
Naya bingung mau ngapain lagi. "Apa lagi ya? bikin sarapan udah, siapin baju udah, beres-beres rumah ada yang lain, bosan juga." monolognya duduk di dekat meja tamu.
"Naya..." pekik Andrian dari dalam kamarnya.
Naya berdiri dan tergesa menghampiri. "Iya, ada apa?"
"Tolong pijit kakiku! Kata dokter kakiku harus sering dipijit dan di rendam air hangat untuk merasakan rasa setiap sentuhan."
Naya tidak mengerti dengan penjelasan Andrian yang cukup sulit di otak minimalisnya.
Andrian belum juga merasakan pergerakan dari Naya. "Kanaya, buruan!"
Naya tersadar dari lamunannya dan duduk di dekat kaki Andrian. Kemudian memijat pelan kaki majikannya.
"Hubunganmu dan suami bagaimana, Nay?" Andrian menikmati pijatan Naya yang terasa lembut.
"Seperti itulah, aku bingung menyimpulkannya. Dia suamiku tapi terasa seperti orang lain. Dia tidak pernah menunjukannya rasa sukanya kepadaku dan lebih memilih menjalin kasih dengan masa lalunya." jawab Naya memijat pelan penuh kehati-hatian.
"Apa kamu mencintainya?"
Naya memberhentikan pijatannya dan berpikir menyelami perasaan untuk suaminya. "Aku sendiri tidak tahu apakah aku mencintainya atau tidak? yang ku tahu, aku merasa sakit hati di saat Tristan mengacuhkan ku. Dadaku sesak melihat ia bersama orang lain. Hatiku sakit di saat suamiku sendiri bilang mencintai wanita lain," tuturnya melanjutkan kembali pijatannya.
Andrian mengangguk-ngangguk, dan ia menatap wanita yang sedang memijatnya. "Kalau seandainya ada seorang pria yang pernah menyentuhmu apa yang akan kamu lakukan?" tiba-tiba Andrian bertanya seperti itu kepada Naya saat matanya terus menunduk melihat Naya.
"Menyentuh ku?" Naya mematung, samar-samar ia mengingat mimpi kalau ia pernah di jamah seorang pria dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Seingatku hanya Tristan yang menyentuhku dan itupun sekitar sembilan minggu yang lalu. Bahkan hanya satu kali sentuhan mampu menumbuhkan benih di rahimku." Tanpa sadar Naya mengungkapkan sedikit rahasia dari pernikahannya.
Deg....
"Ka-kamu hamil?" Andrian terkejut.
"Iya, tapi anakku sudah tiada tiga Minggu yang lalu akibat dorongan keras yang Tristan lakukan sehingga membuat perutku terbentur ke meja," lirih Naya berkaca-kaca.
Andrian mematung. "Ja-jadi kejadian itu membuahkan hasil?" batinnya syok.
Ting tong....
Bel rumah berbunyi membuyarkan lamunan keduanya.
"Saya kedepan dulu," pamit Naya langsung pergi.
__ADS_1
Andrian mendadak lemas, "Pertama, anak, keguguran," batinnya.
*********
Kantor AG TRADE CENTER
Tristan berjalan lesu memasuki ruangannya. Ia menduduki kursi secara kasar. Baru saja ia duduk Papanya datang bertanya mengenai Kanaya.
"Tristan, kamu sudah menemukan Naya? no handphone nya tidak aktif. Mama sangat khawatir dan takut Naya kenapa-kenapa."
"Belum, Pah. Aku juga tidak tahu Naya dimana, dia tidak memiliki teman jadi cukup sulit untuk mencarinya."
"Ini semua gara-gara kamu, kalau seandainya kamu tidak menyakitinya, Naya tidak akan kabur dan pergi begitu saja," Marko membentak Tristan kesal dengan kelakuan anaknya.
Tristan hanya menunduk meminta maaf karena memang ini ulahnya. Marko pergi dari ruangan anaknya dan tak lama kemudian datang Emily.
"Sayang, aku bawain makanan kesukaan kamu." Emily menyimpan rantang di atas meja. Ia mengecup pipi Tristan dan duduk di hadapannya.
"Kita makan sama-sama ya." Emily membuka rantangnya menyiapkan makanan yang ia bawa.
