
Tristan melangkah masuk ke dalam rumah yang di tempati Emily dalam keadaan cukup acak-acakan. Kancing kemejanya di biarkan terlepas sampai dada, rambutnya sedikit berantakan dan matanya sayu kelelahan dan ia bingung harus mencari Naya kemana lagi.
Dirinya membaringkan tubuhnya ke karpet bulu yang ada di ruangan tv menelungkupkan wajahnya di sela-sela tangannya. "Naya," lirihnya pelan.
"Honey, kamu sudah pulang?" Emily yang mendengar pintu di buka langsung mencari tahu siapa yang datang dan iapun langsung ikut berbaring memeluk Tristan.
"Sudah, aku lelah."
"Honey, tadi aku lihat istri kamu jalan bareng pria cacat sangat mesra sekali, aku sudah mengirimkan fotonya ke kamu. Kamu harus segera bertindak, honey. Kamu harus segera ceraikan dia." ujar Emily memprovokasi Tristan.
"Bisa diam tidak! Aku lagi pusing, Em. Jangan dulu bahas masalah Kanaya, ok!" kata Tristan meninggikan suaranya bangun mendudukan bokongnya.
Emily kaget Tristan membentaknya. "Kenapa kamu malah marah-marah sama aku? aku hanya memberitahukan apa yang di lakukan istri jelekmu itu."
"Iya, aku tahu. Tapi kau tidak usah membahasnya dulu."
Emily mendekat membelai pipi kemudian berpindah ke dada. "Daripada kamu marah-marah, mending kita making love," bisik Emily me lu mat bibir Tristan dan tangannya meremas milik Tristan.
Tristan mulai menikmati apa yang di lakukan Emily kepadanya. Tapi, entah kenapa hasratnya mendadak lenyap begitu saja di saat mengingat Kanaya menangis memohon untuk tidak memaksanya.
"Sorry, Em. Aku tidak bisa melakukannya, aku lelah dan mau istirahat. Aku pulang dulu, besok ku kembali lagi." Tristan berdiri melangkah pergi.
"Kamu mau kemana, honey? jangan pergi lagi!" Emily memeluk Tristan dari belakang.
Tristan melepaskan pelukannya Emily. "Aku lelah, jangan ganggu aku dulu. Di kantor banyak kerjaan dan aku kesini untuk memastikan kamu baik-baik saja." Jawabnya tanpa melihat Emily dan langsung pergi begitu saja.
"Tristan.... kamu menginap di sini saja, Tristan...!" pekik Emily namun tak di hiraukan oleh Tristan.
***********
Jeniffer membawa Kanaya ke kamarnya dan itu membuat Naya heran. Tapi ia tetap berpikir positif.
"Sekarang kamu tinggal di sini bareng aku dan Kak Andrian. Jangan dulu keluar terlalu jauh supaya suami kamu tidak bisa menemukanmu. Jangan hiraukan suami sepertinya dan jangan kau tangisi pria macam dia."
Jenni nyerocos memperingati Kanaya layaknya saudara yang khawatir akan saudara lainnya.
__ADS_1
"Baik, aku tidak akan memikirkan dia dan aku akan memikirkan diriku sendiri agar ku bisa menghilangkan jerawat di setiap wajahku ini."
Jenni yang sedang mengoleskan skincare kewajahnya menatap Naya dari kaca. "Aku punya rekomendasi dokter kecantikan supaya kamu bisa menghilangkan jerawat batu kamu itu," kata Jenni mengusulkan.
"Aku sih pengen, tapi untuk saat ini gak dulu deh. Belum punya uangnya."
"Soal uang tenang saja, dia bisa di kredit dan kamu bisa bayar kalau nanti gajian. Itu khusus untuk orang yang ku rekomendasikan saja selebihnya tetap bayar cash."
"Kamu serius bayarnya bisa di cicil?" tanya Naya memastikan dan Jenni mengangguk.
"Kalau bisa di kredit kayak perabotan, aku mau dong. Jujur, aku kurang PD dan merasa terganggu akan jerawatku jadi aku ingin menghilangkan nya."
"Sekalian saja rubah penampilan kamu supaya lebih modis terus kacamata bulatnya lepas juga. Kamu tidak min mata kan?"
