
Naya menundukkan kepalanya meremas jari-jari tangannya dan tak berani mengangkat kepala melihat wajah-wajah setiap orang yang sedang mengkerumuni mereka.
Keringat dingin mulai bercucuran, kegugupan pun kian mendera menyelimuti seluruh jiwa. Untuk kedua kalinya ia akan menikah dadakan tanpa ada rasa cinta. Bayang-bayang perselingkuhan terus berkeliaran di benaknya takut peristiwa menyakitkan itu kembali ia rasakan.
Lukanya belum sembuh namun kita ia malah di hadapkan kembali dengan kenyataan bahwa ia akan kembali di nikahkan.
Andrian duduk santai di kursi roda, dia bisa melihat kalau Naya sedang gelisah dan pastinya ia juga tahu jika Naya belum siap dan masih memiliki rasa khawatir.
Andrian juga setuju Naya menjadi istrinya supaya tidak ada lagi fitnah atau kesalahpahaman yang terjadi di kemudian hari.
Hanya dengan cara ini pula ia akan semakin menjerat Kanaya kedalam dekapan penuh cinta dan tidak akan pernah ia lepaskan meski orang lain menentang.
Di saat pertama kali melihat Naya yang masih menjadi istrinya selingkuhan sang istri, Andrian sudah bertekad untuk merebut Kanaya namun takdir berkata lain bahwa kini Tuhanlah yang mendekatkan keduanya sehingga ia tidak perlu bersusah payah untuk merebutnya.
Para warga sudah banyak yang berkumpul tinggal menunggu wali yang akan menikahkan Naya dan juga keluarga dari pria yaitu Jenni.
"Kakak," panggil Jenni baru sampai setelah mendapat telpon dari Andrian. Jenni tidak datang sendirian melainkan datang dengan calon suaminya.
"Apa yang terjadi? kenapa sampai bisa mendadak nikah gini?" bisiknya berdiri di dekat Andrian.
"Ada orang yang sengaja ingin menghasut mereka sehingga kita di paksa untuk nikah oleh mereka," jawabnya berbisik.
Calon suami Jenni menatap lekat-lekat wanita yang sedang duduk menunduk tak jauh dari Andrian.
Tak berselang lama, orang tua Naya datang memenuhi panggilan dari Kanaya.
"Nay, ada apa?" tanya Marko dan Jihan duduk di samping Naya menatap bingung banyak orang di sana.
"Apa Anda orang tuanya Nak Naya?"
"Benar, Pak RT. Saya Papa kandungnya Kanaya. Ini, sebenarnya apa yang terjadi sama anak saya?"
Andrian dan Jenni terkejut kalau Marko adalah Ayah kandung Naya. Setahu mereka Pak Marko mertuanya ayah dari Tristan.
"Kami dapat laporan dari seorang wanita kalau Nak Naya dan Nak Andrian sering melakukan kumpul kebo dan kami di sarankan untuk kemari. Ternyata, yang di katakan ya benar dan pada saat kami kesini mereka sedang dalam keadaan sangat intim."
__ADS_1
"Apa?! Nay, kamu?!" Jihan terbelalak menatap Naya dan Naya menggelengkan kepala dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Marko pun sama meminta penjelasan lewat sorot matanya terhadap Andrian dan Andrian menggeleng seolah akan menjelaskannya nanti.
"Maka dari itu kami akan menikahkan mereka sekarang juga!"
Marko membuang nafasnya secara kasar. "Baiklah, saya bersedia menikahkan mereka sekarang juga."
Naya mendongak tak percaya, dia terus memperhatikan semuanya dengan tatapan kosong sampai dimana kata SAH terdengar jelas di telinganya.
Rasanya sungguh seperti mimpi, baru saja bercerai dan kini sudah nikah kembali. Andrian memperhatikan raut wajah Kanaya yang terlihat murung dan bersedih dan dia bisa memahami itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi dan kenapa kalian bisa sampai di hakimi oleh para warga?" tanya Marko setelah semuanya selesai dan hanya menyisakan Dia, Jihan, Kanaya, Andrian, Jenni dan James tunangannya Jenni.