"Em, aku sibuk. Ada laporan yang harus ku selesaikan secepatnya." Tristan membolak-balikan berkas yang ia pegang mempelajari lebih lanjut berkas itu.
Emily menatap kesal ke arah Tristan. "Kamu itu kenapa sih, dari kemarin aku di cuekin mulu. Apa jangan-jangan kamu sudah mulai suka sama pelakor itu?" tuduh Emily menatap curiga.
"Aku tidak suka dia dan dia bukan pelakor. Kamu jangan bicara ngasal, Em." Tristan menaruh berkasnya menatap serius mata Emily.
"Sekarang kita makan makanan ini dan aku harus lanjut kerja lagi demi masa depan kita, Ok!" bujuknya.
Emily tersenyum mengangguk dan dia kembali menyiapkan makanan untuk Tristan.
"Oh, iya. Siapa pemilik mall ini?" tanya Emily sambil menuangkan makanan ke piring kecil yang ia bawa.
"Tidak tahu, aku tidak pernah bertemu dengannya tapi yang pasti dia adalah seorang pria yang sudah menikah. Begitu sih menurut kabar yang beredar."
"Apa kamu juga tahu istrinya? siapa tahu nanti kita bertemu dan aku bisa menjadi teman orang kaya."
"Tidak ada yang tahu kecuali Mike tangan kanan sang bos."
"Papamu juga pasti tahu, diakan yang merekomendasikan kamu menjadi sekertaris keuangan." Emily memberikan piringnya ke Tristan.
"Kata Papa, dia juga tidak tahu," jawab Tristan memakan makanan.
__ADS_1
Emily berpikir menerka-nerka siapa kiranya pemilik pusat perbelanjaan terbesar di kotanya. "Siapa ya? seandainya ku tahu orangnya akan ku jerat dia. Tapi sayang sudah nikah pasti sudah tua juga," batin Emily melamun.
**********
Kediaman Andrian
"Jerawat yang timbul di wajah Anda akibat darah kotor dan jarang di bersihkan sehingga menimbulkan bintik-bintik merah di wajah. Tapi ini semua bisa di atasi dengan skincare untuk penghilang jerawat."
"Untuk perawatan kulit, Anda juga bisa datang langsung ke klinik kecantikan tempat Jenni merawat wajah dan tubuhnya." Tutur sang dokter kecantikan memberikan skincare mulai dari facial wash, facial foam, sampai cream siang malam.
"Tapi ini beneran gratis, dok?" tanya Naya sebab tadi dokter bilang semuanya gratis karena Jenni yang sudah membayarnya.
"Gratis, Jenni yang membayarnya."
Andrian mendengarkan dua orang wanita yang ada di ruang tamu. Ia lebih memperhatikan Kanaya di bandingkan dengan dokternya.
"Kenapa Jenni sebaik itu?" batin Naya bertanya-tanya.
"Kalau gitu saya pamit dulu, permisi."
"Silahkan dokter, terima kasih atas waktunya." balas Naya sopan mengantarkan dokter itu ke depan.
Andrian mengikutinya dan berada di belakang Naya. Naya berbalik malah ia menubruk Andrian, sontak Naya cepat-cepat memegang pinggiran kursi roda sehingga wajahnya condong ke depan.
Kali ini Andrian tak memakai kacamata hitam dan melepaskan. Naya terhipnotis melihat tatapan Andrian yang terasa teduh.
"Sampai kapan kamu akan ada di depanku? mau ku cium?" celetuk Andrian.
Naya segera menjauhkan tubuhnya menunduk malu. Untuk kedua kalinya Naya dalam posisi seperti itu.
"Ma maaf, Anda ngalangin jalan saya lagi."
"Matamu saja yang tidak bisa melihat tubuh segede saya. Bantu saya mandi!"
"Hah..?! mandi?! aku mandiin Anda?!"
"Pikiranmu jangan aneh-aneh. Bantu saya mandi dalam artian bawa saya ke kamar mandi dan kamu menyiapkan kembali semua keperluan pakaian saya termasuk dalaman. Jangan seperti tadi yang kelupaan," kata Andrian menjelaskan.
Naya semakin bersemu merah sudah berpikir yang tidak-tidak. "Ba-baik," jawab Naya mendorong masuk kursi roda Andrian.
Bersambung....
__ADS_1