"Tidak, aku hanya lebih nyaman seperti ini. Orang-orang juga menyangka kalau aku minus begitupun dengan suamiku yang tidak tahu apapun mengenai diriku."
"Hmmmm, sebenarnya kamu itu cantik kalau pandai merawat diri. Besok aku kenalkan dengan dokter kecantikan." Jenni beranjak naik ke ranjang dan membaringkan tubuhnya.
"Jenn, aku mau minta maaf sama Andrian, apa dia belum tidur?" Naya masih setia duduk di tepi ranjang.
"Biasanya jam segini Kakak sudah tidur, mending kamu tidur saja kan masih ada besok lagi. Kamu tidur di sini saja temenin aku, ya. Aku merasa punya teman tau."
"Sudah, buruan tidur ini udah malam, Nay." Jenni memejamkan matanya dan perlahan mulai terlelap dalam tidurnya.
Naya menunduk lesu, ia merasa tidak enak hati kepada Jenni terutama Andrian yang ia tinggalkan di Cafe sendirian.
Naya keluar dari kamar berjalan menuju dapur untuk mengambil minum kemudian duduk di meja kursi dekat meja makan. Ia menelungkupkan wajahnya ke tangan yang ada di meja mengingat kembali peristiwa di mana ia menikah.
FLASHBACK
Dua keluarga sedang berkumpul berbincang membicarakan keadaan mereka di karenakan baru bertemu lagi setelah sekian lama.
"Saya tidak menyangka kita di pertemukan kembali padahal kita sudah sangat lama tidak bertemu," kata Bapak Naya.
"Kau benar kita bisa di pertemukan kembali dan aku tidak menyangka kalau kau juga sudah memiliki putri yang sangat cantik."
"Rencana Tuhan ternyata tak ada yang tahu, ya. Saya dan Naya pindah ke kota A dan malah bertemu kalian."
__ADS_1
"Membicarakan apa sih, kayaknya seru banget?" sahut Jihan membawa nampan berisi makanan dan di belakangnya ada Naya yang juga membawa minuman.
"Ini, Papa tidak menyangka bisa di pertemukan kembali dengan teman kita ini padahal sudah puluhan tahun tak berkomunikasi."
"Oh, tapi ya juga ya. Kami kira tidak akan bertemu lagi dan kami turut berdukacita atas meninggalnya istri kau, Martin." timpal Jihan.
Martin tersenyum. "Oh iya, mohon maaf sebelumnya saya datang ke rumah kalian mau menitipkan Naya."
"Bapak mau kemana lagi?" tanya Naya.
"Kan bapak harus bekerja, Nay. Tapi kali ini bapak ada pekerjaan di luar kota dan kemungkinan pulangnya sekitar satu bulan. Bapak khawatir meninggalkan kamu sendiri."
"Kamu tidak usah khawatir sama Naya, anakmu akan tinggal bersama kami disini," balas Marko sudah tertarik kepada Naya dan berniat menjodohkan Naya.
"Saya titip Naya, jaga Naya, dan kalau dia bandel jewer saja kupingnya," tutur Martin terkekeh.
Naya cemberut, "Ih bapak mak tega bener dah."
Martin mengusap rambut putrinya dan ia memeluk Naya penuh kasih sayang. "Jaga diri kamu baik-baik, Nay. Jadilah wanita kuat dan jangan mudah di tindas. Bapak pamit, Nay."
Bapak Naya tiba-tiba sesak mendapat pesan seperti itu dari Bapaknya. Pelukan yang terasa hangat, ucapan seperti sebuah perpisahan.
Martinpun merasa lega ada orang baik yang akan menjaga putrinya. Dan dia berpamitan kepada ketiganya.
"Saya titip putriku." ucapnya pamit dan di angguki oleh Marko dan Jihan.
Baru saja setengah jam Martin pergi, Naya mendapatkan telpon yang membuatnya syok.
"Halo, apa ini dengan anaknya bapak Martin?"
"Iya dengan saya sendiri, ada apa ya?"
"Orang tua Anda mengalami kecelakaan, Nona. Bus yang di tumpanginya jatuh ke jurang dan orang tua Anda salah satu korbannya."
"Tidak mungkin, itu pasti bukan bapak." pekik Naya menjatuhkan ponselnya menangis histeris.
"Ada apa, Nay?" tanya Jihan.
__ADS_1
"Bapak kecelakaan."
Bersambung....