SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )

SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )
EXTRA PART : Bahagia ( END )


__ADS_3

Kontraksi kembali datang, kali ini jauh dahsyat dari sebelumnya-sebelumnya membuat Naya merasa separuh nyawanya hilang.


Naya merasakan ada sesuatu yang pecah di bawah sana saat tiba-tiba ada dorongan untuk mengejan datang.


Andrian masih setia menggenggam tangan sang istri, memeluk kepala seraya terus berdoa dan terpejam menahan tangis tak kuasa harus menyaksikan secara langsung bagaimana proses persalinan sang Istri.


Hatinya bercampur aduk, khawatir, panik, sedih, tak tega, pokonya semua menjadi satu.


Para medis mulai mengarahkan cara mengambil nafas yang benar, menahannya lalu mengejan.


"Kamu ikutin saya, ya." pinta Vera dokter kandung sekaligus persalinan. "Tarik nafas dalam-dalam!" ujar dokter Vera memberikan pengarahan.


Naya memanggul dan mulai menarik nafas dalam-dalam sesuai perintah Dokter.


"Satu...dua...tiga... mengejan!" sambung Dokter Vera kembali mengarahkan dan Naya mengikutinya.


ngggghhhhhhh....


Percobaan pertama gagal, nafas Naya ngos-ngosan. Keringat dingin mulai membanjiri area wajahnya. Naya kembali mengambil nafas dalam-dalam di saat dorongan kembali datang lalu mengejan sambil mencengkram kuat tangan suaminya.


Ngggghhhhhhh....


Percobaan kedua kembali gagal. Tapi, rambut bayinya sudah terlihat.


"Aku lelah..." lirih Naya di sisa-sisa tenaganya.


"Kamu bisa, sayang. Kamu bisa, aku di sini bersamaku." Bisik Andrian meneteskan air mata mengecup kening Istrinya.


"Ayo, Bu. Semangat! Kepalanya udah kelihatan. Rileks, tarik nafas dalam-dalam, lalu mengejan lagi!" ujar dokter Vera.


Hffffhhmmmmmmmmm....


Naya menarik nafas lagi, kali ini lebih lama dan dalam lalu ia kembali mengejan dengan kuat di kala dorongannya kembali datang.


Hhhhhheeeeeeeee......


"Ayooo, Bu! Terus!" pekik Dokter Vera semangat saat kepala bayi sudah mulai keluar dan tangannya siap menampa bayinya.


Hhhhhheeeeeeeeeeee....


Ooaaaaaa... ooaaaaa....


Tangis bayi pecah menggema di ruangan persalinan itu. Andrian menangis terisak terharu anaknya lahir dengan selamat. Dia terus mengucapkan kata cinta di telinga istrinya.


Begitupun dengan Kanaya yang juga sudut matanya meneteskan air mata. Lega, terharu, bagaimana, plong, semuanya bercampur menjadi satu. Nafasnya masih memburu merasakan kelelahan. Namun, rasa lelah itu seketika hilang dan menjadi rasa bahagia kala suara bayinya begitu nyaring.


Sedangkan di luar ruangan persalinan, Marko, Jihan, Jenni, James dan Tristan juga merasa bahagia anak Andrian dan Naya lahir dengan selamat.

__ADS_1


"Pah, cucu kita..." Jihan menangis terharu di pelukan suaminya.


"Iya, Mah. Cucu kedua kita sudah lahir."


"Akhirnya, keponakan ku..." Jenni tak kalah merasakan keharuan. Dia juga memeluk James ikut bahagia keponakannya telah lahir. Tapi tiba-tiba Jenni merasakan mual.


"Sayang, kamu kenapa? kamu sakit? wajah kamu pucat gitu?" James mengernyit panik. Tak biasanya Jenni seperti ini.


"Aku tidak apa-apa. Aku hanya merasakan pusing dan mual. Mungkin maagh ku kambuh," jawab Jenni berjalan mendekati kursi lalu duduk karena tidak kuat menahan pusingnya.


Ya, akhir-akhir ini Jenni sering merasakan pusing, mudah lelah, bahkan sudah dua hari ini sering mual. Jenni berpikir itu gejala maagh karena dia memiliki riwayat maagh.


"Sayang, kita periksa ke dokter ya. Aku takut maagh kamu kambuh lagi," James ikut duduk menggenggam tangan Jenni mengajaknya untuk di periksa.


"Tidak usah, James."


"Jenni, mending kamu periksa dulu, sayang. Kalau di nanti-nanti takutnya penyakit kamu semakin parah," timpal Jihan.


"Benar, nak. Mumpung kamu ada di rumah sakit," sahut Marko ikut khawatir.


"Penyakit tidak boleh dibiarkan, Jenn. Ini demi kebaikan kamu sendiri," kata Tristan ikut khawatir.


