan pinggulnya sampai mendongak merem melek merasakan kembali sesuatu yang dulu pernah ia rasakan saat menyetubuhi Kanaya yang dalam keadaan mabuk berat dan serta pengaruh obat perangsang yang di berikannya.


Gerakan itu semakin lama semakin cepat mengikuti ritme alunan merdu irama goyang ngebor. Keduanya mengerang nikmat di kala sesuatu keluar dari milik keduanya. Nafas keduanya memburu, keringat pun masih bercucuran membasahi tubuh keduanya.


Andrian menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Naya menghirup aroma wangi bercampur keringat yang membuatnya kembali bergairah. Namun kali ini, Andrian menggulingkan Naya membawanya ke atas.


"Al, apa yang kamu lakukan?"


"Sayang si Joni masih berdiri di sarangnya, kamu yang bergerak ya!"


Naya bingung harus ngapain dan Andrian menuntun Naya untuk menegakkan duduknya kemudian memegang pinggul Naya menaik turunkan. "Lakukan seperti itu sayang!"


Pada akhirnya Naya mengikuti perintah suaminya melakukan kegiatan yang membuat keduanya semakin mengerang nikmat menikmati surga dunia yang tiada tara.


********


"Kapan kamu akan menikahi ku, James? kita pacaran satu tahun, sudah tunangan satu tahun tapi sampai sekarang pun kamu belum menentukan pernikahan kita," tanya Jenni meminta kejelasan mengenai hubungannya.


"Secepatnya tapi kamu sabar dulu, aku harus menyelesaikan proyek ini sebelum menikahimu." jawab James menggenggam tangan Jenni di atas meja kerjanya.


Jenni melepaskan genggamannya dan melanjutkan kembali aktifitasnya mempelajari setiap laporan klien yang sedang membutuhkan bantuannya sebagai pengacara sukses di usia muda.


"Kamu selalu sibuk dengan urusanmu yang mengejar dunia. Entah apa yang kamu pikirkan sampai segitunya mengumpulkan uang dan bekerja banting tulang padahal aku tak pernah mempermasalahkan uangmu karena yang ku butuhkan bukti bukan hanya sekedar ucapan doang dan yang ku inginkan kesetiaan, kejujuran, kenyamanan."


"Aku janji habis proyek ini akan segera menikahimu, aku begitu sibuk harus segera menyelesaikannya supaya pikiranku nanti hanya tertuju kepadamu dan rumah tangga kita saja."


Jenni mendongak. "Aku butuh bukti bukan janji."


James menunduk membuang nafasnya secara kasar. Dia melakukan ini juga demi masa depan mereka Nanti. "Akan ku usahakan, sayang."


"Aku harap kamu tidak mengecewakanku, James. Sudah terlalu lama ku menunggu akan kepastian cintamu tapi kamu selalu saja beralasan belum menyelesaikan proyek yang kamu kerjakan," batin Jenni memejamkan mata kemudian membuang nafas secara kasar.

__ADS_1


"Aku pergi dulu ya, sayang. Kamu harus percaya padaku kalau aku hanya mencintamu dan secepatnya akan menikahimu," ujar James beranjak dari duduknya berpamitan kepada Jenni dan Jenni mengangguk.


"Bersambung.....


__ADS_2