"Pada saat itu, saya sedang belajar berjalan di temani Naya, keseimbangan saya tak terkontrol sehingga ingin jatuh kemudian Naya berniat membantu memegang saya supaya tidak jatuh tapi, yang ada dia tidak bisa menahan beban saya sehingga kita jatuh ke atas kasur dan pada saat itu sudah banyak warga berada di depan pintu masuk," Andrian menjelaskan secara detail yang tadi ia lakukan.
Jenni, Marko dan Jihan memicingkan mata elang kepada Andrian. Mereka sekarang tahu ada niatan modus yang Andrian sembunyikan di balik itu semua.
Jenni mencebikkan bibirnya. "Kakak modus."
"Menantuku sedang modus," batin Jihan.
Sedangkan Naya terus menunduk.
"Ohh, hanya karena salah paham kalian sampai di nikahkan. Tapi saya senang kalau Kanaya menikah dengan Nak Aldo...eh.. maksudnya Nak Andrian."
"Saya juga berharap Anda tidak menyakiti hati maupun fisik Naya dan kalaupun itu terjadi, maka saya sendiri yang akan mengambilnya dari Anda," ujar Marko tegas.
"Baik, Pak. Saya akan menjaga Kanaya semampu saya dan tidak akan membiarkan Naya di sakiti maupun tersakiti. Saya akan berusaha untuk membahagiakannya sebisa saya."
"Saya percaya padamu, Nak. Papa titip Naya."
**********
Sepeninggalan orangtuanya dan James. Naya termenung sendiri di taman belakang rumah.
__ADS_1
"Apa kamu menyesal telah menikah dengan saya yang cacat ini?"
Naya langsung menoleh kesamping. "Andrian, sejak kapan kamu di sini?"
"Sejak dari tadi kamu pergi meninggalkan ruang tamu. Aku tanya lagi, apa kamu menyesal menikah dengan saya?"
Naya menunduk lesu. "Aku hanya merasa ini terlalu cepat, dan aku takut mereka mencemooh ku yang tak bisa menjaga martabat sebagai perempuan yang baru saja bercerai."
Andrian membuka kacamata hitamnya memandang ke depan memperhatikan ikan-ikannya.
"Siapa yang akan mencemooh mu? biar aku yang membungkam mulut mereka dan kalau bisa, akan ku tutup pakai cabe satu kilo tuh mulut pedasnya."
"Hei, kau mau menyumpal mereka pakai cabe?"
"Iya, biar tahu rasa."
"Jangan pakai cabe, sayang tau. Harga cabe kan sekarang melonjak tinggi. Daripada di sumpalin ke mulut orang, mending kita jual lagi ke pedagang-pedagang lain dengan harga yang lebih murah supaya bisa membantu mereka."
Kini Andrian yang menoleh menatap heran. "Hei, saya bukan pemasok cabe sampai harus menjual lagi ke orang-orang. Kau ini aneh deh, tadi mendung sekarang nyerocos seperti petasan."
"Kalau aku petasan yang ada rumah kamu berbunyi duar.. duar.. duar.. seperti itu." Balas Naya menoleh sehingga keduanya saling menatap.
"Kalau petasannya sepertimu aku mau, karena apa? karena kamu sudah meng duar duar kan hatiku."
"Iiisss apaan sih, gak jelas banget." ujarnya membuang muka, tapi ia merasa ada yang aneh dan kembali menolehkan lagi wajahnya menghadap Andrian.
"Tunggu, mata kamu..?" Naya menatap curiga, ia memperhatikan lekat-lekat mata milik Andrian yang tidak seperti orang buta lainnya.
"A-ada apa dengan mataku?" Andrian menatap kedepan menghindari tatapan Naya yang penuh intimidasi.
Naya memegang wajah Andrian mengharapkan dan ia memperhatikan kembali mata Andrian.
"Nay, a-apa yang kamu lakukan?" tiba-tiba saja ia menjadi gugup dan matanya bergerak menghindari tatapan Naya.
"Kamu..."
__ADS_1
Bersambung....