SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )

SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )
Izinkan Aku Bertanggungjawab


__ADS_3

"Makasih atas ide konyolmu ini, Nay. Aku merasa bahagia dan rasa sedihku atas proses perceraian dengan Lintang sedikit terobati. Aku mengerti kamu melakukan ini hanya semata-mata untuk menghibur kita yang sedang di landa masalah hati," ucap Mike duduk masih memangku Ariel di atas pahanya.


Mike, Andrian, dan Naya berada di ruang kerja Andrian. Dan Ariel tak ingin jauh dari Mike.


"Jika ngidam anehku bikin perasaan kamu senang, aku ikut senang. Aku berpikir, ternyata calon anaknya Andrian tidak ingin orang-orang di sekitarnya bersedih. Aku tahu kamu, Claudia, dan Tristan sedang di landa perasaan gundah dan sedih."


"Anak kita memang pengertian ya, sayang. Semoga kelak dia menjadi anak yang akan membawa kebahagiaan di sekitarnya." Doa tulus Andrian ucapkan untuk calon anaknya kelak.


"Aamiin," jawab Naya dan Mike kompak.


***********


Sedangkan di ruang tamu, Marko dan Tristan sedang serius berbicara.


"Sejak kapan Papa tahu jika Ariel adalah anakku?"


"Sejak kamu mengalami kecelakaan. Pada saat itu, Ariel berada di bawah pengasuh Andrian dan Naya. Mereka memberitahukan kalau kamu menghamili wanita dan meninggalkannya pada saat dia hamil. Andrian juga melakukan tes DNA saat kamu masih tak sadarkan diri dan itu atas permintaan Claudia sendiri agar kita yakin jika Ariel anakmu."


"Hasil dari tes itu menunjukan kalau anak berusia dua tahun tiga bulan itu adalah anak kandung kamu. Jujur, Tan. Papa tidak bisa berkata apa-apa lagi. Papa merasa bersalah kepada mendiang orang tuamu karena Papa gagal mendidik mu."


Marko menunduk merasa bersalah tak bisa menjaga putra sahabatnya. Sedangkan Tristan semakin menyesali perbuatannya dan semakin membuat ia menyesal adalah kesedihan terlihat jelas di wajah kedua orang tuanya yang begitu tulus membesarkan dirinya penuh kasih sayang dan cinta.


Tristan menyenderkan punggungnya ke sofa terpejam menahan tangis yang tiba-tiba menyeruak keluar dari air matanya.


"I ini salahku, a aku yang tidak bisa menjaga diriku sendiri. Kalian sudah benar mendidik ku tapi justru akulah yang tidak bisa menjaga kepercayaan kalian."


Tristan mulai memikirkan semuanya dari hati yang paling dalam dan dengan pikiran yang tenang.


"Izinkan aku bertanggungjawab atas apa yang telah ku lakukan padanya, Pah. Aku akan mempertanggungjawabkan perbuatanku pada Claudia meski aku tak akan bisa memberikannya nafkah batin," ucapnya yakin.


Marko mendongak menatap serius putranya.


"Papa tidak punya hak melarangmu. Semuanya kembali kepada Claudia sendiri. Bicaralah padanya!"

__ADS_1


Tristan mengangguk.


************


Sedangkan di taman depan rumah.



Claudia dan Jenni sedang melihat ikan-ikan yang ada di kolam kecil tepat di depan pilar area taman depan.


"Maafkan Tristan, Claudia. Saya tahu apa yang Tristan perbuat padamu sungguh keterlaluan. Dan saya tahu pasti hidupmu sulit."


Claudia tersenyum. Dia tidak menyangka wanita di sampingnya memohon untuk memaafkan putranya. Selembut dan sebaik itukan wanita ini sampai begitu sayang terhadap Tristan padahal ia tahu kalau Tristan bukanlah anak kandungnya. Ya, karena Tristan pernah bercerita jika dia adalah anak angkat.


"Saya sudah memaafkan berbuatannya padaku. Tapi, yang membuat saya tidak bisa memaafkannya adalah Ariel. Anakku menjadi korbannya, dia mendapatkan cemoohan, hinaan dari warga jika dia anak haram tak punya Ayah."


"Sungguh sakit rasanya melihat putraku sendiri mendapatkan perlakuan tak adil sejak ia lahir. Mungkin aku terima mereka menghinaku, tapi untuk Ariel, aku tidak terima. Dia masih kecil, dia masih belum mengerti, tapi dia harus mengalami bulyan orang di usia balita."


"Mike, kau terlihat tampan dan sempurna." Batinnya, namun ia tersadar dari pikiran itu.