Jenni berpikir, ucapan mereka ada benarnya juga dan dia mengangguk.


************


Dokter itu justru malah tersenyum. James dan Jenni malah menyerngit bingung melihat Dokter itu sangat terlihat bahagia.


"Istri Anda baik-baik saja, Pak. Dia tidak sedang maagh tapi, perkiraan saya, istri Anda sedang mengandung. Untuk lebih memastikan lagi, kalian bisa memeriksanya ke dokter khusus kandungan," tutur Dokter itu.


James dan Jenni mematung, mereka saling pandang kemudian kembali menatap dokter yang ada di hadapan mereka hanya terhalang meja saja.


"Ja jadi aku hamil, dok?" tanya Jenni terbata mera bahagia jika itu memang benar adanya.


"Menurut pemeriksaan saya begitu. Sesuai yang tadi saya katakan jika ingin lebih memastikan lagi bisa langsung ke dokter kandungan."


Jenni dan James tersenyum mengangguk dan mereka memutuskan untuk memeriksanya kembali ke Dokter yang di perintahkan oleh Dokter umum itu.


************


Rasa lelah yang Naya rasakan kini tergantikan dengan rasa syukur dan bahagia. Apa yang dia dan suaminya tunggu kini telah ada di gendongan.


Naya tersenyum menatap bibir mungil bayinya yang sedang mencari sesuatu sebagai asupan makanannya.


"Ayo sayang, kamu pasti bisa. Itu, belok sedikit... ya sedikit lagi... haapp... berhasil. Putra Ayah pintar sekali menemukan makanannya," ujar Andrian gemas melihat putranya menyedot rakus asupannya.


"Dia sangat mirip dengan Andrian, hanya mata dan bibirnya saja yang mirip Naya," kata Jihan mengusap pipi bayi mungil itu dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


"Kelihatan banget jika yang bersemangat membuatnya adalah Andrian. Orang bilang, kalau anak sangat mirip dengan salah satu orang tuanya itu artinya dialah yang paling semangat mendominasi," timpal Marko yang duduk di sofa.


"Mau gak semangat gimana, Pah. Orang Naya selalu membuat candu. Dimanapun dan kapanpun kalau ada tempat untuk menggarapnya aku langsung tancap gass," jawab Andrian terkekeh.


Plak...


Naya menggeplak pelan lengan suaminya karena malu sudah membuka rahasia private mereka.


"Apa sayang, aku bener kok."


"Iisssss..." Naya mendesis kesal. Jenni dan Marko menggelengkan kepala.


Sedangkan Tristan sudah pamit duluan karena ada urusan penting.


Ceklek....


Masuklah Jenni beserta Suaminya dan ia langsung menghambur kepelukan sang Kakak menangis.


"Jenn, kamu kenapa?" Andrian tersentak melihat adiknya menangis. Dia menatap tajam James dan pria itu menggelengkan kepalanya.


"Kak, aku hamil."


"Apa?! kamu hamil? siapa yang sudah menghamilimu?" pekik Andrian terkejut.


Plak...


Jenni menggeplak dadanya Andrian. Dia mengurai pelukannya.


"Suamiku lah, masa orang lain," jawab Jenni cemberut.


"Hehehe Kakak lupa. Tapi, Kakak ikut bahagia, Dek. Akhirnya apa yang kalian inginkan di kabulkan juga." Andrian kembali memeluk adik semata wayang menghujaninya dengan ciuman di pucuk kepalanya. Dan mereka yang ada di sana mengucapkan selamat.


Naya menatap wajah suaminya dan menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di sana. Dia terharu, bahagia, bersyukur bisa berada di tengah-tengah keluarga yang menyayanginya. Dia juga sangat bersyukur bisa mengenal Andrian.


POV KANAYA


Aku tidak pernah menyesal mengenal sang pelakor. Karena apa, karena berkat dirinya aku bisa menemukan sosok pria yang teramat sempurna dan teramat mencintaiku. Meski ku tahu bahwa tidak ada manusia yang sempurna.


Dan aku percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah menguji umatnya di luar batas kemampuannya. Dan, ujian itu kini berbuah manis terbalaskan dengan hadiah yang ku terima. Andrian Geraldo, adalah hadiah terindah dari Tuhan sebagai jodoh terakhirku. Dan, Andrew Geraldo adalah penyempurna pernikahan kita.


Terima kasih Emily, berkat kehadiranmu aku menemukan cinta sejati ku. Cinta yang menerima segala kekuranganku, cinta yang begitu tulus dari pria yang menjadi suamiku. Aku mencintainya dengan segenap jiwa dan ragaku.


Terima kasih Tuhan, kau kirimkan sosok pria yang kelak akan menjadi tempat sandaranku setelah orang tuaku dan akan menjadi tempat pengabdian ku untuk menuju surgamu.


POV Kanaya End.


THE END......

__ADS_1


__ADS_2