
Kanaya berdiri di pinggir jalan mencari ojek yang lewat, ia tidak bisa menyewa taksi mengingat hanya memiliki uang dua ratus ribu itupun uang hasil buruh nyuci dua hari ini.
Seperti para pelamar kerja umumnya, Naya mengenakan celana kain warna hitam, kemeja putih lengan panjang, rambut di ikat ekor kuda, dan tak lupa kacamata bulat yang sering ia kenakan padahal Naya tak memiliki riwayat mata minus.
Dia juga menyoren tas sebesar kertas lamaran kerja supaya bisa muat untuk kertasnya.
Dia melihat ojek yang sering lewat ke kompleks perumahannya. "Mang ojek," panggilnya.
"Eh, neng Naya. Mau ngojek?" tanyanya memberhentikan motor di dekat Naya.
"Iya, Mang."
"Hayu atuh Naik!" mang ojek memberikan helm yang lain kepada Naya kemudian Naya terima lalu ia pakai.
********
Naya berhenti di salah satu Cafe yang ada di kotanya saat melihat tulisan menerima lowongan pekerjaan. "Mang, berhenti di sini saja, ya. Ini ongkosnya, dan terima kasih sudah mengantarkan saya."
"Sama-sama, neng. Bapak doakan semoga Neng Naya cepat mendapat pekerjaan," dia mang ojek tulus.
"Amin, mang."
Naya melangkah masuk kedalam mendorong pintu bertuliskan di dorong. Dia bertanya kepada resepsionis soal lowongan pekerjaannya.
"Maaf, Mbak. Kami sedang mencari lulusan kuliah dengan jurusan akuntansi. Mohon maaf lamaran mbak tidak bisa kami terima."
Naya menunduk lesu, iapun berpamitan kepada resepsionis nya. Naya tak pernah menyerah meski panas terik matahari menyoroti langsung kepalanya.
Naya mengangkat tasnya untuk menutupi sinar matahari yang terasa panas membakar tubuh mungilnya. Dia kembali mencoba peruntungan ke restoran untuk melamar.
"Pak, saya lihat ada lowongan pekerjaan di sana. Apa saya boleh melamar kerja di sini?" tanya Naya kepada resepsionis nya.
Bapak itu membaca setiap lembar lamaran yang di layangkan oleh Naya. "Kamu lulusan SMA jurusan pertanian?"
"Iya, pak. Ada lowongan?" Naya berharap ada lowongan.
__ADS_1
"Tidak ada, di sini yang di cari lulusan management karena mereka mencari manager."
Ucapan bapak itu kembali membuat Naya lesu. "Oh gitu, terima kasih ya, Pak. Saya permisi dulu."
"Iya, silahkan."
********
"Tidak ada pak Marko membuatku harus menyetir sendiri, karena malas pakai mobil, mending pakai motor," gumam Aldo mengemudikan motornya.
Lelaki maskulin berwajah tampan perpaduan Indonesia Thailand itu begitu gagah membelah jalan raya. Merasa haus, ia memberhentikan motornya di salah satu tempat penjual minuman dekat restoran.
Lelaki maskulin itu mengantri untuk membeli minuman yang bernama ice cappucino cincau kemudian meminumnya sampai habis setelah mendapatkan minuman yang di inginkan.
*******
Waktu terus berjalan sampai sore, tapi Naya tak mendapatkan pekerjaan. Uangnya tinggal sisa lima puluh ribu untuk ongkos pulang.
Naya berjalan lesu, ia mengedarkan pandangannya saat sudah berada di dekat jalan. Matanya tak sengaja melihat orang yang ia kenal keluar dari dalam restoran namun tak sendirian.
"Mas Tristan," gumamnya.
"Buruan! Nanti aku bayar, ok!" titah Naya menepuk pundak pria yang ia sangka tukang ojek.
Mang ojek pun mengikuti mobil yang di maksud Naya sampai mobil itu berhenti di sebuah rumah minimalis cukup besar di bandingkan rumah yang Naya tempati.
"Berhentinya jangan terlalu dakat, Bang!" Mang ojek hanya pasrah mengikuti perintah Naya.
Mereka memperhatikan mobil merah yang sedang memarkirkan mobilnya dan keluarlah dua orang yang Naya kenal.
Mang ojek juga memperhatikan kedua sejoli yang ada di depannya dengan tatapan jijik sebab mereka berdua saling berciuman di luar bahkan sampai masuk kedalam.
Dada Naya berdebar dan terasa sesak menyaksikan itu semua. "Jadi selama ini kamu sering pulang kesini bareng wanita itu?" gumam Naya masih bisa di dengar pria di hadapannya.
__ADS_1
Naya turun dari motor mengendap-endap masuk kedalam untuk memastikan, melihat serta mendengar apa yang sedang mereka lakukan dan bicarakan.
Pria yang di sangka Naya tukang ojek itu duduk di motornya menopang tangan kanannya di atas motor, tangan kirinya di paha menatap serius tingkah Naya.
Sedangkan Naya langsung masuk ke dalam rumah yang tidak di kunci. Ia terbelalak melihat pakaian berserakan di lantai dan telinganya mendengar suara ******* serta erangan.
Naya membekap mulutnya supaya tidak mengeluarkan suara. Matanya seketika berkaca dan tiba-tiba meluncur deras membasahi pipi berjerawat ya.
Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan suaminya sedang bercinta di bawah dekat sofa dalam posisi Emily berada di atas dan keduanya sedang dalam keadaan polos.
Keduanya mengerang nikmat tanpa menyadari ada hati yang terluka.
"Menjijikan," umpat Naya bersuara.
Sontak keduanya menoleh dan terbelalak melihat Naya ada di sana.
"Kanaya..!!" Tristan ingin melepaskan Emily namun Emily seolah tak peduli dan ia malah semakin menaikkan ritmenya di saat sesuatu ingin segera di tuntaskan.
"Kau lihat kan apa yang sedang kita lakukan, jadi kau tidak boleh lagi berharap pada Tristan!"
"Kau bajingaaan! Kau brengsek! Kau menjijikan Tristan," pekik Naya menangis berlari keluar.
Tristan tak tega melihat Naya menangis dan ia ingin mengejar namun Emily mencegah serta nafsunya mengalahkan hati nuraninya iapun malah melanjutkan aksinya.
Pria itu juga masih setia menunggu Naya keluar dari dalam rumah. Ia menyugarkan rambutnya keatas dengan tangan kanan memegang pedal gas motor.
Namun pria tampan nan maskulin itu terkejut melihat Naya keluar sambil menangis. "Lho, dia kenapa menangis?" pria itu menyalakan motornya mengikuti Naya dari belakang.
Naya berlari menjauhi rumah Tristan, dan ia melupakan mang ojeknya. Bahkan Naya sampai terjatuh di aspal menangis tersedu-sedu.
Bahunya terguncang, ia menangis menjerit. "Kamu jahat, Mas. Aku berjanji akan membuat mu menyesal telah memperlakukanku setega ini," Naya berteriak kencang menangis.
__ADS_1
Pria yang tadi menghampiri Naya menyodorkan sapu tangannya ke depan wajah Naya. "Ambillah! Siapa tahu kamu membutuhkan ini."
Bersambung.....