Jihan mengerti, ia juga seorang Ibu dan ia merasakan apa yang Claudia rasakan. Dia tak akan memaksa jika Claudia tak ingin memaafkan Tristan.


"Saya mengerti...."


"Claudia," panggil seseorang.


Kedua wanita itu menoleh. Jihan mengangguk lalu melirik Claudia seolah memberikan kode pada Tristan untuk menyelesaikan masalah mereka.


"Aku mau bicara sama kamu, aku mohon?"


Claudia mengangguk, percuma ia berlari kalau pada akhirnya mereka akan beremu kembali. Mungkin ini adalah waktu yang pas untuk menyelesaikan semuanya.


Tristan mengajak Claudia duduk di bangku yang tak jauh dari garasi mobil. Dan bangku tempat tersebut terlihat dari ruangan kerja Andrian.

__ADS_1


"Ada apa lagi?" tanya Claudia dingin.


"Izinkan aku bertanggungjawab," ujar Tristan langsung pada intinya. Sontak Claudia langsung menoleh terkejut. Wanita itu malah menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.


"Bertanggungjawab? pertanggungjawaban apa yang akan kamu lakukan?"


"Aku akan mempertanggungjawabkan perbuatanku dengan cara menikahimu dan kita akan mengurus Ariel bersama-sama."


"Hahahaha" Claudia tertawa, dia merasa lucu atas ucapan Tristan. Tristan mengernyit heran.


"Hahaha menikahiku? tidak perlu!" jawabnya tiba-tiba serius dan memberhentikan tawanya menatap tajam Tristan.


"Kau tidak perlu menikahiku karena itu tidak akan mengembalikan semuanya seperti semula. Aku tidak butuh pertanggungjawaban darimu atas diriku tapi aku butuh kamu mempertanggungjawabkan perbuatanmu atas diri Ariel. Apa yang kau lakukan berdampak padanya, apa yang kau perbuat membuatnya harus merasakan bulyan sejak lahir. Semua perbuatanmu membuat putraku mendapatkan cemoohan, hinaan dari warga. Apa kau siap mempertanggungjawabkan perbuatmu kepada Ariel? apa kau siap membuat semuanya baik-baik saja? apa kau siap membuat anakku di terima baik di lingkungan yang dulu berdampak buruk padanya?"


Tristan mematung tercekat tak bisa menjawab. Dia sendiri bingung pertanggungjawaban apa yang ingin ia berikan. Tapi yang ada di pikirannya adalah bertanggungjawab untuk menikahi Claudia karena sudah merenggut masa depannya.


"Kau tidak bisa menjawab? maka dari itu, aku tidak butuh pertanggungjawaban darimu atas diriku. Jika kau serius ingin memperbaiki semuanya, maka kau harus memberikan kasih sayangmu sebagai seorang Ayah kepada putranya. Bukan hanya dari materi tapi juga perhatian dan juga kasih sayang. Tunjukan kepada dia jika dia masih memiliki sosok Ayah yang menyayanginya. Tapi, sayang. Orang pertama yang ia anggap Ayah bukan dirimu, melainkan orang lain."


Claudia bergegas pergi masuk kedalam rumah. Ia tidak mau berlama-lama bersama Tristan di saat matanya tak sengaja saling bertubrukan dengan mata elang yang berada di ruangan kerja Andrian. Entahlah, Claudia tidak ingin ada yang salah paham.


************


Sejak saat itulah Tristan mulai serius untuk memberikan perhatian dan kasih sayang pada putranya dan juga bertanggungjawab dalam materi. Meski ia tidak bisa mendapatkan kembali hatinya Claudia, setidaknya ia bisa mendapatkan hati putranya.


Ya, usaha yang dilakukan olehnya tak sia-sia. Ariel mau menerima kehadirannya dan sekarang balita itu jauh terlihat lebih ceria dari sebelumnya. Tapi, Ariel tetap menjadikan Mike Papa pertama dan Papa idamannya. Dan balita itu tidak ingin berjauhan dengan Mike bahkan kemanapun selalu ikut saat mereka tak sengaja bertemu.


Baik Mike maupun Tristan, mereka berdua sedang menunggu sidang perceraian dengan istri-istrinya. Mereka berdua sidang di hari yang sama namun beda pengadilan.


Bersambung.....


Jangan lupa vote, like, komen, dan juga kritik beserta sarannya. ya.


Terima kasih masih setia bersama saya. Semoga, apa yang kalian lakukan Allah balas dengan seribu KEBAIKAN aamiin aamiin yarobbal'alamiin 🤲🤲🤲

__ADS_1


__ADS_2